Rabu, 11 Januari 2017

Tumbuh Mengikuti Kebutuhan Masyarakat

Kiai Abu Dzarrin mungkin tidak menyangka forum pengajian yang ia rintis berubah menjadi lembaga pendidikan cukup besar dan mengambil nama dari nama dirinya, Pondok Pesantren Abu Dzarrin.

Kiai Abu Dzarrin mengawali pendidikan salafiyah ala pesantren pada 25 September 1919 di sebuah masjid tua di Dukuh Kendal, Desa Sumbertlaseh, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro.

Tumbuh Mengikuti Kebutuhan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tumbuh Mengikuti Kebutuhan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tumbuh Mengikuti Kebutuhan Masyarakat

Seperti pesantren lainnya, masa-masa rintisan Pesantren Abu Dzarrin diliputi keterbatasan. Jumlah santri yang sangat sedikit, bangunan yang sederhana, dan pasang-surut nafas pendidikan di era penjajahan, mengiringi perjalanan pesantren di ujung barat Provinsi Jawa Timur ini.

Pada zaman revolusi 1945, pesantren yang konsisten dengan muatan tradisional ini sempat vakum sejenak. Pesantren menjadi tempat alternatif para pengungsi dan pasukan gerilyawan pejuang kemerdekaan. Hingga dua tahun kemudian, lembaga pendidikan formal setingkat SD bernama Madrasah Salafiyah didirikan putra sang pendiri, KH Dimyathi.

Fans Gus Dur

Pesantren Abu Dzarrin terus berkembang, seperti ditunjukkan dengan berdirinya madrasah formal berupa Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah di tahun-tahun berikutnya. Hal ini dilakukan sebagai usaha pesantren menyelaraskan dengan kebutuhan masyarakat.

Menurut pengasuh pesantren yang sakarang, KH Mun’amul Khoir, tantangan globalisasi dan dunia modern telah menuntut para santri untuk beradaptasi. ” Kita harus bisa mengikuti itu semua. Tanpa mengurangi nilai-nilai pesantren,” katanya.

Fans Gus Dur

Saat ini, jumlah santri yang tinggal di asrama sekitar 500 orang. Jumlah ini tak termasuk siswa-siswi berangkat-pulang yang belajar di lembaga pendidikan formal Abu Dzarrin, dari RA, MI, MTs, MA, hingga SMK.

Sebagaimana lazimnya pesantren, Pesantren Abu Dzarrin sehari-hari menkaji kitab kuning yang mengulas sejumlah pelajaran keislaman, seperti fiqih, akhlak, dan tauhid dengan sistem sorogan. Pesantren ini juga mengaktifkan kegiatan nonformalnya, antara lain Madrasah at-Takhassusiyah ad-Dimyathiyah (MTHA), Madrasah Al Adnaniyah (MAN), tahfidhul qur’an, majelis ta’lim, dan lain-lain.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur PonPes, RMI NU Fans Gus Dur

Fans Gus Dur.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Fans Gus Dur sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Fans Gus Dur. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Fans Gus Dur dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock