Malam itu, Rabu (19/7), warga Nahdliyin di Desa Timbangreja Kecamatan Lebasiu Kabupaten Tegal menunggu awal datangnya bulan Ramadhan dari hasil sidang Itsbat dari pemerintah melalui Kementrian ? Agama. Ada tradisi yang sudah disiapkan oleh warga sambut jelang Ramadhan, unggah-unggahan.
Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia unggah-unggahan artinya kenaikan. Bentuk dari tradisi ini adalah warga desa yang mayoritas warga Nahdliyin memberikan sedekah dengan mengadakan selamatan kirim doa. Mereka membawa makanan seadanya dan menurut kemampuan setiap warga.?
| “Unggah-unggahan†Sambut Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online) |
“Unggah-unggahan†Sambut Ramadhan
Makanan yang disediakan oleh warga ada dua macam yaitu makanan yang akan di bagikan dan makanan yang akan di makan bersama-sama setelah selamatan. Sebelum makan dibagi atau dimakan bersama ? tersebut dikumpulkan dimusholla atau Masjid terdekat, dan semua warga berkumpul .?Fans Gus Dur
Salah satu warga, Ustadz Mahmuludin (37) menuturkan, unggah-unggahan merupakan tradisi yang dilakukan oleh setiap warga dua hari jelang Ramadhan dan tidak dilakukan bulan-bulan lain seolah-olah menjadi amalan wajib sambut datangnya bulan Ramadhan.“Saya pernah diceritai oleh kiai Rahmat (Alm.) yang merupakan kiai sepuh zaman dulu yang juga merupakan penggiat NU, bahwa tardisi unggah-unggahan diharapakan kualitas hidup kita mengalami kenaikan, dan bulan ramadhan itu merupakan sarana untuk ? menaikan kualitas hidup, diantaranya kualitas hidup bermasyarakat dan meningkatkan iman,” jelas Mahmul .
Fans Gus Dur
Kiai Rahmat juga menafsirkan, lanjut Mahmul, tentang makan bersama setelah selamatan , merupakan kebersamaan karena tidak masuk akal kalau sudah kumpul bersama kemudian makan bersama dalam satu nampan secara bersama-sama kemudian menjadikan ? saling membenci, yang ada adalah rasa bungah (senang) .?Mahmul , yang ditemui Rabu (18/7) malam setelah mengikuti taradisi unggah-unggahan juga menggangap bahwa tradisi semacam itu tidak buruk dan patut dilaksanakan karena tidak bertentangan dengan nilai-nilai keislaman. “Justru disinilah simbol kerukukan umat akan terpelihara dengan baik," tururnya.
Selian Mahmuludin, salah satu tokoh terkemuka Ustadz Khambali menambahkan , unggah-unggahan merupakan bentuk silaturahmi antar umat manusia yang disebut dengan hablum minanas dan unsure lain dari unggah-unggahan terdapat juga hablum minallah dengan berkirim doa dan memuja Gusti Allah.?
“Unggah-unggahan dalam doa tersebut merupakan bentuk berterima kasih kepada orang-orang terdahulu yang telah membawa Islam sehingga sampai kepada umat yang ada sekarang ini," katanya?
Pada zaman dulu, lanjut Ustadz Khambali, makanan yang disajikan dlam unggaha-unggahan adalah jenis kue apem yang kalau istilahkan dengan menggunakan bahsa Arab itu Afuwun artinya minta maaf dan saling memaafkan, jadi isi dari unggah-unggahan tersebut adalah serentetan kegiatan untuk menyambut bulan suci agar jiwa kita juga bersih atau suci .?
“Jadi diawali dengan batin yang suci dan diakhir ramadhan ? kita juga akan menjumpai hari raya idul fitri dengan fitrah yang suci, dengan demikian akan semakin kualitas hidup kita," tutur Rois Syuriah PR. NU Desa Timbangreja . ?
Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam
Kontributor: Abdul Muiz ? ? ? ? ? ? ? ? ?
Dari Nu Online: nu.or.id
Fans Gus Dur Kajian Sunnah, Budaya Fans Gus Dur
