Senin, 31 Juli 2017

Bagaimana Ahmad Tohari Jadi Pengarang?

Siapa tak kenal pengarang novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang masyhur itu? Novel itu diterjemahkan ke dalam belasan bahasa asing dan dipuji banyak orang. Belakangan difimkan juga. Pengarangnya tak lain yaitu Ahmad Tohari.

Lalu, bagaimana Ahmad Tohari yang tinggal di pedesaan Banyumas itu bisa menjadi penulis terkenal?

Bagaimana Ahmad Tohari Jadi Pengarang? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Ahmad Tohari Jadi Pengarang? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Ahmad Tohari Jadi Pengarang?

Ahmada Tohari adalah cucu kesayangan kakeknya yang suka nonton wayang. Jika nonton atau mendengar wayang, di pagi hari ia akan menceritakannya kepada Tohari kecil.

Fans Gus Dur

“Kepada saya, ia bercerita dengan penuh kenikmatan. Saya tercekam dan mulai tergambar sebuah cerita, tentang sebuah fiksi, tentang dunia di luar realita, tapi itu sangat menarik,” katanya.

Tohari mengaku, ia tidak merasa dipaksa sang kakek untuk mendengarkan cerita karena ia bercerita dengan menarik. Pada akhirnya ketagihan. “Saya merasa, awal saya masuk ke dunia sastra adalah dongeng itu,” tambahnya.  

Fans Gus Dur

Kemudian pada waktu kelas lima ia mulai membaca komik. SMP mulai membaca novel klasik. Di SMP tersebut sebenarnya tidak lengkap menyediakan buku-buku sastra. Tapi untungnya, dia mengenal seorang guru yang mengoleksi lengkap buku-buku sastra. Kepadanya ia meminjam buku.

Ia kemudian mulai membaca buku-buku klasik seperti Azab dan Sengsara, Salah Asuhan, Belenggu dan lain lain. “Saya mulai terkagum-kagum kepada orang yang menyusun cerita,” katanya.

Meski demikian, ia mengaku tidak berani membayangkan akan menjadi penulis karena penulis hebat, baginya seperti berada di langit sana.

Di samping itu, asupan bacaan didapat dari koran Duta Masyarakat. Ayah Tohari yang aktivis NU di tingkat kecamatan tahun 1955 itu berlangganan koran tersebut. “Karena dia pengurus NU, mungkin dianjurkan PBNU untuk langganan Duta Masyarakat,” katanya meski koran itu selalu telambat 7 hari.

Ahmad Tohari akan menyampaikan Pidato Kebudayaan di gedung PBNU, Jakarta, Jumat malam 28 Maret. Ia akan menyampaikan pokok-pokok pikiran dengan judul “Membela dengan Sastra”. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Halaqoh, Syariah Fans Gus Dur

Fans Gus Dur.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Fans Gus Dur sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Fans Gus Dur. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Fans Gus Dur dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock