Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

Kemenag Jateng: Banyak yang Tak Paham Kiprah Pesantren

Blora, Fans Gus Dur. Kementerian Agama (Kemenag) Wilayah Jawa Tengah menilai, pesantren telah banyak berkiprah untuk masyarakat secara langsung, bahkan mengerjakan apa yang menjadi tugas kementerian agama secara langsung.

Kemenag Jateng: Banyak yang Tak Paham Kiprah Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Jateng: Banyak yang Tak Paham Kiprah Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Jateng: Banyak yang Tak Paham Kiprah Pesantren

Namun demikian, kata Kepala Kemenag Jateng Ahmadi, pemerintah kadang tidak begitu paham mengenai peran strategis itu. Karenanya, pesantren harus terus-menerus didengungkan kepada khalayak dan pemangku kebijakan.

"Pendekatan ini perlu kita sosialisaskan pada orang lain. Banyak orang tidak faham dengan peran ponpes (pondok pesantren)," tandas pria kelahiran Banjarmasin ini dalam halaqah pengasuh pondok pesantren se-eks karesidenan Pati di Pesantren Al-Hikmah, Ngadipuro, Blora, Jawa Tengah.

Fans Gus Dur

Menurut Ahmadi, Kemenag dalam hal ini hanya dapat membantu fungsi kelembagaan. Antara lain, pertama, meningkatkan kualitas kehidupan keagamaan. Kedua, kualitas kerukunan umat beragama. Pesantren, tambahnya, lagi-lagi menjadi pelopor untuk menjaga harmoni yang ada di sekitarnya. Ketiga, kualitas pendidikan agama dan keagamaan. Dan keempat, meningkatkan kualitas ibadah haji agar penyelenggaraan haji semakin lebih baik.

Fans Gus Dur

Ia juga menjelaskan bahwa mulai tahun ini melaui Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dana optimalisasi haji digunakan untuk membangun kantor urusan agama di kecamatan, membangun perguruan tinggi agama, dan asrama haji. Tahun depan, dana ini akan digunakan untuk pengelolaan pesantren. Bahwa yang terpenting adalah kembali kepada pondok pesantren.

Ahmadi mendorong pesantren menyukseskan program pemerintah yang menargetkan pada 2019 memiliki 5000 doktor. "Kiblat pendidikan Islam tidak selamanya di Mesir ataupun negara Timur Tengah, melainkan juga harus di Indonesia," ungkap Ahmadi. (M Zulfa/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Syariah Fans Gus Dur

Selasa, 20 Februari 2018

Jalan Terjal Terbentuknya Organisasi Mahasiswa NU

Kemunculan Departemen Perguruan Tinggi dalam IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama), merupakan sebuah upaya untuk mewadahi para mahasiswa NU yang ada di IPNU-IPPNU. Hal tersebut terwujud pada muktamar III IPNU pada tanggal 27 – 31 Desember 1958 di Cirebon

Namun, upaya untuk mendirikan satu organisasi yang menghimpun para mahasiswa NU tersebut sebenarnya sudah lama ada, hal ini terbukti dengan adanya kegiatan sekelompok mahasiswa NU yang berdomisili di Jakarta untuk mendirikan IMANU (Ikatan Mahasiswa Nahdatul Ulama) yakni pada bulan Desember 1955.

Jalan Terjal Terbentuknya Organisasi Mahasiswa NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalan Terjal Terbentuknya Organisasi Mahasiswa NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalan Terjal Terbentuknya Organisasi Mahasiswa NU

Untuk lebih jelasnya kita kutipkan tulisan A. Chalim: “Hasrat untuk mahasiswa Islam yang berhaluan Ahlusunha wal jamaah untuk mendirikan organisasi tersendiri sebenarnya sudah lama ada, dan karena Partai Nahdatul Ulama adalah merupakan refleksi dari Islam Ahlusunha Wal Jamaah organisasi itu (IMANU, Pen) diorientasikan kepadanya (Partai NU), cita pembentukan organisasi itu pada bulan Desember 1955 di Jakarta dengan nama IMANU (Ikatan Mahasiswa Nahdatul Ulama)”.

Fans Gus Dur

Namun, kehadirannya oleh PP. IPNU belum bisa diterima. Karena selain kelahiran IPNU itu sendiri masih baru yaitu pada tanggal 24 Februari 1954, pada waktu diadakan konferensi Besar Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdatul Ulama se Indonesia di Semarang, yang juga banyak diantara pengurus IPNU itu sendiri kebetulan sebagian besar mahasiswa sehingga apabila IMANU didirikan dikhawatirkan justru akan lenyapnya IPNU.

Dari adanya keberatan para aktifis IPNU itu maka boleh dikatakan bahwasanya kehadiran IMANU itu menemui jalan buntu atau lebih tepat dikatakan mati sebelum dibesarkan. Tetapi usaha usaha untuk mendirikan organisasi mahasiswa NU itu tetap terus berlanjut bahkan dapat pula dicatatkan disini satu usaha untuk mendirikan organisasi mahasiswa NU itu pernah pula mencapai keberhasilan walaupun sifat organisasi itu hanya bersifat lokal.?

Kemunculan KMNU di Solo

Fans Gus Dur

Upaya untuk membentuk organisasi mahasiswa NU tersebut juga terjadi Di Kota Surakarta, Jawa tengah. Sekelompok mahasiswa NU yang dimotori oleh sahabat H. Mustahal Ahmad (waktu itu beliau mahasiswa Fakultas Syariah Universitas Cokroaminoto Surakarta), dengan mendirikan keluarga mahasiswa Nahdatul Ulama (Surakarta) juga pada tahun 1955, bahkan boleh dikatakan KMNU adalah satu-satunya organisasi mahasiswa NU yang dapat bertahan sampai dengan lahirnya PMII pada tahun 1960.

Kelahiran dan perkembangan KMNU ini, walaupun tidak ada sangkut pautnya dengan PMII, secara kronologis historis dengan kelahiran PMII tetapi perlu pula kami catatkan disini sebab nanti ketika PMII dibentuk di Surabaya, salah satu bahkan dua diantara 13 sponsor pendiri PMII berasal dari Kota Solo.

Kembali usaha untuk mendirikan satu organisasi mahasiswa NU yang bersifat nasional masih terus berlanjut, hal ini terbukti dari makin besarnya keinginan para mahasiswa NU untuk mendirikan organisasi mahasiswa sendiri, suara-suara itu didengungkan dalam Muktamar II IPNU pada tahun 1957 di kota Pekalongan. Hal ini seperti dituturkan oleh sahabat Wail Haris Sugianto, “Tiga tahun setelah berdirinya IPNU yaitu dalam Muktamar II IPNU di kota Pekalongan yang diselenggarakan pada tanggal 1-5 Januari 1957 nampak lebih terang lagi mahasiswa-mahasiswa NU yang tergabung dalam IPNU makin besar jumlahnya. Dimana dalam muktamar tersebut sudah ada keinginan untuk membentuk satu wadah tersendiri dikalangan mahasiswa mahasiswa Nahdatul Ulama.”

Selain IMANU (Jakarta) dan KMNU (Solo), kemudian di Bandung juga muncul PMNU (Persatuan Mahasiswa NU) dan masih banyak lagi di kota yang terdapat perguruan tinggi, yang mempunyai keinginan serupa. Tetapi dalam hal ini pimpinan IPNU tetap membendung usaha-usaha tersebut, dengan satu catatan pimpinan pusat IPNU akan lebih mengintensifkan akan usaha-usahanya untuk mengadakan penyelidikan :

1. Berapa besar potensi mahasiswa Nahdatul Ulama?

2. Sampai berapa jauh kemampuan untuk berdiri sendiri sebagai organisasi mahasiswa?

Kemudian didalam Muktamar III IPNU di Cirebon yang diselenggarakan pada tanggal 27-31 Desember 1958, Muktamar berpendapat bahwa sudah waktunya untuk menentukan status dari para mahasiswa kita. Akhirnya dalam Muktamar tersebut diputuskan adanya Departemen Perguruan Tinggi IPNU yang dipimpin oleh rekan Ismail Makky.

Namun pada kenyataanya usaha tersebut diatas tidaklah banyak berarti bagi kemajuan para mahasiswa NU sendiri hal tersebut dikarenakan beberapa sebab yakni:

1. Kondisi obyektif menyatakan bahwasanya keinginan para pelajar sangat berbeda dengan keinginan dan perilaku para mahasiswa.

2. Dan ternyata gerak dari Departemen Perguruan Tinggi IPNU itu sangat terbatas sekali terbukti untuk duduk menjadi anggota PPMI (Persatuan Perhimpunan mahasiswa Indonesia, satu konfederasi organisasi mahasiswa extra Universitas), tidaklah mungkin bisa, sebab PPMI adalah gabungan ormas-ormas mahasiswa. Apalagi dalam MMI (Majelis Mahasiswa Indonesia, satu federasi dari para Dewan / Senat Mahasiswa, juga tidaklah mungkin).

Menyadari akan keterbatasan itu dan berkat dorongan-dorongan dari pelbagai pihak serta dengan mengambil beberapa per imbangan diantaranya :

1. Didirikannya Perguruan Tinggi NU dipelbagai tempat seperti PTINU di Surakarta (sekarang bernama Universitas Nahdatul Ulama), Fakultas Ekonomi dan Tata Niaga dan Fakultas Hukum dan Tata Praja di Bandung (sekarang menjadi Universitas Islam Nusantara, Bandung, Pen) dan Akademi Ilmu Pendidikan dan Agama Islam di Malang (sekarang bernama Universitas Islam Malang, Pen) dan yang berarti makin dibutuhkannya saluran bidang bergerak bagi mahasiswa mahasiswa kita.

2. Adanya dorongan dari pucuk pimpinan lembaga Pendidikan Maarif NU sendiri agar lebih mengkonkritkan bentuk organisasi mahasiswa kita.

3. Adanya dorongan-dorongan dari perorangan para mahasiswa kita yang kuliah di PTINU untuk mengkonkritkan wadah dari para mahasiswa NU.

4. Adanya kenyataan praktis maupun psikologis yang berbeda disegi system belajar dari kalangan pelajar dan mahasiswa, dan akhirnya berkesimpulan

5. Dirasakan sudah waktunya untuk mendirikan satu organisasi mahasiswa Nahdatul Ulama.

Dan akhirnya upaya-upaya untuk mendirikan organisasi mahasiswa NU itu mencapai titik terang setelah secara panjang lebar sahabat Ismail Makky dan sahabat Muhamad Hartono, BA berbicara di depan konferensi Besar I IPNU di Yogyakarta yang diselenggarakan pada tanggal 14-17 Maret 1960 dan akhirnya atas dasar uraian-uraian dan perbagai argumentasi tentang pentingnya dibentuk satu wadah organisasi mahasiswa NU yang lepas baik secara organisatoris maupun adminstratif.

Maka diputuskanlah bahwa setelah konferensi besar IPNU ini maka akan di adakan musyawarah mahasiswa NU dengan limit waktu satu bulan setelah konbes IPNU tersebut, direncanakan musyawarah pembentukan organisasi mahasiswa NU itu akan dilaksanakan di Kota Surabaya. (Ajie Najmuddin)

Sumber: Sejarah singkat IPNU IPPNU, buku. Kenang-kenangan Makesta IPNU-IPPNU Kodya Surakarta (1970); Buku Sejarah PMII Surakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Kajian, Sholawat, Syariah Fans Gus Dur

Jumat, 16 Februari 2018

Mulanya Tak Ada yang Berani Mendirikan Cabang NU di Tuban

Kemunculan Nahdlatul Ulama (NU) di daerah Tuban, Jawa Timur, tergolong lebih muda jika dibandingkan daerah-daerah lain di Jawa Timur atau Jawa Tengah. NU yang didirikan pada tahun 1926, baru berdiri di Bumi Wali pada tahun 1935, itupun bukan di pusat kota, melainkan di Desa Kaliuntu, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban.

“Salah satu penyebabnya, dikarenakan pengaruh dan wibawa dari KH Moertadlo. Beliau merupakan seorang ulama sepuh seangkatan KH Hasyim Asy’ari, yang masih memegang prinsip bahwa dakwah Islam tidak harus melalui organisasi, tetapi cukup melalui dakwah dan pengajian,” terang Wakil Rais Syuriyah PCNU Tuban KH Ahmad Mundzir, saat ditemui Fans Gus Dur, belum lama ini (3/10).

Mulanya Tak Ada yang Berani Mendirikan Cabang NU di Tuban (Sumber Gambar : Nu Online)
Mulanya Tak Ada yang Berani Mendirikan Cabang NU di Tuban (Sumber Gambar : Nu Online)

Mulanya Tak Ada yang Berani Mendirikan Cabang NU di Tuban

Mundzir menambahkan, pendapat Kiai Moertadlo yang kala itu mengasuh Pesantren Ash-Shomadiyah Makam Agung Tuban, kemudian diikuti para kiai dan tokoh Islam setempat. Alhasil, tak ada yang berani mendirikan cabang NU di kota Tuban.

Fans Gus Dur

“Baru kemudian pada tahun 1935, sejumlah santri alumni Pesantren Tebuireng di Kecamatan Jenu mendirikan NU Cabang Jenu. Sehingga muncul anekdot Jenu (Jelas NU)!” ungkapnya.

Sebagai pengurus di masa awal, KH Khusen mengemban amanah sebagai Rais Syuriyah berduet dengan Kiai Umar Farouq sebagai Ketua Tanfidziyah.

Fans Gus Dur

Meskipun demikian, pada perkembangannya hingga Indonesia merdeka, NU di Tuban belum jua mengalami perkembangan yang pesat. Selain karena faktor di atas, kebijakan Jepang yang membekukan semua organisasi masyarakat dan politik di Indonesia juga menjadi alasan lain.

Hingga akhirnya, KH Wahid Hasyim, yang ketika itu menjabat sebagai Ketua Masyumi, datang menemui Bupati Tuban  R.T. Soediman Hadiatmodjo dan memintanya untuk mengizinkan membuka cabang NU di daerah Tuban.

Pada tahun 1945 NU berdiri di kota Tuban dan dengan sendirinya keberadaan NU Cabang Jenu pun berakhir. (Ajie Najmuddin)

Sumber terkait : Buku Perjalanan NU Tuban (PCNU Tuban:2014)

Foto: Rais Syuriah pertama NU Jenu, Tuban, KH Khusen

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Syariah Fans Gus Dur

Selasa, 06 Februari 2018

IPNU-IPPNU Kudus Gelar Manaqiban Jelang Pelatihan Fasilitator

Kudus, Fans Gus Dur. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) bersama Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kabupaten Kudus mengadakan selamatan dengan pembacaan manaqib menjelang Pelatihan Fasilitator (Latfas), Kamis (7/5) di Gedung MWCNU Mejobo Kudus, Jawa Tengah.

IPNU-IPPNU Kudus Gelar Manaqiban Jelang Pelatihan Fasilitator (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Kudus Gelar Manaqiban Jelang Pelatihan Fasilitator (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Kudus Gelar Manaqiban Jelang Pelatihan Fasilitator

PC IPNU-IPPNU Kudus telah menyelesaikan beberapa program kerjanya.  Maka selain sebagai doa selamatan, manaqib ini juga sebagai agenda tasyakuran atas kesuksesan berbagai agenda yang telah terlaksana.

“Sebagai ungkapan rasa syukur kita kepada Allah atas suksesnya seluruh agenda sedari kita pelantikan tanggal 9 November 2014 hingga hari ini,” ujar Joni Prabowo, Ketua Umum PC IPNU Kudus.

Fans Gus Dur

Usai pelantikan, IPNU-IPPNU Kudus lekas berkegiatan antara lain, pelatihan kepemimpinan bagi anggota Forum Komunikasi Antar Pimpinan Komisariat (Forkapik), Diklatama DKC CBP dan KPP, Lakmud dan Makesta pada tahun 2014 lalu.

Juga suksesi atas serangkaian kegiatan penyambutan hari lahir IPNU dan IPPNU, tim apresiasi seni 54, tim redaksi majalah Pilar 2015, tim Bimbingan Pasca Ujian Nasional (BPUN) kerjasama Yayasan Mata Air, manajemen pembuatan Kartu Tanda Anggota (KTA), dan usaha akomodasi atribut IPNU-IPPNU oleh tim perekonomian.

Fans Gus Dur

“Sementara besok pun kita sudah akan mulai agenda terdekat kita, yakni pagi jam delapan ada pembukaan Latfas di tempat ini juga, serta siangnya pembukaan BPUN di ponpes Zainal Husain. Ini acara kita bersama dan butuh dukungan dan bantuan,” papar Joni saat sambutan manaqib.

Pembacaan manaqib sore itu dipimpin oleh Dwi Saifullah, mantan Ketua IPNU Kudus periode sebelumnya. Acara diikuti oleh para pengurus harian, departemen, tim redaksi majalah Pilar, Forkapik, serta para tamu undangan. (Istahiyyah/Fathoni) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur IMNU, Syariah Fans Gus Dur

Kamis, 01 Februari 2018

Lagi, LPBI NU Buka Dua Cabang Baru Bank Sampah Nusantara

Jakarta, Fans Gus Dur - Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) melalui Bank Sampah Nusantara (BSN) memulai upaya pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan berbasis komunitas dan pesantren. Pengurus LPBI NU membuka BSN Cabang Desa Kertabesuki Kecamatan Wanasari dan BSN Desa Bulusari Kecamatan Bulakamba Kabupaten Brebes, Ahad (12/2).

Tim BSN LPBI NU berharap dua cabang ini menjadi embrio BSN lain untuk selalu menyuarakan pelestarian lingkungan di Kabupaten Brebes.

Lagi, LPBI NU Buka Dua Cabang Baru Bank Sampah Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagi, LPBI NU Buka Dua Cabang Baru Bank Sampah Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagi, LPBI NU Buka Dua Cabang Baru Bank Sampah Nusantara

BSN sudah mempunyai 15 cabang di seluruh di Indonesia dalam kurun waktu sepuluh bulan. Bulan lalu BSN membuka cabang di Bogor. Sebelum mendirikan cabang baru, Tim BSN melakukan kajian tentang potensi perhitungan sampah per orang, potensi bisnis yang dihasilkan dari pengelolaan sampah dan potensi sumberdaya manusia yang ada di sebuah wilayah.

Fans Gus Dur

Sebelum pembukaan dua cabang baru di Brebes Tim BSN LPBI NU melakukan sosialisasi materi penyelamatan dan pelestarian lingkungan untuk masa depan. Mereka juga menjelaskan manajemen BSN mulai dari manajemen operasional, manajemen produksi, dan manajemen pemasaran.

Sosialisasi pertama diadakan di Desa Kertabesuki Kecamatan Wanasari yang dihadiri 30 orang warga yang mayoritas pengurus ranting Muslimat NU. Pendirian BSN ini ditandai dengan dokumentasi hasil karya kerajinan tangan dari koran bekas dan terpilihnya Rodhia sebagai Kepala BSN Cabang Desa Kertabesuki.

"Acara ini merupakan rangkaian roadshow dalam rangka merayakan Hari Peduli Sampah Nasional 2017. Setelah ini, pembentukan BSN akan terus dilakukan, karena di tahun 2017 ini? kita mempunyai target pembentukan 40 cabang BSN di seluruh Indonesia", kata Direktur Bank Sampah Nusantara LPBI NU Fitria Ariyani.

Fans Gus Dur

Sosialisasi BSN dilanjutkan ke Desa Bulusari Kecamatan Bulakamba. Kegiatan yang dihadiri dihadiri 90 orang ibu-ibu PKK bertempat di balai desa. Sambutan dukungan diberikan oleh kepala desa, Saifuddin Trirosanto yang akan menganggarkan dana untuk kegiatan BSN di Desa Bulusari.

"Bank Sampah Nusantara kita ini baru berjalan, kami sangat butuh bantuan untuk ke depannya supaya BSN di desa kita ini berjalan terus tanpa hambatan," kata Kepala BSN Cabang Desa Bulusari Endang Supri Lestari. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Syariah, Nusantara Fans Gus Dur

Minggu, 28 Januari 2018

Pesantren Bukan Sarang Teroris dan Narkoba!

Subang, Fans Gus Dur

Menyebut pesantren sebagai sarang teroris dan narkoba merupakan pernyataan yang salah dan ngawur, karena Islam dan nasionalisme adalah ajaran yang sudah melekat di kalangan pesantren.

Pesantren Bukan Sarang Teroris dan Narkoba! (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Bukan Sarang Teroris dan Narkoba! (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Bukan Sarang Teroris dan Narkoba!

"Membuat identifikasi pesantren sebagai sarang terorisme dan sarang narkoba itu salah. Ketika berbicara Islam dan nasionalisme, tidak akan ada radikalisasi dan narkoba disana," tegas KH Maman Imanulhaq, Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka usai mengikuti Dzikir Akbar di Pesantren Attawazun, Kalijati, Subang, Ahad (14/2/2016).

Anggota Fraksi PKB DPR RI ini menambahkan, ketika ditemukan ada 19 lembaga pendidikan Islam yang mencetak teroris, diharapkan agar BNPT tidak melakukan generalisasi kepada seluruh pesantren.

"Kalau pun disebut ada 19 pesantren, tolong jangan menyebutnya sebagai pesantren, sebut saja majelis yayasan pendidikan saja, kita tersinggung oleh perkataan itu," tegas Wakil Ketua Lembaga Dakwah PBNU itu.

Fans Gus Dur

Untuk menyelesaikan masalah terorisme, kata dia, diharapkan kepada BNPT untuk melakukan koordinasi dengan Kementerian Agama serta menentukan parameter dan indikator pesantren yang terjangkit ajaran radikalisme.

"Deradikalisasi tidak akan berhasil tanpa ada koordinasi, komunikasi dan konfirmasi. Saya juga ingin menegaskan agar media dan publik tahu bahwa pesantren bukan sarang teroris ataupun narkoba," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Fans Gus Dur

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Syariah, Fragmen, Sholawat Fans Gus Dur

Sabtu, 27 Januari 2018

Apa Saja Indikator Pesantren Sehat? Ini Penjelasannya

Jombang, Fans Gus Dur

Kondisi bersih dan sehat menjadi keharusan di lingkungan pondok pesantren. Tujuannya agar para santri, pengasuh, dan seluruh keluarga besar pondok pesantren hidup dalam suasana dan keadaan yang sehat. Lalu apa saja indikator atau tanda pondok pesantren yang sehat?

Apa Saja Indikator Pesantren Sehat? Ini Penjelasannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Apa Saja Indikator Pesantren Sehat? Ini Penjelasannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Apa Saja Indikator Pesantren Sehat? Ini Penjelasannya

Wakil Ketua LK PBNU Zulfikar As’ad atau yang acap disapa Gus Ufik, menjelaskan indikator pesantren yang sehat terdiri dari indikator utama dan indikator tambahan.

“Yang termasuk indikator utama adalah seluruh keluarga pondok pesantren terbiasa makan buah dan sayur, melakukan aktivitas fisik, dan deteksi dini terhadap kemungkinan adanya penyakit,” terang Gus Ufik di depan peserta Lokakarya “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui Pesantren Sehat” di Pondok Pesantren Darul Ulum, Sabtu (19/11) akhir pekan kemarin.

Fans Gus Dur

Gus Ufik menambahkan aktivitas fisik yang dimaksud bisa berbentuk olah raga, jalan kaki, maupun kegiatan sehari-hari seperti menyapu.

“Aktivitas fisik tidak harus dilakukan lama-lama dalam sekali kegiatan. Bisa lima belas atau tiga puluh menit sekali beraktivitas, tapi dilakukan secara rutin,” terangnya.

Fans Gus Dur

Adapun indikator tambahan terkait kepada bersihnya lingkungan pesantren yang meliputi udara, sampah, saluran air, air minum, mandi cuci kakus (MCK), ventilasi, dan pencahayaan.

“Selain itu pesantren yang sehat juga menyediakan kawasan tanpa merokok, pusat promosi kesehatan, dan adanya pos kesehatan pesantren (Poskestren),” kata pria yang juga? Ketua Asosiasi Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (ARSINU).

Pesantren sehat menjadi bagian dari Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Hal ini selaras dengan program LK PBNU yang bertanggungjawab menjalankan kebijakan PBNU di bidang kesehatan dan melaksanakan fungsi pembinaan pada Lembaga Kesehatan di tingkat Pengurus Wilayah.

Germas, kata Gus Ufik, dicanangkan pada 15 November 2016 oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI di Yogyakarta. Pencanangan Germas atas prakarsa Presiden RI dan merupakan wujud gerakan revolusi mental bidang kesehatan untuk membudayakan hidup sehat, agar mampu mengubah kebiasaan perilaku tidak sehat. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Syariah, Nahdlatul Ulama, AlaNu Fans Gus Dur

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Fans Gus Dur sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Fans Gus Dur. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Fans Gus Dur dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock