Senin, 12 Maret 2018

Sejarawan: Buku Putih NU Menjadi Bahan Historiografi Baru

Yogyakarta, Fans Gus Dur. Guru besar sejarah Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta Bambang Purwanto mengatakan, penerbitan buku putih “Benturan NU-PKI: 1948-1965” oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mempunyai tempat tersendiri dalam penulisan sejarah atau historiografi Indonesia. Dan sebagai sebuah sejarah, buku putih itu tentu memuat subyektifitas.

Sejarawan: Buku Putih NU Menjadi Bahan Historiografi Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarawan: Buku Putih NU Menjadi Bahan Historiografi Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarawan: Buku Putih NU Menjadi Bahan Historiografi Baru

“Sejarah tidak pernah obyektif. Historiografi selalu memuat subyektifitas. Bagi kami sejarawan, buku putih yang ditulis oleh NU ini sangat berarti sebagai sumber historiografi,” kata Prof Bambang dalam bedah buku putih itu di kampus UIN Sunan Kalijaga, Kamis (3/4). Kegiatan yang digelar PWNU Yogyakarta dihadiri oleh Wakil Ketua Umum PBNU KH As’ad Said Ali dan tim penulis dari Jakarta.

Sebelumnya ketua tim penulis buku putih Abdul Mun’im DZ mengatakan, buku putih itu ditulis sebagai bahan pegangan atau panduan bagi warga NU sendiri, terutama generasi muda yang tidak terlibat dalam peristiwa penting yang melibatkan NU di masa lalu. “Buku ini lebih tepat disebut sebagai buku politik, bukan buku ilmiah,” kata Wakil Sekjen PBNU itu.

Fans Gus Dur

Bambang Purwanto mengatakan, jika buku “Benturan NU-PKI” itu dimaksudkan sebagai buku panduan bagi kader NU atau menjadi buku politik, maka berbagai pertanyaan yang menyangkut persoalan historiografi telah selesai. Dalam konteks itu, buku putih yang ditulis oleh NU sudah berhasil.

Fans Gus Dur

“Sebagai buku pegangan bagi kader NU, buku ini sudah berhasil menyampaikan apa yang ingin disampaikan dan layak untuk dibaca. Buku ini telah berhasil betul mengatakan bahwa NU itu hebat betul. Bahwa NU hampir tidak ada cacat,” katanya.

Namun, ia memberikan catatan, buku putih NU itu sangat monolitik. “Tidak ada yang berperan selain NU. Yang lain hanya pelengkap. Bahwa NU kemudian menjadi superhero, sangat terasa dalam buku ini,”katanya.

Namun menurutnya, membaca buku putih itu sama seperti membaca Babad Tanah Jawi, atau babad dan hikayat lainnya. Dengan menulis buku itu, lanjutnya, NU itu telah mengembalikan tradisi penulisan sejarah yang dilakukan orang-orang terdahulu.

“Buku putih ini merupakan produk narasi NU yang menjadi bahan baru untuk menulis historiografi baru,” pungkasnya. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Jadwal Kajian, Cerita, Sejarah Fans Gus Dur

Mata “Tertutup” Tetapi Bisa Melihat

Jakarta,Fans Gus Dur. Diantara tempat yang sering dikunjungi oleh Alm KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)  adalah Pesantren Asy-Syafi’iiyah Kedungwungu, Kec. Krangkeng Indramayu Jawa Barat, minimal dalam setahun dua kali Gus Dur berkunjung di pesantren yang terletak di pinggiran sungai/irigasi desa itu.

Tepat beberapa hari Gus Dur lengser dari kursi kepresidenan Gus Dur berkenan mengunjungi pesantren asuhan KH Afandi Abdul Muin Syafi’i itu.

Mata “Tertutup” Tetapi Bisa Melihat (Sumber Gambar : Nu Online)
Mata “Tertutup” Tetapi Bisa Melihat (Sumber Gambar : Nu Online)

Mata “Tertutup” Tetapi Bisa Melihat

Dalam kondisi –baru lengser itu- tentunya  Gus Dur sedang menjadi perhatian publik, panitia berinisiatif membuat panggung pengajian yang diletakkan di tepi sungai di depan pesantren itu, -karena halaman pesantren kurang luas-, dengan posisi panggung menghadap sungai, sehingga hadirin diposisikan di sepanjang jalan yang berdampingan dengan sungai. Saat itu Nasrulloh Afandi, salah satu santri di pesantren tersebut ikut jadi panitia.

Fans Gus Dur

Di hari H, sebelum Gus Dur tiba di lokasi, puluhan ribu hadirin berdatangan,dari berbagai pelosok Kabupaten Indramayu,Cirebon dan sekitarnya, dengan aneka latar belakangnya. Termasuk saat itu Wakil Bupati Indramayu yang terlambat datang pun harus rela masuk lokasi melalui pematang sawah, lewat pintu belakang dapur pesantren karena jalan depan jadi lautan manusia.

Saat berbicara di atas panggung, tiba-tiba Gus Dur bilang ”Ini baru pertama kali saya ceramah di tepi sungai, jadi terasa sejuk, melebihi AC, ya maklum desa tempat membuang jin, jauh dari kota he he.. he…” sambil tertawa terkekeh-kekeh khas Gus Dur.

Fans Gus Dur

Tentu saja orang yang mendengar terheran-heran, darimana Gus Dur tahu kalau panggung itu di tepi kali. Padahal tidak ada yang ngasih tahu sebelumnya.

Ditengah-tengah orasinya, Gus Dur bilang ”Indramayu ini punya PT Pertamina dengan sumber daya besar, itu tidak jauh dari sini, tetapi masyaraktnya belum makmur, ini sebagai bahan evalusai pemerintah daerah,” tandas Gus Dur, dengan jari telunjuk tangan kiri ke arah lokasi dimana PT Pertamina Balongan berada, identiknya orang yang melihat dengan normal dan memahami lokasi daerah tersebut.

Setelah cukup lama berorasi tiba-tiba Gus Dur pun melihat jam tangan yang berada di pergelangan tangannnya (lihatlah foto-foto Gus Dur, ke mana-mana Ia selalu memakai jam tangan,red)

Sambil melihat jam tangan, tanpa ada yang mengasih tau, kemudian Ia bilang: “Ini sudah pukul empat sore, saya harus ke tempat Kiai Fuad Hasyim Buntet (Cirebon, red). Padahal jadwal semula saya mau ke Buntet dulu, terus ke Kedungwungu, tetapi berubah, ke Kedungwungu duluan, nah itu kiai Fuad-nya sudah jemput saya, sambil menunjuk ke arah alm KH Fuad Hasyim yang berada di bawah di samping panggung,” tandas Gus Dur, waktu yang dikatakannya pun betul, identiknya orang yang melihat jam secara normal saat itu.

Alhasil, Gus Dur matanya“tertutup” sebagaimana disaksikan oleh orang banyak, tetapi sejatinya Ia bisa melihat. wallahu a’lam. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Kyai, Fragmen, Sholawat Fans Gus Dur

Minggu, 11 Maret 2018

Ketua LPKNU : Galakkan Pesantren Siaga Bencana

Bandung, Fans Gus Dur

Bencana yang datang di Indonesia secara bertubi-tubi telah menimbulkan korban dengan jumlah yang luar biasa besarnya seperti yang terjadi di Aceh, Pengandaran Jogja dan lainnya. Besarnya korban tersebut salah satunya disebabkan oleh ketidaksiapan masyarakat dalam mengantisipasi terjadinya bencana.

Upaya untuk menghadapi bencana tersebut harus dilakukan oleh semua fihak, pemerintah, swasta, dan masyarakat. Ketua Lembaga Pelayanan Kesehatan Nahdlatul Ulama (LPKNU) Dr. Syahrizal Syarif PhD. mengungkapkan bahwa masyarakat atau komunitas memiliki peranan penting dalam mengantisipasi dan menangani terjadinya bencana.

Ketua LPKNU : Galakkan Pesantren Siaga Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua LPKNU : Galakkan Pesantren Siaga Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua LPKNU : Galakkan Pesantren Siaga Bencana

Nahdlatul Ulama yang memiliki banyak pesantren yang merupakan sumber rujukan masyarakat dalam berbagai hal bisa juga berperan dalam mengantisipasi terjadinya bencana. “Makanya sekarang harus digalakkan pesantren siaga bencana,” tandasnya dalam acara workshop Penanganan Bencana Berbasis Pesantren yang diselenggarakan oleh LPKNU di Bandung, Rabu.

Hal yang sama diungkapkan oleh Ketua PBNU HM Rozy Munir. Pesantren yang memiliki kohesifitas dan jaringan luas di seluruh Indonesia merupakan modal penting yang bisa digunakan untuk membantu mengatasi terjadinya bencana.

Sementara itu wakil rektor ITB bidang pendidikan Dr. Ir. Widyo Nugroho SULASDI mengungkapkan bahwa kondisi  alam Indonesia merupakan daerah rawan bencana. Karena itu kehidupan masyarakat harus dibangun dengan budaya hidup dengan bencana seperti gempa.

Ia mencontohkan negara Jepang yang sangat sering terjadi gempa dan masyarakat disana sejak usia dini sudah dikenalkan bagaimana menyelamatkan diri ketika terjadi gempa yang bisa datang sewaktu-waktu. Pemerintah juga telah mensosialisasikan standard prosedur yang harus dilakukan oleh penduduk ketika terjadi bencana seperti tsunami sehingga bisa meminimalisir jumlah korban.

Fans Gus Dur

Lemahnya kesadaran terhadap bencana juga diakui oleh wakil gubernur Jabar H. Nu’man Abdul Hakim yang membuka acara tersebut. Mantan aktifis PMII tersebut menceritakan saat terjadi gempa yang mengguncang Jakarta beberapa waktu lalu. Saat itu, ia sedang berada di gedung DPR RI. “Ada gempa, orang-orang malah lari ke lift, bukannya ke tangga darurat. Mereka tidak tahu protapnya (prosedur tetap) bagaimana kalau ada bencana,” tandasnya.

Kondisi yang terjadi di kalangan elit Indonesia ini tentu menimbulkan pertanyaan yang menggelitik. Jika elitnya saja tidak faham bagaimana menghadapi bencana, bagaimana dengan rakyatnya?

Fans Gus Dur

Banyak masalah yang belum terselesaikan dalam mengantisipasi terjadinya bencana di Indonesia. Banyak daeah yang belum memiliki peta rawan bencana, siapa yang berhak mengumumkan akan terjadinya suatu bencana sampai dengan masalah dana untuk mengatasi bencana.

Beberapa daerah yang sudah memiliki peta rawan bencana adalah Malang dan Jakarta. Sementara Padang sudah membuat perda untuk mengantisipasi terjadinya bencana yang diantara isinya adalah saat terjadi tsunami, gedung bertingkat tiga ke atas menjadi milik publik yang bisa diakses siapa saja sehingga setiap orang bisa berlindung disana dan radio-radio lokal dibawah koordinasi pemerintah.

Workshop kali ini merupakan rangkaian awal dari upaya mempersiapkan pesantren di daerah rawan bencana agar bisa membantu mulai dari mengantisipasi sampai dengan penanganan pasca bencana. Tiga pesantren yang masing-masing mewakili daerah rawan bencana, PP Nurul Islam Jember berkaitan dengan tsunami dan longsor, PP Darussalam Magelang berkaitan dengan gunung meletus dan PP Assidiqiyah Jakarta berkaitan dengan banjir dan kebakaran. Sejumlah badan otonom dan lembaga yang berkaitan dengan penanganan bencana juga terlibat dalam acara tersebut. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Kiai Fans Gus Dur

Sabtu, 10 Maret 2018

Tangani Penyakit TB, LKNU Gandeng Pelbagai Pihak

Jakarta, Fans Gus Dur - Tidak semua orang menyadari penyakit menular Tuberkolosis (TB) masih mengancam Indonesia. Bahkan banyak yang mengira bahwa penyakit yang dulunya bernama TBC ini sudah tidak ada lagi di Indonesia. Untuk itu Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) bersama sejumlah pihak terus mengupayakan pemberantasan TB.

Demikian disampaikan Ketua LKNU pada pengantar diskusi bersama media di Lantai 8 Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (8/3).

Tangani Penyakit TB, LKNU Gandeng Pelbagai Pihak (Sumber Gambar : Nu Online)
Tangani Penyakit TB, LKNU Gandeng Pelbagai Pihak (Sumber Gambar : Nu Online)

Tangani Penyakit TB, LKNU Gandeng Pelbagai Pihak

Dalam rangka mengentaskan penyakit TB ini, LKNU berkolaborasi dengan Forum Stop TB Partnership Indonesia (FSTPI) dan Johnson & Johnson Indonesia.

Fans Gus Dur

Ia berharap agar masyarakat lebih meningkatkan kesadarannya terhadap penyakit Tuberkolosis ini. Menurutnya, apa yang dianggap oleh masyarakat itu tidak sesuai dengan kenyatannya. Indonesia justru menempati kasus TB nomor dua di dunia.

Fans Gus Dur

Ia berharap, lewat acara diskusi pada temu pers siang hari ini bisa menjadi sarana  untuk menyebarluaskan kepedulian masyarakat terhadap penyakit yang satu ini.

Narasumber diskusi ini adalah Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Vice President GFO, OTC, Johnson & Johnsos Asia Pasific Lakish Hatalkar, dan Ketua Forum Shop TB Partnership Indonesia (FSTPI) Arifin Panigoro. (Husni Sahal/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Nasional, Makam Fans Gus Dur

Jumat, 09 Maret 2018

Nilai-nilai Aswaja Tak Sebanding dengan Kemampuan Ber-jamiyah NU

Palembang, Fans Gus Dur

Nilai-nilai dasar dan ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang telah menjadi dasar dan watak Nahdlatul Ulama (NU) tak sebanding dengan kemampuan berjam’iyah warga nahdliyin (sebutan untuk warga NU). Di antara indikatornya adalah banyaknya kasus pelanggaran ketentuan organisasi yang telah ditetapkan, seperti halnya rangkap jabatan.

Demikian disampaikan Ketua Pengurus Pusat (PP) Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakesdam) NU Nasihin Hasan kepada Fans Gus Durdi sela-sela acara Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Lakpesdam NU di Hotel Carrisimi, Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (13/12).

Nilai-nilai Aswaja Tak Sebanding dengan Kemampuan Ber-jamiyah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Nilai-nilai Aswaja Tak Sebanding dengan Kemampuan Ber-jamiyah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Nilai-nilai Aswaja Tak Sebanding dengan Kemampuan Ber-jamiyah NU

Nasihin, begitu panggilan akrabnya, mengatakan, indikator lainnya seperti kasus kepentingan konflik antara pribadi dengan kepentingan jamaah dan jam’iyah, kurang efektifnya struktur yang ada dan kinerja manajemen organisasi, tumpang tindih peran antara organisasi induk dengan badan otonom, lajnah dan lembaga.

“Sementara, tantangan NU ke depan dalam menyikapi persoalan masyarakat dan relasi global yang semakin menuntut peran dan kiprah NU, jelas membutuhkan penguatan manajemen serta ketersediaan kader-kadernya yang siap dan militan,” terang Nasihin.

Dalam sejarahnya, Lakpesdam NU didirikan, baik di tingkat pusat maupun wilayah dan cabang, adalah bertujuan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia NU, terutama yang berhubungan misi mengawal kerja-kerja sosial-kemasyarakatan NU. Hal itu, katanya, sesuai dengan uraian yang terkandung dalam Khittah NU 1926 atau yang disebut juga dengan Khittah Nahdliyah.

Peran dan fungsi lembaga yang menjadi pusat penelitian dan pengkajian di NU tersebut, menurut Nasihin, juga tertuang dalam hasil Pertemuan Nasional Lakpesdam NU pada Agustus 2004 silam. Di dalamnya disebutkan tiga hal mendasar yang berhasil disepakati, antara lain, pertama, visi Lakpesdam membangun iklim yang dinamis dan konsisten terhadap visi kerakyatan, baik di kalangan jam’iyah maupun jamaah. “Melalui pengembangan sumber daya manusia yang kritis di lingkungan NU,” tandasnya.

Fans Gus Dur

Kedua, misi Lakpesdam adalah memperkuat kapasitas individu dan lembaga serta penguatan basis jamaah dengan membongkar paradigma fatalis. Ketiga, strategi penguatannya adalah mendorong semuan tingkatan struktur kelembagaan NU untuk melakukan perbaikan sistem, manajemen, penguatan institusi dan sumber daya manusia NU.

“Termasuk di dalamnya, pembenahan system organisasi dan pengkaderan serta sistem pengorganisasian masyarakat. Karena keberadaan NU tidak bisa terlepas dari masyarakat umumnya,” jelas Nasihin.

Fans Gus Dur

Dijelaskan Nasihin, 21 tahun kiprah Lakpesdam NU sejak didirikannya pada Muktamar ke-27 di Situbondo tahun 1984 silam terhadap penguatan organisasi, manajemen dan pengkaderan NU, masih menyisakan sejumlah catatan. Di antaranya adalah tidak seragamnya persepsi di tingkat pengurus wilayah dan pengurus cabang tentang paradigma dan mandat utama pembentukan Lakpesdam NU.

“Sementara, tantangan keadaan di luar, baik di tingkat lokal, nasional maupun global, menuntut adanya lembaga atau tatanan organisasi yang kuat dalam menghadapi dan menyikapi perkembangan kehidupan masyarakat secara luas,” ungkap Nasihin.

Catatan lain, imbuh Nasihin, pola koordinasi dan komunikasi antar-struktur Lakpesdam di berbagai tingkatan juga menjadi permasalahan mendasar. “Struktur kepengurusan Lakpesdam kan mengikuti struktur NU-nya. Di tingkat PWNU, maka ada juga PW Lakpesdam dan seterusnya. Akibatnya, seolah-olah tidak ada hubungan organisastoris secara langsung dan tidak saling berkoordinasi,” terangnya.

Kesamaan peran dan fungsi Lakpesdam, lanjut Nasihin, mestinya dapat menjadi sebuah kekuatan tersendiri yang cukup menentukan dalam perjalanan NU sebagai sebuah organisasi civil society. “Namun, berbagai kekuatan tersebut tidak berhimpun karena persoalan prosedural. Kekuatan tersebut masih terserak karena minimnya komunikasi yang saling menguntungkan,” pungkasnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Ubudiyah, Pesantren Fans Gus Dur

Selasa, 06 Maret 2018

Gus Mus: Menyayangi yang Muda, Menghormati yang Tua

Jakarta, Fans Gus Dur 



Mustasyar PBNU KH A. Mustofa Bisri membagikan foto Mustasyar PBNU KH Maemoen Zubeir ketika disalami Alissa Wahid melalui akun Facebooknya. Ketika berita ini ditulis, Kamis (9/11) foto yang disebar 6 jam lalu itu telah dibagikan 300 akun lain, dikomentari puluhan akun, serta mendapat ragam reaksi dari 7,7 ribu akun. 

Kiai yang disapa Gus Mus itu menjuduli fotonya dengan dengan “Menyayangi yang Muda, Menghormati yang Tua.” Di foto itu tampak yang muda, Alissa Wahid mencium punggung telapak tangan yang tua, KH Maemoen Zubair.

Gus Mus: Menyayangi yang Muda, Menghormati yang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Menyayangi yang Muda, Menghormati yang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Menyayangi yang Muda, Menghormati yang Tua

Menurut Alisaa, foto itu diambil di sela-sela akad nikah Kahiyang Ayu dengan Bobby Nasution di kota Solo, Rabu (8/11). Di situasi ketat karena yang menikah putri seorang presiden, putri Gus Dur mengaku masih sangat semangat menemui kiai.

“Sampai yang motret ditegur protokol,” katanya ketika dihubungi Fans Gus Dur

Fans Gus Dur

Pada kesempatan itu kiai yang akrab disapa Mbah Moen sempat menanyakan kabar Alissa. Pada saat itu pula, Alissa meminta izin untuk sowan ke kediamannya.

“Saya matur bade sowan, beliau menyambut,” lanjut Alissa. 

Alissa juga menemui Habib Luthfi bin Yahya. Ia mengutarakan hal yang sama, mau matur dan sowan ke kediamannya, di Pekalongan. 

Fans Gus Dur

“Diminta datang tanggl 10 November,” pungkas Alissa. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Kajian Islam, Pondok Pesantren Fans Gus Dur

Senin, 05 Maret 2018

PCNU Sumenep Sikapi Persoalan Agraria

Sumenep, Fans Gus Dur. Banyaknya tanah rakyat khususnya di daerah pesisir yang dibeli orang luar daerah bahkan dari luar negeri menjadi keprihatinan bagi PCNU Sumenep, Madura, Jawa Timur. Karena itu, Ahad (1/11) PCNU Sumenep menggelar seminar agraria bertempat di gedung pertemuan PCNU Sumenep dalam rangka menyikapi banyaknya persoalan tersebut.

Menurut sekretaris PCNU Sumenep, A Waris Umar, maksud diadakannya seminar ini sebagai bagian mengonsolidasi Nahdliyin serta memberikan pengetahuan seputar masalah agraria dan konflik yang menyertainya.

PCNU Sumenep Sikapi Persoalan Agraria (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Sumenep Sikapi Persoalan Agraria (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Sumenep Sikapi Persoalan Agraria

Hadir dalam seminar tersebut dua orang narasumber, Muhammad Fayyadl (Gus Fayyadl) dari Paiton, Probolinggo dan KH Muhammad Shalahuddin (Gus Mamak) dari Guluk-Guluk, Sumenep.

Fans Gus Dur

Menurut gus Mamak, kerusakan bumi dalam Alquran selalu dikaitkan dengan ketamakan atau kerusakan. Berpindahnya kepemilikan tanah pada pemodal bisa menjadi pemicu bagi munculnya kerusakan bumi.

Lebih lanjut Gus Fayyadl menegaskan, maraknya pembelian tanah oleh para pemodal di tingkat lokal tak lepas dari desain di tingkat nasional bahkan global. Kapitalisme global dengan kuatnya invasi modal asing telah menguasai seluruh sumber daya alam.?

“Darat dan laut kita banyak yang telah dikelola asing. Kehadiran Front Nahdliyin Untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam sebenarnya didorong oleh kegelisahan realitas ini,” ujar Fayyadl.

Fans Gus Dur

Seminar agraria ini diikuti utusan MWC NU se-Kabupaten Sumenep, lembaga dan banom, mahasiswa, pesantren, perguruan tinggi, dan insan pers.

Mengakhiri seminar, PCNU Sumenep mendirikan Front Nahdliyin untuk Kedaulatan SDA di Kabupaen Sumenep sekaligus melantik A Dardiri Zubairi sebagai koordinatornya. (Dayat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur RMI NU, Olahraga, Daerah Fans Gus Dur

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Fans Gus Dur sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Fans Gus Dur. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Fans Gus Dur dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock