Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Februari 2018

Dari Pengajian Uang Jutaan Rupiah Terkumpul

Jepara, Fans Gus Dur - KH Mahyan Ahmad memiliki cara untuk menggali dana. Kiai humoris asal Grobogan Jawa Tengah ini kerap secara tiba-tiba menggali sedekah di majelis pengajian. Seperti yang dilakukannya saat berceramah di desa Margoyoso kecamatan Kalinyamatan kabupaten Jepara, Jawa Tengah Selasa malam (26/1).

Enggalian dana dilakukannya sebelum ia mengakhiri pengajian. “Nduk sini nduk, serbanku digelar,” pinta Kiai Mahyan kepada dua perempuan agar maju.

Dari Pengajian Uang Jutaan Rupiah Terkumpul (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Pengajian Uang Jutaan Rupiah Terkumpul (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Pengajian Uang Jutaan Rupiah Terkumpul

Di mulailah penggalian dana. Ada pun panitia yang lain mengedarkan kardus kosong agar diisi oleh ratusan jamaah yang hadir. Agar penggalian tidak monoton diiringi dengan rebana modern Al-Muhibbin asal Demak yang turut memeriahkan kegiatan ini.

Fans Gus Dur

“Ayo siapa lagi yang mau sedekah. Yang mau sedekah 100 ribu saya doakan InsyaAllah selamat dunia dan akhirat,” ajaknya.

Fans Gus Dur

Majulah Sidik. Jamaah asal desa Lebuawu ini menginfakkan 100 ribu. Kemudian Kiai Mahyan memimpin doa agar ia mendapat ganjaran yang setimpal dan selamat dunia akhirat.

Setelah ditotal oleh panitia dana yang terkumpul malam itu Rp 2.872.200. Dana tersebut diserahkan langsung kepada KH Muhsinin, Ketua MWCNU Kalinyamatan.

“Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada jamaah yang berinfak untuk pembangunan gedung MWCNU Kalinyamatan. Semoga amal Anda berkah dan mendapat pahala yang berlipat ganda,” ucap Kiai Muhsinin dalam penyerahan dana secara simbolis ini.

Dari pantauan Fans Gus Dur Kiai yang kerap mengisi ceramah di luar negeri ini melakukan hal serupa saat Haul ke-2 KH Muchlisul Hadi serta Haul Massal yang digelar MWCNU Kalinyamatan. Saat itu juga memperoleh dana jutaan rupiah untuk meneruskan proses pembangunan gedung MWCNU yang berada di desa Banyuputih.

Pengajian yang digelar keluarga H. Abdullah Hafidz ini memang bukan atas nama jamiyyah NU. Tetapi sesuai dengan instruksi PCNU Jepara setiap pengajian yang dilaksanakan atas nama individu diwajibkan memberitahu pengurus NU dari Ranting hingga Cabang.

Selain itu, pihak PCNU juga mengimbau agar memasang bendera NU di sekitar lokasi pengajian. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir pengajian “ilegal” yang bukan atas nama NU. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Quote, Hikmah Fans Gus Dur

Minggu, 18 Februari 2018

Doa Ibu dan Kisah Anak Menjadi Gay

Saya masih ingat dulu pada dekade 70-80-an, saya memiliki seorang teman yang menyebut dirinya “Mbak Sri”. Jangan dibayangkan dia seorang cewek karena dia sesungguhnya seorang cowok sebagaimana saya. Nama lengkapnya sebut saja Sri Wardono. Ketika Mbak Sri masih dalam kandungan, ibunya sangat berharap ia akan lahir sebagai anak perempuan. Maklum di keluarganya, belum ada seorang pun anak perempuan. Semua anak adalah laki-laki yang jumlahnya sudah 4 orang. Ibunya sangat mendambakan kehadiran seorang anak perempuan agar ia tak sendiri sebagai perempuan dalam keluarga itu. Di sinilah awal mula permasalahan.

Ibunda Mbak Sri, sebut saja Bu Basuki, memang sangat mengidamkan memiliki seorang anak berjenis kelamin perempuan sebagaimana dirinya. Dalam setiap doanya kepada Tuhan ia selalu menyatakan hal itu. Mbak Sri belum lahir saja, ibunya sudah menyiapkan nama anak perempuan “Sri Lestari” sekaligus pakaian anak perempuan yang bagus-bagus. Singkat cerita Bu Basuki berdoa keras agar Tuhan memberinya anak perempuan yang akan menjadi anak kelima dalam keluarganya.

Doa Ibu dan Kisah Anak Menjadi Gay (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Ibu dan Kisah Anak Menjadi Gay (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Ibu dan Kisah Anak Menjadi Gay

Mbak Sri akhirnya benar-benar lahir ke dunia bukan sebagai anak perempuan, tetapi sebagai anak laki-laki. Bu Basuki kecewa dengan kanyataan yang ada. Tetapi ia tidak menyerah begitu saja. Ia masih memiliki kesempatan untuk tetap memberikan nama depan “Sri” yang sudah ia siapakan sebelum kelahirannya. Nama belakang Mbak Sri bukan “Lestari” sebagaimana rencana awal, tetapi sudah disesuaikan dengan jenis kelamin yang sebenarnya, “Wardono”. Jadi nama lengkap Mbak Sri menjadi “Sri Wardono”.

Dengan nama depan “Sri”, ibunya masih bisa berimajinasi bahwa anak kelimanya adalah perempuan karena nama “Sri” lebih umum dipakai untuk anak perempuan. Setiap hari Bu Basuki memperlakukannya sebagai anak perempuan. Baju-baju anak perempuan yang sudah disiapkan sebelum kelahirannya, tetap dipakaiankan pada anak itu. Ketika baju-baju itu sudah tak cukup untuk badannya yang sudah semakin besar, Bu Basuki tetap membuatkan baju-baju baru dengan model baju perempuan.

Fans Gus Dur

Penampilan Mbak Sri yang dipaksakan feminin oleh ibunya ini, sedikit demi sedikit mempengaruhi kejiwaannya. Hal itu tampak pada perilakunya. Misalnya, ia lebih suka bergaul dengan anak-anak perempuan dan mulai tertarik dengan sesama laki-laki. Dia belajar berjalan dengan langkah gemulai meski suaranya tetap seperti kodratnya sebagai laki-laki. Ketika dewasa jakun di lehernya tak bisa disembunyikan.

Fans Gus Dur

Hari demi hari terus berjalan. Tahun demi tahun terus berlalu. Mbak Sri telah tumbuh dan berkembang cukup besar. Ia harus sekolah sebagaimana anak-anak sebaya. Oleh orang tuanya, Mbak Sri didaftarkan sebagai anak laki-laki. Di sekolah ia memakai celana dan kemeja. Di rumah ia memakai rok. Hal ini berlangsung hingga ia duduk di kelas 4 SD. Saat itu umurnya telah mencapai 10 tahun.

Di usia kesepuluh itulah, ia dikhitankan oleh orang tuanya. Namun, ketika lukanya telah mengering dan sembuh, ia memutuskan memilih menjadi anak perempuan dan tidak lagi mau sekolah. Ia tinggalkan bangku sekolah dan tanggalkan seluruh pakaian laki-lakinya. Selanjutnya ia hanya mau memakai pakaian perempuan, terutama rok. Termasuk dalam hal ini ia tanggalkan sarung yang selama ini ia kenakan untuk shalat di masjid. Kemudian ia mengganti sarung dengan mukena sebagaimana perempuan.

Jika sebelumnya ia selalu shalat berjamaah di ruang laki-laki, sejak itu ia pindah ke ruang perempuan. Di ruang perempuan ini, ia memilih bersendirian di baris paling belakang. Atau kalau memang di sebelah kiri atau kanannya ada perempuan, ia bersikap hati-hati dengan mengambil jarak agar tidak bersentuhan kulit. Ia menyadari kelaki-lakiannya dan cukup tahu hal-hal yang bisa membatalkan wudhu. Ia tak ingin membatali wudhu teman-teman perempuannya.

Ketika usia Mbak Sri telah mencapai 25 tahun, ia mengadakan pesta ulang tahun di rumah sendiri dengan mengundang banyak tamu terutama kerabat dekat, teman-teman sesama waria dan tetangga sendiri. Saya juga termasuk yang diundang dan hadir dalam acara itu. Saat itu saya sudah kuliah, entah di semester berapa saya lupa.

Perayaan ultahnya yang ke 25 itu ternyata ia manfaatkan untuk mengumumkan perkawinannya dengan seorang gay yang selama beberapa tahun memang dikenal sebagai pacarnya. Tentu saja tidak ada ritual khusus seperti ijab qabul dan sebagainya dalam acara itu. Mbak Sri dan “suaminya” duduk berdua di kursi “pelaminan” layaknya perkawinan yang sebenarnya. Mereka juga melakukan adegan saling menyuapi makanan di depan para tamu.

Usia Mbak Sri kini sekitar 58 tahun. Sedang usia saya memasuki 53, atau? lima tahun lebih muda dari pada Mbak Sri. Saya tak tahu kabar Mbak Sri sekarang. Di mana kebaradaannya saya juga tidak tahu. Sejak puluhan tahun ia telah pindah ke kampung lain yang tidak saya ketahui. Saya berharap ia masih ada dan sehat-sehat saja. Saya ingin bertemu. Jika perlu, saya ingin menasihatinya sebagai seorang kawan di saat usia kami sama-sama sudah lebih dari setengah abad.

Fenomena Mbak Sri hendaknya membuka kesadaran masyarakat bahwa seorang LGBT belum tentu bersalah 100 persen, jika memang mereka harus dipersalahkan. Bisa jadi awal mula kesalahan perilaku seksualnya bermula dari orang tuanya. Hal lain yang perlu menjadi pelajaran berharga adalah para orang tua tentu boleh mendambakan seorang anak dengan jenis kelamin tertentu sesuai harapannya. Namun doa yang tidak pernah dipasrahkan kepada Tuhan akan berpotensi memaksakan kehendak.

Jika ternyata Tuhan menghendaki lain, orang tua bisa sangat frustrasi atas kenyataan yang ada karena kurangnya tawakal. Yang saya maksud dengan tawakal dalam hal ini adalah sikap menyerahkan kepada Allah SWT semata apa pun hasil dari apa yang diperjuangkan baik melalui usaha maupun doa-doa. Mbak Sri adalah contoh dari sikap orang tua yang tidak bisa menerima kehendak-Nya. Mbak Sri adalah korban. Padahal Allah SWT telah mengingatkan di dalam Al-Qur’an, Surah Ali Imran, ayat 159:

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya:“Ketika engkau telah membulatkan tekad (memiliki keinginan tertentu), maka bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal (kepada-Nya).”

Ayat di atas menegaskan bahwa Allah SWT tidak melarang seorang hamba memiliki keinginan tertentu. Tetapi Allah SWT mengingatkan apa pun tekad seseorang untuk mencapai keinginan tertentu itu, dari yang sepele hingga yang muluk-muluk, pada akhirnya tekad tersebut harus dipasrahkan kepada-Nya karena Dia-lah Yang Mengatur Hidup ini.



Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta


Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Hikmah, Anti Hoax, Khutbah Fans Gus Dur

Senin, 12 Februari 2018

Tumbuhkan Semangat, IPNU-IPPNU Pati Gelar Harlah dan Konsolidasi

Pati, Fans Gus Dur. Untuk menumbuhkan semangat kader dalam belajar, berjuang, dan bertaqwa, PC IPNU-IPPNU Kabupaten Pati gelar Harlah dan konsolidasi dengan Pimpinan Komisariat, Pimpinan Ranting, dan Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPNU se-Kabupaten Pati yang ditempatkan di Gedung PC NU Pati, Jum’at (15/3). ? ?

Tumbuhkan Semangat, IPNU-IPPNU Pati Gelar Harlah dan Konsolidasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tumbuhkan Semangat, IPNU-IPPNU Pati Gelar Harlah dan Konsolidasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tumbuhkan Semangat, IPNU-IPPNU Pati Gelar Harlah dan Konsolidasi

Kegiatan Konsolidasi ini merupakan kegiatan yang kedua setelah setahun yang lalu juga mengadakan kegiatan yang serupa membentuk FORKAPIK (Forum Komunikasi Antar Komisariat dan Ranting), juga membentuk Koordinator Kawedanan atau Wilayah Pati.?

Namun, ada yang berbeda pertemuan konsolidasi kali ini karena acara ini memberikan penjelasan jalannya organisasi, juga menekankan pada seluruh Pimpinan komisariat, Pimpinan Ranting, dan Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU se- Pati agar berani melakukan papanisasi di sekretariat masing-masing.?

Fans Gus Dur

Hal ini disampaikan oleh Muhammad Mubarok Ketua PC IPNU Kabupaten Pati.?

“Sebagai Kader NU harus siap belajar, berani berjuang, dan ikhlas bertqwa. Lantas juga harus berani memasang papanisasi di madrasah-madrasah yang sudah terbentuk Komisariat, maupun juga di tingkatan Pimpinan Ranting, Pimpinan Anak Cabang agar lingkungan masyarakat menerima dan mendukung kegiatan IPNU-IPPNU,” tegasnya semangat.?

Fans Gus Dur

Untuk setahun ke depan IPNU-IPPNU Pati mengawal penuh dalam program itu. Sebagai wujud nyata setelah puluhan madrasah di Pati dibentuk komisariat dan ranting-ranting.?

Di kesempatan itu pula Umi Lathifah Ketua PC IPPNU Kabupaten Pati menyampikan, “Bagi pimpinan komisariat, ranting dan pimpinan anak cabang yang baru, yang belum punya panduan organisasi IPNU-IPPNU yaitu PDPRT dan PPOA, silahkan tulis memo terus bisa diserahkan pada kami,” jelasnnya.?

Lewat kegiatan ini Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Pati berharap sebagai momen pengaktualisasikan diri serta semangat baru untuk membesarkan organisasi kembali sehingga komisariat-komisariat, ranting-ranting yang vakum dan belum berdiri dapat lebih hidup. Melihat luasnya potendi kader di wilayah Kabupaten Pati.?

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: ? Birri Zamrock?

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Hikmah, Lomba, Nahdlatul Ulama Fans Gus Dur

Selasa, 06 Februari 2018

Lakpesdam PBNU Siap Fasilitasi MWCNU Gerakkan Ranting

Garut, Fans Gus Dur

Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PBNU mempersilakan bagi kepengurusan NU di tingkat mana saja untuk mengadakan Pelatihan Penggerak Ranting. Lakpesdam PBNU siap memfasilitasi kegiatan yang menjadi program kerja lembaga yang lahir 7 April 1985 ini.

"Lakpesdam PBNU sangat siap untuk memfasilitasi kegiatan pelatihan-pelatihan semacam ini. Kemana pun, bahkan walau yang mengundang setingkat MWC (Majelis Wakil Cabang NU) sekalipun kita siap untuk datang. Asalkan waktunya saja yang sesuai," kata Sekretaris Lakpesdam PBNU Marzuki Wahid.

Lakpesdam PBNU Siap Fasilitasi MWCNU Gerakkan Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam PBNU Siap Fasilitasi MWCNU Gerakkan Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam PBNU Siap Fasilitasi MWCNU Gerakkan Ranting

Marzuki menyampaikan hal itu saat mengisi Pelatihan Penggerak Ranting yang digelar Lakpesdam PCNU Garut di Pesantren Al-Fauzaniyah Garut, Jawa Barat, Sabtu-Ahad (28-29/5). Pelatihan ini diikuti oleh beberapa utusan dari kabupaten/kota terdekat, antara lain Sumedang, Cimahi, dan Bandung.? Semuanya berjumlah 30 peserta.

Fans Gus Dur

Marzuki yang menjadi fasilitator dalam kegiatan ini membawa beberapa trainer (trainer) lainnya antara lain Abdullah Ubed, Kepala Divisi Pemberdayaan Manusia; dan pengurus dan staf lainnya, Tsabit Al-Fauzi dan Rofii.

Materi yang akan disampaikan dalam kesempatan ini meliputi NU dan Aswaja, Penataan Organisasi Ranting, Pengorganisasian, serta Profil dan Penggerak Ranting.

Fans Gus Dur

"Pelatihan ini diselenggarakan atas dasar realita akar permasalahan umat yang sering terjadi di tingkat ranting,” kata Hilwan Faqih, Ketua Lakpesdam NU Garut yang juga penyelenggara pelatihan ini.

Ketika rantingnya kuat, otomatis NU secara kesuluruhan pun akan kuat. Apalah artinya cabang banyak kegiatan, tetapi rantingnya minim kegiatan, tambahnya.

Seluruh peserta tampak sangat antusias atas diselenggarakan pelatihan ini. Mereka berharap sepulang dari pelatihan ini dapat mampu menjadi trainer-trainer yang hebat, yang bisa memfasilitasi kepada ranting-ranting di daerahnya tentang pemahaman akan Aswaja dan NU.

"Terima kasih atas terselenggaranya pelatihan penggerak ranting ini. Banyak ilmu serta pengalaman yang baru, di samping kita juga bisa sharing dengan fasilitator dan peserta yang lain. Sungguh pelatihan ini sangat bermanfaat," tutur Ramli salah satu peserta pada pelatihan ini. (Syarif Hidayatullah/Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Hikmah Fans Gus Dur

Minggu, 04 Februari 2018

Pelajar Butuh Ruang Ekspresi

Jakarta, Fans Gus Dur. Perilaku tawuran antarpelajar belakangan ini telah merenggut korban. Lagi-lagi nyawa melayang hanya untuk pertikaian yang tidak perlu. Peristiwa mengenaskan ini patut menjadi renungan bersama.

“Banyak faktor yang membuat kenapa pelajar sekarang menjadi seperti ini. Faktor lingkungan merupakan unsur dominan,” kata Farida Farichah, Sekretaris Bidang Kaderisasi PP IPPNU saat dikonfirmasi Fans Gus Dur pertelepon, Selasa (2/10) siang.

Pelajar Butuh Ruang Ekspresi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar Butuh Ruang Ekspresi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar Butuh Ruang Ekspresi

Dalam 24 jam, pelajar lebih banyak melewatkannya dengan pergaulan lingkungan. Mereka lebih dekat dengan lingkungan. Kedekatan ini yang akan membentuk dominan sifat mereka.

Fans Gus Dur

Masa pertumbuhan tidak menghindarkan mereka dari pergaulan, imbuh Farida. Hal ini bisa dimaklumi karena mereka tengah mengalami masa pertumbuhan baik raga maupun jiwa. Masa pertumbuhan memperkenalkan mereka dengan dunia di luar lingkungan sekolah dan keluarga.

Dunia di luar sekolah dan keluarga, menjadi rumah dan sekolah kedua bagi pelajar. Mereka cukup nyaman dengan dunia lingkungan. Mereka mencoba menemukan ruang-ruang ekspresi diri.

Fans Gus Dur

Saat sekolah dan rumah menyediakan ruang terbatas bagi ide, bakat, dan emosi, para pelajar menumpahkan semuanya di lingkungan. Bagi mereka, lingkungan memberikan tempat bagi kelisahan mereka yang tengah labil.

Sementara lingkungan yang mereka masuki, tidak cukup sehat. Pelajar banyak terjebak dalam lingkungan yang sehat. Pada gilirannya, lingkungan yang tidak sehat itu menampilkan wajahnya dalam aneka bentuk perilaku yang jauh disiplin moral, seperti tawuran, pergaulan bebas, narkotika, dan sebagainya, tutup Farida. 

 

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Hikmah, Bahtsul Masail Fans Gus Dur

Rabu, 31 Januari 2018

Rais Aam PBNU: Islam Nusantara, Solusi Peradaban Dunia

Jakarta, Fans Gus Dur ? ? ?

Rais Am PBNU KH A Mutofa Bisri berpendapat, di Nusantara Islam dikembangkan dan dipelihara melalui jaringan para ulama Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) yang mendalam ilmunya sekaligus terlibat secara intens dalam kehidupan masyarakat di lingkungan masing-masing.

Rais Aam PBNU: Islam Nusantara, Solusi Peradaban Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam PBNU: Islam Nusantara, Solusi Peradaban Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam PBNU: Islam Nusantara, Solusi Peradaban Dunia

Maka masyarakat muslim yang terbentuk adalah masyarakat muslim yang dekat dengan bimbingan para ulama sehingga peri hidupnya lebih mencerminkan ajaran Islam yang berintikan rahmat. “Islam Nusantara adalah solusi untuk peradaban,” kata kiai penyair yang akrab disapa Gus Mus ini.

Lebih lanjut pengasuh Pondok Pesantren Leteh Rembang ini menerangkan,? Islam Nusantara yang telah memiliki wajah yang mencolok, sekaligus meneguhkan nilai-nilai harmoni sosial dan toleransi dalam kehidupan masyarakatnya.

Fans Gus Dur

Hal itu menurutnya, karena para ulama Aswaja memberikan bimbingan dengan ilmunya yang mendalam, dan kontekstual, serta mengedepankan kebersamaan dan persatuan masyarakat/bangsa secara keseluruhan.

Ia katakan, Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 serta bersendikan Bhinneka Tunggal Ika, secara nyata merupakan konsep yang mencerminkan pemahaman Islam ahlus sunnah wal jama’ah yang berintikan rahmat.

Fans Gus Dur

“NU didirikan untuk memelihara kebersamaan para ulama Aswaja di Nusantara dalam membimbing umatnya,” tutur budayawan ini.

Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Dalam makalahnya di acara Diskusi Panel bertema Indonesias Role In Addressing Global Islamist Extremism? yang diselenggarakan oleh Jakarta Foreign Correspondents Club (JFCC) di Jakarta, Kamis (28/5), Gus Mus menyampaikan langkah penanganan masalah ekstremisme keagamaan kepada? pemerintah.

Ia memaparkan, pemerintah perlu memahami bahwa Islam Nusantara yang teduh yang telah menjadi wajah Indonesia, sungguh telah sesuai dengan ajaran dan contoh Pemimpin Agung Muhammad SAW. Bahwa pemahaman agama dalam keberagamaan (harmoni sosial dan toleransi) seperti yang ada di Indonesia selama ini, saat ini sangat diperlukan oleh dunia yang penuh kemelut ini.

“Pemerintah perlu juga kokohnya sistem nilai Islam Nusantara, mengingat mayoritas warganya beragama Islam dan wajib dijaga dari ancaman propaganda ekstremisme,” tuturnya.

Hal berikut yang perlu dilakukan pemerintah adalah menyadari bahwa Indonesia dapat memainkan peran amat penting dalam upaya perdamaian dunia dengan menawarkan nilai-nilai Islam Nusantara sebagai model untuk umat Islam di seluruh dunia.

Dituturkannya, Nahdlatul Ulama telah dan akan terus bergerak mendakwahkan nilai-nilai Islam Aswaja demi perdamaian dunia. NU juga mengupayakan konsolidasi para ulama Aswaja seluruh dunia serta menjalin kerja sama dengan berbagai pihak secara Internasional.

“Di Tanah Air, jelas Nahdlatul Ulama tak henti-hentinya berjuang membimbing umat dan menjaga keselamatan negara. Di kancah Internasional, Nahdlatul Ulama tidak menunggu pihak mana pun untuk mengambil langkah-langkah strategis,” paparnya dalam diskusi di depan awak media asing tersebut.

Di akhir presentasinya Gus Mus membeberkan pengembangan organisasi dan kerjasama yang telah dilakukan NU. Yakni menginisiasi terbentuknya perkumpulan ulama ahlussunnah wal jama’ah di Afghanistas yang kemudian menamakan dirinya sebagai “Nahdlatul Ulama Afghanistan” dan bersepakat memegangi prinsip-prinsip tawassuth (moderat), tasaamuh (toleran), tawaazun (berimbang/obyektif), i’tidal (adil), dan musyaarakah (kebersamaan dalam masyarakat), persis dengan NU.

“Kerja sama juga telah dirintis bersama Universitas Wina, Austria, di bawah kepemimpinan Prof Dr Rüdiger Lohker, untuk membangun suatu pusat penelitian terapan (applied research) dalam rangka strategi menghadapi ekstremisme agama,” pungkas dia.

Panelis lain dalam acara tersebut adalah Dekan Fakultas Sains Islam Universitas Al Azhar Mesir, Prof. Dr. Abdel-Moneem Fouad, mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah Prof? Dr Azyumardi Azra, dan guru besar studi Islam University of? Venna? Prof. Dr. Rudiger Lohlker. (Ichwan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Hikmah, Kyai, Kajian Islam Fans Gus Dur

Selasa, 30 Januari 2018

Ke Pesantren, Ulama al-Azhar Ingatkan Tiga Prinsip Cegah Terorisme

Demak, Fans Gus Dur. Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak, Jawa Tengah, menggelar kegiatan “Jalsah Mubarokah” bersama Prof. Dr. Muhammed Faisal dan Prof. Dr. Hamdallah Mohammed Hafed Ibrahim dari al-Azhar Kairo, Selasa malam (26/8), di Masjid An Nur pesantren setempat.

Ke Pesantren, Ulama al-Azhar Ingatkan Tiga Prinsip Cegah Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Ke Pesantren, Ulama al-Azhar Ingatkan Tiga Prinsip Cegah Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Ke Pesantren, Ulama al-Azhar Ingatkan Tiga Prinsip Cegah Terorisme

Forum bertema”Dialog Damai bersama Tokoh Ulama Timur Tengah dalam Rangka Pencegahan Terorisme” ini merupakan kerja sama Pesantren Futuhiyyah dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Peserta dialog terdiri dari para kiai, santri, serta pejabat pemerintah yang ada di wilayah Demak.

Pada kesempatan itu Hamdallah menjelaskan bahwa kini banyak muncul aliran-aliran yang menjurus pada terorisme. Menurutnya, setidaknya ada tiga prinsip untuk mencegah adanya pemahaman ekstrem tersebut.

Fans Gus Dur

Pertama, perteguh aqidah Ahlussunah wal Jama’ah, yakni dengan mengikuti paham ‘Asy’ariyah. Kedua, penyampaian syariat menurut Madzhab Empat (madzahibil arba’ah) dalam memahami al-Qur’an dan Hadits, yakni dengan mengikuti salah satu imam madzhab, yakni Syafi’i, Maliki, Hanafi, Hanbali.? Ketiga, penerapan ajaran tashawuf atau berakhlak secara terpuji (mahmudah) baik terhadap sang kholiq, diri sendiri, maupun sesama manusia. ?

Fans Gus Dur

Sementara itu, Mohammed Faisal menambahkan tentang pentingnya mencari ilmu. Ia menjelaskan bahwa Rasulullah tidak mewariskan harta benda apapun kecuali hanya ilmu. Mohammed Faisal mengajak kepada semua hadirin untuk senantiasa bersemangat dalam mencari ilmu.

Pengasuh Pesantren Futuhiyyah KH Muhammad Hanif Muslih mengaku bersyukur atas kehadiran ulama al-Azhar Kairo. Ini merupakan kali pertama Pesantren Futuhiyyah didatangi ulama dari Mesir khususnya al-Azhar, karena yang selama ini yang berkunjung di Futuhiyyah adalah dari Yaman. (Abdus Shomad/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Hikmah, Sunnah, Anti Hoax Fans Gus Dur

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Fans Gus Dur sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Fans Gus Dur. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Fans Gus Dur dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock