Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

Gelar Acara, GP Ansor Kadur Tradisikan Konsumsi Makanan Tradisional

Pamekasan, Fans Gus Dur. Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Kadur Kabupaten Pamekasan berkomitmen dalam melakukan gerakan membumi. Salah satunya, dengan cara mentradisikan konsumsi makanan tradisional tiap kali menggelar acara.

Gelar Acara, GP Ansor Kadur Tradisikan Konsumsi Makanan Tradisional (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Acara, GP Ansor Kadur Tradisikan Konsumsi Makanan Tradisional (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Acara, GP Ansor Kadur Tradisikan Konsumsi Makanan Tradisional

Hal itu terlihat pada acara kolom bulanan Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor di Desa Kertagena Tengah, Kadur, Pamekasan, Jumat (13/1) malam. Acara yang dilangsungkan di rumah Ketua Ansor Kadur Hairul Anam itu, dihadiri pengurus PAC, MDS Rijalul Ansor, Badan Ansor Anti Narkoba (Baanar), dan Satkoryon Banser Kadur.

Selama acara berlangsung, peserta disuguhi makanan tradisional hasil budi daya pertanian Desa Kertagena Tengah. Yakni, berupa ketela pohon yang dimasak dengan legen dan buah sukun yang dikukus.

"Alhamdulillah. Selain lezat, makanan ini juga menyehatkan. Bisa dikatakan tidak ada unsur kimia yang mengancam terhadap kesehatan," ujar Wasekjen PAC GP Ansor Kadur Imam Syafii.

Kolom bulanan Rijalul Ansor kali ini merupakan yang kedua kalinya. Sebelumnya pada Desember 2016 bergulir di kediaman Ketua MDS Rijalul Ansor Kadur, Muhammad Salam Bakir. Untuk bulan depan, direncanakan akan ditempatkan di kediaman sahabat Ubaidillahi Taala, Desa Bangkes, Kadur, Pamekasan.

Fans Gus Dur

"Kegiatan ini dalam rangka menghidupkan tradisi ke-NU-an berupa shalawat dan zikir," ujar Sekretaris GP Ansor Kadur, Fathorrahman, sembari melahan ketela dengan lahapnya. (Hairul Anam/Fathoni)

Fans Gus Dur

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Ulama, Khutbah, Pahlawan Fans Gus Dur

Minggu, 18 Februari 2018

Doa Ibu dan Kisah Anak Menjadi Gay

Saya masih ingat dulu pada dekade 70-80-an, saya memiliki seorang teman yang menyebut dirinya “Mbak Sri”. Jangan dibayangkan dia seorang cewek karena dia sesungguhnya seorang cowok sebagaimana saya. Nama lengkapnya sebut saja Sri Wardono. Ketika Mbak Sri masih dalam kandungan, ibunya sangat berharap ia akan lahir sebagai anak perempuan. Maklum di keluarganya, belum ada seorang pun anak perempuan. Semua anak adalah laki-laki yang jumlahnya sudah 4 orang. Ibunya sangat mendambakan kehadiran seorang anak perempuan agar ia tak sendiri sebagai perempuan dalam keluarga itu. Di sinilah awal mula permasalahan.

Ibunda Mbak Sri, sebut saja Bu Basuki, memang sangat mengidamkan memiliki seorang anak berjenis kelamin perempuan sebagaimana dirinya. Dalam setiap doanya kepada Tuhan ia selalu menyatakan hal itu. Mbak Sri belum lahir saja, ibunya sudah menyiapkan nama anak perempuan “Sri Lestari” sekaligus pakaian anak perempuan yang bagus-bagus. Singkat cerita Bu Basuki berdoa keras agar Tuhan memberinya anak perempuan yang akan menjadi anak kelima dalam keluarganya.

Doa Ibu dan Kisah Anak Menjadi Gay (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Ibu dan Kisah Anak Menjadi Gay (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Ibu dan Kisah Anak Menjadi Gay

Mbak Sri akhirnya benar-benar lahir ke dunia bukan sebagai anak perempuan, tetapi sebagai anak laki-laki. Bu Basuki kecewa dengan kanyataan yang ada. Tetapi ia tidak menyerah begitu saja. Ia masih memiliki kesempatan untuk tetap memberikan nama depan “Sri” yang sudah ia siapakan sebelum kelahirannya. Nama belakang Mbak Sri bukan “Lestari” sebagaimana rencana awal, tetapi sudah disesuaikan dengan jenis kelamin yang sebenarnya, “Wardono”. Jadi nama lengkap Mbak Sri menjadi “Sri Wardono”.

Dengan nama depan “Sri”, ibunya masih bisa berimajinasi bahwa anak kelimanya adalah perempuan karena nama “Sri” lebih umum dipakai untuk anak perempuan. Setiap hari Bu Basuki memperlakukannya sebagai anak perempuan. Baju-baju anak perempuan yang sudah disiapkan sebelum kelahirannya, tetap dipakaiankan pada anak itu. Ketika baju-baju itu sudah tak cukup untuk badannya yang sudah semakin besar, Bu Basuki tetap membuatkan baju-baju baru dengan model baju perempuan.

Fans Gus Dur

Penampilan Mbak Sri yang dipaksakan feminin oleh ibunya ini, sedikit demi sedikit mempengaruhi kejiwaannya. Hal itu tampak pada perilakunya. Misalnya, ia lebih suka bergaul dengan anak-anak perempuan dan mulai tertarik dengan sesama laki-laki. Dia belajar berjalan dengan langkah gemulai meski suaranya tetap seperti kodratnya sebagai laki-laki. Ketika dewasa jakun di lehernya tak bisa disembunyikan.

Fans Gus Dur

Hari demi hari terus berjalan. Tahun demi tahun terus berlalu. Mbak Sri telah tumbuh dan berkembang cukup besar. Ia harus sekolah sebagaimana anak-anak sebaya. Oleh orang tuanya, Mbak Sri didaftarkan sebagai anak laki-laki. Di sekolah ia memakai celana dan kemeja. Di rumah ia memakai rok. Hal ini berlangsung hingga ia duduk di kelas 4 SD. Saat itu umurnya telah mencapai 10 tahun.

Di usia kesepuluh itulah, ia dikhitankan oleh orang tuanya. Namun, ketika lukanya telah mengering dan sembuh, ia memutuskan memilih menjadi anak perempuan dan tidak lagi mau sekolah. Ia tinggalkan bangku sekolah dan tanggalkan seluruh pakaian laki-lakinya. Selanjutnya ia hanya mau memakai pakaian perempuan, terutama rok. Termasuk dalam hal ini ia tanggalkan sarung yang selama ini ia kenakan untuk shalat di masjid. Kemudian ia mengganti sarung dengan mukena sebagaimana perempuan.

Jika sebelumnya ia selalu shalat berjamaah di ruang laki-laki, sejak itu ia pindah ke ruang perempuan. Di ruang perempuan ini, ia memilih bersendirian di baris paling belakang. Atau kalau memang di sebelah kiri atau kanannya ada perempuan, ia bersikap hati-hati dengan mengambil jarak agar tidak bersentuhan kulit. Ia menyadari kelaki-lakiannya dan cukup tahu hal-hal yang bisa membatalkan wudhu. Ia tak ingin membatali wudhu teman-teman perempuannya.

Ketika usia Mbak Sri telah mencapai 25 tahun, ia mengadakan pesta ulang tahun di rumah sendiri dengan mengundang banyak tamu terutama kerabat dekat, teman-teman sesama waria dan tetangga sendiri. Saya juga termasuk yang diundang dan hadir dalam acara itu. Saat itu saya sudah kuliah, entah di semester berapa saya lupa.

Perayaan ultahnya yang ke 25 itu ternyata ia manfaatkan untuk mengumumkan perkawinannya dengan seorang gay yang selama beberapa tahun memang dikenal sebagai pacarnya. Tentu saja tidak ada ritual khusus seperti ijab qabul dan sebagainya dalam acara itu. Mbak Sri dan “suaminya” duduk berdua di kursi “pelaminan” layaknya perkawinan yang sebenarnya. Mereka juga melakukan adegan saling menyuapi makanan di depan para tamu.

Usia Mbak Sri kini sekitar 58 tahun. Sedang usia saya memasuki 53, atau? lima tahun lebih muda dari pada Mbak Sri. Saya tak tahu kabar Mbak Sri sekarang. Di mana kebaradaannya saya juga tidak tahu. Sejak puluhan tahun ia telah pindah ke kampung lain yang tidak saya ketahui. Saya berharap ia masih ada dan sehat-sehat saja. Saya ingin bertemu. Jika perlu, saya ingin menasihatinya sebagai seorang kawan di saat usia kami sama-sama sudah lebih dari setengah abad.

Fenomena Mbak Sri hendaknya membuka kesadaran masyarakat bahwa seorang LGBT belum tentu bersalah 100 persen, jika memang mereka harus dipersalahkan. Bisa jadi awal mula kesalahan perilaku seksualnya bermula dari orang tuanya. Hal lain yang perlu menjadi pelajaran berharga adalah para orang tua tentu boleh mendambakan seorang anak dengan jenis kelamin tertentu sesuai harapannya. Namun doa yang tidak pernah dipasrahkan kepada Tuhan akan berpotensi memaksakan kehendak.

Jika ternyata Tuhan menghendaki lain, orang tua bisa sangat frustrasi atas kenyataan yang ada karena kurangnya tawakal. Yang saya maksud dengan tawakal dalam hal ini adalah sikap menyerahkan kepada Allah SWT semata apa pun hasil dari apa yang diperjuangkan baik melalui usaha maupun doa-doa. Mbak Sri adalah contoh dari sikap orang tua yang tidak bisa menerima kehendak-Nya. Mbak Sri adalah korban. Padahal Allah SWT telah mengingatkan di dalam Al-Qur’an, Surah Ali Imran, ayat 159:

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya:“Ketika engkau telah membulatkan tekad (memiliki keinginan tertentu), maka bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal (kepada-Nya).”

Ayat di atas menegaskan bahwa Allah SWT tidak melarang seorang hamba memiliki keinginan tertentu. Tetapi Allah SWT mengingatkan apa pun tekad seseorang untuk mencapai keinginan tertentu itu, dari yang sepele hingga yang muluk-muluk, pada akhirnya tekad tersebut harus dipasrahkan kepada-Nya karena Dia-lah Yang Mengatur Hidup ini.



Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta


Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Hikmah, Anti Hoax, Khutbah Fans Gus Dur

Sabtu, 10 Februari 2018

Lakpesdam Cimahi Adakan Pelatihan Literasi Media

Cimahi, Fans Gus Dur. Menjadi penggagas dalam menciptakan kota inklusi bukanlah hal yang mudah. Inklusi dalam pengertian mengembangkan lingkungan yang terbuka, mengikutsertakan semua orang, saling merangkul dan menghargai dengan beragam perbedaan dan multi karakter etnik, agama, ras, budaya hingga disabilitas.

Nah, butuh kerja keras dan aksi? nyata dalam mengampanyekan pentingnya inklusi sosial kepada seluruh pihak termasuk masyarakat, pemerintah, dan organisasi sosial kemasyarakatan.

Lakpesdam Cimahi Adakan Pelatihan Literasi Media (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam Cimahi Adakan Pelatihan Literasi Media (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam Cimahi Adakan Pelatihan Literasi Media

Tidak ada alasan untuk menyerah dan berhenti bergerak. Inilah yang terus diupayakan Lakpesdam NU Cimahi melalui Program Peduli dalam membangun inklusi sosial. Ada banyak agenda dengan berbagai kegiatan, semisal seminar, pelatihan dan kampanye serta aksi turun yang terus digalakkan Lakpesdam NU cimahi dalam mencapai tujuan di atas.

Fans Gus Dur

Minggu lalu, tepatnya 23-24 Juli 2016, Lakpesdam NU Cimahi mengadakan Pelatihan Literasi Media ke-2. Pelatihan tersebut bertajuk Pengembangan Jurnalisme Warga untuk Perdamaian dan Inklusi Sosial. Hadirnya acara ini bertujuan untuk menguatkan pengetahuan dan keterampilan para aktivis perdamaian untuk bisa memproduksi informasi dan konten tentang inklusi sosial dalam berbagai bentuk.

Dengan bertempat di gedung BPPKS Dinas Sosial Cimahi, acara pelatihan literasi media 2 berjalan lancar dengan diikuti oleh peserta yang berasal dari latar belakang agama dan institusi yang berbeda. Tercatat Perwakilan dari IPNU, IPPNU, OMK, Masyarakat Adat Cireunde dan organisasi lainnya turut meramaikan acara tersebut.

Fans Gus Dur

Hari pertama, acara pelatihan diisi dengan kegiatan berlatih menulis khususnya menulis tulisan-tulisan yang berisi kampanye perdamaian. Sesi ini difasilitasi oleh seorang dosen dan praktisi perdamaian UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Bambang Q. Anees.

Tidak hanya pelatihan menulis, pada hari kedua, peserta juga diajak untuk berkenalan dan mencoba membuat suatu bentuk media kampanye yaitu video dan design grafis. Dengan difasilitasi oleh Imam Ma’ruf, salah satu pakar media lakpesdam PBNU, peserta mendapatkan ilmu yang luar biasa berharga tentang pembuatan video yang unik dan mudah dibuat.

Dari hasil testimoni para peserta, kebanyakan mengaku sangat antusias mengikuti acara tersebut. Menurut mereka, pelatihan tersebut telah memberi kesadaran bahwa kemampuan menulis ternyata tidak mustahil untuk dilakukan selama menjadikannya kebiasaan. Mereka mengaku akan terus mengembangkan bakat mereka dalam menulis, terkhusus dalam membuat tulisan-tulisan yang bertemakan perdamaian.

Acara tersebut juga memberikan mereka ruang untuk terlibat aktif dalam perbaikan masyarakat dengan salah satunya menjalankan program yang disebut “Design For Change”. Mereka mengatakan bahwa projek tersebut sangat menginspirasi dan harus segera dilaksanakan.

Kesuksesan Lakpesdam NU cimahi dalam menyelenggarakan pelatihan-pelatihan, diskusi, kunjungan dan menginisiasi adanya gerakan pemuda untuk inklusi cimahi (GRADASI) merupakan satu bukti yang nyata bahwa inklusi sosial bukan hanya buaian yang ingin dicapai oleh tim program yang pimpin Diana Handayani.

Pencapaian yang telah dilakukan adalah bukti telah hadirnya gerakan-gerakan inklusi untuk membuat Cimahi yang damai dan bertoleransi. Selamat dan sukses selalu untuk Lakpesdam NU Cimahi! (Yeni Latifah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Pendidikan, Khutbah, Berita Fans Gus Dur

Kamis, 08 Februari 2018

Membangun Cara Berpikir Aswaja NU

Buku, memang sudah terkenal menjadi salah satu jendela ilmu. Dengannya, wawasan semakin bertambah dan ilmu semakin mendalam serta pandangan akan agama, dunia dan akhirat semakin arif dan bijak.

Buku Manhaj Aswaja NU: “Berakar Tradisi, Merajut Toleransi dan Menjaga NKRI” hadir di tengah-tengah kita guna menjawab pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan ke-Aswaja-an yang dewasa ini sedang dan semakin terusik akan keilmiahannya. Buku ini hadir menguak berbagai problematika umat, NU. Buku ini menggunakan metode tanya jawab yang mudah dimengerti. Buku ini mengulas apa dan bagaimana ahlu as-sunah wa al-Jamaah dan penafsiran kontekstualnya dalam kehidupan modern.?

Membangun Cara Berpikir Aswaja NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Membangun Cara Berpikir Aswaja NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Membangun Cara Berpikir Aswaja NU

Buku Manhaj aswaja ini terdiri dari 5 tema pembahasan, yakni Pengantar Manhaj Aswaja NU, Manhaj Aswaja NU dalam bidang Akidah, Manhaj Aswaja NU dalam bidang Fiqih, Manhaj Aswaja NU dalam bidang Tasawuf, Manhaj Aswaja NU dalam bidang Dakwah, Manhaj Aswaja NU dalam bidang Politik. Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa buku ini hadir dengan metode tanya jawab, disana terdapat 34 pertanyaan berkaitan dengan masing-masing bidang manhaj aswaja NU itu sendiri.

Pengantar Manhaj Aswaja NU terdiri dari 8 pertanyaan. Bidang akidah terdiri dari 9 pertanyaan. Bidang Fiqih terdiri dari 4 pertanyaan. Bidang tasawuf terdiri dari 3 pertanyaan. Bidang dakwah terdiri dari 5 pertanyaan. Bidang politik terdiri dari 4 pertanyaan. Semua pertanyaan disajikan dengan jawabannya beserta rujukan yang menguatkannya.

Buku ini akan mengantarkan kita pada pengertian Islam yang menjadi rahmat lil ‘alamin. Yakni Islam yang menjadi agama kasih sayang, baik kepada umatnya, yang teguh meyakini dengan keimanan dan ketakwaanya, maupun kepada seluruh umat manusia. Uraian-uraian kata dan kalimat di dalamnya akan mampu menguatkan keyakinan pada amaliyah-amaliyah yang sudah mentradisi di lingkungan NU.?

Fans Gus Dur

Buku ini merupakan pengiring hadirnya kegiatan ngaji manhaj aswaja NU yang akan dilaksanakan sebagai program kerja LD PCNU Kabupaten Purbalingga. Dan tidak menutup pintu bagi rekan-rekan di kabupaten lain bila ingin membedah buku ini sehingga dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam, karena dapat berdialog langsung dengan penyusun buku.

Selain itu, buku ini sangat cocok untuk kaum akademis, baik alumnus pesantren maupun nonpesantren. Buku ini akan membantu anda dalam memahami keaswajaan NU dan membangun mindset dalam mengembangkannya dan mengejawantahkan dalam kehidupan sosial kontekstual dan modern.

Fans Gus Dur

Kelebihan buku ini adalah disusun secara sistematik, sangat mudah dipahami pembaca. Materi disusun secara teratur mulai satu bidang ke bidang yang lainnya dengan metode tanya jawab diserta sumber rujukan yang valid.

Buku ini menampilkan epistimologi keilmuan aswaja NU yg menghantarkan pada pola berpikir dan bertindak moderat guna mewujudkan Islam rahmatan lil alamin.

Desain sampul buku menarik dan penuh warna sehingga sangat tertarik untuk lebih mengetahui isi dari buku tersebut. Jenis huruf yang dipakai menjadikan mata betah untuk membaca baik untuk usia muda, terlebih usia tua. Kalimat-kalimat atau penggunaan bahasa yang disajikan dalam buku ini tidak sulit untuk dimengerti.

Sementara kekurangan buku ini terdapat tulisan arab dalam berbagai ayat, hadits maupun qoul ulama yang hurufnya tidak nyambung dengan huruf yang lainnya. Inkonsistensi jenis huruf arab yang terdapat dalam paragraph. Dan masih terdapat kata-kata yang tidak menyambung dengan kata didepannya. Masih terdapat kata-kata yang bergandeng dengan kata di depannya.

***

Agama tidak lahir untuk timur atau barat, agama lahir untuk manusia. Mengapa Islam bisa diterima di barat dan di timur? Hal ini karena Islam membawa misi kemanusiaan untuk manusia. Tak heran bila nabi sendiri dalam sabdanya mengatakan bahwa Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak (adab) manusia. Jauh sebelum para pemikir dunia mencoba memprediksi masa depan agama, nabi sendiri sudah memperkirakan aka nada masa dimana manusia berada pada krisis besar.

Islam lahir sebagai agama rahmat bagi seluruh alam, yakni kasih sayang yang dapat memberikan kesejahteraan bagi seluruh alam. Misi Islam ini tidak akan terwujud kecuali dengan landasan berpikir dan bertindak adil, proporsional dan bijak. Adil, proporsional dan bijak tidak akan terwujud kecuali dengan ditopang oleh sikap moderat, toleran, seimbang dan tetap konsisten untuk mengatakan mana yang benar dan mana yang salah.

Sikap-sikap yang bersifat manhaji/sistematis inilah yang dalam keilmuannya, berada pada kevalidan data dengan ditunjukkan kuatnya ketersambungan sanad keilmuannya yang sampai kepada Rasulullah SAW. Inilah sebenarnya yang dimaksud dengna petikan teks hadits yang berbunyi “ma ana alaihi wa ashabi” yang kemudian masyhur disebut Ahlussunah wal-Jamaah.

Bagi NU, sebagai organisasi besar di dalam bangsa yang besar ini, menyadari bahwa kurun waktu yang sudah begitu jauh, ditambah kadar kemampuan umat Islam sebagai individu sangat beragam, maka para ulama menyepakati dengan bermadzhablah. Bermadzhab diartikan dengan mengikuti hasil ijtihad para ulama mujtahid baik yang berupa metode maupun produk hukumnya. Hal ini dipercaya akan lebih meminimalisir ketersesatan dan keluar dari “ma ana alaihi wa ashabi”.

Para mujtahid yang telah menghasilkan metode dan produk hukum ini didukung oleh sumber dalil as-sam’iyyah, yakni berupa al-Qur’an, hadits dan perkataan para ulama, ad-dalail al-‘aqliyyah, yakni berupa rasio dan panca indera (empiris) dan ad-dalail al’aqliyyah. Yaitu kasyaf dan ilham dalam menyelesaikan berbagai masalah. Memanfaatkan ketiga potensi sumber dalil ini dapat menjadikan konstruksi keilmuan lebih mapan dan tidak mudah dibongkar seenaknya oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

KH Basyir Fadlulloh, menegaskan bahwa NU dalam menengarai dan menyelesaikan berbagai persoalan umat, baik dalam bidang akidah, fiqih, tasawuf, dakwah maupun yang bersifat kenegaraan khususnya dalam bidang politik, merumuskan bagaimana menjadi insan kamil yang memiliki kasih sayang dan dapat mensejahterakan, baik untuk agama Islam sendiri maupun untuk bumi ini, khalifatulloh fi al ardli, sesuai dengan misi Islam yang lahir dan sampai di bumi nusantara.

Penyusun buku yang merupakan alumnus Magister Pendidikan Islam IAIN Sunan Kalijaga memberikan pengantar Manhaj Aswaja NU dalam buku ini bahwa tersusunnya buku ini bertujuan memberikan pemahaman tentang Manhaj aswaja NU, sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan klaim-klaim yang menyerang terhadap keaswajaaan NU, baik secara amali maupun secara manhaji, dan buku ini menjadi salah satu pegangan dalam berdakwah, menyebarkan paham “Islam rahmatan lil ‘alamin”.

Selain sebagai ketua LD PCNU Purbalingga, KH Basyir Fadlulloh yang menjadi Ketua Yayasan Pendidikan Islam Minhajut Tholabaha Kembangan Purbalingga, berusaha memberikan kemudahan bagi para pembaca dengan menyajikan buku ini berupa stimulus-respon; pertanyaan dan jawaban agar para pembaca dari semua kalangan dengan mudah bisa membaca dan memahaminya.

Lebih lanjut, penyusun memperkuat bahwa dalil-dalil yang diambil adalah bersumber dari al-dalail al-sam’iyyah; Al-Qur’an, al-Hadits dan qoul ulama didukung beberapa dalil rasional dan hanya beberapa dalil yang bersumber dari data empiris karena berdasarkan beberapa pertimbangan.

Menutup beberapa petikan buku ini, penyusun mengucapkan selamat membaca. Semoga buku ini bermanfaat. Adapun kritik dan saran yang membangun demi perbaikan, baik dari isi maupun literature secara EYD, sangat kami harapkan.

Tentang Buku

?

Judul Buku : Manhaj Aswaja NU: Berakar Tradisi, Merajut Toleransi dan Menjaga NKRI

Penyusun Buku : KH Basyir Fadhlulloh, M.Pd.I

Penerbit Buku : Gading Press

Kota Terbit : Jogjakarta

Tahun Terbit : 2017

Tebal Buku : 158 halaman

ISBN : 978-602-0809-39-7

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Khutbah Fans Gus Dur

Sabtu, 03 Februari 2018

Dzikir Tarekat Syadziliyah Akan Digelar Rutin di Masjid PBNU

Jakarta, Fans Gus Dur

Ratusan jamaah majelis Ashabul Kahfi Jabodetabek melantunkan dzikir thariqah Syadziliyah di Masjid An-Nahdlah di gedung PBNU Lantai 1, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, pada malam Nisfu Sya’ban, Sabtu (21/5). Dzikir thariqah dipimpin oleh Kiai Rahmat, badal thariqah Syadziliyah di Bekasi.

Acara dibuka dengan penampilan seni hadrah Ashabul Kahfi. Kemudian dilanjutkan dengan kajian ke-Syadziliyah-an yang diisi oleh Kiai Lukman Nursalim, pengasuh Pesantren Yatim Piatu di Depok, Jawa Barat.

Dzikir Tarekat Syadziliyah Akan Digelar Rutin di Masjid PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Dzikir Tarekat Syadziliyah Akan Digelar Rutin di Masjid PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Dzikir Tarekat Syadziliyah Akan Digelar Rutin di Masjid PBNU

Ketua umum PBNU KH Said Aqil Siradj sangat mendukung dzikir thariqah Syadziliyah di masjid PBNU. Ia mengatakan, Syekh Imam Hasan Asy-Syadzili sebagai pendiri thariqah Syadziliyah merupakan sosok sufi istimewa, yang membuka pemahaman tersendiri tentang keduniaan.

Fans Gus Dur

"Syekh Imam Hasan Asy-Syadzili merupakan sufi yang menerangkan bagaimana memahami keduniaan yang tidak umum di kalangan sufi," katanya jauh-jauh hari sebelum acara dilaksanakan.

Fans Gus Dur

Menurut Hasyim Habibi, ketua umum Santri Kebumen se-Jabodetabek, dzikir thariqah Syadziliyah yang diselenggarakan oleh Ashabul Kahfi di masjid PBNU merupakan kegiatan perdana selapanan (rutin bulanan) dari majlis Ashabul Kahfi. Harapannya, nilai-nilai ke-Syadziliyah-an bisa turut mengisi spirit Nahdlatul Ulama.

"Majelis Ashabul Kahfi yang dipimpin badal thariqah Syadziliyah Alkahfi Kebumen di Jabodetabek, Kiai Lukman Nursalim, selama ini menggelar rutin di masjid-masjid se-Jabodetabek. Malam Nisfu Syaban ini, menjadi malam pertama yang rencananya rutin selapanan di masjid PBNU," kata Hasyim Habibi.

Dikatakan juga, acara dzikir thariqah Syadziliyah diikuti oleh sejumlah jamaah dari berbagai kalangan. Dijelaskan, jamaah sebagian dari yang sudah berbaiat (anggota resmi tarekat Syadziliyah) dan sebagian lagi jamaah dari kalangan muhibbin alias simpatisan.

"Peserta sengaja dibatasi melihat keterbatasan tempat. Kita berterima kasih dengan pengurus takmir masjid PBNU yang bersama ikhlas untuk acara ini. Kita juga berterima kasih kepada KH Said Aqil Siradj atas motivasinya," katanya.

Pada kesempatan tersebut, ketua umum Kiai Muda Indonesia Gus Wahyu NH Aly yang juga turut hadir dalam acara tersebut mengatakan, thariqah Syadziliyah bisa menjadi salah satu sarana dalam mengatasi fenomena terorisme, ekstrimisme, kebodohan dan kemiskinan.

"Apabila masyarakat menerapkan nilai-nilai ke-Syadziliyah-an, saya percaya problem kebangsaan seperti terorisme, ekstrimisme, kebodohan, kemiskinan bisa terselesaikan," tegasnya.

Hadir dalam dzikir thariqah Syadziliyah, malam Nisfu Syaban di masjid PBNU, di antaranya, Ustadz Nurcholis (dai dari Bekasi), Ustadz Kamaludin Fikri (dai dari Karawang), Ustadz Miftahudin (pengasuh majelis Darusalam di Tangerang), serta pengurus takmir masjid PBNU. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Khutbah, Bahtsul Masail, Daerah Fans Gus Dur

Rabu, 17 Januari 2018

Gus Dur Ulang Tahun DI RSCM

Jakarta, NU.Online
Mantan Ketua Umum PBNU KH. Abdurrahman Wahid akan merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 di RSCM Senin (4/8) dan setelah itu dia mungkin diizinkan pulang ke rumah.

"Besok jam 10.00 akan ada perayaan sederhana HUT Gus Dur di RSCM mengingat tanggal 4 Agustus adalah hari ulang tahunnya," kata Jubir Gus Dur, Adhi Massardi, di Jakarta, Senin malam.

Abdurrahman Wahid lahir di Jombang, Jawa Timur, tanggal 4 Agustus 1940. Sejak Jumat dinihari (1/8) Gus Dur dirawat di RSCM karena tekanan darah tinggi.

Adhi belum bisa mengungkapkan siapa-siapa saja yang besok akan datang ke RSCM untuk ikut merayakan HUT Gus Dur dan kegiatan apa saja yang akan dilakukan. "Saya belum bisa memastikan siapa saja dan agenda apa yang akan dilakukan dalam perayaan HUT Gus Dur mengingat seharian ini saya belum sempat menengok beliau. Tapi mungkin selametan sederhana saja," katanya.

Menurut Adhi, kondisi Gus Dur dalam beberapa hari ini terus membaik namun tetap disarankan untuk melakukan istirahat total di tempat tidur. Gus Dur ingin keluar dari RSCM tetapi dokter Umar Wahid yang selama ini terus mengawasinya minta agar sebaiknya jangan pulang dahulu dan menunggu esok hari.

"Bisa jadi kalau keadaan terus membaik setelah merayakan HUT, Gus Dur sudah bisa meninggalkan RSCM untuk selanjutnya istirahat di rumah," kata Adhi. Ketika ditanya, tokoh masyarakat siapa-siapa saja yang menengok Gus hari Minggu, Adhi mengaku tidak tahu persis, mengingat seharian ini tidak sempat membesuk Gus Dur.

Adhi juga tidak tahu persis agenda penting apa yang akan
dilakukan Gus Dur setelah kembali ke rumah. Dokter Umar Wahid yang memeriksa pernah menyarankan agar Gus Dur tidak meninggalkan Jakarta selama seminggu untuk istirahat dan tidak melakukan aktivitas yang membebani pikirannya.(Ant/Cih)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Khutbah, Pahlawan, RMI NU Fans Gus Dur

Gus Dur Ulang Tahun DI RSCM (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Ulang Tahun DI RSCM (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Ulang Tahun DI RSCM

Senin, 15 Januari 2018

Ini Bahaya Laten Bagi Umat Islam Menurut Ibnu Athaillah

Umat Islam tidak boleh lengah atas bahaya laten yang mengancam mereka. Bahaya laten ini menyusup bukan di tengah-tengah umat Islam. Bahaya laten ini jauh lebih halus menyusup di dalam tubuh mereka dalam aktivitas ibadah dengan segala bentuknya (yaitu shalat, puasa, zikir, tadarus, tahfiz, sedekah, haji, umrah, dan ibadah lainnya) sebagai keterangan Ibnu Athaillah berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ini Bahaya Laten Bagi Umat Islam Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Bahaya Laten Bagi Umat Islam Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Bahaya Laten Bagi Umat Islam Menurut Ibnu Athaillah

Artinya, “Unsur nafsu pada perbuatan maksiat tampak jelas. Sedangkan unsur nafsu pada amal ibadah tersembunyi dan laten. Upaya pengobatan atas penyakit yang tersembunyi itu sulit.”

Fans Gus Dur

Bahaya laten yang patut diwaspadai umat Islam adalah unsur nafsu yang menyusup pada aktivitas ibadah mereka. Nafsu yang suka menuntut ini pada gilirannya dapat mencelakai mereka yang tak mewaspadai bahaya laten ini. Bagaimana bisa orang beribadah menjadi celaka?

Pertama kita harus pahami dahulu watak nafsu. Watak dasar nafsu cenderung berlari dari tanggung jawab. Sementara ibadah adalah tanggung jawab manusia terhadap Allah SWT sebagai tujuan dari penciptaan mereka. Tetapi ketika nafsu mengajak kita memikul tanggung jawab yang sejatinya ia tidak sukai, maka waspadalah.

Fans Gus Dur

Kenapa demikian? Ketika nafsu menyelinap di tengah-tengah aktivitas ibadah kita, maka sejatinya nafsu mengarahkan kita ke jalan lain, bukan menuju Allah SWT. Ini cukup menyulitkan. Pasalnya, unsur nafsu tampak terang-terangan pada perbuatan maksiat. Sedangkan untuk aktivitas ibadah, unsur nafsu biasanya menyusup, menyelinap, mendompleng, atau menunggangi sebagai keterangan Syekh Syarqawi berikut ini.

? ? ? ?) ? (? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “(Unsur nafsu pada perbuatan maksiat) seperti zina (tampak jelas) yaitu kenikmatan atas maksiat tersebut. Nafsu itu tidak memintamu mengaburkan keinginannya pada maksiat itu selain hanya untuk kenikmatanmu atas maksiat tersebut sehingga bencana dan petaka menimpamu. (Sedangkan unsur nafsu pada amal ibadah tersembunyi dan laten). Tak satupun melihat unsur nafsu itu selain mereka yang membuka mata batin. Kenapa demikian? Amal ibadah itu berat. Tetapi ketika nafsu mengajakmu beribadah–sementara kamu tak tahu unsur nafsu pada ibadah tersebut kecuali dengan ketelitian–, maka secara lahiriah ia memperlihatkan dirinya mengajakmu taqarrub kepada Allah, tetapi sejatinya yang dituju tidak lain adalah perhatian manusia kepadamu dan kemasyhuranmu sebagai orang saleh di tengah mereka. Siapa yang memerhatikan nafsunya dan mengawasi gerak batinnya, maka kebenaran sejati akan tampak padanya,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, tanpa catatan tahun, juz II, halaman 4).

Unsur nafsu yang menyusup di dalam aktivitas ibadah menggiring pelakunya ke jalan lain, yaitu riya sebagai penyakit destruktif yang berbahaya bagi umat Islam. Pengalihan jalan ke selain jalan Allah ini yang patut dicurigai dan diwaspadai. Jangan sampai Allah murka dengan aktivitas ibadah yang disusupi nafsu. Pengalihan jalan ini biasanya berlangsung tanpa kita sadari.

Lalu bagaimana cara mengobatinya? Sejauh penyakit dan bahaya laten ini belum terdeteksi, maka upaya pengobatan sulit dilakukan sebagai keterangan Syekh Zarruq berikut ini.

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Buat saya, (Ibnu Athaillah) berkata, kesulitan pengobatannya itu bergantung pada kadar kesamarannya karena pengobatan itu mengikuti sejauhmana pengetahuan seseorang terhadap pokok, sebab, dan sifat penyakit itu sendiri. Ketika pokok dan sebab penyakit itu belum terdeteksi dan sudah sampai pada pemeriksaan (lalu terdeteksi), maka penyakit tak mungkin diobati kecuali dengan susah payah. Salah satu penyakit laten yang menyelinap pada amal ibadah adalah riya terhadap makhluk-Nya,” (Lihat Syekh Ahmad Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 135).

Upaya preventif dari bahaya laten (nafsu yang berujung pada riya) ini harus dilakukan sejak dini. Kewaspadaan tinggi perlu dilakukan. Sementara upaya pengobatannya tidak kalah sulit. Perlu banyak zikir dengan segala lafalnya atau bimbingan dari para guru tarekat.

Namun demikian, hikmah ini tidak bertujuan untuk melemahkan semangat beribadah kita. Hikmah ini juga tidak menyarankan kita untuk berburuk sangka terhadap mereka yang gemar ibadah. Hikmah ini hanya mengingatkan kita agar selalu waspada terhadap segala penyusupan dan bahaya laten pada aktivitas ibadah kita yang dapat membuatnya rusak dan sia-sia. Hikmah ini justru mendorong kita untuk beribadah secara istiqamah di jalan menuju Allah, bukan jalan ke lain-Nya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Halaqoh, Khutbah Fans Gus Dur

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Fans Gus Dur sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Fans Gus Dur. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Fans Gus Dur dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock