Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

Ansor Probolinggo Siap Tampung Anak-anak Rohingya

Probolinggo, Fans Gus Dur. Tragedi kemanusiaan yang menimpa warga muslim etnis Rohingya di Rakhine Myanmar terus menuai kecaman dari sejumlah pihak. Bahkan sejumlah aksi simpatik pun dilakukan mulai dari doa bersama, penggalangan dana, relawan hingga penampungan anak-anak korban kekerasan.

Di Kabupaten Probolinggo, pengurus Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Probolinggo bersama sejumlah Gus muda sejumlah pondok pesantren berkomitmen untuk siap memfasilitasi dan menampung para korban anak-anak tersebut.

Ansor Probolinggo Siap Tampung Anak-anak Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Probolinggo Siap Tampung Anak-anak Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Probolinggo Siap Tampung Anak-anak Rohingya

“GP Ansor Kabupaten Probolinggo secara tegas menyampaikan siap menampung anak-anak warga muslim etnis Rohingya di Rakhine Myanmar, yang menjadi korban kekerasan militer negara tersebut,” kata Ketua PC GP Ansor Kabupaten Probolinggo Muchlis, Rabu (6/9).

Penegasan tersebut disampaikan setelah pengurus PC GP Ansor Kabupaten Probolinggo melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak, seperti Dinas Sosial dan Dinas Pendidikan Pemerintah Kabupaten Probolinggo serta para gus muda pengasuh pondok pesantren yang tergabung dalam Majelis Dzikir dan Sholawat (MDS) Rijalul Ansor Kabupaten Probolinggo.

“Komitmen bersama dalam menampung anak-anak korban kekerasan di Myanmar ini dilakukan sebagai bentuk langkah nyata kepedulian NU dan GP Ansor serta pihak pemerintah dalam menanggulangi konflik kemanusiaan etnis Rohingya yang banyak menelan korban,” jelasnya.

Fans Gus Dur

Bahkan PC GP Ansor Kabupaten Probolinggo jelas Muchlis sangat mengecam perbuatan Geonisida yang terjadi di Rakhine Myanmar. 

“Sekali lagi kami tegaskan bahwa GP Ansor Kabupaten Probolinggo siap menampung anak-anak warga muslim etnis Rohingya di Myanmar yang menjadi korban kekerasan militer dan para petinggi agama yang ada di Rakhine Myanmar,” tegasnya.

Dalam waktu dekat terang Muchlis, PC GP Ansor Kabupaten Probolinggo bersama PCNU Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan akan melakukan doa bersama sekaligus penegasan komitmen bersama keseriusan menanggulangi konflik Myanmar. Serta penggalangan dana kemanusiaan yang akan disalurkan melalui PBNU. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Fans Gus Dur

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur IMNU, Kajian Sunnah Fans Gus Dur

Rabu, 07 Februari 2018

Kisah di Balik Proses Kreatif Terciptanya Lambang NU

Di balik citra dan kewibawaan lambang NU karya KH Ridlwan Abdullah (1884-1962) yang dapat kita lihat sekarang, ternyata sejarah pembuatannya menyimpan pula kisah dan makna yang sangat dalam dan menarik untuk kita ketahui. Tidak seperti proses kreatif lahirnya karya seni pada umumnya yang kebanyakan sekedar mengandalkan daya imajinasi dan kecerdasan kognitif belaka, namun tidak hanya atas dasar dua daya itu lambang NU berhasil diciptakan. Di samping mengerahkan daya imajinasinya, KH Ridlwan Abdullah juga menggerakkan kekuatan spiritualnya. Bahkan aspek yang terakhir ini yang memegang peranan terpenting di balik terciptanya lambang NU. ? ? ?

Bermula dari persiapan penyelenggaraan Muktamar ke-2 NU di Surabaya, Kiai Ridlwan Abdullah ditugasi oleh KH Wahab Chasbullah selaku ketua panitia waktu itu untuk membuat lambang NU. Penunjukan Kiai Ridlwan ? dalam pembuatan lambang NU ini mengingat Kiai Ridlwan memang sudah dikenal pandai menggambar dan melukis. Namun terhitung sejak penugasan itu hingga satu setengah bulan Kiai Ridlwan mencoba membuat sketsa lambang NU bahkan sampai berkali-kali belum berhasil juga, padahal muktamar sudah diambang pintu sehingga sampai sempat mendapat "teguran" KH Wahab Chasbullah.

Akhirnya, pada suatu malam dengan harapan muncul inspirasi atau ilham pada saat-saat orang lelap tidur, Kiai Ridlwan mengambil air wudzu kemudian melaksanakan shalat istikharah. Setelah itu beliau tidur sejenak. Dalam nyenyaknya tidur Kiai Ridlwan Abdullah bermimpi melihat sebuah gambar di langit yang biru dan jernih. Nampak seperti bola dunia dikelilingi bintang dan tali penyambung dan pengait.

Kisah di Balik Proses Kreatif Terciptanya Lambang NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah di Balik Proses Kreatif Terciptanya Lambang NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah di Balik Proses Kreatif Terciptanya Lambang NU

Atas mimpinya itu, KH Ridlwan Abdullah tersentak bangun dari tidurnya dan spontan langsung mengambil kertas dan pena untuk membuat sketsa gambar sesuai dengan apa yang tertayang dalam mimpinya tersebut. Saat itu jam dindingnya menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Karena kecakapannya dalam melukis, pada keesokan harinya gambar tersebut bisa diselesaikan lengkap dengan tulisan NU memakai huruf arab dan tahunnya.

Adapun secara singkat deskriptif makna dari gambar atau lambang NU dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Tambang melambangkan agama (Berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali Allah dan jangan bercerai berai).

Fans Gus Dur

2. Posisi tambang melingkari bumi melambangkan persaudaraan kaum muslimin seluruh dunia.

3. Untaian tambang berjumlah 99 buah melambangkan asmaul husna.

Fans Gus Dur

4. Bintang sembilan melambangkan jumlah Wali Songo.

5. Bintang besar yang berada di tengah bagian atas melambangkan Nabi Muhammad SAW.

6. Empat bintang kecil di samping kiri dan kanan melambangkan khulafaur rasyidin, dan empat bintang kecil dibagian bawah melambangkan madzhab empat.

Setelah hasil lambang tersebut dihadapkan kepda KH Hasyim Asyari, beliau merasa puas dengan gambar, makna dan riwayat terciptanya lambang NU karaya Kiai Ridlawn itu. Beliau kemudian mengangkat kedua tangannya berdoa cukup panjang. Kemudian beliau berbicara penuh harap: "Mudah-mudahan Allah mengabulkan harapan yang dimaksud di dalam simbol Nahdlatul Ulama.” (M Haromain)

Disarikan dari Ahmad Zaini Hasan, Perlawanan dari Tanah Pengasingan: Kiai Abbas, Pesantren Buntet dan Bela Negara, LKiS: 2014 ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Amalan, Aswaja, IMNU Fans Gus Dur

Selasa, 06 Februari 2018

IPNU-IPPNU Kudus Gelar Manaqiban Jelang Pelatihan Fasilitator

Kudus, Fans Gus Dur. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) bersama Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kabupaten Kudus mengadakan selamatan dengan pembacaan manaqib menjelang Pelatihan Fasilitator (Latfas), Kamis (7/5) di Gedung MWCNU Mejobo Kudus, Jawa Tengah.

IPNU-IPPNU Kudus Gelar Manaqiban Jelang Pelatihan Fasilitator (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Kudus Gelar Manaqiban Jelang Pelatihan Fasilitator (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Kudus Gelar Manaqiban Jelang Pelatihan Fasilitator

PC IPNU-IPPNU Kudus telah menyelesaikan beberapa program kerjanya.  Maka selain sebagai doa selamatan, manaqib ini juga sebagai agenda tasyakuran atas kesuksesan berbagai agenda yang telah terlaksana.

“Sebagai ungkapan rasa syukur kita kepada Allah atas suksesnya seluruh agenda sedari kita pelantikan tanggal 9 November 2014 hingga hari ini,” ujar Joni Prabowo, Ketua Umum PC IPNU Kudus.

Fans Gus Dur

Usai pelantikan, IPNU-IPPNU Kudus lekas berkegiatan antara lain, pelatihan kepemimpinan bagi anggota Forum Komunikasi Antar Pimpinan Komisariat (Forkapik), Diklatama DKC CBP dan KPP, Lakmud dan Makesta pada tahun 2014 lalu.

Juga suksesi atas serangkaian kegiatan penyambutan hari lahir IPNU dan IPPNU, tim apresiasi seni 54, tim redaksi majalah Pilar 2015, tim Bimbingan Pasca Ujian Nasional (BPUN) kerjasama Yayasan Mata Air, manajemen pembuatan Kartu Tanda Anggota (KTA), dan usaha akomodasi atribut IPNU-IPPNU oleh tim perekonomian.

Fans Gus Dur

“Sementara besok pun kita sudah akan mulai agenda terdekat kita, yakni pagi jam delapan ada pembukaan Latfas di tempat ini juga, serta siangnya pembukaan BPUN di ponpes Zainal Husain. Ini acara kita bersama dan butuh dukungan dan bantuan,” papar Joni saat sambutan manaqib.

Pembacaan manaqib sore itu dipimpin oleh Dwi Saifullah, mantan Ketua IPNU Kudus periode sebelumnya. Acara diikuti oleh para pengurus harian, departemen, tim redaksi majalah Pilar, Forkapik, serta para tamu undangan. (Istahiyyah/Fathoni) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur IMNU, Syariah Fans Gus Dur

Minggu, 28 Januari 2018

245 Calon Mahasiswa Baru Ikuti Bimtes PMII UIN Bandung

Bandung, Fans Gus Dur - Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyelenggarakan Bimbingan Tes (Bimtes) sebagai bentuk kepedulian terhadap calon mahasiswa baru yang hendak mengikuti tes masuk melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) Mandiri.

Sedikitnya 245 calon mahasiswa baru mengikuti Bimtes ini di SMK KIfayatul Akhyar Cibiru, Bandung, Jawa Barat, 28-29 Juni 2016. Menurut Ketua Pelaksana Farhan mengatakan, agenda ini diadakan sebagai kepedulian terhadap mahasiswa baru yang sedang bingung menghadapi testing.

245 Calon Mahasiswa Baru Ikuti Bimtes PMII UIN Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)
245 Calon Mahasiswa Baru Ikuti Bimtes PMII UIN Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)

245 Calon Mahasiswa Baru Ikuti Bimtes PMII UIN Bandung

“Bimtes ini seperti apa yang dikatakan Soekarno ketika berangkat tanpa persiapan maka siap-siap pulang tanpa penghormatan,” ujar Farhan.

Senada dengan Farhan, Ketua Pengurus Komisariat PMII UIN Sunan Gunung Djati Bandung Agus Taufik Habibie mengatakan bahwa calon mahasiswa baru (camaba) perlu dibimbing dan diberikan arahan sebab mereka berasal dari berbagai daerah yang jauh.

Fans Gus Dur

“Nantinya calon mahasiswa baru ini tidak terlalu gagap dan kaget melihat soal-soal, karena bukan dari Aliyah saja, ada yang dari SMK, STM sangat perlu bimbingan dari PMII,” ujar Habibi.

Habibi pun menambahkan bahwa camaba bukan hanya diberikan kisi-kisi mengenai materi-materi yang akan diujikan tetapi bimtes PMII ini pun memberikan materi tentang keislaman dan keindonesia yang memuat nilai perdamaian dan toleransi.

Fans Gus Dur

“Kami juga tidak hanya bimbingan, try out dan testing saja, tapi kami menyelundupkan ajaran bersifat adem, damai dan toleran serta memperkenalkan juga (apa itu) PMII,” ujarnya.

Fasilitator bimtes ini didatangkan dari alumni PMII, kalangan profesional dan dosen UIN Sunan Gunung Djati. (Bakti Habibie/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur AlaNu, Kajian Sunnah, IMNU Fans Gus Dur

Kamis, 25 Januari 2018

Kiai Maruf: Rasulullah Tokoh Perubahan

Jakarta, Fans Gus Dur. Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin mengatakan Rasulullah Muhammad SAW adalah tokoh perubahan. Rasulullah mengubah masyarakat jahiliyah yang tidak tahu nilai-nilai yang baik dan yang buruk, menjadi masyarakat yang tahu amar ma’ruf nahi munkar.

“Rasulullah tokoh perubahan yang luar biasa karena perubahan masyarakat itu dilakukan hanya 23 tahun,” kata Kiai Ma’ruf saat mengisi Maulid Kebangsaan di halaman Gedung PBNU, Sabtu (16/12) sore.

Selama 23 tahun itu, Rasulullah memberikan dampak yang besar.

Kiai Maruf: Rasulullah Tokoh Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Maruf: Rasulullah Tokoh Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Maruf: Rasulullah Tokoh Perubahan

“Berbeda dengan kita yang mungkin membawa dampak pelan sekali, atau tanpa membawa dampak,” lanjut Kiai Ma’ruf.

Karenanya, Maulid Kebangsaan yang digagas PP Fatayat NU, Kiai Ma’ruf berharap bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk membuat perubahan, seperti yang dilakukan Rasulullah Muhammad SAWA yang melakukan perbaikan dari waktu ke waktu.

Fans Gus Dur

“Apalagi NU sebagai organisasi perubahan, harus melakukan perbaikan ke arah yang lebih vaik.  Karena NU adalah organisasi kebaikan,” ujar kiai yang juga Ketua Umum Masjelis Ulama Indonesia (MUI). 

Perubahan yang dilakukan, sambung Kiai Ma’ruf, hendaknya harus berkelanjutan, serta tetap berada di dalam koridor kebangsaan. 

“Jangan dengan intoleran, jangan mengatakan golongan lain kafir, sesat,  toghut. Juga tidak dengan aksi radikal yang menginginkan perubahan tapi dengan menghancurkan yang ada seperti yang dilakukan teroris,” tandasnya. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur

Fans Gus Dur Hikmah, IMNU Fans Gus Dur

Kamis, 18 Januari 2018

PCNU Tanggamus Gelar Konferensi Cabang

Tanggamus, Fans Gus Dur. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Tanggamus menggelar perhelatan rutinan 5 tahun sekali yang menjadi permusyawaratan tertinggi ditingkat cabang yakni Konferensi Cabang PCNU Tanggamus ke IV. 

Acara pembukaan diadakan di kantor PCNU Tanggamus dibuka oleh KH Soleh Bajuri, ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Lampung, dan dihadiri Wakil Bupati Tanggamus, Anggota KPU Kabupaten Tanggamus, Anggota KPU Provinsi, Anggota DPRD Tanggamus, Anggota DPRD Prov. Lampung, seluruh Badan Otonom ditingkat cabang, mulai Muslimat NU, Fatayat NU, GP. Ansor, IPNU, IPPNU undangan dari pengasuh pesantren se-kabupaten Tanggamus, tokoh agama dan masyarakat. 

PCNU Tanggamus Gelar Konferensi Cabang (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Tanggamus Gelar Konferensi Cabang (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Tanggamus Gelar Konferensi Cabang

KH Soleh Bajuri, ketua PWNU Lampung dalam sambutannya mengatakan “Diharapkan moment Konferensi Cabang ini menjadi pemersatu dan sekaligus mengembalikan serta menumbuhkan semangat perjuangan menegakkan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah an Nahdliyyah.”

Fans Gus Dur

Acara ini digelar selama 2 hari pada 27-28 Desember 2014 dan dikemas secara sistematis sesuai AD/ART NU yakni pembukaan, pleno 1 Sidang Tata Tertib, pleno 2 LPJ PCNU Tanggamus dilanjutkan pandangan umum, sidang-sidang komisi, pleno 3 pengesahan hasil sidang-sidang komisi dilanjutkan pleno 4 pemilihan pengurus PCNU Tanggamus yang sebelumnya didahului demisioner pengurus lama. 

Fans Gus Dur

Sidang pleno pemilihan pengurus baru dipimpin oleh KH Soleh Bajuri Ketua PWNU Lampung dan sekretaris sidang Mislamudin. Dalam sidang pemilihan pengurus baru ini terpilihlah KH Marzuki Amin sebagai Rais Syuriyah PCNU Tanggamus dan H Amirudin Harun, MPd.I sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Tanggamus. (rudi santoso/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur IMNU, Pemurnian Aqidah, Sejarah Fans Gus Dur

Rabu, 17 Januari 2018

Memahami Kearifan Tradisi-tradisi Lokal

Oleh Nine Adien Maulana



Momen jelang Ramadhan hingga awal Syawal dipenuhi dengan berbagai tradisi yang khas daerah masing-masing. Ada tradisi megengan dan saling memohon maaf di awal Ramadhan. Ada tradisi weweh maleman seperti pada akhir-akhir Ramadhan. Menjelang Syawal hingga setelah shalat Idul Fitri ada lagi tradisi nyadran atau nyekar (ziarah kubur). Kupatan pada tanggal tujuh Syawal menjadi penutup rangkaian tradisi-tradisi itu.

Memahami Kearifan Tradisi-tradisi Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
Memahami Kearifan Tradisi-tradisi Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

Memahami Kearifan Tradisi-tradisi Lokal

Meskipun tradisi-tradisi itu beriringan dengan momentum ibadah mahdhah, namun mereka bukanlah bagian ibadah mahdhah yang secara langsung bersumber dari Al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka adalah kreasi masyarakat lokal dalam mengapresiasi momentum ibadah mahdhah pada bulan Ramadhan dan Syawal. Oleh karena itu, tidak ada standar bakunya. Tiap daerah memiliki kekhasannya sendiri dalam mengapresiasinya yang termanifestasi dalam tradisi-tradisi itu.

Fans Gus Dur

Selama tradisi-tradisi ini dilakukan dengan cara-cara yang beradab dan tidak menyimpang dari syari’at, maka mereka layak disebut sebagai bagian dari khazanah kearifan lokal yang patut dilestarikan. Sebaliknya, jika tradisi-tradisi ini dilakukan dengan cara-cara yang tidak beradab dan nyata-nyata menyimpang norma syari’at, maka mereka tidak bisa dilestarikan karena bukan termasuk kearifan lokal. Atas dasar itulah umat Islam harus selektif dalam mempraktikkan tradisi.

Melaksanakan tradisi secara selektif dalam bingkai syariat merupakan sikap hidup kontekstual sebagaimana peribahasa, “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”. Ini adalah potret sikap arif dan bijaksana (wisdom) terhadap apa telah ada dan berlaku di dalam masyarakat. Bersikap seperti ini bukan berarti bersikap permisif terhadap semua tradisi, namun tetap selektif dengan menjadikan norma-norma syariat sebagai cara pandangnya (worldview).

Sikap hidup kontekstual semacam ini juga menjadi pertimbangan para ulama terdahulu dalam merumuskan hukum-hukum fiqih. Dalam kaidah fiqih yang dirumuskan para ulama terdahulu kita menjumpai kaidah, “al-‘âdah muhkamah”, adat kebiasaan yang telah dikenal baik (al-‘urf) bisa dijadikan pertimbangan perumusan hukum fiqih.

Fans Gus Dur

Kriteria kebaikan yang bisa diterapkan pada adat kebiasaan selain berpijak pada kebenaran akal sehat manusia juga tidak bisa lepas dari norma-norma syariat. Di antaranya adalah, tidak bertentangan dengan syariat, tidak menyebabkan kerusakan atau menghilangkan kebaikan, telah dilakukan secara massif dan berulang-ulang di kalangan umat Islam, dan tidak masuk dalam wilayah ibadah mahdlah. Dengan kriteria inilah kita bisa bersikap arif, bijaksana dan selektif dalam mengamalkan tradisi secara kreatif.

Tradisi semacam ini masuk dalam wilayah budaya yang tidak mengikat kuat bagi semua orang. Masing-masing individu dalam suatu masyarakat memiliki otonomi untuk memilih mengikutinya atau tidak mengikutinya. Selama individu itu memilih dengan penuh kesadaran, tanggung jawab dan bijaksana, maka baik yang mengikuti maupun tidak mengikuti sama-sama mendapatkan kebaikan. Akan tetapi jika di antara kedua pihak itu mengklaim paling benar dan paling baik dan menganggap yang lain salah dan jelek, maka hal itu adalah tidak bisa dibenarkan dan jauh dari kebijaksanaan.

Kedua pihak itu sebenarnya tetap akan hidup bersamaan dengan tradisinya masing-masing. Mereka yang melestarikan tradisi yang telah ada, mungkin akan mempraktikkannya dengan berbagai kreativitas budaya. Mereka yang tidak mengikutinya, maka sebenarnya juga sedang mengkreasi hal baru yang jika dilakukan terus-menerus dan diikuti oleh orang lain secara massif akan menjadi tradisi pembandingnya.

Hal ini adalah sesuatu yang wajar, karena manusia dengan akal budinya itu pada dasarnya adalah makhluk berbudaya. Oleh karena itu, jika ada orang yang mengatakan antibudaya, maka hal itu sangat tidak logis, karena manusia pasti berbudaya, sebagai konsekuensi kemampuan akal budinya. Yang tidak berbudaya pasti bukan manusia, karena tidak memiliki akal budi. Dengan demikian tradisi adalah bagian budaya manusia yang tidak bisa dihindari.

Dalam praktiknya, pelaksanaan tradisi memang bisa saja menyimpang. Hal itu bisa saja terjadi di mana saja dan kapan saja. Dengan mengacu pada kriteria kearifan dan kebijaksanaan di atas maka, kita bisa melakukan kontrol? agar tradisi itu tetap dilakukan dalam koridor kearifan lokal yang sesungguhnya. Dengan cara itu, kehidupan beragama dan bermasyarakat menjadi indah dengan beragam keunikan khas masing-masing daerah.

Dalam konteks dakwah Islam, tradisi semacam ini bisa dijadikan sebagai media pengenalan dan? penyebaran ajaran agama Islam. Dengan tujuan dakwah itulah, maka kita bisa memahami dimunculkannya berbagai macam tafsir otak-atik-gatuk dalam rona-rona tradisi itu. Ini bukanlah tafsir baku, namun hasil kreativitas untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah melalui pelaksanaan tradisi.

Meskipun terkadang tafsir itu terkesan sangat dipaksakan, namun sikap kita terhadap tafsir otak-atik-gatuk harus juga bijaksana. Jangan menyikapinya secara hitam-putih dengan sudut pandang kaku syariat, karena ini adalah wilayah budaya. Jika tafsir semacam itu sejalan dengan syariat, maka silakan saja diterima sebagai penambah khazanah pengetahuan, meskipun kualitas ilmiahnya masing dipertanyakan. Jika ia tidak sejalan dengan syariat, maka kita harus tegas menolaknya.

Kebaikan dan kebenaran memang tidak selalu harus berangkat dari teks-teks syariat, karena Allah SWT telah menganugerahkan akal budi kepada manusia. Dengannya manusia bisa berkreasi dalam kebaikan dan kebenaran, sebagai konsekwensi sebagai makhluk berbudaya. Akan tetapi, kita harus sadar dan mengakui, bahwa akal budi saja tidak cukup bagi manusia menjadi baik dan benar menurut Allah SWT Sang Pencipta.

Manusia butuh syariat untuk melengkapi dan menyempurnakan akal budinya agar sejalan KehendakNya. Ini adalah konsekwensi iman. Dengan landasan iman itu, apa yang datang dari syariat pasti mengandung kebaikan dan kebenaran, walaupun seringkali dirasakan tidak sejalan dengan keinginan manusia. Kita pasrah menerimanya sebagai konsekuensi berislam.? ? ? ?

Akhirnya, jika akal budi sejalan dengan syariat, maka kehidupan beragama menjadi luwes dan indah. Manusia tetap bisa berkreasai dalam budaya, tanpa mengabaikan norma syariat yang Allah SWT dan RasulNya wariskan kepadanya. Mungkin seperti inilah yang dimaksud dengan Islam rahmatan lil alamiin itu.

Penulis adalah Ketua Tanfidziyyah Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Pacarpeluk, Megaluh, Jombang



Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur IMNU, Fragmen Fans Gus Dur

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Fans Gus Dur sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Fans Gus Dur. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Fans Gus Dur dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock