Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Februari 2018

Dari Sarang, Ulama Khos NU Memanggil

Jam’iyah Nahdlatul Ulama, khususnya kalangan pesantren telah meletakkan pondasi kuat, baik dalam memperjuangkan kemerdekaan, merancang dasar negara, dan meneguhkan eksistensi kebhinnekaan bangsa Indonesia. Namun, eskalasi gerakan intoleran yang bersumber organisasi-organisasi dengan membawa misi paham transnasional kian menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan persatuan bangsa.

Hal itu termasuk salah satu problem pelik yang seolah organisasinya saat ini ‘dibiarkan’ oleh yang empunya kebijakan. NU dana warganya seolah-olah hanya menjadi pemadam kebakaran saja. Problem pelik lainnya yaitu percaturan politik yang saat tereduksi kepentingan pribadi bahkan tak segan-segan menjual agama untuk mencapai syahwat politiknya. Belum lagi kesenjangan ekonomi yang saat ini semakin menganga antara si kaya dan si miskin, problem, kesejahteraan, dan lain sebagainya.

Dari Sarang, Ulama Khos NU Memanggil (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Sarang, Ulama Khos NU Memanggil (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Sarang, Ulama Khos NU Memanggil

Menyikapi problem krusial tersebut, para ulama khos NU menggalang pemikiran dan gerakan nyata di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah pada 16 Maret 2017 lalu. Sebanyak 99 Ulama Khos tersebut merajut sumber daya, baik tenaga dan pikiran untuk mencari jalan terbaik bagi kelangsungan hidup bangsa ini menuju kemajuan dan keberadaban dalam bingkai keberagaman.

Majalah Risalah NU edisi April-Mei 2017 ini mengangkat secara khusus laporan terkait majelis ulama khos tersebut. Selain sajian informasi menarik lain dalam setiap rubrik, Risalah menyajikan taushiyah-taushiyah khusus dari para ulama khos NU seperti KH Maimoen Zubair, KH Tolchah Hasan, KH Ahmad Mustofa Bisri, KH Ma’ruf Amin, KH Dimyati Rois, KH Said Aqil Siroj, KH Nawawi Abdul Jalil, TGH Turmudzi Badruddin, KH Sanusi Baco, KH Abuya Muhtadi Dimyati, KH TK Bagindo M. Letter, dan kiai-kiai khos lain.

Meskipun persoalan yang dibahas adalah masalah-masalah serius, namun para kiai mampu membungkus kegiatan yang dihadiri oleh ribuan jamaah ini dengan situasi santai dan penuh dengan ger-geran. Artinya, para kiai NU yang sedari dulu terkenal dengan berbagai macam humornya ini berusaha tetap cair sehingga jalan keluar yang diharapkan dari problem-problem bangsa pun dapat mengalir deras.

Fans Gus Dur

Dari pertemuan ini, para kiai khos dari seluruh penjuru Nusantara menghasilkan Risalah Sarang. Risalah yang berisi lima poin pemikiran sebagai jalan keluar atas problem-problem bangsa ini didahului dengan mengangkat beberapa poin inti yang terdapat dalam Qonun Asasi NU yang ditulis oleh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, Pendiri NU. Namun tanpa mengurangi rasa hormat, penulis hanya menampilkan kelima poin Risalah Sarang itu, sebagai berikut:

Bismillahirrahmanirrahim

1. Nahdlatul Ulama senantiasa mengawal Pancasila dan NKRI serta keberadaannya tidak dapat bisa dipisahkan dari keberadaan NKRI itu sendiri. Nahdlatul Ulama mengajak seluruh ummat islam dan bangsa Indonesia untuk senantiasa mengedepankan pemeliharaan negara dengan menjaga sikap moderat dan bijaksana dalam menanggapi berbagai masalah. Toleransi, demokrasi dan terwujudnya akhlakul karimah dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat harus terus diperjuangkan bukan hanya demi keselamatan dan harmoni kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat di Indonesia ini saja, tetapi juga sebagai inspirasi bagi dunia menuju solusi masalah-masalah peradaban yang dihadapi dewasa ini.

2. Lemahnya penegakan hukum dan kesenjangan ekonomi merupakan sumber-sumber utama kegelisahan masyarakat selain masalah-masalah sosial seperti budaya korupsi, rendahnya mutu pendidikan dan sumberdaya manusia, meningkatnya kekerasan dan kemerosotan moral secara umum. Pemerintah diimbau agar menjalankan kebijakan-kebijakan yang lebih efektif untuk mengatasi masalah-masalah tersebut termasuk dengan menerapkan kebijakan-kebijakan yang lebih berpihak kepada yang lemah (afirmatif) seperti reformasi agraria, pajak progresif, pengembangan strategi pembangunan ekonomi yang lebih menjamin pemerataan serta pembangunan hukum ke arah penegakkan hukum yang lebih tegas dan adil dengan tetap menjaga prinsip praduga tak bersalah dalam berbagai kasus yang muncul. Penyelenggaraan negara oleh pemerintah dan unsur-unsur lainnya harus senantiasa selaras dengan tujuan mewujudkan maslahat bagi seluruh rakyat (tasharraful imam manutun bil maslahatirroiyyah).

Fans Gus Dur

3. Perkembangan teknologi informasi, termasuk internet dan media-media sosial, serta peningkatan penggunaannya oleh masyarakat membawa berbagai manfaat seperti sebagai sarana silaturahmi nasrul ilmi taawwun alal birri dan sebagainya, tetapi juga mendatangkan dampak-dampak negatif seperti cepatnya penyebaran fitnah dan seruan seruan kebencian, propaganda radikalisme, pornografi, dan halhal lain yang dapat merusak moral dan kerukunan masyarakat. Pemerintah diimbau untuk mengambil langkah-langkah yang lebih efektif baik dalam mengatasi dampak-dampak negatif tersebut maupun pencegahanpencegahannya. Pada saat yang sama para pemimpin masyarakat dihimbau untuk terus membina dan mendidik masyarakat agar mampu menyikapi informasi-informasi yang tersebar secara lebih cerdas dan bijaksana sehingga terhindar dari dampak-dampak negatif tersebut.

4. Para pemimpin negara, pemimpin masyarakat, temasuk pemimpin Nahdlatul Ulama agar senantiasa menjaga kepercayaan masyarakat dengan senantiasa arif dan bijaksana dalam menjalankan tugas masing-masing dengan penuh tanggung jawab adil dan amanah dengan menomorsatukan kemaslahatan masyarakat dan NKRI.

5. Para ulama dalam majlis ini mengusulkan diselenggarakannya forum silaturrahmi di antara seluruh elemen-elemen bangsa untuk mencari solusi berbagai permasalahan yang ada, mencari langkah-langkah antisipatif terhadap kecenderungan-kecenderungan perkembangan di masa depan serta rekonsiliasi diantara sesama saudara sebangsa. Nahdlatul Ulama diminta untuk mengambil inisiatif bagi terwujudnya forum tersebut.

? ? ? ? ?

Sarang, 16 Maret 2017

Selain liputan khusus tentang Silaturrahim Nasional Alim Ulama Nusantara tersebut, Majalah Risalah NU juga menyajikan berbagai informasi penting terkait Istighotsah Akbar yang diselenggerakan PWNU Jawa Timur pada 9 April 2017 lalu. Majalah gawangan Mustafa Helmy dan kawan-kawan ini juga mengulik secara mendalam terkait program Kredir Usaha Rakyat (KUR) agar lebih memperhatikan potensi sumber daya yang dimiliki NU.

Selain itu, opini juga siap mengisi input para pembaca dari Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini yang mengangkat judul “Menangkal Radikalisme Lewat Dakwah Virtual”. Juga dari Ketua Lakpesdam PBNU H Rumadi Ahmad yang mengangkat “Moderasi Pemikiran KH Hasyim Muzadi” untuk mengenang kepergian mendiang Ketua Umum PBNU periode 1999-2000 tersebut. Informasi-informasi bergizi bisa dibaca secara langsung dalam Majalah setebal 70 halaman ini. Selamat membaca!

(Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Ahlussunnah, Nahdlatul Ulama Fans Gus Dur

Selasa, 20 Februari 2018

Jama’ah Masjid Darussalam Pati Tahlilkan Ribuan Arwah

Pati, Fans Gus Dur. Ada yang menarik menjelang Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW yang dihelat di Masjid Darussalam Grogolan-Dukuhseti-Pati, Jawa Tengah, Selasa (19/5) malam. Pasalnya, sejak usai jamaah dzuhur terdengar nama ribuan arwah dibacakan oleh panitia.

Jama’ah Masjid Darussalam Pati Tahlilkan Ribuan Arwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Jama’ah Masjid Darussalam Pati Tahlilkan Ribuan Arwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Jama’ah Masjid Darussalam Pati Tahlilkan Ribuan Arwah

Menurut Ketua Panitia Isra’ Mi’raj M Anwar Syafi’i, pembacaan nama arwah dilakukan bergantian oleh sejumlah anggota panitia. “Nama-nama arwah tersebut sengaja kami bacakan pakai pengeras suara demi syiar. Paling tidak, ahli waris juga bahagia nama keluarganya yang telah wafat disebut dalam majlis tahlil ini,” ujarnya.

Tiap nama yang ditahlilkan, lanjut Anwar, keluarga menitipkan uang sebesar 2000 rupiah kepada panitia. “Hingga sore ini, dana yang masuk sudah 8 juta lebih. Kalau 2000 perorang, berarti ada empat ribuan arwah yang ditahlilkan. Seperti tahun lalu, menjelang Maghrib masih ada saja warga mengirim nama leluhurnya,” ungkap Anwar.

Fans Gus Dur

Anwar Syafii menambahkan, tahlil akbar ini telah dimulai sejak tiga tahun silam. “Ini tahun keempat. Tiap tahun selalu naik jumlahnya, baik arwah maupun keluarga yang mendaftarkannya,” ujar Anwar.

Fans Gus Dur

Selain tahlil akbar, lanjut Anwar, kegiatan tahunan tersebut juga memberikan santunan kepada para yatim piatu yang dikemas dalam pengajian umum. “Pengajian malam ini akan dihadiri KH Mahrus Ali dari Jepara,” katanya.

Di tempat terpisah, Imam Masjid Darussalam KH Ali Makhtum Salam menyatakan, kegiatan Isra Mi’raj diinisiasi Majlis Ta’lim Al-Istiqomah yang beranggotakan jamaah masjid Darussalam.

“Majlis ta’lim ini merupakan organisasi pengajian kitab tiap malam Selasa yang dirintis oleh Bapak (KH Abdussalam-red). Lalu, diteruskan Kiai Suyuthi A Hannan, kakak sepupu saya. Setelah beliau sakit-sakitan, saya diminta melanjutkan,” ujar Kiai Makhtum.

Pengajian kitab kuning, lanjutnya, telah dimulai saat Almaghfurlah KH Abdussalam masih hidup. Mbah Salamun, sapaan akrab Kiai Abdussalam, biasa memimpin pengajian dengan berbagai macam kitab, antara lain Majmuah al-Syariah al-Kafiyah li al-Awam karya KH Sholeh Darat Semarang.

Sementara itu, Koordinator Majlis Ta’lim Al-Istiqomah Masjid Darussalam Ahmad Ahsin mengatakan, nanti malam ada 35 anak yatim piatu yang akan diberi santunan. “Dana santunan, diambil dari sumbangan para donatur. Bukan dari dana pemasukan tahlil akbar,” tandasnya. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Cerita, Nahdlatul Ulama, Tokoh Fans Gus Dur

Senin, 12 Februari 2018

Tumbuhkan Semangat, IPNU-IPPNU Pati Gelar Harlah dan Konsolidasi

Pati, Fans Gus Dur. Untuk menumbuhkan semangat kader dalam belajar, berjuang, dan bertaqwa, PC IPNU-IPPNU Kabupaten Pati gelar Harlah dan konsolidasi dengan Pimpinan Komisariat, Pimpinan Ranting, dan Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPNU se-Kabupaten Pati yang ditempatkan di Gedung PC NU Pati, Jum’at (15/3). ? ?

Tumbuhkan Semangat, IPNU-IPPNU Pati Gelar Harlah dan Konsolidasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tumbuhkan Semangat, IPNU-IPPNU Pati Gelar Harlah dan Konsolidasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tumbuhkan Semangat, IPNU-IPPNU Pati Gelar Harlah dan Konsolidasi

Kegiatan Konsolidasi ini merupakan kegiatan yang kedua setelah setahun yang lalu juga mengadakan kegiatan yang serupa membentuk FORKAPIK (Forum Komunikasi Antar Komisariat dan Ranting), juga membentuk Koordinator Kawedanan atau Wilayah Pati.?

Namun, ada yang berbeda pertemuan konsolidasi kali ini karena acara ini memberikan penjelasan jalannya organisasi, juga menekankan pada seluruh Pimpinan komisariat, Pimpinan Ranting, dan Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU se- Pati agar berani melakukan papanisasi di sekretariat masing-masing.?

Fans Gus Dur

Hal ini disampaikan oleh Muhammad Mubarok Ketua PC IPNU Kabupaten Pati.?

“Sebagai Kader NU harus siap belajar, berani berjuang, dan ikhlas bertqwa. Lantas juga harus berani memasang papanisasi di madrasah-madrasah yang sudah terbentuk Komisariat, maupun juga di tingkatan Pimpinan Ranting, Pimpinan Anak Cabang agar lingkungan masyarakat menerima dan mendukung kegiatan IPNU-IPPNU,” tegasnya semangat.?

Fans Gus Dur

Untuk setahun ke depan IPNU-IPPNU Pati mengawal penuh dalam program itu. Sebagai wujud nyata setelah puluhan madrasah di Pati dibentuk komisariat dan ranting-ranting.?

Di kesempatan itu pula Umi Lathifah Ketua PC IPPNU Kabupaten Pati menyampikan, “Bagi pimpinan komisariat, ranting dan pimpinan anak cabang yang baru, yang belum punya panduan organisasi IPNU-IPPNU yaitu PDPRT dan PPOA, silahkan tulis memo terus bisa diserahkan pada kami,” jelasnnya.?

Lewat kegiatan ini Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Pati berharap sebagai momen pengaktualisasikan diri serta semangat baru untuk membesarkan organisasi kembali sehingga komisariat-komisariat, ranting-ranting yang vakum dan belum berdiri dapat lebih hidup. Melihat luasnya potendi kader di wilayah Kabupaten Pati.?

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: ? Birri Zamrock?

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Hikmah, Lomba, Nahdlatul Ulama Fans Gus Dur

Sabtu, 03 Februari 2018

IPNU Jateng Usul PBNU Konsolidasikan Penulis dan Wartawan

Semarang, Fans Gus Dur. Melihat dinamika perkembangan media online yang semakin berpengaruh dan mempengaruhi, Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PW IPNU) Jawa Tengah mengusulkan kepada PBNU untuk mengonsolidasikan penulis dan wartawan NU.

Hal tersebut dinyatakan Ketua IPNU Jateng Amir Mustofa Zuhdi melalui sekertarisnya Nahdlatul Ulum, ketika ditemui Fans Gus Dur, Selasa (8/11) di Semarang.

IPNU Jateng Usul PBNU Konsolidasikan Penulis dan Wartawan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Jateng Usul PBNU Konsolidasikan Penulis dan Wartawan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Jateng Usul PBNU Konsolidasikan Penulis dan Wartawan

"NU secara sistematis harus mengonsolidasikan penulis, wartawan, sastrawan dan pegiat media NU agar menjadi satu kekuatan yang massif," katanya.

Menurut Ulum, hari ini penulis dan wartawan NU sudah banyak, namun belum terkoordinir secara rapi. "Alangkah baiknya PBNU segera merespon hal ini," imbuhnya.

Fans Gus Dur

Hal senada juga disampaikan Wakil Ketua IPNU Jateng, Ahmad Naufa Khoirul Faizun. Menurutnya, demo 4/11 beberapa waktu lalu adalah bukti kekuatan media, yang sampai hari ini masih terasa efeknya.

"Penulis, jurnalis, wartawan, pegiat media dan sastrawan harus banyak dilibatkan untuk mengangkat pemikiran moderat ulama dan kiai-kiai NU. Jika semuanya di-jamiyyahkan dengan baik, dari yang tua sampai yang muda, wajah media kita akan teduh dan mencerahkan," tuturnya.

Sebagaimana kita ketahui bersama, dewasa ini media online berpengaruh penting terhadap pengakses (user) baik dari segi pemikiran maupun tindakan. Bahkan, kegaduhan dan perang media dari berbagai isu terus terjadi dan tak terkendali.

"Masyarakat kita butuh informasi yang islami, sejuk dan mencerahkan, bukan berisi fitnah, hasutan dan makian," pungkasnya. (Sri Nur Ainingsih/Fathoni)

Fans Gus Dur

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Nahdlatul Ulama Fans Gus Dur

Jumat, 02 Februari 2018

Indikator Pengurus Ranting NU Tergolong “Aktif”, Menurut Lakpesdam

Jakarta, Fans Gus Dur. Pengurus Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (PP Lakpesdam NU) sedang menggalakkan program kaderisasi ranting NU, yakni kepengurusan NU di tingkat desa atau kelurahan. Program percontohan kaderisasi ranting telah dilakukan dengan melibatkan pengurus tingkat cabang (PCNU) dan diharapkan berlanjut ke sebanyak mungkin ranting (PRNU) seluruh Indonesia.

Ketua PP Lakpesdam NU H Yahya Ma’shum kepada Fans Gus Dur di Jakarta, Senin (16/6) mengatakan, keberadaan organisasi NU harus dimanfaatkan sepenuhnya oleh warga di tingkat lapis paling bawah, yakni ranting atau jika perlu sampai ke anak ranting.

Indikator Pengurus Ranting NU Tergolong “Aktif”, Menurut Lakpesdam (Sumber Gambar : Nu Online)
Indikator Pengurus Ranting NU Tergolong “Aktif”, Menurut Lakpesdam (Sumber Gambar : Nu Online)

Indikator Pengurus Ranting NU Tergolong “Aktif”, Menurut Lakpesdam

Dalam rangka meningkatkan peran NU di tingkat ranting atau desa dan kelurahan, maka SDM pengurus ranting harus dipersiapkan. Sementara program di tingkat ranting terdekat yang sudah berjalan bisa menjadi acuan.

Fans Gus Dur

Sebagai motivasi, PP Lakpesdam NU telah menyampaikan beberapa ciri atau indikator kepengurusan NU di tingkat ranting atau tingkat kecamatan (MWCNU) dapat dinilai sehat atau aktif.

Fans Gus Dur

Pertama, pengurus ranting telah terlibat atau bahkan menggerakkan berbagai aktivitas atau tradisi keagamaan di desa atau kelurahan setempat. “Jadi indikator pertama PRNU aktif adalah jika amaliyah NU berjalan,” kata Yahya Ma’shum.

Kedua, pengurus ranting NU telah meningkatkatkan peran masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.

Para pengurus juga bisa menghimpung dana dalam bentuk zakat dan infaq dari masyakrat yang dikembalikan untuk keperlan masyarakat setempat. Dalam hal ini peran lembaga di tingkat kabupaten hanya menjadi partner yang menfasilitasi berbagai program di tingkat ranting aau kecamatan.

“Selanjutnya, bagaimana ranting sehat itu dicirikan dengan terjadinya proses kaderisasi secara sederhana melalui berbagai even atau kegiatan. Di dengan melibatkan warga arau anak-anak muda untuk menjadi panitia kegiatan itu sudah merupakan kaderisasi,” kata Yahya.

Indikator selanjutnya, PRNU dinilai aktif apabila pengurus telah telibat dalam kegiatan peningkatkan taraf perekonomian warga yang disesuaikan dengan  kondsi dan kebutuhan warga setempat.

Warga juga harus dikenalkan dengan politik anggaran. “Sekarang desa menjadi pusat perhatian dan alokasi anggaran untuk desa juga cukup besar,” katanya.

Di bidang pendidikan, pengurus NU di tingkat ranting dinilai aktif jika bisa membangun atau menggerakkan pendidikan yang ada, mulai dari PAUD, Taman Pendidikan Al-Quran, atau lembaga pendidikan lain dengan taraf lebih tinggi sesuai kapasistas ranting setempat.

“Yang juga perlu diperhatikan diperhatikan oleh ranting adalah syarat adminitrasi dan managemen keorganisasian. Lalu, kantor atau pusat kegiatan NU minimal ditandai dengan papan nama,” kata Yahya.

“Jadi buat apa NU berkibar di tingkat cabang, kalau di MWC dan ranting tidak,” pungkasnya. (A. Khoirul Anam)

 

Ilustrasi: Kantor Pengurus Ranting NU di Desa Krecek, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri, yang juga sekaligus sebagai kantor beberapa badan otonom dan unit usaha NU setempat.

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Nahdlatul Ulama, Kajian Fans Gus Dur

Senin, 29 Januari 2018

Para Dai di Aceh Didorong Aktif Halau Radikalisme

Pidie, Fans Gus Dur

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme kembali melaksanakan dialog pelibatan masyarakat dalam penanggulangan paham radikal dan terorisme di Provinsi Aceh tepatnya di Kabupaten Pidie, Kamis (14/4).

Kegiatan yang terlaksana atas kerja sama dengan Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) Provinsi Aceh ini diikuti para dai dari beberapa kabupaten di sekitar Pidie. Sebanyak 200 pesarta menghadiri acara di aula SMK N 2 Kecamatan Sigli, Kabupaten Pidie tersebut.

Para Dai di Aceh Didorong Aktif Halau Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Dai di Aceh Didorong Aktif Halau Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Dai di Aceh Didorong Aktif Halau Radikalisme

Ketua FKPT Provinsi Aceh Yusni? Sabi mengatakan, kegiatan kali ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat Provinsi Aceh khususnya warga Kabupaten Pidie dalam mewaspadai paham radikal dan terorisme di Aceh.

Fans Gus Dur

Guru Besar UIN Sumatra Utara Syahrin Harahap yang hadir dalam kesempatan itu berpandangan, mempertemukan dai dalam satu forum sangat tepat karena dai merupakan ujung tombak bagi umat Islam dalam memberikan pemahaman agama. Ketika dai menyampaikan ajaran agama yang benar, maka tidak akan ada paham radikal dan terorisme di Aceh.

Fans Gus Dur

Mokhtar, Kepala Dinas Syariat Islam Banda Aceh, menambahkan, perdamaian Aceh merupakan tanggung jawab semua warga. “Kita harus bersama-sama dalam menghalau berbagai paham radikal dan terorisme di Aceh. Jangan biarkan Paham Radikal melukai dan mengoyak wagra Aceh, mari perkuat silaturahim,” katanya.

Kegiatan tersebut berlangsung selama sehari, dan dihadiri pula oleh Wakil Bupati Pidie M. Iryawan, Direktur Perlindungan BNPT Herwan Chaidir, Masu’d Halimin dari The Nusa Institute, perwakilan Kesbangpol provinsi dan kabupaten.

Wakil Bupati Kabupaten Pidie M. Iryawan berharap kegiatan ini bisa menjaga perdamaian di Aceh dan mencegah secara dini bahaya paham radikal dan terorisme di Kabupaten Pidie secara khusus dan Aceh secara umum.

Tujuan dari kegiatan ini di antaranya adalah peningkatan kapasitas dai dari segi penyusunan materi dakwah yang bernuansa rahmatan li’alamin dan moderat seperti tema persamaan sesama manusia dan ukhuwah insaniyah dan ukhhuwah islamiyah, kemajemukan, perbedaan pendapat, toleransi dan sebagainya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Nahdlatul Ulama, Sholawat, Kyai Fans Gus Dur

Sabtu, 27 Januari 2018

Apa Saja Indikator Pesantren Sehat? Ini Penjelasannya

Jombang, Fans Gus Dur

Kondisi bersih dan sehat menjadi keharusan di lingkungan pondok pesantren. Tujuannya agar para santri, pengasuh, dan seluruh keluarga besar pondok pesantren hidup dalam suasana dan keadaan yang sehat. Lalu apa saja indikator atau tanda pondok pesantren yang sehat?

Apa Saja Indikator Pesantren Sehat? Ini Penjelasannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Apa Saja Indikator Pesantren Sehat? Ini Penjelasannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Apa Saja Indikator Pesantren Sehat? Ini Penjelasannya

Wakil Ketua LK PBNU Zulfikar As’ad atau yang acap disapa Gus Ufik, menjelaskan indikator pesantren yang sehat terdiri dari indikator utama dan indikator tambahan.

“Yang termasuk indikator utama adalah seluruh keluarga pondok pesantren terbiasa makan buah dan sayur, melakukan aktivitas fisik, dan deteksi dini terhadap kemungkinan adanya penyakit,” terang Gus Ufik di depan peserta Lokakarya “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui Pesantren Sehat” di Pondok Pesantren Darul Ulum, Sabtu (19/11) akhir pekan kemarin.

Fans Gus Dur

Gus Ufik menambahkan aktivitas fisik yang dimaksud bisa berbentuk olah raga, jalan kaki, maupun kegiatan sehari-hari seperti menyapu.

“Aktivitas fisik tidak harus dilakukan lama-lama dalam sekali kegiatan. Bisa lima belas atau tiga puluh menit sekali beraktivitas, tapi dilakukan secara rutin,” terangnya.

Fans Gus Dur

Adapun indikator tambahan terkait kepada bersihnya lingkungan pesantren yang meliputi udara, sampah, saluran air, air minum, mandi cuci kakus (MCK), ventilasi, dan pencahayaan.

“Selain itu pesantren yang sehat juga menyediakan kawasan tanpa merokok, pusat promosi kesehatan, dan adanya pos kesehatan pesantren (Poskestren),” kata pria yang juga? Ketua Asosiasi Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (ARSINU).

Pesantren sehat menjadi bagian dari Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Hal ini selaras dengan program LK PBNU yang bertanggungjawab menjalankan kebijakan PBNU di bidang kesehatan dan melaksanakan fungsi pembinaan pada Lembaga Kesehatan di tingkat Pengurus Wilayah.

Germas, kata Gus Ufik, dicanangkan pada 15 November 2016 oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI di Yogyakarta. Pencanangan Germas atas prakarsa Presiden RI dan merupakan wujud gerakan revolusi mental bidang kesehatan untuk membudayakan hidup sehat, agar mampu mengubah kebiasaan perilaku tidak sehat. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Syariah, Nahdlatul Ulama, AlaNu Fans Gus Dur

Halal Bihalal, IPNU-IPPNU Pujon Santuni Anak Yatim non-Muslim

Malang, Fans Gus Dur. Pimpinan Anak Cabang IPNU - IPPNU kecamatan Pujon kabupaten Malang bersama komunitas 65391 mengadakan halal bihalal guna memperkokoh persaudaraan antar sesama di tengah adanya tindakan radikal yang menimpa saudara muslim di Papua.

Halal Bihalal, IPNU-IPPNU Pujon Santuni Anak Yatim non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
Halal Bihalal, IPNU-IPPNU Pujon Santuni Anak Yatim non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

Halal Bihalal, IPNU-IPPNU Pujon Santuni Anak Yatim non-Muslim

Halal bihalal yang diadakan di daerah setempat, Ahad (19/7) kali ini diisi juga dengan memberikan santunan anak yatim sejumlah 160 anak se kecamatan Pujon. Tidak hanya anak-anak beragama Islam, anak-anak yatim non muslim pun mendapat santunan.

Kegiatan ini dihadri muspika kec Pujon, tokoh lintas agama, dan tokoh masyarakat.

Fans Gus Dur

Untuk memeriahkan acara, juga diisi dengan berbagai pagelaran, mulai dari sholawat banjari, music jazz, campursari hingga musik jalalan. Acara ditutup dengan mauidoh hasanah dengan tema Islam Nusantara yang Rahmatan lil Alamin.

Fans Gus Dur

"IPNU IPPNU pujon berharap Islam Nusantara dapat diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan karena kami yakin dengan model Islam yang seprti itu akan tercipta situasi yang benar-benar aman tentram dan damai,” kata Fauzan Anwari, sekretaris PAC NU Kec Pujon.

“Pada akhir-akhir ini radikalisme dari berbagai agama sangat subur dan menyebar kemana-mana ditambah lagi islamphobia yang menjadi-jadi. Isu-isu dibuat untuk menghncurkn negara ,” tambahnya.

Upaya yang dilakukan kelompok radikal nyaris berhasil. Namun, lanjutnya, Indonesia tidak akan bisa diotak-atik oleh jika rakyatnya masih memiliki sikap kebhinekaan yang sudah seratus abad yang lalu terjaga.

“Jangan sampai sikap rakyatnya terdegradasi oleh budaya dan pemikiran sesat yang dikembangkn oleh Barat. IPNU IPPNU harus menjadi pioner dalam melegitimasi bahwa islam yang kita anut dan kita jalankn selama ini adl islam yang sesungguhnya,” pungkasnya. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Meme Islam, RMI NU, Nahdlatul Ulama Fans Gus Dur

Kick Off LSN Jawa Timur 1 Dimulai 17 September

Trenggalek, Fans Gus Dur. Pembukaan pertandingan Liga Santri Nusantara (LSN) Jawa Timur I di Kabupaten Trenggalek akan dilakukan 17 September 2017 mendatang. Kepastian jadwal kick off itu disepakati dalam rapat teknis antara panitia region, panitia lokal, PCNU, dan Pemkab Trenggalek, Rabu (27/7).

Menurut Koordinator Region Jawa Timur 1, Habib Mustofa, pertimbangan itu diambil mengingat pada bulan Agustus mendatang Kabupaten Trenggalek memiliki agenda besar, yaitu memperingati hari jadinya.

Kick Off LSN Jawa Timur 1 Dimulai 17 September (Sumber Gambar : Nu Online)
Kick Off LSN Jawa Timur 1 Dimulai 17 September (Sumber Gambar : Nu Online)

Kick Off LSN Jawa Timur 1 Dimulai 17 September

?

"Setelah kami kordinasi dengan panlok, PCNU dan pemkab Trenggalek, kami tetapkan 17 September resmi kick off dilaksanakan, karena sampai akhir Agustus Trenggalek memperingati hari jadi, untuk itu LSN dilaksanakan bulan september," kata Gus Toev saat ditemui usai rapat di Pesantren Bumi Hidayah At-Taqwa Trenggalek.

Fans Gus Dur

?

Seperti diketahui, kompetisi sepakbola santri yang diikuti oleh 32 tim pesantren dari Karesidenan Kediri dan Madiun itu akan dirangkaikan dengan Piala Bupati Trenggalek. Pihak Pemkab sendiri menyatakan kesiapannya untuk mensukseskan LSN 2017.

Menpora RI Imam Nahrawi dijadwalkan hadir di Trenggalek untuk membuka Kickoff. Untuk memeriahkan acara pembukaan, panitia akan mempersiapkan berbagai macam hiburan.?

Fans Gus Dur

"Kami akan maksimalkan pembukaan LSN 2017 ini dengan penampilan penampilan khas Trenggalek, misalnya dibuka dengan shalawat Jaljalut Indonesia, penampilan silat Pagar Nusa, barongan, jaranan, dan hiburan lainya, " kata Gus Loch, Ketua PCNU Trenggalek.

"Kami juga akan kerahkan masa dari seluruh banom NU, santri dan warga Tenggalek untuk menyaksikan Kickoff dengan memaksimakan publikasi di seluruh wilayah Trenggalek dan sekitarnya," imbuh Gus Nur, Ketua panitia ? Lokal. Dia memperkiraan pembukaan LSN akan disaksikan oleh 10.000 penonton. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Nahdlatul Ulama, Pemurnian Aqidah Fans Gus Dur

Kamis, 04 Januari 2018

Gubernur Jateng: Mari Cintai Indonesia dengan Shalawatan

Sragen, Fans Gus Dur. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo hadir pada Akhirussanah Khotaman ke-VIII, Haul Masyayikh sekaligus memperingati Harlah NU ke-94 di Pondok Pesantren Mamba’uth Thoyyibah Sempurejo Jambangan Mondokan Sragen, Kamis (11/5).

Pada kesempatan itu, Gubernur mengajak warga untuk ikut mencintai bangsa, dengan bershalawat. “Mari mencintai Indonesia dengan cara masing-masing, salah satunya dengan shalawatan,” kata Ganjar di depan ribuan jamaah.

Gubernur Jateng: Mari Cintai Indonesia dengan Shalawatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubernur Jateng: Mari Cintai Indonesia dengan Shalawatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubernur Jateng: Mari Cintai Indonesia dengan Shalawatan

Menurutnya, dengan bershalawat, dapat menebarkan pesan cinta, damai dan membuat masyarakat bahagia.

Fans Gus Dur

Sementara itu, Pengasuh Pesantren Al-Quar’aniyy Surakarta KH Abdul Karim Ahmad berpesan untuk senantiasa ikut menjaga generasi penerus, agar menjadi generasi yang saleh dan salihah. ”Jadikan anak-anak kita, anak yang salih dan salihah. Jangan jadikan mereka anak yang lemah,"

Fans Gus Dur

Dalam acara tersebut turut hadir pengasuh Majelis Ahbabul Musthofa Habib Syech bin Abdul Qadir As-Segaf dan Rais Syuriyah PCNU Sragen KH Ahmad Riyadh Mushoffa, yang juga pengasuh pondok Mamba’uth Thoyyibah. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Nahdlatul Ulama, Hikmah Fans Gus Dur

Senin, 18 Desember 2017

ITS Terima Seorang Mahasiswa Karena Hafal Quran

Surabaya, Fans Gus Dur. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menerima seorang calon mahasiswa baru lewat jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) yang mempertimbangkan hafalan Al-Quran.

Wakil Rektor I ITS, Prof Dr Ir Heru Setyawan M.Eng, di Surabaya, Jumat, mengakui seorang calon mahasiswa baru hafal Al-Quran masuk melalui SNMPTN dengan pertimbangan prestasi hafal Al-Quran itu berasal dari Jakarta dan diterima pada Jurusan Teknik Fisika. 

ITS Terima Seorang Mahasiswa Karena Hafal Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
ITS Terima Seorang Mahasiswa Karena Hafal Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

ITS Terima Seorang Mahasiswa Karena Hafal Quran

"Calon mahasiswa hafal Al-Quran yang sudah masuk dalam SNMPTN itu pun nanti akan kami verifikasi lagi pada tanggal 31 Mei mendatang. Jika tidak benar-benar hafiz seperti dalam portofolio, maka bisa digugurkan," katanya.

Namun, prestasi non-akademik pada hafalan Al-Quran itu hanya menjadi salah satu pertimbangan masuk ke ITS, karena nilai rapor dan Ujian Nasional (UN) yang sama bagusnya juga menjadi perhatian. 

Fans Gus Dur

"Kalau hanya melihat prestasi non-akademik, ditakutkan nantinya akan kesulitan mengikuti pembelajaran di perguruan tinggi. Tetap sesuai dengan kemampuan akademiknya," ujarnya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur

Fans Gus Dur Nahdlatul Ulama Fans Gus Dur

Senin, 04 Desember 2017

Pesan Pejuang : Jangan Lupakan Sejarah!

Solo, Fans Gus Dur. Aula Sekolah Dasar (SD) Ta’mirul Islam Tegalsari Surakarta, Rabu (9/11), disesaki ratusan siswa kelas V beserta guru. Dengan sabar mereka duduk tertib menonton sebuah film perjuangan, sembari menunggu kedatangan seorang tamu yang konon istimewa bagi mereka.

Istimewa, sebab di momentum menjelang peringatan Hari Pahlawan, mereka dapat bertatap muka sekaligus mendengarkan pengalaman langsung dari salah seorang saksi sejarah, yang pernah ikut dalam perjuangan kemerdekaan.

Akhirnya, yang ditunggu pun datang jua. Seorang pria lanjut usia yang mengenakan baju veteran, lengkap dengan peci krem yang berwarna sama dengan bajunya. Ia berjalan dengan menggunakan kursi roda.

Pesan Pejuang : Jangan Lupakan Sejarah! (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Pejuang : Jangan Lupakan Sejarah! (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Pejuang : Jangan Lupakan Sejarah!

Dengan penuh haru, ia mengisahkan sekilas perjalanan hidupnya, ketika menjadi seorang kopral di salah satu pasukan pejuang kemerdekaan. Antara lain ketika ia ikut bergerilya.

Pria yang memiliki nama Warudju Harumbojo tersebut, berpesan kepada para siswa agar tidak melupakan sejarah. “Jangan melupakan sejarah. Kepada generasi muda rajinlah belajar dan lakukan sesuatu dengan penuh keyakinan dan sungguh-sungguh,” tutur dia.

Fans Gus Dur

Pada kesempatan tersebut, salah satu siswa, Apta Manggala, mengungkapkan makna seorang pahlawan menurut dia. “pahlwan adalah orang yang berjuang dan rela berkorban demi orang lain, Nusa, Bangsa dan Negara,” kata Apta.

Selain pemutaran film dan sarasehan dengan pejuang, acara juga dimeriahkan dengan sejumlah pementasan bertema pahlawan seperti dai cilik, pantomim, puisi, vokal group, dan dongeng. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Nahdlatul Ulama, Bahtsul Masail Fans Gus Dur

Fans Gus Dur

Menjelajahi Sisi Lain Keteladanan Kiai As’ad

Judul Buku: Kharisma Kiai As’ad di Mata Umat

Editor: Syamsul A. Hasan

Penerbit: Pustaka Pesantren-LKIS, BP2M PP Salafiyah Syafiiyah

Menjelajahi Sisi Lain Keteladanan Kiai As’ad (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjelajahi Sisi Lain Keteladanan Kiai As’ad (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjelajahi Sisi Lain Keteladanan Kiai As’ad

Cetakan: Ketiga, 2008

Tebal: xxxi + 214 halaman

Peresensi: Mashudi Umar

Fans Gus Dur



Di deretan ulama-ulama besar di Indonesia, nama Kiai As’ad tentu bukanlah nama yang asing. Ia merupakan mediator berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) dan salah seorang inspirator penerimaan asas Pancasila di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, yang ia pimpin.

Sebagaimana kita ketahui, sebelum NU berdiri, pada 1924, Kiai Kholil Bangkalan mengutus Kiai As’ad muda sebagai santrinya pergi ke Tebuireng, Jombang, untuk menyampaikan lambang/tanda kepada KH Hasyim Asy’ari. Pertama, Kiai As’ad diutus untuk menyampaikan sebuah tasbih dan ucapan surat Thaha Ayat 17-23 yang menceritakan mukjizat Nabi Musa dan tongkatnya ke Kiai Hasyim. Setahun kemudian, Kiai Kholil mengirim Kiai As’ad kepada Kiai Hasyim Asy’ari dengan mengucapkan: Ya Jabbar, Ya Qahhar. Kedua peristiwa ini diyakini sebagai persetujuan Kiai Kholil atas berdirinya NU dan pemilihan KH Hasyim Asy’ari sebagai pemimpin spritual masyarakat pesantren.

Fans Gus Dur

Hingga akhirnya, dalam konteks ke-NU-an, Kiai As’ad merupakan satu-satunya orang yang ditunjuk oleh Muktamar ke-27 NU untuk menyusun ahl al-halli wa al-aqdi yang mempunyai otoritas penuh untuk selanjutnya membentuk struktur Pengurus Besar NU setelah NU kembali ke Khittah 1926, di mana Abdurrahman Wahid menjabat Ketua Umum PBNU pertama kalinya bersanding dengan KH Achmad Siddiq sebagai Rais Am PBNU. Ia juga bersama ulama sepuh, seperti KH Ali Maksum, KH Mahrus Ali, dan KH Achmad Siddiq—dikenal sebagai andalan untuk melerai kemelut yang melilit tubuh NU. Memang, Kiai As’ad tidak pernah menduduki posisi strategis dalam struktural NU, ia hanya menduduki Mustasyar PBNU waktu itu.

Masih segar dalam ingatan warga NU—waktu itu--, ketika mulai ramai perbincangan mengenai konflik MI-NU dalam tubuh Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan membaranya api membicarakan soal rencana pemerintah memberlakukan Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi sosial politik maupun kemasyarakatan, tiba-tiba di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah berkumpul ratusan ulama NU untuk mengadakan Musyawarah Nasional (Munas). Ini terjadi pada 18-21 Desember 1983.

Uniknya, di saat semua ormas Islam banyak menolak asas Pancasila, Munas tersebut justru menerimanya dan menganggapnya tidak bertentangan dengan akidah Islam. Munas juga memutuskan mengembalikan NU ke garis dan landasan perjuangan asalnya, yang kemudian populer dengan sebutan kembali ke Khittah 1926. Semua peran itu tidak lepas dari ide brilian Kiai As’ad dalam memulihkan keutuhan NU yang kala itu tercabik-cabik oleh banyak kepentingan.

Menurutnya, Pancasila tidak bertentangan sama sekali dengan Islam. Sila pertama adalah ajaran tauhid dan sila-sila berikutnya adalah implementasi dari ajaran Islam. Sementara, sejumlah tokoh Islam yang menolak mengutip argumen normatif atas penolakannya terhadap Pancasila, dengan tegas, Kiai As’ad mengatakan, bahwa secara substantif Pancasila tidak bertentangan dengan nilai-nilai Al Quran dan Al Sunnah. Walaupun tidak eksplisit kata Al Quran dan Al Sunnah tidak tercantum dalam sila-sila Pancasila, namun ajaran-ajaran fundamental Islam telah terpatri di sana.

Sedangkan rumusan Khittah NU 1926 hasil Munas di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah pada 1983, pertama, mengembalikan aktivitas NU dari bidang politik ke bidang asalnya, yakni bidang dakwah, pendidikan dan sosial. Terlalu lama NU berkecimpung di politik praktis (sejak 1955-1982), hingga garapan pokoknya terbengkalai.

Kedua, menyerahkan sepenuhnya kepada warga NU dalam menyalurkan aspirasi politiknya, apakah ke Partai Golkar, PPP maupun Partai Demokrasi Indonesia–waktu itu—yang memang dipandang baik dan tidak bertentangan dengan Islam.

Ketiga, membenahi organisasi, setelah terperangkat dalam kemelut intern sesuai Munas Alim Ulama di Kaliurang, Yogyakarta, pada 1981, yang melahirkan dua kubu yaitu Cipete dan Situbondo. Pembenahan bidang ini kemudian terbukti dengan terjadinya rekonsiliasi 10 September 1984 di kediaman KH Hasyim Latif, Sepanjang, Sidoarjo.

Faedah kembalinya NU ke Khittah 1926, di samping rumusan-rumusan di atas, juga mengangkat peran ulama dalam lembaga, seperti Mustasyar dan Syuriyah, sebagai lembaga tertinggi dalam kepemimpinan NU.

Buku ini sudah dalam cetakan edisi ketiga. Dengan kata lain, buku ini tetap menarik untuk dibaca, dijadikan referensi untuk membaca kembali perjuangan Kiai As’ad waktu penjajahan Kolonial Belanda. Buku ini tidak berbicara soal Kiai As’ad sebagai penyelenggara dan pertemuan alim ulama NU atau Munas di pesantrennya, juga tidak berbicara mengenai pembentukan awal berdirinya NU, di mana Kiai As’ad sebagai penyambung komunikasi antara Syaikhona Kiai Kholil Bangkalan dengan Syaikhona Kiai Hasyim Asy’ari.

Penyunting buku ini, Samsul A. Hasan, sebagai santri Pesantren Salafiyah Syafi’iyah yang juga sangat produktif menulis di beberapa media melakukan penelitian yang mengurai tentang keberanian Kiai As’ad mengumpulkan para bajingan sebagai sisi lain kehidupan nyata Kiai As’ad di samping gambaran di atas, juga mengungkap tentang kepiawaiannya dalam mendekati para tokoh bajingan tengik, yang kemudian dikumpulkan dalam wadah pelopor. Sehingga masyarakat ada yang memanggil Kiai As’ad—waktu itu—sebagai “singa” berjalan.

Peresensi adalah Redaktur Eksekutif Majalah Alfikr terbitan Institut Agama Islam Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Jawa TimurDari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Pondok Pesantren, Nahdlatul Ulama, AlaNu Fans Gus Dur

Minggu, 26 November 2017

NU Karangwareng Mengoptimalkan Fungsi Bendera

Cirebon, Fans Gus Dur. Awal tahun 2013 merupakan masa kebangkitan warga Nahdliyin di Kecamatan Karangwareng Kabupaten Cirebon. Semua kelembagaan Nahdlatul Ulama (NU) baik tingkat ranting maupun tingkat  majlis wakil cabang (MWC) sudah terpenuhi secara struktural dan kepengurusan yang aktif. 

NU Karangwareng Mengoptimalkan Fungsi Bendera (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Karangwareng Mengoptimalkan Fungsi Bendera (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Karangwareng Mengoptimalkan Fungsi Bendera

Dinamisasi pada badan otonomi seperti Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor, terlihat dari kegiatan yang padat dan guyub. Tak ketinggalan para pelajar NU kecamatan Karangwareng yang sudah tergabung dalam kelembagaan IPNU dan IPPNU. 

Demikian dikatakan Abdul Halim, ketua PAC. GP Ansor Kecamatan Karangwareng kabupaten Cirebon, tadi pagi (3/1).

Fans Gus Dur

“Kebangkitan warga Nahdliyin di kecamatan Karangwareng diawali dengan cerita-cerita para sepuh yang kerap menceritakan kisah-kisah historis warga NU dalam membela keutuhan bangsa di tahun 65-an, terutama gerakan Ansornya. Dari sana kami merasa ingin bangkit kembali, setelah beberapa dekade warga nahdliyin di sini tidak memiliki wadah dan struktur kelembagaan NU,” jelas Abdul Halim.

Salah satu aktifis Ansor Karangwareng, Ade Mukhtar menambahkan, berawal dari cerita-cerita para kiai tentang sejarah NU tersebut, sejak sekitar tahun 1996 para pemuda NU kerap menyertakan atribut-atribut NU dan banom-banomnya dalam setiap acara-acara keagamaan yang sedang berlangsung di sekitar kecamatan Karangwareng, padahal secara kelembagaan sebagai keterwakilan dari atribut tersebut belum ada. 

Fans Gus Dur

“Pada waktu itu, kami sengaja memasang bendera NU dan banom-banomnya dalam setiap kegiatan keagmaaan yang berlangsung di sekitar kami, padahal secara kelembagaannya belum ada. Hal ini dilakukan sebagai pengenalan secara lebih luas tentang ke-NUan di tengah-tengah masyarakat. Walhasil, semua itu alhamdulillah membawa dampak yang baik, kecintaan masyarakat Karangwareng terhadap NU semakin tinggi dan kuat,” paparnya.

Nahdliyin kecamatan Karangwareng berharap, dengan semakin semaraknya kegiatan-kegiatan NU di wilayahnya akan mampu terus menguatkan dan mengembangkan rasa kecintaan terhadap NU dari generasi ke generasi. Bermula dari kisah-kisah kiai, kemudian terpenuhinya kelembagaan dan banom-banom NU, kemudian memperkuat persatuan dan kesatuan masyarakat Nahdliyin kecamatan Karangwareng kabupaten Cirebon. 

Kontributor: Sobih Adnan

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Nahdlatul Ulama, Makam Fans Gus Dur

Jumat, 24 November 2017

Tak Perlu Resah Karena Beda Lebaran

Jakarta, Fans Gus Dur

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Hasyim Muzadi mengimbau kepada warga NU (nahdliyin) untuk tidak menjadi resah apabila terjadi perbedaan hari pelaksanaan lebaran. Semua organisasi Islam di dalam negeri sama-sama ingin menjalankan syariah Islam, namun hanya metodenya yang berbeda.



Tak Perlu Resah Karena Beda Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Perlu Resah Karena Beda Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Perlu Resah Karena Beda Lebaran

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam Malang itu mengingatkan, jangan sampai hanya karena metode yang berbeda padahal tujuannya sama, akhirnya menimbulkan perpecahan. Termasuk terhadap Jamaah An Nadzir di Sulsel yang pada hari kamis kemarin sudah melaksanakan salat Idul Fitri. "Itu adalah bentuk perbedaan dari banyaknya Ormas Islam di dalam negeri," katanya di Jakarta, Kamis (11/10).

"Mestinya memang sebagai penengah dan pengambil keputusan terakhir tetap pemerintah, sementara Ormas mengajukan tanggal. Karena di seluruh penjuru dunia seperti itu. Namun yang terpenting adalah bagaimana kita semua tetap bisa bersatu dan tidak menjadi perpecahan hanya karena perbedaan hari lebaran saja," imbaunya.

Fans Gus Dur

Sementara itu, juru bicara Dewan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Fatah Wibisono, menyatakan bahwa pihaknya tetap tidak akan mengubah keputusan.

Sesuai dengan fatwa Muhammadiyah yang telah dikeluarkan beberapa waktu lalu, lebaran tetap dilaksanakan pada JUmat (12/10). Meski demikian, pihaknya mengharapkan semua pihak untuk tetap bisa saling menghargai.

Fans Gus Dur

Paling tidak, pemberian ucapan selamat hari raya merupakan salah satu bentuk ungkapan untuk menghargai perbedaan. "Jika Pak Menteri Agama bersedia mengirimkan surat ucapan selamat lebaran, hal itu merupakan sebuah contoh yang bagus tentang toleransi dan menghargai perbedaan," katanya.(dpg/nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Nahdlatul Ulama Fans Gus Dur

Senin, 30 Oktober 2017

Ini Cara Melaporkan Akun-akun Radikal di Twitter

Jakarta, Fans Gus Dur

Narasi ekstrimisme begitu masif dan viral di media sosial, khususnya Twitter Konten ini sampai mampu menjadi image Islam yang seolah identik dengan kekerasan, perang, dan bom. Dasar ini adalah salah satu alasan bagi The Wahid Institute untuk menggandeng Twitter Indonesia untuk menggelar Workshop Tweet For Peace bersama puluhan aktivis media.

Ini Cara Melaporkan Akun-akun Radikal di Twitter (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara Melaporkan Akun-akun Radikal di Twitter (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara Melaporkan Akun-akun Radikal di Twitter

Menurut salah satu narasumber dari pihak Twitter Indonesia Roy Simangunsong, twitter memang dibangun berdasarkan konsep freedom of expressions atau kebebasan berekspresi para penggunanya.

“Tetapi kebebasan berekspresi tetap harus menjunjung tanggung jawab dan etika. Sebab itu, Twitter sangat mendukung dalam memerangi radikalisme,” tegas Roy.

Roy mengajak kepada para pengguna twitter untuk melaporkan akun-akun radikal yang berpotensi ke tindakan terorisme dengan melaporkan ke platform yang disediakan oleh Twitter yaitu dengan mengakses: support.twitter.com/forms.

Untuk mendukung gerakan radikal di media sosial, lanjut Roy, twitter juga menyediakan berbagai tools (alat) yang dapat dimanfaatkan oleh para pengguna. Hingga saat ini menurut Roy, tagar atau hashtag merupakan tools yang sangat efektif untuk mempopulerkan konten atau pesan damai. Selain itu, banyak tools-tools lain yang bisa dimanfaatkan.

Fans Gus Dur

“Namun demikian, partisipasi aktif dalam menyampaikan konten dan informasi yang baik sangat penting. Karena Twitter juga sangat menekankan konten yang beretika di Twitter,” tutur Roy.

Kegiatan workshop ini dihadiri oleh puluhan aktivis media dan komunitas yang aktif dalam menangkal serta memerangi radikalisme dan terorisme di dunia maya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur

Fans Gus Dur Halaqoh, Nahdlatul Ulama Fans Gus Dur

Rabu, 20 September 2017

Tata Kelola SDA dan Muktamar NU di Cipasung 20 Tahun Lalu...

Oleh Muhammad Nurul Huda

Menjelang peringatan kemerdekaan RI 17 Agustus 2014, PBNU menginstruksikan para pengurus NU di daerah untuk aktif mengawasi praktik-praktik pengerukan sumber daya alam (SDA) di lingkungan masing-masing. Instruksi ini diserukan oleh pengurus teras PBNU antara lain Kiai Masdar F Mas’udi, Gus Yahya Cholil Staquf, H Abbas Muin, dan H Imam Aziz, Jumat (15/8).

PBNU mencermati banyak operasi tambang di daerah-daerah telah merusak ekosistem lingkungan warga sekitar. Selain itu, tak ternilai juga dampak kerugian sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat yang diakibatkan eksploitasi SDA secara membabi buta. Misalnya, makin langkanya sumber-sumber air, pencemaran udara dan air tanah, lubang-lubang bekas area tambang yang menganga, prostitusi, perselingkuhan, perceraian, kendurnya norma masyarakat dan nilai-nilai keluarga, serta dampak sosial dan lingkungan lainnya.?

Tata Kelola SDA dan Muktamar NU di Cipasung 20 Tahun Lalu... (Sumber Gambar : Nu Online)
Tata Kelola SDA dan Muktamar NU di Cipasung 20 Tahun Lalu... (Sumber Gambar : Nu Online)

Tata Kelola SDA dan Muktamar NU di Cipasung 20 Tahun Lalu...

Dalam seruan itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menyertakan penolakan terhadap pembangunan pabrik semen di kawasan Gunung Kendeng kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Dukungan lainnya juga disuarakan untuk Gerakan Samarinda Menggugat yang tengah menempuh jalur hukum terhadap perusahaan-perusahaan perusak lingkungan di wilayah Kalimantan Timur.

Fans Gus Dur

Instruksi PBNU ini mengingatkan kita kembali kepada hasil-hasil Muktamar NU di Cipasung, 20 tahun lalu. Dalam Muktamar NU ke-29 tanggal 1-5 Desember 1994 di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat ini, para ulama dan kiai NU menegaskan SDA dan lingkungan hidup bukan semata soal politik atau ekonomis. Ia juga menjadi masalah teologis (diniyah).

“Mengingat dampak kerusakan lingkungan hidup juga memberikan ancaman terhadap kepentingan ritual agama dan kehidupan umat manusia”. Begitu bunyi hasil Masail Diniyah tentang Pandangan dan Tanggung Jawab NU terhadap Lingkungan Hidup, yang seolah mengantisipasi gerak zaman, pembangunan, dan serbuan industri tambang masa kini.

Fans Gus Dur

Oleh karena itu, dalam pandangan NU, pelestarian lingkungan hidup adalah salah satu tuntutan agama yang wajib dipenuhi oleh manusia, baik secara individual maupun kolektif. Pembangunan industri harus merealisasikan tujuan syariat, yakni berpihak pada maslahah ‘ammah (kepentingan umum). Sebaliknya, tindakan yang bertolak belakang dengan maslahah ‘ammah, dengan kata lain mengakibatkan rusaknya lingkungan hidup, dikategorikan sebagai perbuatan munkar atau maksiat yang diancam dengan hukuman. Demikian hasil Masail Maudlu’iyyah waktu itu.

Adapun maslahah ‘ammah, dalam muktamar yang sama, juga telah dirumuskan. Ia mesti benar-benar membawa manfaat bagi kepentingan umum, bukan membawa manfaat kelompok elit, perorangan, atau pihak-pihak tertentu. Ia mesti meniadakan mudharat bagi masyarakat umum khususnya lapisan dhua’fa dan mustadh’afin, dan bukan hanya mudharatnya elit atau pihak-pihak tertentu.

Namun untuk mencapai maslahah ‘ammah ini, diperlukan suatu penelitian yang dalam, kajian cermat, dan musyawarah rakyat. Dan bila diperlukan perwakilan dalam musyawarah, maka mestilah wakil-wakil itu datang dari rakyat, ditunjuk oleh rakyat dan bekerja atau bersuara untuk kepentingan rakyat.

Pesan yang paling mudah diambil dari Muktamar Cipasung dan Seruan PBNU kurang lebih demikian: para kiai, guru dan warga nahdliyin mesti terlibat dalam desain tata kelola tambang sesuai kebutuhan dan lingkungan masyarakat setempat. Mereka tidak cukup menerima laporan-jadi suatu rencana operasi tambang dan mendengarkan kegiatan sosialisasinya semata. Mereka berhak diikutsertakan dalam penyusunan analisis dampak sosial dan lingkungan (Amdal) mulai A sampai Z, sekaligus diberikan hak kebebasan untuk memeriksa dokumen hasilnya.

Ada persambungan nalar dan keberlanjutan nilai dalam rentang 20 tahun antara Seruan PBNU 2014 dan keputusan Muktamar NU di Cipasung 1994. Masa kini dan masa depan adalah anak kandung dewasa dari buah pikiran dan karya sosial pada masa silam. Wallahu a’lam.

Muhammad Nurul Huda, Pegiat Kajian Sosial dan Budaya

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Nahdlatul Ulama, Pesantren Fans Gus Dur

Selasa, 15 Agustus 2017

UNU Surakarta Selenggarakan Lokakarya Kompetensi Guru

Solo, Fans Gus Dur. Untuk meningkatkan kemampuan guru-guru PAI (Pendidikan Agama Islam) dalam menciptakan anak didik yang berkarakter, Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta menyelenggarakan Lokakarya PKG (Pelatihan Kompetensi Guru) Guru PAI SD se-Solo Raya.

Kegiatan yang telah berakhir Jumat (28/12) yang lalu tersebut juga dimaksudkan agar guru juga dapat menjalankan fungsinya sebagai pengajar dan pendidik dengan baik.

UNU Surakarta Selenggarakan Lokakarya Kompetensi Guru (Sumber Gambar : Nu Online)
UNU Surakarta Selenggarakan Lokakarya Kompetensi Guru (Sumber Gambar : Nu Online)

UNU Surakarta Selenggarakan Lokakarya Kompetensi Guru

Pembelajaran yang menyenangkan dapat menjadikan siswa berani bertanya, berani mencoba, berani berbuat, berani mengemukakan pendapat, dan berani mempertanyakan gagasan orang lain. Guru yang baik tidak membuat siswa takut salah dan dihukum, takut ditertawakan teman-teman, takut dianggap sepele oleh guru.

Fans Gus Dur

Melalui situsnya, pihak dari UNU menerangkan bahwa acara tersebut merupakan kerjasama Fakultas Agama Islam UNU Surakarta dengan Direktorat Pendidikan Agama Islam Pada Sekolah Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI. Kegiatan lokakarya dilaksanakan dua gelombang. Yang pertama telah dilaksanakan pada tanggal 3-5 Desember 2012 di Hotel Riyadi Palace Surakarta Jawa Tengah.

Fans Gus Dur

Acara serupa kembali diadakan pada tanggal 26-28 Desember 2012. Diikuti sebanyak 80 peserta, pihak penyelenggara mendatangkan narasumber yang berkompeten diantaranya Direktur Pendidikan Agama Islam, ? Dr. H.M. Amin Haedari, M.Pd dan Rektor UNU Surakarta, Dr. H.A. Mufrod Teguh Mulyo, M.H.

Pihak penyelenggara, diwakili Ketua Pelaksana Lokakarya dan Pelatihan PKG, Drs. Muhammad Yasin, M.Pd.I menyampaikan, pelatihan PKG ini bertujuan untuk penguatan pendidikan karakter melalui Pendidikan Agama Islam.

Meskipun acara telah berakhir, rencananya kegiatan tersebut akan terus berlanjut dengan dilaksanakan pendampingan bersama fasilitator dalam membuat bahan ajar dan akan dipilih 6 orang peserta untuk menjadi pemenang, yang masing-masing akan berhak mendapatkan hadiah dari panitia.

Redaktur ? ? ? : A. Khoirul Anam

Kontriobutor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Ahlussunnah, Nahdlatul, Nahdlatul Ulama Fans Gus Dur

Sabtu, 12 Agustus 2017

Gus Ishom Mengenalkan Kembali Karya-karya KH HAsyim Asyari

Muhammad Ishomuddin Hadzik atau yang biasa di panggil Gus Ishom merupakan cucu Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dari pasangan Chodidjah Hasyim–Muhammad Hadzik Mahbub. Lahir di Kediri, 18 Juli 1965 M dan selanjutnya sejak kecil akrab dipanggil Gus Ishom.

Sejak kecil, Ishom telah diperkenalkan kepada kehidupan pesantren yang sarat dengan pendidikan agama. Pada usia yang tergolong anak-anak, Ishom telah menunjukkan ketertarikan kepada ilmu-ilmu agama. Pada usia 7 tahun, setiap bulan Ramadhan, Ishom kecil selalu melakukan tarawih dimasjid Pondok Pesantren Tebuireng dan selalu berada dibelakang imam.



Gus Ishom Mengenalkan Kembali Karya-karya KH HAsyim Asyari (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Ishom Mengenalkan Kembali Karya-karya KH HAsyim Asyari (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Ishom Mengenalkan Kembali Karya-karya KH HAsyim Asyari

Di luar bulan Ramadhan, Ishom kecil juga shalat maghrib berjamaah dimasjid Pondok Pesantren Tebuireng dan selalu berada dibelakang imam. Pada saat itu, shalat jamaah sering dipimpin oleh KH. Muhammad Idris Kamali, menantu Hadratus SSyeikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Setiap selesai berdoa’ tak lupa kyai Idris demikian panggilan sehari-hari, selalu meniup kening Ishom kecil sambil diiringi dengan doa barakah.

Pada waktu bersekolah di SDN Cukir I, sosok Ishom kecil telah menonjol di antara teman-temannya. Dari segi pelajaran, nilai yang didapat selalu diatas teman-temannya. Pada saat memasuki bangku sekolah lanjutan, Ishom yang telah beranjak remaja, memilih pagi hari untuk bersekolah di Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng dan siang harinya di SMP A. Wahid Hasyim.

Fans Gus Dur

Fans Gus Dur

Setelah lulus Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng, Ishom memutuskan untuk menuntut ilmu agama di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Di bawah bimbingan langsung KH. Mahrus Aly, Gus Ishom yang telah beranjak remaja semakin mendapat bekal ilmu agama dan kitab kuning semaikin banyak.

Ketertarikannya kepada kitab kuning ditambah riyadhah yang kuat, membuatnya semakin lancar dalam menuntut ilmu. Otak yang cerdas, pikiran yang cemerlang menjadikannya mudah dalam memahami tentang suatu hal. Gus Ishom menghabiskan waktu 11 tahun menimba ilmu di pondok pesantrten Lirboyo Kediri, termasuk ketika menjadi santri kilat Ramadhan diberbagai pesantren lainnya.

Tahun 1991, Gus Ishom pulang kembali ke Tebuireng untuk mengamalkan apa yang telah dipelajari selama nyantri di Pondok Pesantren Liboyo Kediri serta pesantren lainnya. Sikap rendah hati, alim, tidak neko-neko membuat Gus Ishom banyak mendapat simpati masyarakat sekitar walaupun baru pulang dari pondok pesantren.

Kealimannya dalam hal kitab kuning, membuat Gus Ishom bersentuhan langsung dengan karya sang kakek Hadratus Syeikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Beberapa kitab karya Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari diterbitkan dan dibacanya pada bulan Ramadhan di Masjid Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang diikuti oleh ribuan peserta sehingga kitab-kitab karya Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dikenal oleh masyarakat luas.

Selain telah menerbitkan sebagian kitab karya kakeknya, Gus Ishom juga menulis beberapa kitab yaitu : 1. Audhohul Bayan Fi Ma Yata’allq Bi Wadhoifir Ramadhan. 2. Miftahul Falah Fi Ahaditsin Nikah. 3. Irsyadul Mukminin.

Tidak hanya dalam urusan ilmu agama, gus Ishom cukup memahami tentang masalah sosial, budaya serta politik. Cukup sering tulisannya menghiasi berbagai halaman media massa semisal harian Surya, Jawa Pos, Republika dan lain-lain. Pengalaman menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Jombang, merupakan bukti ketajamannya di dunia kiprah politiknya.

Selain menulis kitab dan beberapa artikel di media massa, Gus Ishom juga merupakan seorang muballigh yang handal. Lisan yang fasih, bahasa yang lugas serta ilmu yang tinggi, membuat setiap ceramah yang disampaikan olehnya selalu menarik untuk disimak. Tidak banyak orang bisa menulis kitab, artikel, cerpen dan berpidato. Gus Ishom merupakan sosok serba bisa yang diharapkan menjadi kader NU yang mumpuni.

Pada akhir tahun 2002, ketika bulan ramadhan gus Ishom mengalami sakit pada bagian betis yang diduga oleh dokter sebagai gejala asam urat akut. Berbagai pengobatan dilakukan, akan tetapi tidak membawa hasil. Akhirnya ketika sakit yang semakin parah, gus Ishom dirujuk ke Surabaya dan disanalah diketahui bahwa gus Ishom menderita kanker yang tergolong langka dan telah mencapai stadium III. Pengobatan melalui kemoterapi dan berbagai upaya alternatif telah dilakukan. Akan tetapi Sang Maha Kuasa, Allah Robbul ‘Alamiin memiliki kehendak lain.

Seperti terkena hallintar, pandangan mata ini berkaca-kaca, seakan tak percaya, tatkla mendengar? wafatnya KH Ishomuddin Hadizq (Gus Ishom). Hari sabtu, 26 Juli 2003, tepat pukul 06.30 WIB, beliau dipanggil ke pangkuan Sang Ilahi. Sosok kiai muda yang begitu anggun mempesona. Seorang “darah biru” keturunan Kiai Moh Hasyim Asy’ari (pendiri dan Ra’is Akbar NU) dari putrinya Hj Khodijah.

Gus Ishom yang lahir pada 18 Juli 1965 (genap berusia 37) adalah salah satu dari cucu KH Hasyim yang mewarisi kewibawaaan, keilmuan, kedewasaan, kematangan, kesabaran, keanggunan, dan keajaiban Sang Kakek. Gaya bicaranya yang “khas”, penuh humor, perilaku yang tawadlu’, ikhlas, penuh senyum (mencerminkan kedalaman spritual dan kekuatan pribadinya), selalu dinantikan para santri, lebih-lebih saat Ramadlan tiba. Seluruh halaman Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dijubeli oleh ribuan santri, baik yang berada di Pondok Pesantren Tebuireng sendiri ataupun pondok sekitarnya, Seblak, Pacul Gowang, Khuffadz, Mu’allimat-Darul Falah Cukir, dan lain-lain. Semuanya ingin mendengarkan wejangan-wejangan Gus Ishom,menyimak, merenungkan, menghayati dan mengamalkannya. (Disarikan dari berbagai sumber)Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Nahdlatul Ulama, Cerita, Humor Islam Fans Gus Dur

Senin, 24 Juli 2017

Lewat Kartanu, PCINU Korsel Lakukan Pendataan Anggota

Kudus, Fans Gus Dur. Pengurus Cabang istemewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Korea Selatan mulai melakukan pendataan anggota NU di negara tersebut. Bagi setiap warga yang mendaftar, PCINU Korsel akan mengeluarkan kartu tanda anggota NU (Kartanu).

Lewat Kartanu, PCINU Korsel Lakukan Pendataan Anggota (Sumber Gambar : Nu Online)
Lewat Kartanu, PCINU Korsel Lakukan Pendataan Anggota (Sumber Gambar : Nu Online)

Lewat Kartanu, PCINU Korsel Lakukan Pendataan Anggota

Sekretaris Jendral PCINU Korsel Ali Fahmi mengatakan, program pendataan ini bertujuan untuk mengenali serta mengetahui potensi selain problematika keberadaan anggota yang mencintai NU baik amaliah maupun perjuangannya.?

“Kami juga berencana menyentuh, bersilaturahmi kepada semua warga NU Korsel yang kemudian kita keluarkan Kartanu untuk mereka,” katanya melalui rilis di akun facebook Grup Aswaja NU Korea, Ahad (9/2).

Fans Gus Dur

Program pendataan anggota NU ini ditargetkan mencapai 500 orang. Bila mencapai target, PCINU akan menggandeng partner yang besar untuk pendanaan dawah serta pemberian kemudahan jemaah.

Fans Gus Dur

“Ke depan, kami merencanakan meluncurkan Kartanu yg terintegrasi dengan T-Money atau Debit Card suatu Bank,” terang Ali Fahmi.

Program kartanu sudah diluncurkan PCINU Korsel dalam Silaturahmi Akbar 2014 di Anseong yang menghadirkan KH ? Salahuddin Wahid (Gus Sholah) dan Emha Ainun Najib di Milad Al-Hidayah, Gimhae.

Bagi yang ingin mendaftar bisa mengisi formulir melalui google Docs bisa dikirim ke email ali fahmi@gmail.com atau fanpage facebook PCINU Korea selatan, terang Ali Fahmi.

Dalam rilis itu, PCINU Korsel mengajak warga muslim bersama-sama mendukung dakwah Islam dengan menjaga toleransi, kejujuran, dan bersahabat. Prinsip dakwah Islam untuk semua golongan maupun individu sebagai rahmatan lil alamin.

“Dawah ala kita Islam-nya Indonesia dari NU yang mewarisi warisan dawah ulama-ulama arif bijaksana salafus shalih,”pungkasnya. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Nahdlatul Ulama, Cerita, Sholawat Fans Gus Dur

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Fans Gus Dur sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Fans Gus Dur. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Fans Gus Dur dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock