Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

Ketika Kapolri Melihat Syekh Nawawi Al-Bantani

Jakarta, Fans Gus Dur?



Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Tito Karnavian menyempatkan diri melihat lukisan wajah-wajah kiai Nusantara buah karya Nabila Dewi Gayatri di hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta pada Senin (8/5). Ia ditemani Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan pelukisnya.?

Ketika Kapolri Melihat Syekh Nawawi Al-Bantani (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Kapolri Melihat Syekh Nawawi Al-Bantani (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Kapolri Melihat Syekh Nawawi Al-Bantani

Pada kesempatan itu, Kiai Said, secara otomatis memperkenalkan nama-nama kiai yang dilukis serta kiprah hidupnya kepada Kapolri. Mulai dari KH Abdurrahman Wahid, KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Sansoeri, KH Ali Maksum, KH Ahmad Shiddiq, KH Ilyas Ruhiat, KH Ihsan Jampes, KH Asnawi Kudus, dan lain-lain.?

Ketika melihat salah satu lukisan, dan Kiai Said menyebut Syekh Nawawi Banten, Kapolri berhenti. “Oh ini gurunya KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari,” katanya.?

“Iya, kata Kiai Said, “Beliau mengajar di Masjidil Haram, di Mekkah. Karyanya banyak.”?

“Tapi asalnya dari Banten, tempatnya pesantren Kiai Ma’ruf (Rais ‘Aam PBNU, red.)” kata Kapolri.?

Fans Gus Dur

“Ya, ya, Tanara,” jawab Kiai Said.

Fans Gus Dur

“Saya sudah pernah ke sana,” lanjut Kapolri.?

Syekh Nawawi Al-Bantani merupakan guru bagi kiai-kiai di Nusantara yang menuntut ilmu di Makkah. Ia menulis ratusan karya yang hingga saat ini masih dikaji di berbagai pesantren. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Berita, PonPes Fans Gus Dur

Sabtu, 10 Februari 2018

Lakpesdam Cimahi Adakan Pelatihan Literasi Media

Cimahi, Fans Gus Dur. Menjadi penggagas dalam menciptakan kota inklusi bukanlah hal yang mudah. Inklusi dalam pengertian mengembangkan lingkungan yang terbuka, mengikutsertakan semua orang, saling merangkul dan menghargai dengan beragam perbedaan dan multi karakter etnik, agama, ras, budaya hingga disabilitas.

Nah, butuh kerja keras dan aksi? nyata dalam mengampanyekan pentingnya inklusi sosial kepada seluruh pihak termasuk masyarakat, pemerintah, dan organisasi sosial kemasyarakatan.

Lakpesdam Cimahi Adakan Pelatihan Literasi Media (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam Cimahi Adakan Pelatihan Literasi Media (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam Cimahi Adakan Pelatihan Literasi Media

Tidak ada alasan untuk menyerah dan berhenti bergerak. Inilah yang terus diupayakan Lakpesdam NU Cimahi melalui Program Peduli dalam membangun inklusi sosial. Ada banyak agenda dengan berbagai kegiatan, semisal seminar, pelatihan dan kampanye serta aksi turun yang terus digalakkan Lakpesdam NU cimahi dalam mencapai tujuan di atas.

Fans Gus Dur

Minggu lalu, tepatnya 23-24 Juli 2016, Lakpesdam NU Cimahi mengadakan Pelatihan Literasi Media ke-2. Pelatihan tersebut bertajuk Pengembangan Jurnalisme Warga untuk Perdamaian dan Inklusi Sosial. Hadirnya acara ini bertujuan untuk menguatkan pengetahuan dan keterampilan para aktivis perdamaian untuk bisa memproduksi informasi dan konten tentang inklusi sosial dalam berbagai bentuk.

Dengan bertempat di gedung BPPKS Dinas Sosial Cimahi, acara pelatihan literasi media 2 berjalan lancar dengan diikuti oleh peserta yang berasal dari latar belakang agama dan institusi yang berbeda. Tercatat Perwakilan dari IPNU, IPPNU, OMK, Masyarakat Adat Cireunde dan organisasi lainnya turut meramaikan acara tersebut.

Fans Gus Dur

Hari pertama, acara pelatihan diisi dengan kegiatan berlatih menulis khususnya menulis tulisan-tulisan yang berisi kampanye perdamaian. Sesi ini difasilitasi oleh seorang dosen dan praktisi perdamaian UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Bambang Q. Anees.

Tidak hanya pelatihan menulis, pada hari kedua, peserta juga diajak untuk berkenalan dan mencoba membuat suatu bentuk media kampanye yaitu video dan design grafis. Dengan difasilitasi oleh Imam Ma’ruf, salah satu pakar media lakpesdam PBNU, peserta mendapatkan ilmu yang luar biasa berharga tentang pembuatan video yang unik dan mudah dibuat.

Dari hasil testimoni para peserta, kebanyakan mengaku sangat antusias mengikuti acara tersebut. Menurut mereka, pelatihan tersebut telah memberi kesadaran bahwa kemampuan menulis ternyata tidak mustahil untuk dilakukan selama menjadikannya kebiasaan. Mereka mengaku akan terus mengembangkan bakat mereka dalam menulis, terkhusus dalam membuat tulisan-tulisan yang bertemakan perdamaian.

Acara tersebut juga memberikan mereka ruang untuk terlibat aktif dalam perbaikan masyarakat dengan salah satunya menjalankan program yang disebut “Design For Change”. Mereka mengatakan bahwa projek tersebut sangat menginspirasi dan harus segera dilaksanakan.

Kesuksesan Lakpesdam NU cimahi dalam menyelenggarakan pelatihan-pelatihan, diskusi, kunjungan dan menginisiasi adanya gerakan pemuda untuk inklusi cimahi (GRADASI) merupakan satu bukti yang nyata bahwa inklusi sosial bukan hanya buaian yang ingin dicapai oleh tim program yang pimpin Diana Handayani.

Pencapaian yang telah dilakukan adalah bukti telah hadirnya gerakan-gerakan inklusi untuk membuat Cimahi yang damai dan bertoleransi. Selamat dan sukses selalu untuk Lakpesdam NU Cimahi! (Yeni Latifah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Pendidikan, Khutbah, Berita Fans Gus Dur

Selasa, 06 Februari 2018

PCNU Jombang Awali Program Pendampingan MWCNU-Ranting NU

Jombang, Fans Gus Dur. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Jombang memulai program pendampingan MWCNU-Ranting NU di bulan Ramadhan. Program pendampingan yang bersifat penguatan ini merupakan amanah Muskercab NU Jombang akhir 2013 lalu secara teknis digarap Lakpesdam NU Jombang.

PCNU Jombang Awali Program Pendampingan MWCNU-Ranting NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Jombang Awali Program Pendampingan MWCNU-Ranting NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Jombang Awali Program Pendampingan MWCNU-Ranting NU

PCNU Jombang membentuk tim khusus pendampingan. Mereka bergerak menyosialisasikan program pendampingan ini berbarengan dengan Safari Ramadhan selama tiga hari yang dibagi ke dalam tiga wilayah.

Mereka mengadakan pendampingan setiap harinya ke tujuh kecamatan. Pada Kamis (17/7) mereka mengunjungi 7 MWCNU. Demikian Jumat (18/7) dan Sabtu (19/7).

Fans Gus Dur

Dalam pertemuan Koordinasi Tim Pendamping pada Senin (14/7), Ketua PCNU Jombang KH Isrofil Amar menegaskan, semua anggota tim pendamping harus bersiap. “Jika ada anggota tim yang belum siap, harus segera kita carikan gantinya saat ini juga. Jangan sampai, MWC sudah serius mendukung program ini menjadi kecewa karena tim pendampingnya tidak datang,” kata Kiai Isrofil.

Wakil Rais Syuriyah PCNU Jombang KH Junaidi Hidayat menyampaikan, program ini diagendakan sebagai upaya optimalisasi kepengurusan MWC dan Ranting NU dan koordinasi berjalan baik mulai dari cabang hingga ranting.

Fans Gus Dur

“Kalau kepengurusan ranting NU tidak berjalan dengan baik, rancangan program NU seperti pendidikan, kesehatan, perekonomian yang sudah dirumuskan mengalami hambatan,” ujar Kiai Junaidi. (Musabdilla/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Kyai, Berita, Hadits Fans Gus Dur

Minggu, 14 Januari 2018

Ini Cerita Romo Franz Magnis Suseno Soal Humor Gus Dur

Jombang, Fans Gus Dur. Romo Franz Magnis-Suseno dikenal sangat dekat dengan KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur). Karena kedekatannya, banyak cerita humor yang bisa dikisahkan untuk mengenang kebersamaan bersama tokoh pluralisme ini.?

Salah satu humor yang masih melekat bagi tokoh agama ini adalah soal tiga orang yang sedang antri di depan pintu surga. Ketiga orang itu, satu orang pendeta, satu orang kiai dan satu orang yang berpakaian compang-camping.?

Ini Cerita Romo Franz Magnis Suseno Soal Humor Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cerita Romo Franz Magnis Suseno Soal Humor Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cerita Romo Franz Magnis Suseno Soal Humor Gus Dur

Saat pendeta dan kiai sedang khusyu dan tawaduk menunggu antrian masuk sorga, tiba-tiba datang lelaki berpakaian compang-camping dan langsung menyibak antrian dan ternyata dipersilahkan oleh malaikat untuk memasuki pintu sorga. Melihat itu, sang kiai dan pendeta bertanya heran kepada malaikat,?

"Siapa dia? Kenapa orang seperti itu bisa seenaknya masuk sorga dan mendahului kami?" kisah Romo Magnis dalam Bahasa Inggris dihadapan rombongan pastor lintas Negara yang berkunjung ke Pesantren Tebuireng, Rabu (9/8).

Mendapat pertanyaan itu, malaikat menjawab, "Dia itu sopir bis jurusan Jakarta. Dia berhak masuk sorga lebih dulu, “ jawabnya enteng.

Jawaban malaikat ini tentu semakin membuat heran pendeta dan kyai yang sudah lama antri didepan pintu surga. mungkin karena mereka merasa lebih berhak masuk lebih dulu.

Fans Gus Dur

” Amalan apa yang bisa membuat dia berhak lebih dulu dari kami,” ujar mereka kembali bertanya.

Malaikat kemudian menjawab enteng.

“Karena dia saat duduk di belakang kemudi, semua penumpang terjaga dan berdoa dengan khusyu (karena sopir ngebut). Sementara kalian, saat kalian berkhotbah di mimbar, umat kalian justru mengantuk dan tertidur lelap," tutur Romo Magniz yang langsung disambut tawa para pastor. (Muslim Abdurrahman).

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur

Fans Gus Dur Humor Islam, AlaSantri, Berita Fans Gus Dur

Sabtu, 13 Januari 2018

Dangkalnya Pemahaman Agama Picu Aksi Terorisme

Bandar Lampung, Fans Gus Dur. Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin mengutuk peledakan bom di Gereja Oikumene, Kota Samarinda. Menurutnya, setiap pelaku bom (teroris, red) tidak paham bahwa Islam bukanlah agama yang mengajarkan kekerasan apalagi membunuh.

"Islam adalah agama cinta, agama yang menebarkan keselamatan dan menebarkan rahmat. Sehingga tindakan teroris atas nama agama sama sekali tidak bisa dibenarkan dan tidak ada dalilnya dalam ajaran Islam," ujar Gus Ishom melalui akun Facebook-nya, Senin (14/11).

Dangkalnya Pemahaman Agama Picu Aksi Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Dangkalnya Pemahaman Agama Picu Aksi Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Dangkalnya Pemahaman Agama Picu Aksi Terorisme

Kiai muda ini menegaskan, di Indonesia yang merupakan negara hukum, warganya wajib tunduk pada hukum, tidak boleh sewenang-wenang memastikan orang lain pasti bersalah dengan hukuman menurut vonis atas pendapatnya sendiri.

"Melainkan jika bersengketa, masing-masing pihak harus tunduk kepada keputusan dari pihak yang berwenang menanganinya. Setiap persengketaan itu bisa dicarikan solusinya melalui jalur hukum, meskipun itu bukan satu-satunya jalan penyelesaian," tulisnya.

Fans Gus Dur

Ia menambahkan, harus diakui bahwa maraknya diskriminasi dan kekerasan atas nama agama seringkali disebabkan oleh rendahnya mutu kualitas sumber daya manusia pelakunya. Pemahaman agama yang demikian dangkal dan semangat beragama yang menggebu-gebu seringkali menjadi pemicunya.

Kedangkalan pemahaman terhadap substansi ajaran Islam dengan ciri tekstualis-literalis telah menjebak mereka ke dalam ruangan ideologis yang lebih pengap, tertutup dan amat subjektif.

"Maka wajarlah jika mereka selalu merasa benar sendiri, tidak menghormati perbedaan dan sering memaksakan kehendaknya, sehingga kegaduhan sosial tak terhindarkan," tegasnya.

Fans Gus Dur

Menghadapi fenomena ini menurutnya, setiap umat Islam hendaknya kembali belajar agama secara langsung ? kepada para ahlinya yang lebih mengedepankan akhlak mulia, lebih menyejukkan umat dan mereka yang terus menerus memperjuangkan terwujudnya kemaslahatan hidup bersama sebagai suatu bangsa.

"Bukan belajar agama dari sumber-sumber yang tidak jelas mata rantai (sanad) pengambilan ilmu agamanya seperti belajar Islam lewat internet," pungkasnya. (Muahmmad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Berita, Cerita Fans Gus Dur

Jumat, 05 Januari 2018

Meriahkan Bulan Muharram dengan Peduli Anak Yatim

Tegal, Fans Gus Dur. Keluarga Besar Pimpinan Ranting Nahdlatul Ulama (PR NU), Desa Setu, Kecamatan Tarub, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, bersama badan otonom seperti Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU, dan IPPNU menggelar santunan anak yatim.

Kegiatan tersebut menjadi rangkaian dari peringatan menyambut datangnya bulan Muharram 1439 Hijriah yang dirangkai dengan pengajian akbar.

Meriahkan Bulan Muharram dengan Peduli Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Meriahkan Bulan Muharram dengan Peduli Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Meriahkan Bulan Muharram dengan Peduli Anak Yatim

Ketua Panitia Ustad Taufik mengatakan, santunan diberikan kepada 150 anak yatim sebagai wujud kepedulian kepada sesama terutama mereka yang membutuhkan. 

"Selain memberikan santunan kepada anak yatim, panitia juga menggelar pengajian akbar yang dihadiri masyarakat setempat dengan menghadirkan pembicara KH Abdul Mutholib dari Tegal," papar Taufik.

Fans Gus Dur

Dia berharap, warga yang hadir dalam kegiatan tersebut bisa mendengarkan taushiyah untuk mempertebal keimanan dan ketakwaan. “Alhamdulillah acara berlangsung dengan lancar dan berkesan bagi masyarakat,” terangnya.

Salah satu warga setempat Mulyono (56) mengungkapkan, peringatan tahun baru Islam atau biasa dikenal dengan Muharoman di desanya lebih mengutamakan kegiatan yang melibatkan masyarakat secara aktif.

Fans Gus Dur

Salah satunya adalah dengan memberikan santunan kepada anak yatim di wilayah sekitar dan pengajian akbar yang dihadiri warga dari dalam dan luar kota.

Apa yang telah dicapai selama ini, kata dia, diharapkan menjadi sebuah momentum untuk menjaga kebersamaan dan meningkatkan semangat untuk berbagi dengan masyarakat yang membutuhkan.

Kemeriahan Tahun Baru Hijriah, terangnya, hampir dilakukan secara merata di seluruh nusantara. Hanya saja, semua mengedepankan kearifan lokal sehingga apa yang dilakukan di desanya bisa menjadi acuan bagi generasi mendatang agar bisa menjaga tradisi sekaligus meningkatkan apa yang telah dikerjakan saat ini.

“Tahun-tahun ke depan tentu harus lebih baik dari saat ini,” tandasnya. (Hasan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Berita Fans Gus Dur

Kamis, 04 Januari 2018

MAU WH Tambakberas Wajibkan Siswa Dhuha dan Dzuhur Berjamaah

Jombang, Fans Gus Dur 

Madrasah Aliyah Unggulan KH Wahab Chasbullah (MAU-WH) mewajibkan siswa-siswinya untuk sholat dluha dan dzuhur berjamaah di madrasah. Kegiatan sholat berjamaah ini juga diikuti dewan keguruan di jam pelajaran pertama dan terahir.

MAU WH Tambakberas Wajibkan Siswa Dhuha dan Dzuhur Berjamaah (Sumber Gambar : Nu Online)
MAU WH Tambakberas Wajibkan Siswa Dhuha dan Dzuhur Berjamaah (Sumber Gambar : Nu Online)

MAU WH Tambakberas Wajibkan Siswa Dhuha dan Dzuhur Berjamaah

Madrasah yang berada dalam lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang ini sejak didirikan hingga kini tampak berupaya keras menjaga tradisi kepesantrenannya.

Seperti diungkapkan Munjidah Wahab, pembina sekaligus pendiri MAU-WH, bahwa tujuan didirikannya lembaga tersebut untuk meneruskan perjuangan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Wahab Hasbullah. 

Namun juga Wakil Bupati Jombang ini tak menafikan perkembangan sains dan teknologi belakangan ini, ia juga berupaya mengimbanginya dengan pengetahuan-pengetahuan umum.

Fans Gus Dur

"Tujuan utama pendirian MAU-WH adalah meneruskan perjuangan KH Wahab Hasbullah dan menjaga tradisi pesantren serta membekali pengetahuan umum, dengan harapan semua siswa bermanfaat bagi masyarakat," kata putri KH Wahab Hasbullah ini.

Menurutnya nuansa kepesantrenan yang bisa dilakukan di madrasah ini salah satunya dengan membiasakan siswa-siswinya untuk sholat dluha dan dzuhur berjamaah, setelahnya, para peserta didik dan gurunya melanjutkan kembali aktivitas kegiatan belajar mengajarnya.

Kegiatan sholat berjamaah tersebut diakui Faizun, Kepala madrasah MAU-WH sudah berjalan dengan istiqomah sejak diterapkan tradisi ini hingga sekarang. "Madrasah kami rutin mengadakan sholat dluha dan dzuhur jamaah dengan didampingi guru jam pertama dan terahir," katanya kepada Fans Gus Dur, Senin (27/2) lalu.

Lebih jauh ia menjelaskan, secara tidak langsung dalam sholat jamaah diajarkan sikap taat, persatuan, menghormati, tenggang rasa dan berkelompok atau bersatu.

Selain itu, lanjutnya sholat berjamaah ini dapat melatih siswa menjadi pemimpin sholat dengan baik saat kembali ke lingkungannya masing-masing. 

Fans Gus Dur

"Banyak pendidikkan karakter dalam sholat jamaah, seperti persatuan dan rasa tanggung Jawa. Selain itu, imamnya juga bergantian diantara siswa," jelas Faiz sapaan akrabnya.

Selain sholat berjamaah, Faiz menambahkan setelah jamaah dzuhur dilanjutkan kuliah tujuh menit yang diisi oleh siswa-siswinya kelas akhir secara bergiliran. "Hal ini bertujuan membekali dan melatih siswa agar memiliki keberanian berdakwah," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Ahlussunnah, Jadwal Kajian, Berita Fans Gus Dur

Rabu, 03 Januari 2018

Fanatisme Kesukuan Tebal, Arab Rentan Konflik

Jakarta, Fans Gus Dur. Faktor kesukuan di jazirah Arab merupakan faktor yang turut mempengaruhi mengapa konflik di sana berlangsung tiada henti dari dulu sampai sekarang.?

KH Said Aqil Siroj yang menempuh pendidikan sarjana sampai doktor di Arab Saudi menjelaskan, partai politik maupun mazhab keagamaan basisnya kesukuan.?

Fanatisme Kesukuan Tebal, Arab Rentan Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)
Fanatisme Kesukuan Tebal, Arab Rentan Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)

Fanatisme Kesukuan Tebal, Arab Rentan Konflik

“Fanatisme kesukuan masih tebal sekali. Kalau kepala sukunya syiah, maka syiah semua. Kalau wahabi, ya wahabi semua. Kayak suku Tamimi, itu wahabi semua sejak dulu. Jadi kalau ada konflik mazhab, maka konfliknya menjadi konflik suku atau konflik politik,” katanya.

Fans Gus Dur

Maka, ketika ada perang mazhab atau perang politik, para ujungnya juga perang suku, sebagaimana yang terjadi di Yaman, yang saat ini muncul kesan kuat adanya peperangan antara kelompok sunni dan syiah, yang masing-masing didukung oleh Saudi Arabia dan Iran.

Dijelaskannya, pandangan masyarakat Arab tradisional tentang kepemimpinan adalah seorang pemimpin menduduki jabatannya sampai meninggal. Mereka tidak mempersoalkan berapa lama menjadi presiden, yang penting adalah jujur atau tidak sebagaimana para khalifah yang dulu memimpin sampai meninggal.?

Fans Gus Dur

Perubahan paradigma terjadi ketika banyak generasi muda yang pulang belajar dari Barat yang ingin mentransfer sistem demokrasi melalui Arab Spring, tetapi faktanya hal tersebut ternyata tidak mudah. Libya, Yaman dan Suriah kini menjadi negara yang dalam kondisi perang. Mesir meskipun kelihatannya damai, tetapi semu.

Mengenai hubungan antara Kerajaan Saudi dan ulama Wahabi, keduanya juga tidak selalu harmonis, tetapi mereka saling membutuhkan. Kerajaan Saudi tak akan kuat tanpa dukungan kelompok ulama wahabi, dan demikian pula sebaliknya.

Yang unik adalah, Kesultanan Oman. Meskipun secara resmi mereka mengikuti mazhab Al Ibadiyah, yang merujuk pada pemuka khawarij ? Abdullah Al Ibadi, tapi tidak ekstrim, sangat moderat, malah berbeda dengan kelompok yang mengaku sunni tapi radikal. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Khutbah, Anti Hoax, Berita Fans Gus Dur

Senin, 25 Desember 2017

Dampak Perkawinan Usia Dini Menurut Ketum IPPNU

Jakarta, Fans Gus Dur

Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Puti Hasni mengimbau agar pelajar NU tidak menikah di usia yang belum matang karena dapat banyak dampak negatifnya.

Menurut dia, pernikahan usia dini berdampak pada pendidikan pelakunya. Ia otomatis tidak bisa mendapatkan jenjang pendidikan tinggi. Dampaknya pasti kesulitan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Dampak Perkawinan Usia Dini Menurut Ketum IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Dampak Perkawinan Usia Dini Menurut Ketum IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Dampak Perkawinan Usia Dini Menurut Ketum IPPNU

“Kedua, berdampak kepada kesehatan. Jika belum cukup umur untuk hamil dan melahirkan, maka akan mempengaruhi kesehatan reproduksi,” katanya pada Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Menuju Pelajar Putri Madani: Kontekstualisasi Pernikahan Usia Anak di Era Kekinian" Senin (17/10) di Gedung Sarekat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) NU, Jakarta Pusat.

Fans Gus Dur

Ketiga, berdampak secara psikologis. Menurutnya, ketidaksiapan mental berpengaruh pada kemampuan mengelola emosi dan sikap dalam keluarga.

Fans Gus Dur

“Dan yang keempat yaitu, berdampak sosial. Keluarga yang dibangun dari usia yang belum matang berpotensi melahirkan kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya,” jelasnya pada kegiatan yang diikuti 30 peserta perwakilan dari Pimpinan Cabang IPPNU dan IPNU Jakarta dan pengurus Pimpinan Pusat IPPNU.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Maria Ulfah Anshor, menyampaikan, berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Anak, usia minimal perempuan dapat menikah pada usia18 tahun.

“IPPNU harus memperkuat kapasitas kelembagaan sebagai agen perubahan dalam advokasi pencegahan perkawinan anak. Juga menjadi teman (peer group) untuk pendampingan anak korban kawin paksa, KTP-KTA berbasis komunitas,” pintanya.

Ketua Litbang PP IPPNU Siti Fatkhiyatul jannah memiliki komitmen memperkuat kapasitas sebagai agen perubahan dalam advokasi penghentian perkawinan anak.

Menurut dia, berbagai cara dilakukan PP IPPNU untuk mengkampanyekan hal itu, misalnya melalui media sosial, internet sehat (cerdas, aman, kreatif dan produktif), sampai mmembentuk komunitas anti-perkawinan anak.

Kegiatan ini merupakan agenda bulanan Departmen Pendidikan Pengakderan dan pengembangan sumber daya manusia (PPS) PP IPPNU untuk membahas isu-isu terkini.

Sebelumnya, panitia FGD Avifah M menyampaikan tujuan diselenggarakan kegiatan tersebut. IPPNU, kata dia, ingin memberikan kesadaran kepada pelajar bahwa perkawinan anak harus direvisi lagi.

“Tahap awal tentunya kita masih tahap elaborasi dari diskusi ini, dari dukumen-dukumen notulensi yang kita simpan nanti harapannnya ada diskusi lanjutan dimana kita dapat mengkampanyekan stop perkawinan anak,” harapnya. (Anty Husnawati/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Ulama, Berita Fans Gus Dur

Sambut Ramadhan, UPZIS Limpung Adakan Pengobatan Gratis

Batang, Fans Gus Dur



Menyambut Ramadhan tahun ini, Unit Pengelola Zakat Infak Sedekah Kecamatan Limpung, Batang, Jawa Tengah menggelar pengobatan gratis Sabtu (19/5) di halaman Masjid Al Barokah Desa Tembok Kecamatan ? Limpung.?

Sambut Ramadhan, UPZIS Limpung Adakan Pengobatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Ramadhan, UPZIS Limpung Adakan Pengobatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Ramadhan, UPZIS Limpung Adakan Pengobatan Gratis

Direktur ? UPZIS ? Limpung M Sofa menyampaikan pengobatan gratis dilaksanakan dengan menggandeng Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, yang dalam pelaksanaanya ditangani oleh UPT Puskesmas Kecamatan Limpung.?

“UPZIS Limpung berada di bawah binaan LAZISNU, selain mengadakan pengobatan gratis, di tempat dan waktu yang sama juga dilakukan penyerahan paket sembako untuk fakir miskin,” ujarnya.

Ia menambahkan kegiatan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab kepada para muzakki dan donatur, khususnya di Kecamatan Limpung.

“Tujuannya agar dalam menjalankan kewajiban puasa nanti masyarakat menjalankannya dengan dapat khidmat, sehat jasmani dan rohani,” imbuh Sofa. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Fans Gus Dur

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur

Fans Gus Dur Pondok Pesantren, Berita Fans Gus Dur

Rabu, 20 Desember 2017

Kunjungi Kiai Sepuh Indramayu, Menkopolhukam dan Kapolri Singgung Masalah Kekerasaan dan Narkoba

Indramayu, Fans Gus Dur. Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Jendral (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan, dan Kapolri Jendral Badrodin Haiti mengunjungi kiai sepuh NU Jawa Barat, KH Afandi Abdul Muin Syafii, di Pondok Pesantren Asy-Syafiiyyah, Kedungwungu, Krangkeng, Kabupaten Indramayu, Jumat (24/6) sore.

Abah Afandi, demikian biasa disapa, sekarang ini berusia 78 tahun merupakan salah satu santri pesantren Tebuireng Jombang era KH Hasyim Asyari dan Pesantren Tambakberas Jombang era KH Wahab Hasbullah.

Dalam kesempatan itu, Kapolri meminta semua pihak untuk tidak melakukan kekerasan dengan dalih apapun, apalagi kekerasan atas nama agama. Menurutnya, kekerasan tidak dibenarkan karena bertentangan dengan agama maupun konstitusi negara.?

Kunjungi Kiai Sepuh Indramayu, Menkopolhukam dan Kapolri Singgung Masalah Kekerasaan dan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungi Kiai Sepuh Indramayu, Menkopolhukam dan Kapolri Singgung Masalah Kekerasaan dan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungi Kiai Sepuh Indramayu, Menkopolhukam dan Kapolri Singgung Masalah Kekerasaan dan Narkoba

“Jika kekerasan dibiarkan, maka secara perlahan bisa memunculkan perang saudara di Indonesia, seperti yang marak terjadi di negara-negara bagian Arab," tuturnya.

Sementara itu, Menkopolhukam Luhut B Pandjaitan memuji peran pesantren dalam menjaga moralitas bangsa."Tanpa adanya pondok pesantren di berbagai belahan Indonesia, moralitas bangsa ini sudah hancur. Selama ini pondok pesantren sangat punya peran besar dalam menyelamatkan berbagai moralitas bangsa Indonesia, tak terkecuali dari ancaman bahaya penyalahgunaan Narkoba," kata Luhut.

Di Indonesia, lanjutnya, ? setiap hari hampir 30-40 orang mati sia- sia akibat penyalahgunaan Narkoba, maka peran aktif pesantren dalam melindungi generasi muda bangsa ini sangat signifikan dan tidak bisa dipungkiri.?

Fans Gus Dur

KH Ahmad Najib Afandi, putra Abah Afandi mengapresiasi Itikad baik para pejabat yang ? mengajak para ulama untuk bekerja sama membangun bangsa Indonesia.

Fans Gus Dur

"Persatuan pejabat dan ulama adalah salah satu pilar kekuatan pokok untuk membangun bangsa", tutur pria yang akrab disapa Gus Najib itu.

Pesantren Asy-Syafiiyyah adalah salah satu pesantren tertua di Indramayu, berdiri pada tahun 1959 M. Meski terdapat di desa terpencil, namun sejumlah pejabat tinggi negara banyak yang berkunjung, termasuk Presiden RI ke-4 KH Abdurrhaman Wahid. (Abdul/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Daerah, Berita Fans Gus Dur

Minggu, 10 Desember 2017

Anggota TNI Ini Bekali Santri Bela Negara

Jepara, Fans Gus Dur. Anggota TNI AD yang terdiri dari Kapten Mashudi (Danramil 09 Mlonggo), Bambang Sugito (Babinsa Sekuro) dan Musa Abdullah (Babinsa Mororejo) memberikan pembekalan bela negara kepada ratusan santri pesantren Az Zahra Jepara, Kamis (27/11) siang kemarin.

Kepada santri unit SMK Az Zahra, Mashudi menyampaikan pentingnya bela negara. Bela negara jelasnya ialah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila, UUD 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara.

Anggota TNI Ini Bekali Santri Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Anggota TNI Ini Bekali Santri Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Anggota TNI Ini Bekali Santri Bela Negara

Adapun nilai-nilai dalam bela negara mencakup 5 hal. Cinta kepada tanah air, sadar berbangsa dan bernegara, yakin pada pancasila sebagai ideologi negara, rela berkorban untuk bangsa dan negara. “Serta memiliki kemampuan awal bela negara baik psikis maupun fisik,” imbuhnya.

Fans Gus Dur

Secara psikis warga negara harus memiliki kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual, senantiasa memelihara jiwa dan raganya. Serta memiliki sifat disiplin, ulet, kerja keras dan tahan uji.

Sedangkan kemampuan fisik perlu ditopang dengan kondisi kesehatan, keterampilan jasmani dengan gemar berolahraga dan menjaga kesehatannya.

Fans Gus Dur

Penanggung jawab kegiatan, Bambang Sugito menyampaikan kegiatan untuk memberikan bekal materi bela negara kepada peserta didik. Selain untuk mengingatkan kembali dasar negara dan UUD kegiatan juga untuk mengingat jasa para pejuang ’45. “Harapan kami anak-anak tidak melupakan para pejuangnya,” harap Bambang disela-sela kegiatan.

Senada dengan Bambang, Hasan Khaeroni, Kepala SMK Az Zahra memaparkan ulama termasuk pejuang yang juga berperan untuk merebut kemerdekaan. “KH Hasyim Asyari, KH Wahab Hasbullah, KH Wahid Hasyim merupakan sejumlah kiai yang turut merebut kemerdekaan,” tegasnya.

Sehingga santri saat ini juga harus berperan aktif pada kelompok yang hendak merongrong keutuhan NKRI. Caranya, lanjut lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu dengan penguatan nilai-nilai bela negara yang tertanam sejak dini. (Syaiful Mustaqim/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Berita Fans Gus Dur

Minggu, 03 Desember 2017

Ge(b)rakan Pemuda untuk Perubahan

Oleh Ahmad Saifuddin

--Pemuda memiliki urgensitas yang tinggi dalam sejarah Indonesia. Setiap gerakan melawan kolonialisme, pemuda selalu ambil bagian. Sampai pada puncaknya, pemuda Nusantara bersatu dan mengikrarkan sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, yang berisikan tiga sendi, menjunjung tinggi tanah air Indonesia, bangsa Indonesia, dan dan bahasa Indonesia.

Tiga sendi itu yang kemudian melenyapkan sisi-sisi fanatisme golongan sehingga muncul kekuatan nasionalisme dan akhirnya mampu menjadi bahan bakar penggerak gerakan-gerakan melawan kolonialisme menuju gerbang kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Ge(b)rakan Pemuda untuk Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ge(b)rakan Pemuda untuk Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ge(b)rakan Pemuda untuk Perubahan

Tidak hanya sampai di situ saja. Gerakan pemuda masih saja berlanjut untuk menjunjung tinggi martabat Indonesia dalam pergerakan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah perlawan arek-arek Surabaya yang menjadi peperangan terbesar mempertahankan kemerdekaan Indonesia sehingga hari itu dinobatkan menjadi Hari Pahlawan (10 November).

Bahkan, hampir di setiap fase pemerintah Indonesia, gerakan pemuda senantiasa menjadi balancer (penyeimbang) dengan menghadirkan sejumlah kritik terhadap pemerintah sehingga negara ini masih “sedikit” terselamatkan dari berbagai krisis di tingkat pemerintah.

Pemuda yang Terjajah

Fans Gus Dur

Meskipun kolonialisme bangsa asing berupa penjajahan ekspansi wilayah berakhir, namun penjajahan dalam bentuk lain justru semakin gencar terjadi. Kondisi yang kontras bisa dilihat antara pemuda era dahulu dengan era sekarang. Sekarang, tidak sedikit pemuda yang terkontaminasi virus kriminalitas dan penurunan moral. Tidak sedikit pemuda yang terlibat pergaulan bebas, narkoba, tindak kriminal, pembunuhan, perkelahian, dan sebagainya.

Banyak pemuda di era sekarang yang menjadi pemuja hedonisme, yang menyebabkannya menghabiskan waktu untuk kesenangan semu tanpa arah. Banyak pemuda yang egois dengan prinsip kebebasan dalam hidup sehingga merugikan orang lain. Pada akhirnya, banyak pemuda yang kehilangan masa depannya yang cerah dan hanya menjalani kehidupan seperti air yang mengalir ke bawah.

Di sisi lain, pemuda juga tercemar virus separatis dan radikalis. Tidak sedikit pemuda yang menjadi teroris, ikut serta dalam gerakan radikalis yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tidak hanya dibangun oleh founding fathers yang nasionalis, tetapi juga agamis. Melihat realita tersebut, jelas sangat memprihatinkan karena pemuda merupakan tulang punggung negara. Perlu adanya reorientasi pemuda agar pemuda kembali menemukan jati irinya.

Fans Gus Dur

Reorientasi Pemuda untuk Sebuah Ge(b)rakan

Perlu adanya gerakan reorientasi pemuda agar pemuda kembali menemukan jati dirinya. Meskipun banyak pemuda yang mengalami permasalahan kompleks, masih banyak pemuda yang memiliki spirit perubahan. Selain itu, penghayatan kembali atas sejarah kepemudaan sangat diperlukan agar nilai perjuangan dan nasionalisme serta semangat perubahan mampu tertanam kembali. Berbagai hal bisa dilakukan dalam rangka reorientasi pemuda tersebut.

Pertama, pemahaman psikologis dan pola pikir fase pemuda sangat penting. Dengan hal ini, pemuda akan mampu memahami karakteristik dirinya sendiri sehingga mampu melakukan self healing yang selanjutnya pemuda akan berperan dalam penyelesaian permasalahan yang menghinggapi bangsa dan negara.

Kedua, dalam dunia akademis, semangat menuntut ilmu harus diimbangi dengan semangat menginternalisasikan nilai dan moral. Sehingga, tidak hanya mengejar kuantitas dan kualitas ilmu, tetapi juga mengejar kuantitas dan kualitas akhlak dan moral. Terciptanya akademisi muda yang berintelektual dan bermoral. Mampu membangun peradaban dengan ilmu dan budaya luhur. Mampu menciptakan masyarakat cerdas dan berintelektual serta berbudi luhur.

Ketiga, menciptakan pemuda yang terampil, kreatif, dan inovatif menjadi hal penting di era modern sekarang. Seain itu, daya lenting yang tinggi harus dimiliki pemuda untuk menjadi pemuda yang tangguh dalam segala tantangan. Agar tetap senantiasa menjadi bagian negara yang maju dan kebal terhadap segala hambatan yang ada.

Keempat, penghayatan tentang konsep nasionalisme, cinta tanah air, dan demokrasi yang berlandaskan pada agama menjadi penting bagi pemuda, kaitannya sebagai upaya preventif agar pemuda tidak mudah menjadi target gerakan separatis dan radikalis. Hal ini perlu digencarkan karena gerakan radikalis dan separatis memilih pemuda yang secara psikologis mudah dipengaruhi dan secara pengetahuan belum terlalu mumpuni.

Kelima, menciptakan pemuda yang peka terhadap kondisi sosial menjadi penting juga agar pemuda tidak mudah terkontaminasi oleh permasalahan sosial. Namun, justru menjadi agen perubahan. Prinsip hidup harus membawa manfaat dan maslahat perlu diinternalisasikan agar pemuda menyadari akan perannya.

Keenam, penghayatan terhadap kisah faktual tokoh sebagai role model perlu ditanamkan dalam diri pemuda. Bagaimana menjadi pribadi yang kuat akan godaan termasuk godaan zina seperti Yusuf muda. Bagaimana menjadi pribadi yang cerdas memperjalankan spiritualitas dan logikanya untuk mencari kebenaran hakiki seperti Ibrahim muda. Bagaimana menjadi pribadi yang taat dan patuh kepada orang tua seperti Ismail muda. Bagaimana menjadi pribadi yang berakhlak mulia, jujur, dan amanah seperti Muhammad muda. Bagaimana menjadi pribadi yang selalu haus dalam menuntut ilmu seperti Muhammad ibn Idris asy-Syafi’i muda. Bagaimana menjadi pribadi yang berani melindungi kebenaran layaknya ‘Ali ibn Abu Thalib muda yang menggantikan Nabi Muhammad SAW tidur di tempat tidurnya ketika dikepung kafir Quraisy sehingga nyawa ‘Ali ibn Abu Thalib menjadi taruhannya. Spirit kisah-kisah ini perlu dibangkitkan kembali di saat pemuda banyak terbius oleh cerita konyol akan cinta dan gaya hidupnya yang hedonis, pemuja kesenangan, kebebasan tanpa batas, dan kebrutalan.

Gerak dan Gebrak untuk Perubahan

Semangat sumpah pemuda ke-86 yang juga berdekatan dengan Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram 1436 Hijriyah, diharapkan mampu menjadi titik kelanjutan estafet gerakan pemuda sebelumnya. Terlebih lagi, pemuda era sekarang sudah banyak mengalami berbagai permasalahan kompleks. Di sisi lain, peran pemuda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara masih tetap dibutuhkan.

Semangat hijrah (berubah menuju perbaikan) hendaknya selalu menjadi jiwa dalam diri pemuda. Hijrah sangat penting, terutama dalam kehidupan ini perubahan adalah keniscayaan. Hijrah yang berarti berpindah dari suatu tempat menuju ke tempat lain dapat dimaknai secara kontekstual dengan perpindahan menuju hal yang lebih baik. Layaknya hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah al Mukarramah menuju Yatsrib (Madinah al Munawwarah), agar dakwah dan Islam lebih berkembang. Terlebih lagi, prinsip beruntung dalam Islam adalah jika hari ini lebih baik daripada hari kemarin dan hari esok lebih baik daripada hari ini. Dengan kata lain, modifikasi perilaku dan modifikasi lingkungan sangat diperlukan bagi pemuda sebagai teknik dan bekal membuat perubahan.

Tidak hanya bergerak, tetapi juga menggebrak. Hijrah dan bergerak untuk menuju perbaikan, menggebrak untuk melawan tantangan dan hambatan. Pemuda masa kini, pemimpin masa depan. Jayalah pemuda, jayalah Indonesia!

Ahmad Saifuddin, S.Psi., mahasiswa Magister Psikologi Profesi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Wakil Sekretaris Bidang Teknologi Informasi Komunikasi dan Jaringan Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Propinsi Jawa Tengah, Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Klaten, dan Sekretaris Lembaga Kajian Pemikiran Islam Darul Afkar Klaten.

Ilustrasi: Perjuangan pemuda di Surabaya 1945 dalam cover buku "Laskar Ulama Santri dan Resolusi Jihad"

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Nusantara, Berita Fans Gus Dur

Minggu, 19 November 2017

Ngaji Toleransi di Kaki Bukit Watu Payung

Oleh A. Syarif Yahya

Seorang muslim hidup di sebuah komunitas plural – seperti Dusun Kemiri, Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung – haruslah memiliki bekal pendidikan agama yang betul-betul matang. Matang dalam arti tidak hanya memiliki pengetahuan teks agama yang luas. Tetapi juga memiliki ketrampilan khusus dalam menerapkan universalitas dan fleksibelitas teks agama tersebut ke ruang publik. Sehingga, syariat sebagai komunikasi horisontal itu bisa terterapkan tanpa menodai iman sebagai komunikasi vertikal individu.?

Dusun Kemiri merupakan sebuah dusun kecil berpenduduk sekitar 900 jiwa. Terdiri dari pemeluk Buddha, Muslim, Kristen Protestan, dan Kristen Jawa. Pemeluk Buddha berjumlah sekitar 400 jiwa, Muslim 300 Jiwa, dan sisanya adalah Kristen Protestan dan Kristen Jawa. Pada akhir tahun 80-an, warga Kemiri masih mutlak memeluk Buddha. Kemudian pada awal tahun 90-an beberapa orang Buddha memeluk Islam dengan berbagai alasan, utamanya karena pernikahan. Sementara warga Kristiani kebanyakan adalah pendatang. Syiar Islam di Kemiri mulai tampak sejak seorang santri bernama Solihin bermukim di sana, setelah menikahi gadis mualaf setempat bernama Sumirah pada tahun 1992. Oleh warga muslim yang saat itu baru beberapa, Solihin dan Sumirah didaulat sebagai pemuka sekaligus guru ngaji desa. Sejak itu aktifitas dan syiar umat muslim mulai tampak.?

Keadaan topografi Dusun Kemiri terdiri dari lereng dan bukit-bukit tak bernama. Pemukiman warga berada pada kemiringan salah satu anakan bukit. Mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani. 79 hektar lahan digunakan sebagai pertanian basah, dan sisanya pertanian kering yang ditanami albasia dan kopi. Tanaman industri seperti ketela juga banyak dibudidaya. Para ibu memanfaatkan hasil ketela yang melimpah dengan mengolahnya menjadi lenteng dan keripik. Dan seperti masyarakat petani pada umumnya, masyarakat Kemiri sangat menjunjung tinggi nilai-nilai gotong-royong dan musyawarah.?

Ngaji Toleransi di Kaki Bukit Watu Payung (Sumber Gambar : Nu Online)
Ngaji Toleransi di Kaki Bukit Watu Payung (Sumber Gambar : Nu Online)

Ngaji Toleransi di Kaki Bukit Watu Payung

Di atas dusun, terdapat bukit yang menjadi induk dari bukit-bukit kecil di bawahnya. Namanya Gumuk Watu Payung (Bukit Watu Payung). Disebut payung karena di puncak terdapat pertapaan berupa sebuah rongga batu yang memayungi para petapa. Batu-batu raksasa di puncak, di cengkeram oleh akar-akaran pohon beringin besar sehingga tidak menggelinding. Di puncak, dibangun sebuah Vihara. Dan batu rongga itu kini dibangun sebuah kamar untuk bertapa. Gumuk Watu Payung digunakan sembahyang umat Buddha pada hari Selasa Kliwon, Jumat Kliwon, dan tanggal 1 Suro. Vihara di Gumuk Payung bukan satu-satunya. Di tengah pemukiman, terdapat dua Vihara lain yang digunakan sebagai persembahyangan harian, yaitu Vihara Avalokitesvara bagi aliran Mahayana, dan Vihara Damma Sosila bagi aliran Theravada. Umat Muslim memiliki satu masjid bernama Miftahul Jannah. Sementara umat Kristiani memiliki Gereja Sidang Jemaat Allah (Filadelfia). Sedang pemeluk Kristen Jawa tempat ibadahnya masih di salah satu rumah penduduk.

Kerukunan umat beragama di Kemiri saat ini, merupakan sebuah akumulasi sejarah yang lumayan panjang. Jika dirunut sejak awal, perpindahan agama sebagian warga Buddha ke Islam, sebetulnya bukan sebuah pemicu perselisihan yang berarti. Kebanyakan, warga Buddha yang diajarkan welas-asih itu, tidak mempersoalkan anak-cucu mereka untuk ikut mengaji. Artinya, warga Buddha di Kemiri itu, banyak yang anak-anaknya ikut mengaji di Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) asuhan Kiai Solihin, tapi belum memeluk Islam. Oleh Kiai Solihin anak-anak itu tidak lantas disyahadatkan. Bahkan, meski sore hari mereka mengaji, pada saban malamnya mereka juga masih rajin mengikuti orangtuanya kebaktian di Vihara. Kiai Solihin juga tidak pernah mensyaratkan apalagi memaksa anak-anak asuhnya yang beragama Buddha untuk membaca syahadat. Kata Kiai Solihin, “Kan, la ikraha fidîn. Tidak ada paksaan dalam agama. Nabi juga dulu pernah menerima Nasrani Najran yang ingin mengetahui Islam dengan menempatkan mereka di Masjid Nabawi”. ?

Anak-anak Buddha yang ikut mengaji itu, yang orangtuanya masih memeluk Buddha, kebanyakan resmi memeluk Islam dengan membaca syahadat ketika sudah masuk sekolah menengah, kuliah, atau ketika sudah bekerja, ada juga yang saat menikah. Malah ada pula yang sudah mengaji dan bisa membaca Al-Quran tapi tidak masuk Islam.?

Fans Gus Dur

Dari itu, di Kemiri sangat umum ditemui struktur keluarga yang anggota-anggotanya berbeda agama. Terkadang, orangtua yang beragama Buddha, hidup seatap dengan anak, menantu, dan cucu yang beragama Islam atau Kristen. Seorang kakek beragama Buddha biasa mengantarkan cucunya pergi mengaji di Masjid. Atau seorang anak beragama Buddha mengantar ibunya ke pengajian desa sebelah.

Di Kemiri, Anda juga bisa menemukan keunikan berbusana. Jilbab misalnya. Pakaian yang menjadi simbol bagi muslimah itu, nyaris tidak berlaku di Kemiri. Ibu-ibu yang beragama Buddha dan Kristen, biasa ke pasar atau ke ladang memakai jilbab. Alasannya tentu bukan aurat, tetapi agar tidak kedinginan saat ke pasar subuh-subuh dan jika dipakai di ladang, jilbab terbukti efektif melindungi diri dari gigitan serangga jalang semisal nyamuk. Begitu juga peci dan sarung yang khas bapak-bapak muslim. Di sana, orang Buddha dan Kristen biasa memakai sarung saat malam. Dan memakai peci saat kondangan atau acara resmi lainnya. “Peci itu nasionalis. Semua presiden dan pejabat negara, baik Muslim maupun Non Muslim memakai peci,” kata Kiai Solihin.

Fans Gus Dur

Tapi budaya berjilbab itu bukan sesuatu yang begitu saja membudaya. Ada sejarah pahit di baliknya. Dulu, saat Bu Sumirah masih mualaf, kemudian mengaji di Pesantren Ridho Alloh Kaloran, tidak sedikit tetangganya yang mencemooh jilbab dan gamis yang dikenakannya. Bagi mereka, jilbab dan gamis adalah budaya asing. Sampai-sampai, Bu Sumirah dulu ketika berangkat ke pesantren masih memakai celana pendek dan tanpa jilbab. Baru sesampainya di desa Kaloran, Bu Sumirah berganti pakaian sebagaimana lumrahnya santri. Begitu pula saat Bu Sumirah pulang dari pesantren pada setiap Jumatnya, Bu Sumirah harus melepas jilbab dan kembali memakai celana pendeknya sebelum memasuki desanya. Begitu itu ia lakukan sampai ia menikah. Kata Bu Sumirah, “Meski saya dicemooh pakai jilbab. Dan meski membuka aurat itu bagi saja adalah hal yang dilarang dalam Islam. Tapi saya tidak pernah mengajak mereka untuk berjilbab. Apalagi mencemoohnya. Saya selalu ingat pesan guru saya bahwa dakwah dengan sikap itu lebih utama ketimbang memakai lisan,” begitu kenangnya. Dan setelah ketokohan dan sikap toleran pasangan Kiai Solihin dan Bu Sumirah diakui warga, barulah warga – yang non Muslim – turut pula tertarik untuk menggenakannya.?

***

Selain jilbab, perayaan hari-hari besar di Kemiri tidak kalah unik. Kerukunan antar umat beragama sangat tampak dalam acara itu. Ahad tanggal 12 bulan Rabiul Awal 1438 H/ 11 Desember 2016 M misalnya. Saya menyempatkan untuk datang ke acara muludan di Kemiri. Acaranya unik tidak seperti lumrahnya dusun lain. Lepas Isya, sebelum kitab Albarzanji dilantunkan di serambi Masjid Miftahul Janah, para lelaki tua-muda – baik muslim, budhis, maupun kristiani – berkumpul di rumah Bapak Kadus Waliyoto (52). Acaranya ramah tamah dengan jamuan ketan-juroh yang dibawa oleh masing-masing warga. Juroh adalah pemanis cair terbuat dari gula aren yang disiramkan di atas ketan. Ada juga yang membawa kolak pisang dan jenang candil. Acara ini bagian dari seremoni maulid tetapi dilakukan di tempat terpisah. Pak Kadus yang sekaligus tokoh Buddha memberi sambutan dengan menekankan kerukunan antar umat beragama. “Walaupun berbeda keyakinan, kita adalah warga Kemiri yang satu. Dan inilah Bhineka Tunggal Ika”, itu petikan sambutan Pak Kadus. Mbah Jumari (tokoh Muslim) menjadi pengabul malam itu dan Kiai Solihin membaca doa.?

Setelah acara makan ketan-juroh rampung dan warga non muslim pulang, saya dan warga muslim Kemiri langsung menuju Masjid Miftahul Jannah untuk membaca Albarzanji diiringi tabuh rebana, dan digemakan menggunakan toa masjid. Sehingga suara bacaannya terdengar jelas di antero Kemiri. Bahkan angin perbukitan membawanya jauh ke dusun-dusun sekitar. Meski begitu, tidak ada protes atau keberatan dari pemeluk agama lain. Saya kemudian menyimpulkan, mungkin acara ketan-juroh itu semacam permohonan permisi. Begitu.

Siangnya, lepas shalat Zuhur, pengajian dalam rangka Maulud Nabi di gelar di halaman masjid. Yang hadir di situ juga semua warga, baik muslim, budhis, maupun kristiani. Semua wanita berjilbab dan laki-laki mengenakan peci. Saya sama sekali tidak bisa membedakan mana yang muslim dan non muslim. Semua membaur dalam acara tersebut. Tidak ada tempat khusus hadirin muslim maupun non muslim. Bahkan warga non Muslim bisa duduk di serambi masjid. Acara pengajian itu menghadirkan seorang dai dari Temanggung. Kata Kiai Solihin, dalam setiap acara Muludan dan pegajian peringatan lain di Kemiri, ada beberapa aturan yang harus dipatuhi seorang pengisi acara, dan aturan itu merupakan kesepakatan warga demi terlestarinya kerukunan umat beragama. Di antaranya adalah tidak menggunakan kata-kata ‘kafir’, tidak menyingung penyembahan berhala serta zaman Jahiliyah.

Pernah, dulu tahun 1997 toleransi di Kemiri sedikit ternodai. Bahkan nyaris meletuskan konflik. Pemicunya seorang dai yang diundang mengisi acara tidak mengindahkan aturan itu. Dengan terang lagi lantang, dai itu mengangkat tema yang sangat sensitif seputar pasutri yang berbeda agama dan dengan menggunakan bahasa yang kasar. Padahal, ada sekitar 30-an kepala keluarga di Kemiri yang memiliki pasangan berbeda agama. Biasanya, salah satu dari pasutri tersebut mengikuti agama yang dipeluk anak atau cucunya. Tamsilnya, ada pasangan suami istri pemeluk Buddha yang anak gadisnya memeluk Islam karena pernikahan. Kemudian, ibu dari gadis itu ikut memeluk Islam sedang ayahnya tidak. Nah, setelah acara pengajian itu, suasana dusun Kemiri memanas. Beberapa warga Buddha tidak terima dan hendak meminta pertanggung jawaban Kiai Solihin sebagai panitia pengajian. Suasana semakin keruh ketika para pemuda Buddha juga terbakar suasana. Bahkan ada yang memprofokatori agar Kiai Solihin diculik lalu dibunuh. Mendengar isu itu, Kiai Solihin bersembunyi kemudian lari meminta bantuan warga Muslim dari dusun lain. Malamnya, sekitar empat mobil berpenumpang puluhan warga Muslim dari dusun lain datang hendak mencari pemuda Buddha. Suasana malam itu benar-benar panas. Terdengar teriakan-teriakan profokatif dari rombongan dari desa lain itu. Tapi beruntung, tidak lama beberapa kiai terpandang di wilayah sekitar, juga Kepala Desa, Kepala Dusun, dan Kapolsek turun tangan. Masyarakat yang terlibat didudukkan. Mereka sepakat berdamai setelah semua memaklumi bahwa sebenarnya; umat muslim Kemiri dalam hal ini panitia pengajian bukan bermaksud merusak suasana kerukunan umat beragama. Tetapi kejadian itu murni kesalahan oknum dai yang tidak tahu atau tidak mau tahu kearifan Kemiri yang sama sekali berbeda dengan dusun lain.

***

Di kesempatan lain, Kiai Solihin bertutur panjang lebar kepada saya mengenai suka duka berdakwah di Kemiri. “Harus ada formulasi syariat khusus di Kemiri,” katanya bukan mengeluh. Maklum, masyarakat Kemiri yang kebanyakan mualaf belum bisa menerima Islam dalam bentuk ajaran yang lumrah diajarkan di masyarakat lain. “Di dalam Islam itukan banyak khilafiyah atau perbedaan pendapat. Untuk itu, pemuka agama Islam di Kemiri itu harus kreatif mencari pendapat walaupun hanya pendapat daif dan meski dari mazhab lain,” begitu imbuhnya.

Contoh kasus di Kemiri yang menarik perhatian saya adalah banyaknya anjing. Saya kaget ketika Bu Sumirah mengatakan bahwa anjing-anjing itu bukan saja milik warga non Muslim. Tapi ada sekitar 20-an warga Muslim yang masih memelihara anjing. Memang bagi non muslim, anjing bukanlah binatang yang harus dijauhi. Anjing biasa dijual atau dikonsumsi di acara-acara tertentu seperti hari-hari besar dan pernikahan. Tapi bagi Muslim, anjing tentu saja bisa menganggu kesucian pakaian dan anggota badan yang berakibat tidak sahnya shalat. Akan tetapi, Kiai Solihin dalam hal ini, malah merasa tidak begitu pusing. Katanya, “Masalah najis anjing itukan ada perbedaan pendapat. Mazhab Hanafi mengatakan yang najis cuma mulut dan air liurnya saja. Jadi kalau menyentuh bagian lain ya tidak najis. Kemudian mazhab Maliki malah mengatakan anjing itu suci. Tidak najis. Meski menurut Maliki jilatan anjing wajib dibasuh tuju kali salah satunya dengan debu. Tapi alasannya bukan najis, namun taabudi (perintah yang tidak ada alasan logis). Sementara, al-ami la mazhaba lahu (orang awam itu tidak punya mazhab khusus), jadi ketika orang awam itu melakukan ibadah dan sudah cocok dengan salah satu pendapat mazhab apapun, maka ibadahnya sah,” begitu paparnya.

Paparan Kiai Solihin di atas, menyadarkan kita bahwa betapa luas hukum dalam Islam itu. Terutama dalam fikih. Pernah Kiai Solihin berkata begini, “Ulama itu tugasnya ngemong (membimbing) bukan mekso (memaksa). Kalau belum bisa berdiri dan berjalan ya harus kita papah, tapi kalau sudah bisa berjalan ya jangan dipapah lagi”. Saya kemudian menyimpulkan bahwa sangat dibutuhkan hati seluas samudera untuk bisa hidup di tengah masyarakat yang pluralistik. ? ?

***

Yang unik lagi dari Kemiri adalah peringatan hari besar, seperti Idul Fitri, Idul Adha, Waisak, dan Natal. Ada juga perayaan lain yaitu Sadranan tiap Jumat Legi bulan Ruwah (Syaban), Suronan pada tanggal 1 Suro (Muharam), Merti Dusun atau Nyadran Kali setiap Senin Legi Ba’da Mulud (Rabiul Akhir). Di Kemiri, Idul Fitri dirayakan cukup meriah. Tidak hanya warga Muslim, tetapi umat Buddha dan Kristen juga ikut memeriahkan. Sebelum hari H mereka yang non Muslim juga turut meramaikan pasar untuk membeli bahan makanan dan pakaian baru. Dan kebanyakan, pakaian yang dibeli pun pakaian yang biasa dikenakan orang-orang Muslim. Lalu, pada tanggal 1 Syawal, seusai umat Muslim menunaikan shalat I’ed, umat Buddha dan Kristen juga ikut bersilaturahim atau disebut ujung. Sementara pakaian yang mereka kenakan adalah busana Muslim. Yang wanita berjilbab dengan bawahan semata kaki. Yang lelaki mengenakan peci dan baju koko. Mereka saling berkunjung dan bermaaf-maafan.

Perayaan Waisak adalah yang paling meriah. Sepanduk ucapan selamat dibentang di muka desa. Umbul-umbul dan bendera warna-warni berbaris di tepi jalan dan gang. Umat Buddha menggelar perayaan sehari semalam. Biasanya digelar setelah atau sebelum mereka mengikuti acara Waisak di Borobudur. Acara sehari semalam itu adalah pentas kebudayaan seperti Kuda Lumping, Soreng, Tayup, Ketoprak, dan Wayang yang digelar setelah kebaktian di Vihara. Kebaktian dilaksanakan dengan mengikutsertakan tokoh-tokoh Muslim dan Kristiani. Selain pentas seni, Waisak juga menjadi ajang silaturahim layaknya Idul Fitri. Rumah-rumah penduduk baik umat Buddha maupun non Buddha selalu dipenuhi aneka makanan di meja ruang tamu. Para penonton pentas budaya jika lapar atau dahaga, bisa mampir di rumah-rumah kerabat atau teman yang dikenalnya.?

Begitu pula dalam perayaan Natal. Memang Natal di Kemiri tidak semeriah Waisak dan Idul Fitri, tetapi suasana kerukunan juga sangat terasa di sana. Sama dengan acara Waisak, umat Kristiani juga menggundang tokoh umat lain dalam perayaan Natal di gereja.?

Ketika saya tanyakan kepada Kiai Solihin perihal umat muslim mengikuti kebaktian di Vihara dan Gereja, begini jawaban Kiai Solihin, “Umat Muslim itu harus kuat di dalam tapi lentur di luar. Artinya, iman di dalam hati harus teguh. Tetapi dalam bersikap tidak boleh kaku. Kami menghadiri Waisak dan Natal semata menghormati mereka sebagai tetangga. Bukan dalam rangka kami ikut peribadatan mereka. Di hati, kami tetap meyakini bahwa Islam adalah yang benar. Tapi itu haram jika kami utarakan secara verbal. Itu demi ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa). Bukankah Allah itu memaafkan orang-orang Muslim yang terdesak berkata kufur: “Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (Dia tidak berdosa)”

Saya kemudian ingat, Surah Al-Kafirun yang memiliki ayat-ayat dengan pesan tandas tanpa bahasa keras. Surah Al-Kafirun memiliki aliterasi indah. Pengulangan bunyi ‘nun’ dan ‘dal’ yang dominan melahirkan kesedapan bunyi yang melenakan. Sementara pada saat surat itu turun, bangsa Arab bergitu besar memberikan apresiasi pada sastra. Mereka juga memiliki daya peka tajam akan keindahan syair, memiliki cita rasa tinggi akan kefasihan, serta memiliki intuisi menangkap rima, ritma, serta isi. Maka tidak sulit bagi kita untuk menggambarkan reaksi orang Qurays saat diperdengarkan surah itu. Yaitu hati yang luruh atau setidaknya surat itu mampu menunda mereka untuk melampiaskan murka. Itulah Islam, tegas dalam isi, toleran dan santun dalam berkomunikasi.

Selain begitu, surat itu diawali dengan kata amr (perintah) “katakanlah!”. Dibalik peletakkan kata itu, tersembunyi maksud toleransi. Sebab kalimah setelahnya adalah kalimah yang akan terdengar pedas “wahai orang-orang kafir.” Kata ‘kafir’ sangat rentan dianggap maki. Maka didahulukanlah kalimah “katakanlah!” karena dengan begitu, orang Qurays akan tahu bahwa yang mensifati mereka ‘kafir’ bukanlah Muhammad, tetapi Allah, dan dalam hal ini Muhammad hanyalah penyampai.

***

Toleransi juga sangat nampak dalam acara Suronan yang digelar saban tanggal 1 Suro atau tahun baru penanggalan Jawa. Sekalipun acara ini pada dasarnya budaya Jawa, bukan budaya agama tertentu, tetapi acara suronan di Kemiri di pusatkan di Vihara puncak Gumuk Payung. Umat Buddha sekecamatan Kaloran akan diundang karena acara intinya adalah prosesi pemandian patung Buddha. Umat Muslim dan Kristiani Kemiri juga diundang. Malah, tidak hanya diundang, tetapi mereka juga turut membayar iuran, seratus ribu bagi yang mampu dan seikhlasnya bagi yang tidak mampu.

Acara yang berkaitan dengan kematian dan sadranan, juga bisa menjadi sarana toleransi di tengah kemajemukan, seperti yang telah tertradisikan di Kemiri. Sebagaimana masyarakat Jawa pada umumnya, warga Kemiri juga menggunakan hitungan tujuh hari, empatpuluh, seratus, seribu, dan setahun, untuk acara kirim arwah. “Tujuh hari, empatpuluh dan seterusnya itu bukan ajaran Buddha, tetapi Jawa, untuk menghormati leluhur,” kata Pak Waliyoto. Di acara kirim arwah, biasanya sahibulhajat membuat ambengan atau nasi yang dibuat tumpeng dengan lauk ingkung atau ayam yang dimasak tanpa dipotong-potong serta sayuran dan sambal. Jumlah undangan tergantung kemampuan tuan rumah, bisa hanya se-RT bisa juga sedusun. Biasanya acara itu digelar seusai umat Muslim menunaikan ibadah shalat Isya. Adapun ritual doa, dilakukan menurut keyakinan almarhum. Para tamu hanya mengamini. Jika yang berdoa orang Buddha, maka para tamu mengamini dengan sikap sembah; telapak tangan dikatupkan didepan dagu atau dada. Jika yang berdoa orang Kristen, para tamu mengamini dengan mengatupkan telapak tangan dan melipat jari-jarinya. Jika yang berdoa muslim, maka para tamu mengamini dengan menengadahkan tangan. Jika kebetulan keyakinan sahibulhajat dan almarhum berbeda, semisal anaknya Buddha dan arwah bapaknya Muslim, maka biasanya anak tersebut meminta bantuan Kiai Solihin untuk mendoakan arwah tersebut. Begitu pula sebaliknya. Pemimpin doa disesuaikan dengan keyakinan arwah yang dikirimi doa, bukan keyakinan sahibulhajat.

Sementara sadranan Jumat Pon bulan Ruwah, biasanya dipusatkan di pemakaman desa. Kamis Paing sore warga desa biasanya kerja bakti besreh atau bersih-bersih rumput makam lalu dilanjutkan dengan nyekar atau menabur bunga di pusara leluhur. Paginya warga ke pemakaman lagi dengan membawa makanan. Sebelum nyadran dimulai, mereka berdoa terlebih dahulu di makam leluhur masing-masing. Orang Buddha berdoa dengan membakar dupa dan hio. Orang Kristen sebagian juga begitu, tapi sebagian lain hanya berdoa dengan tunduk. Sementara orang Muslim membaca Yasin dan tahlil atau salah satunya. Usai itu, mereka menggelar makan bersama di sepanjang jalan menuju kuburan. Daun pisang ditata rapi memanjang lalu nasi dan segenap lauk ditumpah di situ. Suasana sangat tampak raharja, sentosa, dan sangat Bhineka Tunggal Ika.

***

Islam yang diamalkan dan didakwahkan Kiai Solihin di Kemiri sebetulnya bukan hal yang baru. Kira-kira, begitu pulalah metode dakwah para wali dan ulama pada awal masuknya Islam dulu. Manhaj dakwah Islam adalah persuasif dengan mencari titik kompromi antara agama dengan tradisi dan budaya, senada dengan misi risalah yang kafah.?

Apa yang dilakukan Kiai Solihin dan warga Kemiri bukanlah mencampur adukan agama. Tetapi semata kondisi sosial kemasyarakatan yang menuntut demikian. Namun justru dengan begitu, Kiai Solihin dan Muslim Kemiri telah benar-benar membuktikan universalitas dan fleksibelitas syariat. Pula membuktikan bahwa Islam tidak menentang semangat ke-bhineka-an, bahwa Islam mengajarkan pentingnya ukhuwah wathaniyah atau persaudaraan sebangsa, dan yang terpenting adalah bahwa keberhasilannya berdakwah di Kemiri itu membuktikan bahwa sikap toleran adalah sebaik-baiknya manhaj dakwah di tengah kemajemukan.

Penulis adalah santri PP. Ridho Alloh, Temanggung. ?

Tulisan ini menjadi juara pertama kompetisi Esai Fans Gus Dur-INFID

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Berita, Kajian, Fragmen Fans Gus Dur

Sabtu, 18 November 2017

Hilal Tak Terlihat, PBNU Ikhbarkan Syaban Genap 30 Hari

Jakarta, Fans Gus Dur. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lajnah Falakiyah NU memastikan bulan Syaban genap (istikmal) 30 hari setelah tim rukyat hilal tak melihat bulan sabit sebagai tanda awal Ramadhan.

Pernyataan ini tertuang dalam surat PBNU perihal Ikhbar/Pemberitahuan Hasil Rukyatul-Hilal bil Fili Awal Ramadhan tertanggal 8 Juni 2013 yang ditujukan kepada Pengurus Wilayah NU (PWNU) dan Pengurus Cabang NU (PCNU) se-Indonesia.

Hilal Tak Terlihat, PBNU Ikhbarkan Syaban Genap 30 Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Hilal Tak Terlihat, PBNU Ikhbarkan Syaban Genap 30 Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Hilal Tak Terlihat, PBNU Ikhbarkan Syaban Genap 30 Hari

"Atas dasar istikmal tesebut dan sesuai dengan pendapat al-Madzahib al-Arbaah maka dengan ini PBNU mengikhbarkan/memberitahukan bahwa awal bulan Ramadhan 1434 H jatuh pada hari Rabu tanggal 10 Juli 2013," bunyi surat tersebut.

Fans Gus Dur

PBNU menyampaikan selamat menunaikan ibadah puasa kepada segenap warga NU dan umat Islam secara umum pada Ramadhan 1434 H.

Fans Gus Dur

"Semoga ibadah puasa kita diterima oleh Allah SWT," ujar surat ikhbar, ditutup tanda tangan dari Katib Aam PBNU KH Malik Madani, Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan Sekjen PBNU H Marsudi Syuhud.

Sebelumnya, Ketua Pengurus Pusat LFNU KH A Ghazali Maroeri mengatakan, pihaknya telah mengelar pengamatan hilal di 90 titik strategis dengan menugaskan 110 pelaksana rukyat bersertifikat nasional. Rukyat dilaksanakan bersama para alim ulama, ahli hisab, ahli astronomi, ahli fiqih dan warga Nahdliyin setempat.

PBNU juga aktif mengikuti sidang itsbat yang diselenggarakan pemerintah di Jakarta, Senin (8/7) petang atau bertepatan dengan 29 Syaban 1434 H. Atas persetujuan ormas-ormas Islam yang hadir, Kementerian Agama dalam sidang itu juga menetapkan awal Ramadhan jatuh pada Rabu.

?

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Berita Fans Gus Dur

Senin, 06 November 2017

Muslimat NU Probolinggo Salurkan Ratusan Paket Sembako untuk Dhu’afa

Probolinggo, Fans Gus Dur. Sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat kurang mampu, Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Probolinggo bersinergi dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Probolinggo menyalurkan ratusan paket sembako kepada kaum dhu’fa.

Paket sembako ini diberikan kepada masyarakat kurang mampu di 125 desa pada 11 kecamatan di Kabupaten Probolinggo. Dimana masing-masing desa mendapatkan jatah 5 orang kaum dhu’afa. Paket sembako yang diterima meliputi beras, gula, minyak goreng, kecap, teh, kopi, mie instan dan biskuit.

Muslimat NU Probolinggo Salurkan Ratusan Paket Sembako untuk Dhu’afa (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Probolinggo Salurkan Ratusan Paket Sembako untuk Dhu’afa (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Probolinggo Salurkan Ratusan Paket Sembako untuk Dhu’afa

Senin (19/6), penyaluran paket sembako ini dilaksanakan di Kecamatan Lumbang dan Tongas. Sejak pagi hari, ratusan kaum dhu’afa sudah hadir di Pendopo Kecamatan Lumbang dan Tongas. Dengan sabar mereka antri dengan tertib dengan dipandu oleh para pengurus ranting Muslimat NU di masing-masing desa.

“Penyaluran paket sembako ini semakin melengkapi kegiatan Muslimat NU sebelumnya. Kegiatannya tidak hanya sekedar pengajian, istighotsah dan Yasinan penyampaian Aswaja saja, tetapi juga konsep pemberdayaan masyarakat pun sudah semakin menarik bagi anggota demi turut serta aktif mengisi pembangunan,” kata Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj. Nurhayati.

Fans Gus Dur

Menurut Nurhayati, sinergi dengan lintas sektor ini akan mampu memberikan konstribusi bagi anggotanya untuk lebih berdaya meningkatkan ekonomi produktif, pola piker serta kesadaran masyarakat tentang kesehatan, pendidikan serta sektor yang lain sehingga diharapkan mampu mendongkrak Indeks Pembangunan Manusia (IPM) agar lebih maju dan mengurangi permasalahan yang ada di masyarakat.

“Penyerahan paket sembako ini merupakan salah satu wujud kesetiakawanan sosial masyarakat agar mampu mengurangi dampak permasalahan yang ada di lapangan tentang kemiskinan, ekonomi, pendidikan dan lainnya,” jelasnya.

Dengan pemberian paket sembako ini Nurhayati berharap agar nilai kesetiakawanan sosial masyarakat ? bisa terjalin dengan baik tanpa harus membedakan satu sama lainnya serta antara kaya dan miskin tapi perasaan memiliki dibangun paling tidak bisa membantu meringankan beban permasalahan yang ada di masyarakat.

Sementara Ketua Baznas Kabupaten Probolinggo H Ahmad Muzammil mengungkapkan bahwa pada bulan suci Ramadhan tahun ini, pihaknya melakukan pendistribusian (pentasyarufan) Zakat, Infaq dan Sodakoh (ZIS) berupa 1.700 paket sembako kepada kaum dhuafa se-Kabupaten Probolinggo. Nominal masing-masing paket sembako mencapai Rp 150.000.

Fans Gus Dur

“Paket sembako ini diberikan kepada kaum dhuafa yang ada di 330 desa/kelurahan se-Kabupaten Probolinggo. Di mana tiap desa/kelurahan mendapatkan jatah 5 orang kaum dhuafa. Sementara 50 paket yang lain akan disiapkan sebagai cadangan,” katanya.

Menurut Muzammil, total anggaran yang dikucurkan untuk pengadaan paket sembako ini mencapai Rp 255.000.000. Pendistribusian paket sembako ini dilaksanakan selama bulan suci Ramadhan 1438 H di masing-masing pendopo kecamatan.

“Pemberian paket sembako ini bertujuan untuk berbagi kebahagiaan dengan para kaum dhuafa untuk bersama-sama bisa memenuhi kebutuhan hidup di bulan suci Ramadhan sekaligus menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri 1438 H,” katanya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Berita, Kyai Fans Gus Dur

Kamis, 02 November 2017

Raker Perdana, PP LAZISNU Gerakkan Program Berbasis IT

Jakarta, Fans Gus Dur. Pengurus Pusat Lembaga Amil, Zakat, Infaq, dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (PP Lazisnu) menggelar Rapat Kerja (Raker) perdana, Senin (28/9) di lantai 5 Gedung PBNU Jakarta. Dalam visinya, PP Lazisnu akan membangun, menggerakkan, dan memaksimalkan program-program dengan memanfaatkan teknologi informasi (IT).

“Untuk mendukung program, Lazisnu akan menciptakan sebuah aplikasi di Smartphone. Hal ini dilakukan agar mudah diakses masyarakat terkait transparansi pengelolaan zakat, infaq, dan shodaqoh oleh Lazisnu,” terang H Syamsul Huda, Ketua PP Lazisnu.

Raker Perdana, PP LAZISNU Gerakkan Program Berbasis IT (Sumber Gambar : Nu Online)
Raker Perdana, PP LAZISNU Gerakkan Program Berbasis IT (Sumber Gambar : Nu Online)

Raker Perdana, PP LAZISNU Gerakkan Program Berbasis IT

Syamsul mengatakan, aplikasi yang dicanangkan pihaknya juga terkait dengan pengawasan dan penyaluran program-program Lazisnu. “Kita berencana meluncurkan aplikasi berbasis IT tersebut dalam jangka waktu 3 bulan ke depan atau dalam masa 100 hari kerja,” jelasnya.

Fans Gus Dur

Sekretaris PP Lazisnu, Adna Khoiratul A’yun menambahkan, Lazisnu akan melakukan peningkatan kinerja program agar lebih berdaya dan bermanfaat lebih luas lagi untuk masyarakat.

Fans Gus Dur

“Hal ini dilakukan dengan mengokohkan pondasi pengelolaan program melalui koordinator-koordinator wilayah di seluruh Indonesia maupun luar negeri lewat PCINU,” ujar Adna.

Raker ini mendapat pengarahan dari Bendahara Umum PBNU, H Bina Suhendra dan ditutup oleh Sekjen PBNU, H A Helmy Faishal Zaini. Dalam sambutan penutupnya, Helmy Faishal mendorong sinergitas antar-lembaga NU di seluruh daerah dalam mendukung program-program Lazisnu.

“Sangat penting untuk menggandeng perangkat-perangkat PBNU dan lembaga NU di seluruh Indonesia sehingga tercipta semacam sinergitas yang terlembaga,” ujar Sekjen PBNU.

Lazisnu terus berkomitmen menjalankan program pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat melalui pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan kepedulian sosial (social care) secara umum. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Santri, Berita, Ulama Fans Gus Dur

Luncurkan “Mushaf Maqamat”, IIQ Jakarta Raih Penghargaan MURI

Jakarta, Fans Gus Dur. Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) Jakarta meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk produk inovatif "Mushaf Maqamat". Produk ini meraih Rekor MURI untuk kategori "Metode Pembacaan Al-Quran Mujawwad dengan Maqamat Terbanyak".

Luncurkan “Mushaf Maqamat”, IIQ Jakarta Raih Penghargaan MURI (Sumber Gambar : Nu Online)
Luncurkan “Mushaf Maqamat”, IIQ Jakarta Raih Penghargaan MURI (Sumber Gambar : Nu Online)

Luncurkan “Mushaf Maqamat”, IIQ Jakarta Raih Penghargaan MURI

Penghargaan MURI diserahkan langsung oleh Ketua MURI, Jaya Suprana, di Assembly Hall, Bapindo Plaza Jakarta, Rabu (12/6) malam. “Kami bangga dapat menyerahkan penghargaan MURI kepada pihak IIQ Jakarta atas inovasinya meluncurkan produk-produk Islami yang modern dan berteknologi tinggi," tutur Jaya Suprana seperti dilansir situs resmi IIQ Jakarta (13/6).

Hadir dalam acara Penyerahan Penghargaan MURI tersebut, ketua Yayasan IIQ  Hj. Harwini Yusuf, rektor IIQ KH. Dr. Ahsin Sakho Muhammad, Pembantu Rektor II IIQ Hj. Maria Ulfah, Pembantu Rektor III Dr. Hj. Ummi Khusnul, Dekan Fakultas Tarbiyah IIQ Dr. Anshori, Pengasuh Pesantren Takashush IIQ KH. Dr. Ahmad Fathoni , Direktur Pascasarjana IIQ Prof. Dr, Khuzaemah T Yanggo, ketua LPPI IIQ Dr. Hj. Romlah Widayati.

Fans Gus Dur

Rektor IIQ Jakarta Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad menyambut gembira atas kehadiran Mushaf Maqamat yang diharapkan dapat menarik semakin banyak Umat Islam untuk mempelajari bacaan Al-Quran. 

"Sebagai institusi yang berkonsentrasi pengembangan seni baca Al-Quran, pemahaman akan kadungannya, dan ilmu-ilmu kequranan lainnya, yang telah banyak melahirkan qariah dan hafizhah terbaik internasional, tentunya kami menyambut gembira keseriusan pihak-pihak terkait dalam menghadirkan produk ini, yang aplikasinya telah didiskusikan dengan beberapa pakar akan memberikan manfaat,” katanya.

Fans Gus Dur

"Hadirnya Al-Quran dalam bentuk yang modern in diharapkan akan menarik umat Islam untuk mulai mencintai dan membiasakan diri membaca Al-Quran yang dapat membentuk akhlak manusia menjadi baik dan santun. Dengan fitur yang modern, sederhana namun multifungsi, kehadiran Mushaf Maqamat ini dapat menjadi tuntunan bagi umat Islam di Era modernisasi ini."

Lebih jauh Rais Majelis Ilmi Jamiyyatul Qurra wal Huffazh (JQH) NU ini menambahkan, kehadiran Mushaf Maqamat memperlihatkan bahwa umat Islam juga beradaptasi dengan perkembangan jaman saat ini sehingga keberadaan al-Quran tidak lagi hanya dalam bentuk cetak saja tetapi sudah dapat diperlengkap dengan fitur-fitur yang memudahkan bagi pembacanya dengan informasi lengkap dan benar.

Hj. Maria Ulfah MA, Qari’ah Internasional dari IIQ, menyatakan bahwa Mushaf Maqamat adalah sebuah al-Qur’an yang dapat dibaca dengan pen digital yang multifungsi, memiliki berbagai kemudahan bagi yang ingin belajar membaca al-Qur’an.

Selain dilengkapi dengan bacaan al-Qur’an dengan Murattal, dengan penjelasan hukum tajwid secara detail, juga di dalamnya terdapat beberapa fitur menarik dalam aplikasi untuk pembelajaran bacaan al-Qur’an dengan Mujawwad. Kecanggihannya tak hanya sampai di situ, produk ini juga dapat dibaca per ayat, per halaman, per surah, dan per juz. Dan kita bisa merekam suara sendiri sebagai memorial dan pembelajaran.  

Sementara itu pihak PT. Ekatama Cipta Lestari sebagai pengembang terkhnologinya menyatakan, masyarakat Indonesia khususnya di kota-kota besar yang telah bergeser menjadi masyarakat modern yang sangat mobile, aktif dan serba instan, tentunya membutuhkan tool yang efektif dan bermanfaat, termasuk dalam belajar bacaan Al-Quran.

“Kehadiran Mushaf Maqamat ini tentunya dapat menjadi solusi fasih dalam membaca Al-Quran secara efisien dan benar," kata Amirul Yaqin selaku Head of Product Development di PT. Ekatama Cipta Lestari.

Dengan menghadirkan fitur pen yang telah menggunakan teknologi terbaru, Mushaf Maqamat mempunyai beberapa fitur menarik dalam aplikasi untuk pembelajaran bacaan Al-Quran dengan Mujawwad (sangat efektif bagi) yang ingin belajar lagu-lagu Al-Quran dengan Mujawwad (sangat efektif bagi yang ingin belajar lagu-lagu Al-Quran dengan beberapa metode maqamat.

Lagu yang dimaksud yakni Rast, Bayati, Hijaz, Shaba, Sikah, jiharkah, dan Nahawand) yang mana bisa membaca per ayat, per maqam, dan per halaman. Disamping itu mushaf ini juga dilengkapi bacaan Al-Quran dengan Murattal, bisa dibaca per ayat, per halaman, per surah, dan per juz, penjelasan hukum tajweed 30 juz secara detil, dan merekam suara sendiri sebagai memorial dan pembelajaran.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Berita Fans Gus Dur

Rabu, 01 November 2017

MIN I Malang Juara Festival dan Lomba Robot

Jakarta, Fans Gus Dur. Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) I Malang meraih juara I pada Festival dan Lomba Robotik Madrasah Tahun 2015 yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Madrasah Kemenag RI di Cilandak Town Square. Tim MIN I Malang ini terdiri dari Hilmi Maulana Hibatullah dan Bhismar Abror Indra Pratama.

MIN I Malang Juara Festival dan Lomba Robot (Sumber Gambar : Nu Online)
MIN I Malang Juara Festival dan Lomba Robot (Sumber Gambar : Nu Online)

MIN I Malang Juara Festival dan Lomba Robot

Penghargaan diberikan oleh Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin pada malam penutupan festival robotik. Dalam sambutannya, Kamaruddin mengatakan bahwa anak-anak madrasah sudah membuktikan bahwa tidak hanya pintar mengaji, tetapi juga bisa dan terampil dalam hal robotika.?

“Penyelenggaraan kegiatan ini diharapkan akan memantik agar siswa-siswi madrasah terus meningkatkan prestasinya di bidang robotika,” terangnya disambut tepuk tangan, Jakarta, Senin (23/11) malam seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

Fans Gus Dur

Sebelumnya, Direktur Pendidikan Madrasah, ? M. Nur Kholis Setiawan selaku penyelenggara melaporkan bahwa perlombaan ini diikuti oleh 7 tim MI, 14 tim MTs, dan 22 tim MA.?

Fans Gus Dur

“Padahal awalnya kami petakan dan quotakan bahwa MI 10 tim, MTs, 12 tim dan MA 15 tim. MA yang paling banyak meledak. Melihat kondisi seperti ini, Festival dan Lomba Robotik harus diadakan setiap tahun,” ungkapnya.

Menurut M. Nur Kholis, kegiatan ini diselenggarakan dengan pertimbangan sudah banyak kompetisi robotika tingkat nasional maupun Internasional yang diikuti oleh para pelajar dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Selain itu, robotika juga telah menjadi trend di banyak sekolah unggulan di Indonesia. Namun masih banyak sekolah yang belum memiliki laboratorium robotika atau bahkan belum mengenal teknologi robotika.

“Ke depan, diprediksikan manusia akan semakin bergantung pada teknologi robot dan otomasi. Karenanya para pelajar perlu diperkenalkan dan diajari tentang teknologi robotika sejak dini,” kata M. Nur Kholis.

“Telah banyak pelajar Indonesia yang berprestasi dengan memenangkan berbagai kompetisi robot baik tingkat nasional maupun Internasional,” tambahnya.

Juara dua tingkat MI diraih oleh Ramadhan dan Asyam Sakhi Maulana ? dari MIN Demangan Kota Madiun, Jawa Timur. Sedangkan juara III diraih Siti Aisyah Kusuma Hadi dan Abiy Haidah Hakim dari MI Assalamah Pamulang, Banten.

Untuk tingkat MTs, juara I diraih Faisal Ibrahim Abussalam dan Zidan Wahyu Awaluddin dari MTs Tigaraksa Tangerang-Banten. Juara II diraih Angga Tri Setia dan Sultan Farrel Khansa dari MTsN 2 Kota Kediri. Sedangkan juara III diraih Muhammad Hilmy Raihan Azhari dan bizard Rahardiyanto Wahyudi dari MTsN Yogyakarta.

Untuk tingkat MA, juara I diraih Qisti Aulia dan Gipar Nawawi dari MAN Pangandaran Jawa Barat. Juara II diraih Arjun Mahendra dan Muhammad Ulil Azmi dari MAN 3 Jakarta. Sedangkan juara III diraih Putri Regina W dan M. Rafi Prasetyo dari MAN 3 Palembang.

Atas prestasi ini, masing-masing tim memperoleh piagam penghargaan dan uang pembinaan dari Direktorat Pendidikan Madrasah. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Berita, Humor Islam Fans Gus Dur

Sabtu, 21 Oktober 2017

Kiai dan Santri Sekarang Harus Lebih Semangat Bela Aswaja dan NKRI

Jakarta, Fans Gus Dur - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kang Said) mengimbau para kiai dan santri untuk memompa semangat dari para kiai terdahulu dalam memperjuangkan Islam Ahlussunah wal Jamaah dan mempertahankan keutuhan NKRI. Hari Santri merupakan momentum untuk bercermin pada semangat para kiai terdahulu.

Demikian disampaikan Kang Said setelah acara Pembacaan 1 Miliar Sholawat Nariyah yang dihadiri sedikitnya 40.000 massa di kompleks Pesantren Lirboyo, Jalan KH Abdul Karim, Lirboyo, Mojoroto, Kediri, Jumat (21/10) malam.

Kiai dan Santri Sekarang Harus Lebih Semangat Bela Aswaja dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai dan Santri Sekarang Harus Lebih Semangat Bela Aswaja dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai dan Santri Sekarang Harus Lebih Semangat Bela Aswaja dan NKRI

“Kita ingin menghidupkan kembali semangat untuk para kiai dan santri sekarang agar lebih giat daripada leluhur kita dan lebih percaya diri. Karena leluhur kita dulu berjuang apa adanya. Pendidikan mereka apa adanya. Sarana juga apa adanya,” kata Kang Said mengenang kondisi pesantren di masa penjajahan.

Fans Gus Dur

Pengasuh Pesantren Ats-Tsaqafah Ciganjur ini membandingkan kondisi pesantren di masa lalu dengan keadaan para kiai dan santri di masa kini. Menurutnya, kondisi masa kini kalangan pesantren jauh lebih baik daripada di masa lalu.

“Sementara kita sekarang, pendidikan lebih maju. Segalanya serba ada. Prasarana ada.”

Fans Gus Dur

Kita seyogianya lebih aktif daripada leluhur kita itu. Kita harus lebih semangat memperjuangkan Islam Ahlussunah wal Jamaah dan mempertahankan NKRI. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Ulama, Berita, Pahlawan Fans Gus Dur

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Fans Gus Dur sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Fans Gus Dur. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Fans Gus Dur dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock