Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Maret 2018

Gus Mus: Menyayangi yang Muda, Menghormati yang Tua

Jakarta, Fans Gus Dur 



Mustasyar PBNU KH A. Mustofa Bisri membagikan foto Mustasyar PBNU KH Maemoen Zubeir ketika disalami Alissa Wahid melalui akun Facebooknya. Ketika berita ini ditulis, Kamis (9/11) foto yang disebar 6 jam lalu itu telah dibagikan 300 akun lain, dikomentari puluhan akun, serta mendapat ragam reaksi dari 7,7 ribu akun. 

Kiai yang disapa Gus Mus itu menjuduli fotonya dengan dengan “Menyayangi yang Muda, Menghormati yang Tua.” Di foto itu tampak yang muda, Alissa Wahid mencium punggung telapak tangan yang tua, KH Maemoen Zubair.

Gus Mus: Menyayangi yang Muda, Menghormati yang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Menyayangi yang Muda, Menghormati yang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Menyayangi yang Muda, Menghormati yang Tua

Menurut Alisaa, foto itu diambil di sela-sela akad nikah Kahiyang Ayu dengan Bobby Nasution di kota Solo, Rabu (8/11). Di situasi ketat karena yang menikah putri seorang presiden, putri Gus Dur mengaku masih sangat semangat menemui kiai.

“Sampai yang motret ditegur protokol,” katanya ketika dihubungi Fans Gus Dur

Fans Gus Dur

Pada kesempatan itu kiai yang akrab disapa Mbah Moen sempat menanyakan kabar Alissa. Pada saat itu pula, Alissa meminta izin untuk sowan ke kediamannya.

“Saya matur bade sowan, beliau menyambut,” lanjut Alissa. 

Alissa juga menemui Habib Luthfi bin Yahya. Ia mengutarakan hal yang sama, mau matur dan sowan ke kediamannya, di Pekalongan. 

Fans Gus Dur

“Diminta datang tanggl 10 November,” pungkas Alissa. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Kajian Islam, Pondok Pesantren Fans Gus Dur

Minggu, 25 Februari 2018

10 Muharram, Pengurus MWCNU Banjit Serahkan Santunan Yatim

Waykanan, Lampung. Pengurus Majelis Wakil Cabang NU Banjit kabupaten Waykanan, Selasa (4/11), memberikan santunan kepada 74 anak yatim piatu di daerah setempat. Penyerahan sumbangan yang bertema “Kita Susun Hati Yang Sama Lewat Cahaya Alim Ulama, Santuni Yatim Hindari Dusta Agama” ini, dihadiri sedikitnta 2.000 warga.

"Rencananya yang mau diberikan kepada anak yatim piatu sebesar Rp 8 juta, namun hanya terkumpul Rp7 juta sekian. Sumbangan dari berbagai pihak," ujar Ketua MWCNU Banjit Paimo di Banjit, sekitar 220 km sebelah utara Kota Bandarlampung.

10 Muharram, Pengurus MWCNU Banjit Serahkan Santunan Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
10 Muharram, Pengurus MWCNU Banjit Serahkan Santunan Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

10 Muharram, Pengurus MWCNU Banjit Serahkan Santunan Yatim

Menurut Paimo, panitia menyediakan 1.300 kursi. Namun tidak semua hadirin mendapat tempat duduk. Pada kesempatan ini, Paimo meminta maaf karena masih adanya anak yatim piatu di tiga kampung yang belum bisa dijangkau untuk disantuni.

Fans Gus Dur

"Kami mengumpulkan dana dari pengurus ranting, dan donatur dari berbagai tempat. Tapi maaf, ada tiga kampung di seberang sungai Way Besay yang belum bisa kami sentuh. Mohon doa dan dukungan agar tahun depan kami bisa menjalankan kegiatan sama dan bisa menjangkau seluruh kampung yang ada di Banjit," ujar Paimo.

Santunan yatim diselenggarakan di halaman MTs dan MA Guppi asuhan KH Sugeng Utomo.

Fans Gus Dur

"Saya mengapresiasi kegiatan dilakukan MWCNU Kecamatan Banjit," ujar Ketua PCNU Waykanan KH Nur Huda.

Pada kegiatan itu, panitia menggalang dana dari para hadirin. Pada kesempatan itu, terkumpul infaq sebesar Rp 4 juta lebih dari warga Nahdliyin yang menghadiri acara bakti sosial ini. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Budaya, Pesantren, Kajian Islam Fans Gus Dur

Sabtu, 10 Februari 2018

NU Belanda Prihatin Menguatnya Intoleransi di Barat

Den Haag, Fans Gus Dur - Belakangan ini ideologi populisme berbasis sentimen primordial kian menguat di berbagai penjuru dunia, termasuk di negara-negara dengan tradisi demokrasi dan hak-hak sipil yang kuat. Di benua Amerika Utara, tiga peristiwa penting yang baru-baru ini terjadi menggambarkan hal tersebut: kebijakan Presiden Trump mencegah warga negara dari tujuh negara Muslim masuk ke wilayah negara USA, pembakaran masjid di Texasm USA, dan penembakan membabi buta jamaah yang sedang shalat di sebuah masjid di Quebec, Kanada.

Seperti ditunjukkan oleh tiga peristiwa tersebut, populisme berbasis sentimen primordial telah berimbas pada menguatnya sikap intoleransi pada kelompok minoritas dan tindakan permusuhan terhadap para migran. Sayangnya, gejala semacam ini sekarang juga mulai merebak di Tanah Air.

NU Belanda Prihatin Menguatnya Intoleransi di Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Belanda Prihatin Menguatnya Intoleransi di Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Belanda Prihatin Menguatnya Intoleransi di Barat

Fenomena semacam di atas menjadi keprihatinan dan bahan refleksi dalam tasyakuran peringatan Harlah Nahdlatul Ulama ke-91 yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Belanda belum lama (30/01). Acara ini berlangsung di kediaman KH Ade Syihabuddin, Syuriah PCINU Belanda di Den Haag, Belanda. Hadir dalam acara ini jajaran PCINU Belanda, warga Nahdliyin maupun para pelajar Indonesia yang sedang menempuh studi lanjut di Belanda.

Fans Gus Dur

“Kami sangat menyesalkan aksi intoleran dan kekerasan yang bermotif sentimen primordialisme di berbagai belahan dunia. PCINU Belanda menyikapi serius kejadian semacam ini. Untuk itu, kami kini sedang merancang kegiatan untuk mempromosikan Islam Nusantara sebagai Islam yang moderat di Indonesia,” kata M. Shohibuddin, Katib Syuriyah PCINU Belanda.

“Pada saat yang sama, kami juga menyadari bahwa gejala yang sama sekarang juga merebak di Tanah Air. Hal ini tentu harus menjadi bahan refleksi dan pemikiran-ulang bagi umat Islam di Indonesia, khususnya kalangan Nahdliyin,” jelasnya lebih lanjut.

Fans Gus Dur

Dalam kesempatan yang sama, Fachrizal Afandi, Ketua Tanfidziyah PCINU Belanda menyatakan tugas PCINU sebagai duta NU di luar negeri semakin berat dan menantang. Untuk itu, pelaksanaan Konferensi Cabang (Konfercab) PCINU Belanda yang kedua pada Maret 2017 mendatang akan dijadikan momentum untuk mempromosikan Islam Nusantara ke publik Barat.

“Islam Nusantara harus dipromosikan sebagai sumbangan Muslim Indonesia kepada tatanan dunia yang lebih damai dan harmonis. Islam Nusantara harus menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia dalam rangka menghilangkan Islamophobia di Dunia Barat,” kata kandidat Doktor di Leiden University ini menambahkan. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Kajian Islam Fans Gus Dur

Selasa, 06 Februari 2018

Pagar Nusa Klaten Masuk Sekolah dan Pesantren

Klaten, Fans Gus Dur. Pagar Nusa PCNU Klaten belum lama ini menjalin berbagai kerja sama dengan beberapa pihak seperti sekolah dan pesantren. kerja sama ini merupakan langkah konkret Pagar Nusa Klaten dalam mempersiapkan sistem pengembangan kader.

“Kita sudah menjalin dengan Ma’arif NU agar Pagar Nusa bisa dijadikan salah satu ekstrakurikuler di sana,” ungkap Ketua Pagar Nusa Klaten Ardani, saat ditemui Fans Gus Dur, di sela acara peringatan Hari Lahir (Harlah) Ke-30 Pagar Nusa di Lapangan Merdeka Delanggu, Klaten, Ahad (3/1) lalu.

Pagar Nusa Klaten Masuk Sekolah dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Klaten Masuk Sekolah dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Klaten Masuk Sekolah dan Pesantren

Tidak hanya pada lingkup Ma’arif atau NU, pihaknya juga berencana menjalin kerja sama dengan sekolah umum maupun negeri. “Untuk sekolah lain, kami juga sudah siap, apabila dari pihak mereka ada yang membutuhkan,” imbuhnya.

Fans Gus Dur

Selain masuk ke sekolah dan pesantren, Pagar Nusa Klaten yang kini anggotanya berjumlah sekitar 1.300 orang terus mendorong kadernya untuk bisa mengasah dan menggali potensi mereka.

“Beberapa kali kita kirim mereka ke berbagai kejuaraan. Alhamdulillah terakhir di Kejurda di Semarang, dua anggota kami, ada yang berhasil meraih juara ke-3,” ungkapnya. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Fans Gus Dur

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Tegal, Kajian Islam Fans Gus Dur

Minggu, 04 Februari 2018

Al-Quran Banyak Berisikan Maulid para Nabi

Karanganyar, Fans Gus Dur. Siapa bilang maulid nabi tidak ada dasarnya? Dalam Al Qur’an terdapat banyak sekali maulid (kisah) para Nabi. Banyak ayat yang menerangkan kisah maulid, diantaranya Nabi Musa, Maulid Nabi Sulaiman, dan Maulid Nabi Zakaria.

Al-Quran Banyak Berisikan Maulid para Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Quran Banyak Berisikan Maulid para Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Quran Banyak Berisikan Maulid para Nabi

“Kalau diteliti pasti ada. Bukan tidak ada, tapi kalau hanya dilihat teksnya saja tidak akan kelihatan,” terang Rais A’am Jam’iyyah Ahlith Thoriqah Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (JATMAN), Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Selasa (2/5) lalu, di Pesantren Al-Inshof Plesungan Karanganyar.

Keterbatasan akal dalam memahami teks Qur’an, menjadi salah satu penyebab kesalahan dalam menafsirkannya. Dijelaskan oleh Habib Luthfi, Al-Quran dapat diibaratkan sebagai lautan yang luas, sedangkan akal manusia seumpama hanya seujung rambut.

Fans Gus Dur

“Jadi akal yang masuk Al-Qur’an, bukan Al-Quran yang dimasukkan ke akal,” tegasnya.

Fans Gus Dur

Mursyid Thariqah itu mencontohkan kisah Nabi Sulaiman as dengan Burung Hud-Hud. Burung Hud-Hud mengabarkan bahwa ia baru terbang dari sebuah tempat, yakni Kerajaan Saba’. Kabar dari seekor burung, yang tak berakal, dipercayai oleh Nabi Sulaiman.

Pun ketika Nabi Sulaiman hendak memindahkan singgasana milik Ratu Kerajaan Saba’, Bilqis. Salah seorang dari pasukannya yang juga seorang waliyullah, Ahsif bin Balya, menyanggupi perintah tersebut hanya dalam hitungan kejapan mata. Dua hal tersebut, apabila dicerna hanya dengan akal, tentu tidak dapat dipercaya.

Selain menerangkan tentang Maulid, seperti biasa Habib juga memberikan wejangan untuk selalu menjaga NKRI dan UUD 1945. Hal tersebut selaras dengan tema yang diusung, “Dengan Maulid Nabi saw, Kita Tingkatkan Karakter Bangsa, Demi Persatuan dan Kesatuan NKRI”.

Pada kesempatan itu, Habib Luthfi menandatangani peresmian Gedung Kanzus Sholawat yang didirikan di kompleks Pesantren Al-Inshof, disaksikan Wakil Bupati dan Kapolres Karanganyar, serta ribuan jamaah yang hadir.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Pemurnian Aqidah, Humor Islam, Kajian Islam Fans Gus Dur

Sabtu, 03 Februari 2018

Ketika Tiga Ulama Besar Melamar Rabi’ah al-‘Adawiyah

Nama Rabi’ah al-’Adawiyah harum di mata banyak orang. Kealimannya, kerendahhatiannya, dan hidup zuhudnya seolah memunculkan magnet yang menarik banyak kalangan untuk mengaguminya sebagai perempuan sufi yang tak biasa. Tak hanya masyarakat awam, kekaguman tersebut ternyata juga dimiliki para ulama besar yang sezaman.

Tak heran, ketika ulama perempuan ini berstatus janda lantaran sang suami wafat, banyak ulama yang berusaha melamarnya untuk menjadi pendamping hidup. Dalam kitab Durratun Nashihin diuangkapkan, para ulama ternama yang terpikat hatinya itu antara lain Hasan al-Bashri, Malik bin Dinar, dan Tsabit al-Banani.

Ketika Tiga Ulama Besar Melamar Rabi’ah al-‘Adawiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Tiga Ulama Besar Melamar Rabi’ah al-‘Adawiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Tiga Ulama Besar Melamar Rabi’ah al-‘Adawiyah

Ketika para ulama tersebut suatu hari datang ke kediaman Rabi’ah al-’Adawiyah dan mengutarakan maksud tulus mereka untuk meminang, dari balik hijab Rabi’ah berujar, “Baiklah, tapi aku ingin tahu, siapakah di antara kalian yang paling alim, maka aku akan bersedia menjadi istrinya.”

Fans Gus Dur

“Dialah Hasan al-Bashri,” sahut Malik bin Dinar dan Tsabit al-Banani. Suasana “persaingan” merebut hati Rabi’ah ternyata tak menghalangi mereka untuk tetap tawadhu’ satu sama lain.

Fans Gus Dur

Rabi’ah pun mulai mengajukan persyaratan kepada Hasan al-Bashri. “Jika Tuan mampu menjawab empat masalah yang aku ajukan maka aku bersedia menjadi istri Tuan.”

“Silakan, wahai Rabi’ah. Semoga Allah memberi taufiq kepada aku dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan itu,” balas Hasan al-Bashri.

“Menurut Tuan, kalau aku meninggal dunia, apakah kematianku dengan membawa ketetapan iman atau tidak?”

“Maaf, hal ini termasuk hal yang ghaib, dan tiada yang tahu pasti kecuali Allah,” jawab Hasan al-Bashri.

Rabi’ah melanjutkan, “Ketika aku bersemayam dalam kubur, lalu malaikat Munkar dan Nakir bertanya, menurut Tuan, mampukah aku menjawabnya?”

“Maaf, itu juga termasuk masalah ghaib. Yang tahu hanyalah Allah.”

“Menurut Tuan, ketika manusia dihimpun di hari Kiamat kelak, aku termasuk orang yang menerima kitab amal dengan tangan kanan ataukah kiri?”

Hasan al-Bashri masih mengutarakan jawaban yang sama. Ia tak dapat menjawab masalah yang ia nilai ghaib itu.

“Menurut Tuan, ketika manusia dipanggil, aku termasuk golongan orang yang masuk surge atau neraka?”

Lagi-lagi Hasan al-Bashri meminta maaf dan mengembalikan kepastian atas jawaban tersebut kepada Allah. Ia tahu, Rabi’ah adalah tokoh dengan ketaatan dan prestasi ruhani yang luar biasa. Tapi untuk urusan nasib kehidupannya kelak, Hasan tak mau memberi penilaian. Hasan menghindar dari apa yang menjadi hak prerogatif Allah.

“Bagi orang yang sedang kalut memikirkan empat masalah ini, mana ada kesempatan untuk berumah tangga?” kata Rabi’ah.

Para ulama itu pun meneteskan air mata dan keluar dari rumah Rabi’ah al-’Adawiyah dengan penuh penyesalan. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Fragmen, Nusantara, Kajian Islam Fans Gus Dur

Rabu, 31 Januari 2018

Rais Aam PBNU: Islam Nusantara, Solusi Peradaban Dunia

Jakarta, Fans Gus Dur ? ? ?

Rais Am PBNU KH A Mutofa Bisri berpendapat, di Nusantara Islam dikembangkan dan dipelihara melalui jaringan para ulama Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) yang mendalam ilmunya sekaligus terlibat secara intens dalam kehidupan masyarakat di lingkungan masing-masing.

Rais Aam PBNU: Islam Nusantara, Solusi Peradaban Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam PBNU: Islam Nusantara, Solusi Peradaban Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam PBNU: Islam Nusantara, Solusi Peradaban Dunia

Maka masyarakat muslim yang terbentuk adalah masyarakat muslim yang dekat dengan bimbingan para ulama sehingga peri hidupnya lebih mencerminkan ajaran Islam yang berintikan rahmat. “Islam Nusantara adalah solusi untuk peradaban,” kata kiai penyair yang akrab disapa Gus Mus ini.

Lebih lanjut pengasuh Pondok Pesantren Leteh Rembang ini menerangkan,? Islam Nusantara yang telah memiliki wajah yang mencolok, sekaligus meneguhkan nilai-nilai harmoni sosial dan toleransi dalam kehidupan masyarakatnya.

Fans Gus Dur

Hal itu menurutnya, karena para ulama Aswaja memberikan bimbingan dengan ilmunya yang mendalam, dan kontekstual, serta mengedepankan kebersamaan dan persatuan masyarakat/bangsa secara keseluruhan.

Ia katakan, Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 serta bersendikan Bhinneka Tunggal Ika, secara nyata merupakan konsep yang mencerminkan pemahaman Islam ahlus sunnah wal jama’ah yang berintikan rahmat.

Fans Gus Dur

“NU didirikan untuk memelihara kebersamaan para ulama Aswaja di Nusantara dalam membimbing umatnya,” tutur budayawan ini.

Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Dalam makalahnya di acara Diskusi Panel bertema Indonesias Role In Addressing Global Islamist Extremism? yang diselenggarakan oleh Jakarta Foreign Correspondents Club (JFCC) di Jakarta, Kamis (28/5), Gus Mus menyampaikan langkah penanganan masalah ekstremisme keagamaan kepada? pemerintah.

Ia memaparkan, pemerintah perlu memahami bahwa Islam Nusantara yang teduh yang telah menjadi wajah Indonesia, sungguh telah sesuai dengan ajaran dan contoh Pemimpin Agung Muhammad SAW. Bahwa pemahaman agama dalam keberagamaan (harmoni sosial dan toleransi) seperti yang ada di Indonesia selama ini, saat ini sangat diperlukan oleh dunia yang penuh kemelut ini.

“Pemerintah perlu juga kokohnya sistem nilai Islam Nusantara, mengingat mayoritas warganya beragama Islam dan wajib dijaga dari ancaman propaganda ekstremisme,” tuturnya.

Hal berikut yang perlu dilakukan pemerintah adalah menyadari bahwa Indonesia dapat memainkan peran amat penting dalam upaya perdamaian dunia dengan menawarkan nilai-nilai Islam Nusantara sebagai model untuk umat Islam di seluruh dunia.

Dituturkannya, Nahdlatul Ulama telah dan akan terus bergerak mendakwahkan nilai-nilai Islam Aswaja demi perdamaian dunia. NU juga mengupayakan konsolidasi para ulama Aswaja seluruh dunia serta menjalin kerja sama dengan berbagai pihak secara Internasional.

“Di Tanah Air, jelas Nahdlatul Ulama tak henti-hentinya berjuang membimbing umat dan menjaga keselamatan negara. Di kancah Internasional, Nahdlatul Ulama tidak menunggu pihak mana pun untuk mengambil langkah-langkah strategis,” paparnya dalam diskusi di depan awak media asing tersebut.

Di akhir presentasinya Gus Mus membeberkan pengembangan organisasi dan kerjasama yang telah dilakukan NU. Yakni menginisiasi terbentuknya perkumpulan ulama ahlussunnah wal jama’ah di Afghanistas yang kemudian menamakan dirinya sebagai “Nahdlatul Ulama Afghanistan” dan bersepakat memegangi prinsip-prinsip tawassuth (moderat), tasaamuh (toleran), tawaazun (berimbang/obyektif), i’tidal (adil), dan musyaarakah (kebersamaan dalam masyarakat), persis dengan NU.

“Kerja sama juga telah dirintis bersama Universitas Wina, Austria, di bawah kepemimpinan Prof Dr Rüdiger Lohker, untuk membangun suatu pusat penelitian terapan (applied research) dalam rangka strategi menghadapi ekstremisme agama,” pungkas dia.

Panelis lain dalam acara tersebut adalah Dekan Fakultas Sains Islam Universitas Al Azhar Mesir, Prof. Dr. Abdel-Moneem Fouad, mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah Prof? Dr Azyumardi Azra, dan guru besar studi Islam University of? Venna? Prof. Dr. Rudiger Lohlker. (Ichwan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Hikmah, Kyai, Kajian Islam Fans Gus Dur

Sabtu, 20 Januari 2018

Thariqat NU Gelar Dzikir Akbar dan Mawlid

Jakarta, Fans Gus Dur
Jamiyah Ahlith-Thariqah al-Mutabarrah an Nahdliyyah akan menggelar Dzikir akbar dan Mawlid bersama Ketua Majlis Tinggi Islam Amerika (ISCA) Shaykh Muhammad Hisham Kabbani.

Acara yang akan digelar Ahad, (17/7) pukul 07:30-10:30 WIB itu juga dihadiri oleh Rois Am Jamiyah Ahlith-Thariqah al-Mutabarrah an Nahdliyyah, Habib Luthfi bin Yahya, para Habaib serta Ulama Indonesia dan para pengikut thariqat Naqsyabandiyah yang ada di tanah air. Rencananya acara bertempat di Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia Jakarta.

Shaykh Hisham dikenal memiliki jutaan pengikut yang tersebar di beberapa negara. Ia seorang Ulama Ahl-sunnah wal jamaah dengan wawasan dan pengalaman luas, serta memiliki pengaruh dakwah yang signifikan baik di tempat asalnya Beirut, dan Internasional. Beliau adalah keturunan Nabi Muhammad SAW baik dari jalur Ayah ataupun Ibunya.

Di Indonesia Syaikh Hisyam dikenal sebagai pemimpin tinggi tharikat Nasqabandiah yang berpengaruh luas di Indonesia, Malaysia dan beberapa negara lainnya. Kedatangannya ke Indonesia bukan yang pertama kali, sebelumnya, dalam Acara seminar International Conference of Islamic Scholars (ICIS) yang digagas NU akhir Februari lalu, Hisyam Kabbani sempat memimpin doa bersama Prof. Wahbah Zuhaili (Syria) dan Ayyatullah Thaskiri (Iran).

"Istighotsah itu bukan kepentingan NU semata, namun akan mendoakan masyarakat dan negara Indonesia juga, bahkan untuk perdamaian dunia. Jadi, istighotsah bukan sekedar kepentingan NU, tapi bangsa, negara, dan dunia," kata panitia penyelenggara dalam siaran persnya yang dikirim ke Fans Gus Dur, Kamis, (14/7).

Ditambahkan panitia, acara ini terselenggara berkat kerjasama Jamiyah Ahlith-Thariqahal-Mutabarrah an Nahdliyyah, Manajemen Masjid Baitul Ihsan Jakarta, dan Yayasan Haqqani Indonesia.(cih)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Kajian Islam, Amalan, Tokoh Fans Gus Dur

Thariqat NU Gelar Dzikir Akbar dan Mawlid (Sumber Gambar : Nu Online)
Thariqat NU Gelar Dzikir Akbar dan Mawlid (Sumber Gambar : Nu Online)

Thariqat NU Gelar Dzikir Akbar dan Mawlid

Jumat, 12 Januari 2018

Karya Rois Aam PBNU Dibaca di Mesir dan Hadhramaut

Jakarta, Fans Gus Dur. Kitab Thariqatul Hushul ala Ghayatil Wushul dipelajari di luar negeri. Karya Rois Aam PBNU KH MA Sahal Mahfudz yang kerap disapa Embah Sahal ini beredar di Mesir dan Hadhramaut. Ulama dan para pelajar di dua negara itu menjadikan karya Embah Sahal sebagai bahan pelajaran dan rujukan.

Karya Rois Aam PBNU Dibaca di Mesir dan Hadhramaut (Sumber Gambar : Nu Online)
Karya Rois Aam PBNU Dibaca di Mesir dan Hadhramaut (Sumber Gambar : Nu Online)

Karya Rois Aam PBNU Dibaca di Mesir dan Hadhramaut

Demikian dikatakan putra Rois Aam PBNU Embah Sahal, H Abdul Ghofarrozin yang kerap disapa Gus Rozin dalam kajian rutin Kamisan di kantor redaksi Fans Gus Dur, Gedung PBNU lantai lima, jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (21/11) sore.

“Waktu temani bapak ke Hadhramaut, kita dikabari bahwa Thariqatul Hushul sudah masyhur bagi ulama dan santri di negeri itu,” ujar Gus Rozin yang menemani Embah Sahal mengunjungi kediaman Habib Umar dan sejumlah pesantren di kota Tarim.

Fans Gus Dur

Kenyataan itu juga mengejutkan Embah Sahal. Karena, seingatnya kitab itu tidak dicetak secara massif. Gus Rozin sendiri tidak mengetahui sampainya kitab itu di Mesir atau Hadhramaut. Hanya saja ia menduga sampainya kitab itu di luar negeri berkat santri-santri Indonesia yang melanjutkan pendidikannya di sana.

Fans Gus Dur

Baru kitab Thariqatul Hushul yang kami tahu menyebar di sana. Selain kitab itu, mungkin saja karya lain Bapak dan kiai Indonesia juga dikaji di sana, tandas Gus Rozin. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Ubudiyah, Kajian Islam Fans Gus Dur

Rabu, 10 Januari 2018

Perkokoh Silaturahim, Pengurus-Alumni IPNU se-Bandung Raya Bertemu

Bandung, Fans Gus Dur. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) se-Bandung Raya mengadakan silaturahmi dan diskusi dengan Majelis Alumni IPNU. Hadir pada kesempatan itu IPNU Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung, Cimahi, dan Sumedang.

Perkokoh Silaturahim, Pengurus-Alumni IPNU se-Bandung Raya Bertemu (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkokoh Silaturahim, Pengurus-Alumni IPNU se-Bandung Raya Bertemu (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkokoh Silaturahim, Pengurus-Alumni IPNU se-Bandung Raya Bertemu

Kegiatan bertema "Membangun kader, mengembangkan jaringan di atas kebersamaan yang kokoh" tersebut berlangsung di Gedung PW NU Jawa Barat Jl. Terusan Galunggung, Kota  Bandung Jumat 26 September.

Menurut siaran pers yang dikirim PC IPNU Kota Bandung, Senin (29/9) kegiatan tersebut adalah sarana pertemuan pengurus IPNU se-Bandung Raya dengan para alumni IPNU demi memperkokoh barisan “barisan” pelajar NU, di Bandung khususnya.

Fans Gus Dur

Pada kesempatan tersebut beberapa alumni IPNU yang hadir adalah H. Basukhi, Ahmad Satari, Abdussani Ramdhani, Abdul Rozak, Ganjar, H. Asep Mamun, Rekan Fauzul.

Fans Gus Dur

Pada kesempatan tersebut hadirin sepakat untuk tetap berjuang dan beristikomah dalam kaderisasi serta mempertahankan ajaran wali Allah, guru-guru dan pendahulu. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Kiai, Halaqoh, Kajian Islam Fans Gus Dur

Senin, 08 Januari 2018

Tidurlah Dulu Baru Shalat

Dunia dan segala macam isinya diciptakan oleh Allah swt untuk manusia, termasuk juga malam dan siang. Sebagian besar manusia mefungsikan siang untuk mencari nafkah dan menjalankan berbagai beraktifitas, dan memanfaatkan malam untuk beristirahat.

Malam yang gelap tanpa terik mentari sengaja dicipta agar tidak menyilaukan mata, agar manusia mudah terlelap dan malam menjadi sunyi. Bumi akan beristirhat melayani kebutuhan manusia. Berbeda ketika waktu telah berganti dengan siang yang terang. Panas matahari penuh energi mendukung segala aktifitas manusia, bumi kembali ramai dengan kehidupan dan kesibukan.

Namun tidak demikian, bagi sebagian orang malam yang sunyi menjadi ruang yang paling berharga. Kesunyian malam menjadi suasana yang paling kondusif membangun harmoni antara manusia dan Allah Yang Maha Kuasa. Di balik kesunyiannya, malam menyimpan seribu hikmah, apalagi sepertiga terakhir malam hari.Rasulullah saw bersabda yang diriwayatkan dari Abu Hurairah :

“ketika malam tinggal sepertiga, Allah swt turun ke langit dunia dan berkata:  barang siapa yang meminta padaku akan Ku kabulkan permintaannya, siapa yang minta ampunan akan Ku ampuni, siapa yang minta rizqi akan Ku beri, siapa yang minta dihindarkan dari keburukan akan Ku hindarkan hingga fajar tiba”

Tidurlah Dulu Baru Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tidurlah Dulu Baru Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tidurlah Dulu Baru Shalat

Ketika dunia sunyi, Allah swt membuka kesempatan pada siapapun yang hendak berkomunikasi dengannya. Demikianlah Rasulullah saw membagi malam menjadi tiga. Sepertiga pertama digunakannya waktu istirahat (tidur), sepertiga kedua difungsikannya untuk shalat, dan sepertiga terakhir adalah waktu Rasulullah saw berdzikir (mengingat-Nya), demikian bunyi haditsnya:

? ? ? ?, ? ?, ? ?, ? ? ?

Demikian keistimewaan ibadah di malam hari dibandingkan siang, seperti keutamaan shadaqah sirri (secara rahasia) yang mengalahkan shadaqah ‘alaniyah (secara terang-terangan).

Fans Gus Dur

Mengenai keutamaan sepertiga malam terakhir ini, Rasulullah saw juga pernah bertanya kepada Jibril? ? ?  mana malam yang didengar Allah? Jibril menjawab “? ? ? ? ? “ sesungguhnya ‘arsy bergetar di waktu sahur.

Begitu pentingnya shalat disepertiga terakhir malam sehingga Rasulullah saw pernah bersabda:

Fans Gus Dur

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ?  

Shalat dua rak’at di sepertiga malam terakhir lebih baik dari dunia seisinya. Andaikan aku tidak khawatri memberatkan umatku, pastilah akan kuwajibkan shalat tersebut atas mereka.

Demikianlah berbagai fadhilah sepertiga malam yang sangat menggiurkan siapapun yang ingin mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Meski demikian harus diperhatikan bahwa jasmani manusia sangat terbatas. Semangat yang tinggi harus diimbangi dengan kondisi badan yang baik, sehingga keinginan mulia untuk bangun malam dapat terlaksana. Membagi waktu adalah kunci segalanya. Karenanya sebuah solusi dari para ulama adalah menyempatkan diri tidur di siang hari, mengorbankan sedikit waktu demi kesuksesan bangun di waktu malam.  

Andaikan memang tidak ada kemampuan untuk mendirikan shalat di sepertiga malam, janganlah dipaksakan. Rasulullah saw menghimbau sebaiknya dituntaskan dulu rasa ngantuknya, tidurlah lagi. Baru kemudian laksanakan shalat malam. Begitu perintah Rasulullah saw dalam haditsnya:

? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Jikalau engkau mengantuk dalam keadaan shalat, maka berbaringlah hingga hilang rasa kantukmu. (karena) jikalau engkau shalat dan mengantuk jangan-jangan kamu (bermaksud) minta ampunan tetapi kamu (malah) mencelakakn dirimu sendiri.

Demikian pula yang dilakukan oleh Rasulullah saw kepada Zainab ketika mengetahui ada tali yang dipergunakan untuk mengikatnya ketika shalat, Rasulullah pun mengatakan shalatlah engkau ketika trengginas, dan duduklah tatkala malas.

Sesungguhnya tidak ada paksaan dalam ibadah, bahkan semangat yang menggebu-gebu dalam ibadah harus ditinjau ulang. Dalam hal ini kondisi tubuh perlu dipertimbangkan. Demikian keterangan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dalam al-Ghunyah, li Thalibiy Thariqil Haqqi Azza wa Jalla  (red. Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur PonPes, Kajian Islam Fans Gus Dur

Sabtu, 06 Januari 2018

Hj Khofifah: Negeri Ini Harus Belajar Banyak Nilai dari Pesantren

Jombang, Fans Gus Dur - Menteri Sosial RI Hj Khofifah Indar Parawansa mengimbau pejabat dan aparat negara untuk sejenak melihat kiprah pesantren. Menurutnya, pesantren menyimpan banyak pelajaran yang patut dijadikan pelajaran.

Demikian disampaikan Hj Khofifah pada peringatan satu abad Pesantren Bahrul Ulum di Gedung Serba Guna Hasbullah Said Tambakberas, Jombang, Ahad (15/5).

Hj Khofifah: Negeri Ini Harus Belajar Banyak Nilai dari Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Hj Khofifah: Negeri Ini Harus Belajar Banyak Nilai dari Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Hj Khofifah: Negeri Ini Harus Belajar Banyak Nilai dari Pesantren

"Negeri ini harus belajar banyak dari pesantren," katanya.

Fans Gus Dur

Pesantren telah banyak melahirkan tokoh berkharisma dan sangat berpengaruh terhadap tatanan kebangsaan. Hal ini disebabkan kontribusi pesantren tak diragukan dalam mendidik generasi bangsa.

"Negeri ini harus banyak belajar tentang nasionalisme, belajar tentang mencintai bangsanya. Dari pesantren lahirlah Presiden RI yang bijaksana, lahirlah Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), pahlawan nasional dan para pejabat lainnya," kata Khofifah.

Fans Gus Dur

Para santri di pesantren tentu telah diajarkan bagaimana mencintai negerinya dengan baik. Terlebih pendidikan cinta tanah air (hubbul wathan) merupakan salah satu cara kiai untuk menanamkan keyakinan santri dalam berbangsa dan bernegara.

Seperti yang sering diungkapkan oleh Pendiri Pesantren Bahrul Ulum KH Abdul Wahab Hasbullah semasa hidupnya. "Hubbul wathon minal iman (mencintai negara adalah sebagian dari iman) itu sering sekali disampaikan oleh Mbah Wahab bahkan seakan-akan sudah diangap seperti hadits," ujarnya.

Dalam kesempatan itu ia juga menyampaikan budaya pesantren harus terus dilestarikan misalnya kajian sejumlah disiplin ilmu hendaknya terus menjadi keharusan tersendiri bagi santri agar menjadi generasi penerus bangsa yang cerdas. Tak kalah penting penguasaan santri terhadap bahasa asing.

Sebelumnya, Khofifah menyerahkan santunan kepada anak yatim dengan total santunan Rp. 60. 000. 000,- berupa uang tunai dan peralatan sekolah bersama Ketua Yayasan Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.

Kedatangannya disambut antusias baik dari pihak yayasan pesantren terkait, santri, pelajar, mahasiswa hingga jamaah Muslimat dan Fatayat NU dengan jumlah kurang lebih 1.000 peserta. Hampir seluruh ruangan penuh dengan peserta acara tersebut. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur PonPes, Kajian Islam, Tokoh Fans Gus Dur

Sabtu, 30 Desember 2017

Pesantren Kaliopak Gelar Pekan Peringatan 11 Tahun Wayang

Yogyakarta, Fans Gus Dur. Pesantren Kaliopak Bantul akan mengadakan “Pekan Peringatan 11 Tahun Wayang Pusaka Kemanusiaan Dunia (UNESCO 2003-2014)”. Pesantren yang terletak di jalan Wonosari Km 11 Klenggotan Srimulyo Bantul ini akan melangsungkan acara sejak 10 November 2014 hingga 6 Desember 2014.

Wayangpedia.com, Jum’at (7/11), menyebutkan, meskipun wayang merupakan khasanah seni tradisi yang sudah tidak asing lagi di Indonesia, namun fakta menunjukkan bahwa pemahaman dan pengahayatan terhadap wayang di tanah air justru semakin merosot.?

Pesantren Kaliopak Gelar Pekan Peringatan 11 Tahun Wayang (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Kaliopak Gelar Pekan Peringatan 11 Tahun Wayang (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Kaliopak Gelar Pekan Peringatan 11 Tahun Wayang

Berdasarkan pengalaman pesantren Kaliopak yang telah mengadakan dua kali pagelaran wayang 11 lakon, 11 dalang, dan 11 malam pada tahun 2011 dan 2013, banyak kalangan terutama kaum muda masih kesulitan memahami serta mengapresiasi wayang.

Fans Gus Dur

Berangkat dari kenyataan demikian, pesantren Kaliopak berupaya menumbuhkan, mewadahi, serta meningkatkan daya apresiasi anak muda terutama santri terhadap pagelaran wayang.

Kegiatan ini merupakan kerjasama Komunitas Rumah Budaya Nusantara Pesantren Kaliopak dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, serta dukungan Lesbumi, Kedaulatan Rakyat, Fans Gus Dur, JogjaReview.net, serta berbagai lembaga, individu, serta komunitas budaya peduli wayang.

Fans Gus Dur

Pekan Peringatan 11 Tahun Wayang Pusaka Kemanusiaan Dunia mempersembahkan Sarasehan Epos Mahabharata, Lakon-lakon wayang Jawa dan Filsafat Humaniora Barat: Dibaca Berdampingan, Seminar Nasional Wayang dan Krisis Manusia Nusantara, Belajar Bersama Wayang, Pesantren, dan Jati Diri Bangsa, Pameran Bentuk dan dan Komik Wayang, Lomba Mewarnai dan Dongeng Wayang, Wayang Edukatif, dan Pentas ? Seni ? Tradisi dan Modern Tunggal.

Pada 6 Desember 2014, pekan wayang ini ditutup dengan pagelaran wayang kulit. (Dwi Khoirotun Nisa’/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Fragmen, Pemurnian Aqidah, Kajian Islam Fans Gus Dur

Minggu, 17 Desember 2017

Gus Tutut: Jaga Perbatasan Bagian dari Jihad

Batam, Fans Gus Dur

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor H Yaqut Cholil Qoumas (Gus Tutut) mengatakan, bagi Gerakan Pemuda Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna, menjaga perbatasan adalah bagian dari jihad membela NKRI sebagaimana dicontohkan pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari saat mengeluarkan “Resolusi Jihad” membela tanah air pada tahun 1945.

Gus Tutut: Jaga Perbatasan Bagian dari Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Tutut: Jaga Perbatasan Bagian dari Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Tutut: Jaga Perbatasan Bagian dari Jihad

“Kader GP Ansor yang berada di daerah perbatasan adalah orang pertama yang berinteraksi dengan negara lain. Karena itu setiap kader GP Ansor harus mampu menjadi role model wajah Islam Indonesia yang ramah, santun, dan memberi rahmat ke seluruh alam,” pesan Gus Tutut saat menjadi inspektur pada upacara peringatan HUT Ke-71 RI di Pulau Putri, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (17/8) pagi.

Pada kesempatan tersebut, putra KH Cholil Bisri itu menyampaikan, upacara di pulau terluar ini adalah bagian dari komitmen GP Ansor untuk menjaga kedaulatan wilayah Indonesia.

Fans Gus Dur

Indonesia merupakan negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia dengan panjang garis pantai 54.716 kilometer. Indonesia juga merupakan negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17.000 pulau dan 92 pulau di antaranya adalah pulau terluar yang berbatasan dengan negara lain.

Fans Gus Dur

Provinsi Kepulauan Riau merupakan salah satu provinsi yang memiliki pulau terbanyak yang berbatasan dengan negara lain, di antaranya kepulauan Natuna, Bintan, dan lainnya.

“Letak geografis Indonesia yang strategis ditambah kekayaan alam yang melimpah sangat mudah memancing negara lain untuk menggangu dan mengintervensi NKRI, karenanya GP Ansor sebagai organisasi kepemudaan berbasis keagamaan terbesar di Indonesia sekali lagi berdiri paling depan untuk menjaga setiap jengkal tanah, laut, dan udara Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegas Gus Tutut yang disambut gemuruh tepuk tangan hadirin.

GP Ansor dan Banser, kata Gus Tutut, juga berkomitmen mendampingi masyarakat di perbatasan agar merasa terlindungi dari berbagai anasir-anasir jahat yang berusaha merongrong kedaulatan NKRI, terutama terkait radikalisme, terorisme, dan narkoba.

“GP Ansor berharap kehadiran kader-kader Ansor dan Banser di daerah perbatasan memberikan manfaat bagi masyarakat yang tinggal di perbatasan sehingga meningkatkan kecintaan mereka terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya.

Selain Gus Tutut, hadir pula dalam upacara yang diikuti oleh sekitar 350 anggota Banser itu Kepala Satkornas Banser H Alfa Isneini, Kepala Densus 99 Asmaul Husna H Zaman Nurzaman, serta beberapa anggota Satkorwil Banser Riau. (Imam Kusnin Ahmad/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Santri, Nahdlatul, Kajian Islam Fans Gus Dur

Senin, 11 Desember 2017

KH Hafidz Usman Meninggal Dunia

Jakarta, Fans Gus Dur. Inna Lillahi wa inna ilaihi rojiun. Kabar duka datang dari Bandung, Jawa Barat. Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hafidz Utsman meninggal dunia, Senin (20/10) hari ini, sekitar pukul 10.11 WIB.

KH Hafidz Usman Meninggal Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Hafidz Usman Meninggal Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Hafidz Usman Meninggal Dunia

Sesaat setelah mendengar kabar dari sekretariat PBNU, Fans Gus Dur menghubungi nomor telepon pribadi Kiai Hafidz. Dari kejauhan terdengar suara seorang putranya, Al-Maki yang membenarkan kabar duka itu.

Kabar meninggalnya Kiai Hafidz cukup mengejutkan karena sebelumnya ia masih sempat menjalankan ibadah haji dan dalam kadaan sehat wal afiyat. Al-Maki mengatakan, ayahnya meninggal dunia tanpa didahului sakit sedikitpun.

Fans Gus Dur

“Mewakili keluarga kami mohon maaf apabila beliau punya kesalahan. Kami juga mohon doanya,” katanya singkat.

Di kantor PBNU, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, KH Hafidz Usman adalah seorang ahli fiqih dan usul fiqih yang mulai langka di NU. Almaghfurlah adalah aktivis NU sejak muda hingga akhir hayatnya.

Fans Gus Dur

“Beliau pernah menjadi Ketua PWNU Jawa Barat dan Ketua MUI. Saat Gus Dur menjadi ketua umum PBNU beliau menjadi salah satu ketua. Pada periode Pak Hasyim beliau menjad rais syuriyah. Jasa beliau sangat banyak, antara lain mengawal Muktamar Cipasung. Beliau juga yang memimpin pengumpulan dan penerbitan hasil bahtsul masai NU sejak 1926,” katanya.

Katib Aam PBNU KH Malik Madani mengatakan, Kiai Hafidz adalah kader NU yang militan, ikhlas berjuang. “Kita kehilangan tokoh besar. Sulit dicari kader sehebat beliau. Mudah-mudahan beliau khusnul khotimah,” kata Kiai Malik Madani.

KH Hafidz Utsman lahir di Pandeglang Banten, 14 Januari 1940. Pada Muktamar NU 2010 di Makassar, ia menjadi pusat perhatian karena mendapatkan amanah sebagai ketua panitia nasional. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Kajian Islam Fans Gus Dur

Jumat, 01 Desember 2017

PBNU: Proses Berdemokrasi Jangan Dirusak dengan Isu SARA

Jakarta, Fans Gus Dur. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj memberi perhatian terhadap proses demokrasi yang sudah berjalan dengan baik di Indonesia. Namun, ia juga tidak memungkiri, demokrasi saat ini telah tercoreng dengan penggunaan isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan).

PBNU: Proses Berdemokrasi Jangan Dirusak dengan Isu SARA (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Proses Berdemokrasi Jangan Dirusak dengan Isu SARA (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Proses Berdemokrasi Jangan Dirusak dengan Isu SARA

Setidaknya menurut Kiai Said, isu SARA ini terlihat ketika perhelatan Pilkada Provinsi DKI Jakarta untuk memilih gubernur dan wakil gubernur 2017 lalu. Demokrasi yang jujur dan fair harus dijaga mengingat 2018 juga dihelat pilkada di 171 daerah dan 2019 memasuki pemilihan presiden dan legislatif.

Dalam berdemokrasi, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini menyayangkan sejumlah kelompok masih kerap menggunakan SARA, agama jadi isu untuk kepentingan politik sesaat.

“Demokrasi silakan, misal ada dua calon, nggak seneng ini gak usah dipilih, nggak seneng si A gak usah dipilih, gak seneng si B gak usah dipilih, buat apa harus menggunakan isu agama dan SARA, jangan sampai memburu kekuasaan yang hanya lima tahun tetapi merusak tatanan kebangsaan yang sudah berjalan bertahun-tahun,” tegas Kiai Said, Rabu (3/1) di Jakarta.

“Jadikan bangsa Indonesia dengan jumlah Muslim terbanyak di dunia sebagai kiblat perdamaian, budaya, peradaban bagi dunia internasional,” imbuhnya.

Fans Gus Dur

Bercermin dari kasus Pilkada DKI, lanjutnya, kontestasi politik dapat mengganggu kohesi sosial akibat penggunaan sentimen SARA, penyebaran hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian (hate speech).

“Dan ini semakin parah karena massifnya penggunaan internet dan media sosial,” ungkap guru besar ilmu tasawuf ini.

Maka, tandasnya, PBNU perlu mengimbau warganet (netizen) agar bijak dan arif menggunakan teknologi internet sebagai sarana menyebarkan pesan-pesan kebaikan dan perdamaian, bukan fasilitas untuk menjalankan kejahatan dan merancang permusuhan. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur

Fans Gus Dur Kajian Islam Fans Gus Dur

Senin, 20 November 2017

Kiai Ali Maksum dan Dinamisasi Teks-teks Klasik

Ketika bersantai bersama teman-teman guru dalam suatu obrolan seputar peran ulama, salah seorang dari mereka menyodorkan buku berjudul “Seratus Tokoh Islam Indonesia yang Paling Berpengaruh”. Penulisnya menempatkan KH Hasyim Asy’ari para posisi pertama, disusul kemudian berturut-turut tokoh pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan dan proklamator kemerdekaan Ir Soekarno. Yang menarik ketika membuka daftar isi buku itu adalah tercantumnya nama Kiai Haji Ali Maksum pengasuh pondok pesantren Krapyak Jogjakarta.

Beliau adalah menantu KH Muhammad Moenawwir , pendiri pondok tersebut, seorang ulama Al-Qur’an yang memiliki reputasi hebat, yang mana dari tangan beliau lahir ulama’-ulama’ sekaliber KH Arwani Amin Kudus, KH Muntaha..

Sebagai salah satu lulusan krapyak tentunya secara pribadi bangga mana kala pengasuhnya “dianggap” sebagai sosok yang memiliki pengaruh. Tidak main-main pengaruh itu dalam skala nasional. Namun sesaat kemudian terlintas pikiran “nakal” yaitu pertanyaan” apakah betul bahwa kiai Ali Maksum ini benar-benar  termasuk tokoh yang berpengaruh di Indonesia?

Kiai Ali Maksum dan Dinamisasi Teks-teks Klasik (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Ali Maksum dan Dinamisasi Teks-teks Klasik (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Ali Maksum dan Dinamisasi Teks-teks Klasik

Apakah penulis buku ini benar-benar telah melakukan penilitian serius untuk sampai pada kesimpulan bahwa tokoh Kiai Krapyak ini layak menjadi salah satu dari seratus orang yang berpengaruh!! Apa parameter yang dipakai penulis itu dan apa pula bidang yang telah dipengaruhi oleh kiai Ali ini, sehingga pembaca haqqul yakin bahwa Kiai Ali Maksum ini layak mendapat tempat sebagai tokoh paling berpengaruh. 

KH Ali Maksum adalah generasi kedua selevel dengan KH Wahid Hasyim. Beliau seorang putra dari ulama utara jawa tepatnya kota lasem Rembang jawa tengah yaitu KH Maksum. KH Maksum sendiri juga tercatat sebagai pendiri NU bersama para kiai Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah dan lainnya.

KH Ali beberapa tahun mondok di pesantren termas pacitan setelah sebelumnya belajar pada ayahnya sendiri. Studi beliau berlanjut ke makkah belajar dibawa asuhan ayah ataupun kakek sayyid Muahammad Al-Maliki. Menurut riwayat, Kiai Ali Maksum  belajar dimakkah kurang lebih 2 tahun saja.

Fans Gus Dur

Selama menjadi pengasuh di Pesantren Krapyak, Kiai Ali juga dipercaya mengajar di IAIN Sunan Kalijaga. Beliau pernah dipercaya menjadi team Lajnah Pentafsir Al-Qur’an. Adapun karir oraganisasi kiai Ali adalah menjabat Rais Aam NU periode 80an setelah Rais Aam KH Bisri Sansuri Jombang wafat.  Pengukuhan kepemimpinan Kiai Ali ini ketika generasi pendiri NU wafat, padahal pada saat itu tokoh-tokoh  NU yang kharismatik( bahkan) secara usia lebih senior dari beliau masih banyak, misalnya KH As’ad Samsul Arifin situbondo, dan KH Ali Mahrus Kediri.

Kiai Ali Maksum tidak diragukan tingkat keilmuannya. Beliau termasuk jenis ulama’ yang berangkat tidak dari bangku sekolah formal layaknya ulama’ sekarang. Justru intelektualitasnya beliau bangun dari pesantren.

Kiai Ali sudah kesohor sebagai calon ulama’ handal ketika belajar di Pesantren Termas. Saat itu beliau sudah mendapatkan julukan “Munjid” berjalan, kamus arab karangan non muslim. Beliau juga sedikit berbeda dari ulama’ kebanyakan. Beliau sangat gandrung terhadap logika dan ilmu mantiq. Diantara karya penting yang menjadi petunjuk bahwa kedepan beliau merupakan tokoh penting dan berpengaruh adalah bukunya yang berjudul “Mizanul Uqul fi Ilmil Mantiq” pertimbangan akal dalam ilmu mantiq. Hal inilah tidak mengherankan bila mana santrinya diajak membaca sebanyak-banyaknya kitab apapun dari madzhab apapun, seperti yang pernah dituturkan oleh KH Masdar Farid. Seorang peneliti Belanda Martin van Bruenesen mengklasifikasikan Kiai Ali sebagai kiai alim, sedangkan Kiai As’ad sebagai kiai kanuragan.        

Fans Gus Dur

Dalam salah satu tulisan Gus Dur yang berjudul “Baik Belum Tentu Manfaat”, beliau menceritakan satu saat bertanya kepada Kiai Ali Maksum tentang belajar di pesantren sembari melakukan “puasa ngrowot” , yaitu puasa meninggalkan makan nasi dan lauk bernyawa semisal ikan, telur, digantikan sekedar makan ketela dan sejenis umbi-umbi lainnya selama belajar. Gus Dur menyatakan bahwa makanan itu tentunya jauh dari gizi yang diperlukan bagi pertumbuhan dan berakibat lemahnya kemampuan santri selama mondok, namun mengapa dalam salah satu karya imam Al-Ghazali “laku” tersebut justru direkomendasinya selama proses belajar? 

Kiai Ali menjawab bahwa “pendapat (Al-Ghazali) itu baik tapi belum tentu manfaat”. Di sini oleh Gus Dur, Kiai Ali dianggap mampu melakukan dinamisasi yang diperlukan terhadap teks-teks klasik. Kiai Ali memahami kebaikan pendapat tersebut namun belum tentu manfaatnya khususnya untuk masa sekarang.

Hal yang tak kalah penting yang mendorong pentingnya posisi beliau dalam pentas nasional adalah momentum estafet kepemimpinan NU pasca wafatnya kiai Bisri Sansuri. Saat itu NU dalam tarikan yang sangat kuat antara NU politik dan NU kultural. Munculnya kelompok Cipete dan kelompok Situbondo menunjukkan indikasi tarik-menarik kepentingan yang sangat kuat saat itu. Bilamana dulu NU salah memilih pucuk pimpinan pengganti Kiai Bisri mungkin saja wajah NU tidak seperti sekarang. Nama-nama seperti KH Ahmad Siddiq, Gus Dur mungkin saja tidak muncul.

Yang menarik, suara-suara pembaharuan dari generasi ketiga NU yang moderat seperti KH Mustofa Bisri, KH Masdar Farid, Gus Dur adalah santri beliau sendiri. Begitu pula suara-suara ulama’sepuh saat itu kompak tertuju pada kiai Ali bahwa beliaulah yang paling cocok mengawal pembaharuan dalam tubuh NU.

Sekarang NU sudah dikenal oleh semua termasuk masyarakat luar. Penelitian tentang NU semakin banyak. Pemerintah nyaman menjalankan roda pemerintahannnya karena dukungan NU terhadap NKRI. Memang semua itu sumbangsih terbesar adalah Gus dur KH Ahmad Siddiq. Namun beliau berdua bekerja mengangkat harkat NU karena back up Kiai Ali Maksum.

Muktamar krapyak 89 menjadi saksi betapa kuatnya dukungan Kiai Ali pada duet kepemimpinan KH Ahmad Siddiq-Gus Dur dari suara ketidakpuasan sebagian kiai terhadap sepak terjang Gus dur selama ini.  Beliau yang mula-mula meredakan situasi internal NU. Beliau yang memberi ruang gerak bagi pikiran-pikiran segar bagi kebaikan NU. Pendek kata kiai Ali Maksum merupakan peletak dasar pikiran moderat NU yang sekarang ini merupakan mainstream NU secara umum.

 

Mohammad Yahya

Alumnus Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Lomba, Kajian, Kajian Islam Fans Gus Dur

Kamis, 16 November 2017

Jaga Aswaja dan NKRI, Banser Merangin Adakan Kursus Pelatih

Merangin, Fans Gus Dur. Selama lima hari, mulai Senin-Jumat, 25-29 Desember 2017, di Pondok Pesantren Sulthon Fattah, Kabupaten Merangin Jambi diadakan Kursus Pelatih (Suspelat) 1 dan Diklatsus Terpadu Dasar (DTD) Banser. Suspelat diikuti 24 peserta dari satuan koordinasi yang ada di Jambi dan Riau; sedangkan DTD diikuti oleh 120 peserta sebagai anggota baru di lingkungan Banser Kabupaten Merangin.

"Kita dari jajaran Pimpinan Wilayah GP Ansor Provinsi Jambi mengadakan Suspelat sebagai bagian dari program untuk peningkatan kualitas Banser secara keseluruhan, karena pertumbuhan kader di provinsi ini terus berkembang sehingga dibutuhkan kesiapan dari semua aspek," ungap Juwanda, Ketua PW GP Ansor Jambi, Senin (25/12).

Jaga Aswaja dan NKRI, Banser Merangin Adakan Kursus Pelatih (Sumber Gambar : Nu Online)
Jaga Aswaja dan NKRI, Banser Merangin Adakan Kursus Pelatih (Sumber Gambar : Nu Online)

Jaga Aswaja dan NKRI, Banser Merangin Adakan Kursus Pelatih

Ia menyebut Suspelat diikuti kader-kader potensial yang punya keahlian dan kemampuan untuk jadi pelatih Banser.

Kasatkorwil Banser Jambi Ali Murtada menambahkan ke depan potensi kader khususnya di Provinsi Jambi akan terus ditingkatkan dengan minimal 2 minggu sekali diadakan diklat di tiap-tiap kabupaten yang ada" 

Pengamatan Fans Gus Dur di lokasi kegiatan terlihat semangat para peserta dalam mengikuti materi yang disampaikan oleh pelatih dari Satkornas. 

"Kepelatihan, Keinstrukturan, Kependidikan dan Evaluasi serta RTL adalah bagian dari materi untuk Suspelat sehingga pelatih Banser harus mempunyai seni, inovasi, cerdas dan ber-akhlaqul karimah," kata Musa, Kasatkorcab Banser Kabupaten Merangin.

Fans Gus Dur



Diharapkan kegiatan tersebut melahirkan ghirah serta militansi para kader untuk mempertahankan ajaran Aswaja Annahdhiyah, menjaga Ansor Banser dan NKRI. (Herry BH/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur

Fans Gus Dur Kajian Islam Fans Gus Dur

Sabtu, 29 Juli 2017

Kesenian Jaran Kepang Ramaikan Lebaran Ketupat

Karanganyar, Fans Gus Dur. Warga desa Mojo kecamatan Mojogedang kabupaten Karanganyar tampak berdesak-desakan memenuhi jalan desa dalam rangka merayakan lebaran ketupat, Sabtu (2/8). Mereka berkerumun menyaksikan atraksi tarian kuda lumping yang tengah kesurupan.

Kesenian Jaran Kepang Ramaikan Lebaran Ketupat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesenian Jaran Kepang Ramaikan Lebaran Ketupat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesenian Jaran Kepang Ramaikan Lebaran Ketupat

Menurut penuturan salah satu warga setempat Karni, kesenian jaran kepang boleh dibilang sudah menjadi kesenian khas yang dihadirkan pada saat lebaran ketupat seperti ini.

“Biasanya selain pada momen lebaran ketupat tarian kuda lumping juga dimainkan pada saat bersih desa,” kata Karni menerangkan waktu pagelaran kuda lumping kepada Fans Gus Dur, Sabtu (2/8).

Fans Gus Dur

Bagi warga di sini, lanjut Karni, kesenian jaran kepang adalah tontonan yang sudah membudaya. “Jadi kalau ada atau mendengar ada jaran kepang biasanya warga daerah lain juga ikut berbondong-bondong menyaksikannya, dan itu sudah menjadi tradisi sejak jaman dulu.”

Sementara di jalan desa tampak beberapa orang menari dengan menunggang jaran kepang. Satu dari mereka yang mengenakan topeng berputar-putar mengelilingi para penari. Semakin lama, musik khas Jawa yang awalnya terdengar mendayu-dayu berubah tempo semakin cepat.

Fans Gus Dur

Salah seorang di antaranya mengentakkan cambuk. Sejak itu pemakai topeng yang kesurupan tidak segan-segan mengejar penonton. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Kajian Islam, Habib, News Fans Gus Dur

Jumat, 14 April 2017

Agama Mata Pedang

Oleh Ren Muhammad



Fenomena takfir (pangafiran) mewabah lagi di Jakarta. Sekelompok orang yang mengaku Muslim, sayangnya terlibat dalam pewabahan ini. Semua atribut keislaman, lebih tepatnya kearaban, melekat di tubuh mereka. Sedari tasbih, jubah, sorban, hingga pola ucap yang melulu terarabisasi. Namun bila menilik jalan pikiran mereka, kita seolah menyaksikan perulangan sejarah Islam generasi pertama (1 H/7 M).

Agama Mata Pedang (Sumber Gambar : Nu Online)
Agama Mata Pedang (Sumber Gambar : Nu Online)

Agama Mata Pedang

Peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan radliyallahuanhu adalah pemantik pertikaian umat Muslim generasi perdana. Latarnya, kekecewaan atas keputusan politik Ali. Bukan perbedaan keyakinan atau aqidah yang berseberangan.

Muawiyah yang bersaudara dengan Utsman, meminta Khalifah Ali bin Abi Thalib (pengganti Utsman) agar memberantas komplotan pembunuh itu. Keputusan Ali jauh dari tuntutan itu. Ia hanya mengizinkan hukum qishash (balas) pada si pembunuh saja. Urusan persaudaraan darah ini, kemudian merebak jadi perkara besar politik.

Fans Gus Dur

Muawiyah bangkit memberontak Ali sebagai pemimpin sah umat yang ditunjuk oleh dewan Ahlul Halli wa l-Aqdi (terdiri dari para Sahabat terpandang). Perang pun pecah. Sebagai pemimpin besar Islam kala itu, juga jenderal perang Rasulullah, Ali dan pasukannya nyaris menumpas Muawiyah bin Abu Sufyan.

Fans Gus Dur

Kekalahan Muawiyah urung terjadi setelah Amr bin Ash, komandannya, mengusulkan agar ia mengangkat mushaf (lembaran) al-Quran yang ditancapkan pada mata tombak. Ali mafhum. Mereka sepakat berdamai (tahkim-arbitrase). Efek dominonya adalah, kawanan kecil dari pasukan Ali yang kemudian malah membelot. Sejarahwan Islam menemukan catatan untuk mereka yang kemudian bernama Khawarij. Kata jamak dari kharij, yang artinya keluar dari barisan.

Target kelompok kecil ini hanya dua. Membunuh Muawiyah dan Ali. Berdasar keyakinan bahwa mereka pelaku dosa besar. Padahal latarnya jelas. Lagi-lagi, kekecewaan politik belaka. Mereka lupa, Nabi Muhammad Saw pernah dan teramat sering mengalami penindasan politik dari masyarakat Quraisy--kaumnya sendiri. Terutama ketika ia harus dengan lapang dada menandatangani Perjanjian Hudaibiyah. Berisi pelarangan memasuki tanah kelahirannya, Makkah, selama sepuluh tahun.

Pelajaran lain yang juga tak kalah penting adalah, saat Nabi Muhammad terusir dari Makkah dan kemudian mengamini tawaran sekelompok Yahudi yang meminta bantuannya membenahi Yatsrib (sekarang Madinah). Perjanjian itu kemudian dibalas dengan keislaman mereka secara sukarela, setelah Muhammad Saw berhasil memenuhi janjinya. Ia mengubah Madinah menjadi Munawarah. Kota yang berkilauan cahaya kebaikan. Jadi kotanya yang ia cintai, sebagaimana Makkah al-Mukarramah.

Berislam dalam Waktu



Jika kita belajar dari teori sejarah Ibn Khaldun (bapak ilmu sejarah dunia) tentang hukum siklus sejarah, maka demikian pula yang terjadi dalam riwayat panjang Islam masa ke masa. Muawiyah yang tampil sebagai pemenang lantaran gagal terbunuh oleh Khawarij, kemudian mendirikan dinasti baru bernama Umayyah. Dinasti yang bertahan hampir seabad ini, kelak dihancurkan Abu l-Abbas as-Saffah, keturunan Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim, paman Nabi Muhammad Saw dari jalur ayah.

Lembaran tulisan ini tidak dimaksudkan mengurai rantai sejarah Islam hingga hari ini. Tapi mari becermin pada apa yang terjadi di dunia kita sekarang. Suriah, Libya, Lebanon, Mesir, Sudan, Ethiopia, Afghanistan, Irak, Filipina, dan Indonesia, semua dilatari atas klaim benar-salah. Khususnya, upaya pembangkangan pada pemerintah (uli l-amri).

Terlepas dari pendomplengan isu adicita antara demokrasi Amerika dan komunis Rusia-China, para pelaku kekerasan berwacana Islam, kerap muncul dari barisan sakit hati politik. Jika dirunut rantai darah dan keguruannya, mereka akan terpaut dengan Ibn Muljam (pembunuh Khalifah Ali), Ibn Qayyim al-Jauziyah, Abdullah bin Abdul Wahab, Ibn Taymiyyah.

Golongan yang dinamai Esposito sebagai peminum ramuan mematikan (lethal coctail) ini, mengabaikan sepenuhnya misi besar kenabian Muhammad Saw yang diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia dan membawa rahmat bagi semesta alam. Kerana itulah mereka meyakini penuh bahwa kebenaran berpihak pada kubunya. Bukan pada kubu lain yang notabene juga Muslim.

Kebuntuan memahami Islam secara baik dan kaffah, jadi faktor lain pembentuk mereka. Bahkan ada satu sempalan lagi dari kaum Khawarij yang yakin betul bahwa persoalan besar manusia hari ini akan terjawab dengan mendirikan khilafah Islam. Romantisme buta ini jelas berbahaya. Mereka benarbenar menutup mata pada fakta dinasti kekhilafahan--non Khulafa ar-Rasyidun--yang sebagian besarnya berangkat dari pertumpahan darah.

Dalam kancah perpolitikan dunia modern pun, tak kurang banyaknya pemimpin negara-bangsa yang juga Muslim. Tapi kenyataannya, jauh panggang dari api. Muslim atau bukan, tak menjamin kualitas kepemimpinan. Tanpa tasbih, sorban, jubah, Sukarno berhasil meramu perjuangan bangsa kita merebut kemerdekaannya. Mandela yang bukan Muslim, berjaya di Afrika. Gandhi yang Hindu, jadi kecintaan India. Chavez yang Katolik, dipuja di Venezuela.

Agama dan ajarannya, memang bisa dijadikan sandaran pengelolaan kehidupan. Tapi bukan berarti para pemeluknya harus kehilangan kewarasan berpikir, dan kejernihan hati. Kehancuran sebuah bangsa di masa lalu, cenderung terjadi ikhwal kasus keributan agama yang ditunggangi pegiat politik yang berambisi kuasa. Nyaris semua agama dunia era kita, punya riwayat kelam seperti ini.

Semua ayat suci yang sudah diturunkan tuhan ke muka bumi, tak cukup hanya dijadikan korpus belaka. Ia memang berjarak dengan penganutnya secara ruang. Namun tidak secara waktu. Dalam Islam misalnya, ada ayat yang berbunyi, "Wa l-ashri. Inna l-insana lafi khusrin: Demi masa (waktu). Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian." (QS. al-Asr [103]: 1-2)

Jadi, kerugian terbesar manusia bukan terletak pada di ruang mana ia hidup. Melainkan seberapa cakap ia memeriksa rambatan waktu yang ia lalui dalam hidupnya. Bukan waktu lalu atau yang akan datang. Melainkan waktu kini. Di sini. Sekarang. Manusia wajib memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Jadi apa pun kita, waktulah yang kelak menentukan seberapa berkualitas hidup kita.

Keniscayaan ini yang menyita habis kehidupan para penganjur kebaikan pada setiap zaman. Mereka sadar dan paham betul, waktu pasti kan melindasnya. Maka tak ada pilihan lain kecuali hidup bersama waktu yang berawal tapi tak berakhir. Jalan terbaik mewujudkan itu adalah, menjadi agen kebaikan bagi manusia dan makhluk tuhan lainnya. Hanya dengan begitulah, nama mereka harum sepanjang masa. Hidup mereka pun abadi dalam sejarah manusia. []

Penulis adalah pendiri Khatulistiwamuda yang bergerak pada tiga matra kerja: pendidikan, sosial budaya, dan spiritualitas. Selain terus membidani kelahiran buku-buku, juga bertugas sebagai Pemimpin Redaksi Majalah ARKA.



Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Meme Islam, News, Kajian Islam Fans Gus Dur

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Fans Gus Dur sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Fans Gus Dur. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Fans Gus Dur dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock