Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2018

Ketua LPKNU : Galakkan Pesantren Siaga Bencana

Bandung, Fans Gus Dur

Bencana yang datang di Indonesia secara bertubi-tubi telah menimbulkan korban dengan jumlah yang luar biasa besarnya seperti yang terjadi di Aceh, Pengandaran Jogja dan lainnya. Besarnya korban tersebut salah satunya disebabkan oleh ketidaksiapan masyarakat dalam mengantisipasi terjadinya bencana.

Upaya untuk menghadapi bencana tersebut harus dilakukan oleh semua fihak, pemerintah, swasta, dan masyarakat. Ketua Lembaga Pelayanan Kesehatan Nahdlatul Ulama (LPKNU) Dr. Syahrizal Syarif PhD. mengungkapkan bahwa masyarakat atau komunitas memiliki peranan penting dalam mengantisipasi dan menangani terjadinya bencana.

Ketua LPKNU : Galakkan Pesantren Siaga Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua LPKNU : Galakkan Pesantren Siaga Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua LPKNU : Galakkan Pesantren Siaga Bencana

Nahdlatul Ulama yang memiliki banyak pesantren yang merupakan sumber rujukan masyarakat dalam berbagai hal bisa juga berperan dalam mengantisipasi terjadinya bencana. “Makanya sekarang harus digalakkan pesantren siaga bencana,” tandasnya dalam acara workshop Penanganan Bencana Berbasis Pesantren yang diselenggarakan oleh LPKNU di Bandung, Rabu.

Hal yang sama diungkapkan oleh Ketua PBNU HM Rozy Munir. Pesantren yang memiliki kohesifitas dan jaringan luas di seluruh Indonesia merupakan modal penting yang bisa digunakan untuk membantu mengatasi terjadinya bencana.

Sementara itu wakil rektor ITB bidang pendidikan Dr. Ir. Widyo Nugroho SULASDI mengungkapkan bahwa kondisi  alam Indonesia merupakan daerah rawan bencana. Karena itu kehidupan masyarakat harus dibangun dengan budaya hidup dengan bencana seperti gempa.

Ia mencontohkan negara Jepang yang sangat sering terjadi gempa dan masyarakat disana sejak usia dini sudah dikenalkan bagaimana menyelamatkan diri ketika terjadi gempa yang bisa datang sewaktu-waktu. Pemerintah juga telah mensosialisasikan standard prosedur yang harus dilakukan oleh penduduk ketika terjadi bencana seperti tsunami sehingga bisa meminimalisir jumlah korban.

Fans Gus Dur

Lemahnya kesadaran terhadap bencana juga diakui oleh wakil gubernur Jabar H. Nu’man Abdul Hakim yang membuka acara tersebut. Mantan aktifis PMII tersebut menceritakan saat terjadi gempa yang mengguncang Jakarta beberapa waktu lalu. Saat itu, ia sedang berada di gedung DPR RI. “Ada gempa, orang-orang malah lari ke lift, bukannya ke tangga darurat. Mereka tidak tahu protapnya (prosedur tetap) bagaimana kalau ada bencana,” tandasnya.

Kondisi yang terjadi di kalangan elit Indonesia ini tentu menimbulkan pertanyaan yang menggelitik. Jika elitnya saja tidak faham bagaimana menghadapi bencana, bagaimana dengan rakyatnya?

Fans Gus Dur

Banyak masalah yang belum terselesaikan dalam mengantisipasi terjadinya bencana di Indonesia. Banyak daeah yang belum memiliki peta rawan bencana, siapa yang berhak mengumumkan akan terjadinya suatu bencana sampai dengan masalah dana untuk mengatasi bencana.

Beberapa daerah yang sudah memiliki peta rawan bencana adalah Malang dan Jakarta. Sementara Padang sudah membuat perda untuk mengantisipasi terjadinya bencana yang diantara isinya adalah saat terjadi tsunami, gedung bertingkat tiga ke atas menjadi milik publik yang bisa diakses siapa saja sehingga setiap orang bisa berlindung disana dan radio-radio lokal dibawah koordinasi pemerintah.

Workshop kali ini merupakan rangkaian awal dari upaya mempersiapkan pesantren di daerah rawan bencana agar bisa membantu mulai dari mengantisipasi sampai dengan penanganan pasca bencana. Tiga pesantren yang masing-masing mewakili daerah rawan bencana, PP Nurul Islam Jember berkaitan dengan tsunami dan longsor, PP Darussalam Magelang berkaitan dengan gunung meletus dan PP Assidiqiyah Jakarta berkaitan dengan banjir dan kebakaran. Sejumlah badan otonom dan lembaga yang berkaitan dengan penanganan bencana juga terlibat dalam acara tersebut. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Kiai Fans Gus Dur

Sabtu, 24 Februari 2018

IPNU-IPPNU Kraksaan Salurkan Baju Layak Pakai

Probolinggo, Fans Gus Dur - Sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat kurang mampu, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo rutin menggelar bakti sosial. Salah satunya dengan menyalurkan baju layak pakai.

Dalam kegiatan ini, PC IPNU-IPPNU Kota Kraksaan menurunkan hampir semua jajaran pengurus. Baju layak pakai ini didapatkan dari hasil pengumpulan para pengurus mulai dari tingkat ranting hingga anak cabang se-Kota Kraksaan.

IPNU-IPPNU Kraksaan Salurkan Baju Layak Pakai (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Kraksaan Salurkan Baju Layak Pakai (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Kraksaan Salurkan Baju Layak Pakai

Ketua PC IPNU Kota Kraksaan Masrur Ghazali mengatakan kegiatan bakti sosial berupa penyaluran baju layak pakai ini merupakan salah satu aksi nyata dari para generasi muda sebagai wujud kepedulian kepada masyarakat kurang mampu yang ada di wilayahnya.

Fans Gus Dur

“Bagi orang kaya, baju ini tidak ada artinya apa-apa. Tetapi bagi masyarakat kurang mampu, baju seperti ini nilainya sangat berarti. Terlebih bagi mereka yang sudah kesulitan untuk mencari nafkah hidup keluarganya,” katanya, Rabu (14/9).

Menurut Masrur, kegiatan ini adalah bentuk rasa syukur kepada Allah SWT karena masih diberi kemampun untuk berbagi kebahagiaan kepada saudara yang membutuhkan bantuan.

“Mudah-mudahan pemberian baju layak pakai ini bisa memberikan manfaat bagi masyarakat. Sebab dengan adanya bantuan ini, setidaknya masyarakat tidak perlu repot-repot lagi memikirkan untuk membeli baju,” jelasnya.

Fans Gus Dur

Masrur menegaskan bahwa baju layak pakai yang diberikan kualitasnya masih bagus dan bukan pakaian yang sudah kusuh. Baju ini diberikan kemungkinan yang bersangkutan sudah tidak suka atau sudah tidak muat lagi.

“Kalau kualitasnya masih bagus dan layak pakai. Intinya kami ingin berbagi kebahagiaan dan senyuman kepada saudara-saudara kita yang berada di bawah garis kemiskinan,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Kiai, Olahraga Fans Gus Dur

Rabu, 14 Februari 2018

Gemuruh Manaqiban di Jakarta

Jakarta, Fans Gus Dur. Awan pekat menggelayut di langit Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, Sabtu (24/2) petang. Selepas sembahyang isya’ hujan deras pun jatuh, beradu kencang dengan suara manaqiban di kompleks Pesantren As-Sholihin al-Abror Rorotan.

"Allahumma-nsyur nafahatir ridlwani alaihi. Wa-amiddana bil asraril lati audatahaa ladaihi. (Ya Allah, hamparkan semerbak harum ridha-Mu kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Tolonglah kami dengan rahasia-rahasia yang Engkau titipkan kepadanya).”

Gemuruh Manaqiban di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Gemuruh Manaqiban di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Gemuruh Manaqiban di Jakarta

Ratusan jamaah dari berbagai arah berangsur memadati kompleks pesantren sejak sore. Dengan pakaian serba putih, mereka membentuk saf-saf sambil duduk bersila. Masyarakat yang terdiri dari remaja dan orang tua ini sedang memperingati haul Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.

Fans Gus Dur

Lebih dari satu jam mereka melantunkan bacaan manaqib dengan dipimpin seorang kiai. Seolah tak peduli akan cuaca langit, jamaah laki-laki dan perempuan secara serentak menyelesaikan sejumlah kisah teladan tokoh sufi yang mereka hormati itu.

Fans Gus Dur

Dalam manaqib tersebut di antaranya digambarkan bahwa Syaikh Abdul Qadir termasuk pecinta? ilmu sejati. Selama puluhan tahun pribadi kelahiran dusun terpencil bernama ”Jilan” ini rela berjalan ke berbagai pelosok negeri menjumpai ulama-ulama besar untuk berburu ilmu fiqih, adab, tafsir, aqidah, dan lainnya.

Syaikh Abdul Qadir diceritakan pula merupakan ulama yang menolak mengagungkan manusia lantaran kedudukan dan kekayaannya. Merendahkan diri di hadapan penguasa dan orang kaya dapat menghilangkan dua pertiga agamanya. Sikap ini justru mengangkat derajat kehormatan Syaikh Abdul Qadir. Sebaliknya, ia malah sering dikunjungi khalifah yang membutuhkan petunjuk-petunjuknya.

Masih banyak petikan inspiratif dari manaqib yang dibaca para santri dan masyarakat dalam dan luar pesantren As-Sholihin al-Abror ini. Kiai Mukhlis Fadlil, pemimpin pembacaan manaqib, mengatakan, manaqib memang seyogianya tak hanya dibaca, tapi juga dihayati dan diamalkan.

Di depan sejumlah botol berisi air mineral yang sengaja dibuka dan dijajar sejak awal, manaqiban ditutup dengan doa. Taushiyah agama kemudian digelar. Sebagai penceramah, Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi menjelaskan antara lain tentang keutamaan ilmu, ulama, dan akhlak.

Untuk kedua kalinya doa dipanjatkan sebelum jamaah menyantap nasi dan ayam sumbangan mereka sendiri. Satu nampan hidangan dihabiskan secara bersama oleh dua hingga empat orang. Sebagaimana Syaikh Abdul Qadir, jamaah manaqiban pun mengakrabi kebersamaan.

?

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Warta, Hadits, Kiai Fans Gus Dur

Rabu, 31 Januari 2018

Tabib Pagar Nusa Obati Warga Sunter

Jakarta, Fans Gus Dur. Selepas membaca Barzanji dan istigotsah, Departemen Ketabiban Pimpinan Pusat Pencak Silat NU Pagar Nusa membuka praktek mengobati ragam penyakit dan konsultasi kesehatan di Telaga Dua, Kelurahan Sunterjaya, Jakarta Utara Selasa malam (2/12).

Pagar Nusa menerjunkan 4 orang tabibnya. Haji Suroso menangani warga yang bermasalah dengan mata. Ia menetesi dengan obat berbentuk cairan yang disebutnya gurah mata.

Tabib Pagar Nusa Obati Warga Sunter (Sumber Gambar : Nu Online)
Tabib Pagar Nusa Obati Warga Sunter (Sumber Gambar : Nu Online)

Tabib Pagar Nusa Obati Warga Sunter

Di bagian lain, di salah satu rumah warga, ada Haji Prayitno yang melakukan bekam di punggung. Berbeda dengan biasanya pada pengobatan model itu, dia menggunakan tanduk kambing. ?

Fans Gus Dur

"Mas Prayitno ini orang Wahabi, Mas. Dia pengikut aliran Wahabiyah," terang Ali Rahman, pengurus Pagar Nusa. "Maksudnya, dia pernah nyantri di Tambakberas, pesantren Kiai Wahab Hasbullah," lanjutnya sambil terkekeh.

Sementara Gus Heru menangani beragam keluhan. Seorang ibu misalnya, mengeluhkan mulutnya yang tidak bisa bicara dengan jelas. Disusul orang tua yang mengaku tak bisa melipat kakinya dalam waktu lama. Ada juga yang mengaku kurang pendengaran. Serta berpenyakit amandel.

Fans Gus Dur

Ia biasanya memulai dengan mendeteksi pasien melalui denyut nadi, kemudian mengurutnya. Tak hanya itu, ia memberikan resep herbal untuk konsumsi di rumah.

Di bagian lain H Shomad SM sedang menangani anak 2 tahun. Revana namanya. Shomad meraba anak itu mulai tangan, kaki, dan kepala. Sementara ibunya menangis, sambil sesekali mengusap air mata dengan kain. Ayahnya yang memangku Revana, berkaca-kaca di balik mata.

“Revana tak bisa bicara cuma nangis saja,”kata ibunya.

Menurut dia, anak keduanya itu jangankan berjalan, duduk saja sampai kini belum bisa.

Padahal ia pernah dirawat di rumah sakit selama 20 hari, tapi sampai sekarang belum ada perubahan. “Kalau menurut dokter kepalanya kecil. Nggak ada penjelasan lain,” katanya sambil kembali sesenggukan.

Ketua Perguruan Silat Sapu Jagat Pagar Nusa, Condet, Jakarta Timur, Ki Cokro Santri meminta hadirin membacakan shalawat Nabi untuk kesembuhan Revana.

Pengobatan gratis ala Pagar Nusa tersebut tidak sampai di situ. Para tabibnya bersedia dihubungi untuk membantu menyelesaikan keluhan.

Hadir pada kesempatan itu, Ketua RT setempat, anak-anak muda Majelis Diniyah Al-Fatah, serta belasan pengurus Pagar Nusa. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Kiai, Internasional, Jadwal Kajian Fans Gus Dur

Rabu, 10 Januari 2018

Perkokoh Silaturahim, Pengurus-Alumni IPNU se-Bandung Raya Bertemu

Bandung, Fans Gus Dur. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) se-Bandung Raya mengadakan silaturahmi dan diskusi dengan Majelis Alumni IPNU. Hadir pada kesempatan itu IPNU Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung, Cimahi, dan Sumedang.

Perkokoh Silaturahim, Pengurus-Alumni IPNU se-Bandung Raya Bertemu (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkokoh Silaturahim, Pengurus-Alumni IPNU se-Bandung Raya Bertemu (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkokoh Silaturahim, Pengurus-Alumni IPNU se-Bandung Raya Bertemu

Kegiatan bertema "Membangun kader, mengembangkan jaringan di atas kebersamaan yang kokoh" tersebut berlangsung di Gedung PW NU Jawa Barat Jl. Terusan Galunggung, Kota  Bandung Jumat 26 September.

Menurut siaran pers yang dikirim PC IPNU Kota Bandung, Senin (29/9) kegiatan tersebut adalah sarana pertemuan pengurus IPNU se-Bandung Raya dengan para alumni IPNU demi memperkokoh barisan “barisan” pelajar NU, di Bandung khususnya.

Fans Gus Dur

Pada kesempatan tersebut beberapa alumni IPNU yang hadir adalah H. Basukhi, Ahmad Satari, Abdussani Ramdhani, Abdul Rozak, Ganjar, H. Asep Mamun, Rekan Fauzul.

Fans Gus Dur

Pada kesempatan tersebut hadirin sepakat untuk tetap berjuang dan beristikomah dalam kaderisasi serta mempertahankan ajaran wali Allah, guru-guru dan pendahulu. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Kiai, Halaqoh, Kajian Islam Fans Gus Dur

Selasa, 09 Januari 2018

NU Lampung Tengah Gelar Halal Bihalal di Pesantren Nurul Qodiri

Lampung Tengah, Fans Gus Dur - Keluarga besar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Lampung Tengah mengadakan Halal Bihalal sekaligus koordinasi di halaman Pesantren Nurul Qodiri Kecamatan Way Pangubuan Kabupaten Lampung Tengah, Ahad (16/7).

Wakil Ketua PCNU Lampung Tengah KH Slamet Anwar mengatakan, “Agenda halal bihalal tahun initelah dihadiri oleh jajaran pengurus Nahdlatul Ulama Kabupaten Lampung Tengah meliputi Mustasyar, Syuriyah, tanfidziyah, lembaga, dan badan otonom dan MWCNU.”

NU Lampung Tengah Gelar Halal Bihalal di Pesantren Nurul Qodiri (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Lampung Tengah Gelar Halal Bihalal di Pesantren Nurul Qodiri (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Lampung Tengah Gelar Halal Bihalal di Pesantren Nurul Qodiri

“Yang teristimewa lagi halal bihalal NU Kabupaten Lampung Tengah juga dihadiri dari unsur pengurus Pimpinan Pusat Fatayat NU, Bupati Lampung Timur Hj Chusnunia Chalim.

Pengasuh Pesantren Nurul Qodiri yang juga Ketua PCNU Lampung Tengah KH Imam Suhadi mengucapkan rasa syukur karena bisa bersilaturahmi kembali dengan keluarga besar NU Lampung Tengah. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada dzuriyyah almaghfurlah KH Abdul Chalim (kiai kharismatik di Lampung), Hj Chusnunia Chalim.

Fans Gus Dur

Hj Chusnunia menyampaikan terima kasih. Ia mengatakan, ia gembira bisa sowan di Pesantren Nurul Qodiri Lampung Tengah ini sekaligus halal bihalal.

“Semoga dalam momen bulan Syawwal ini dan selanjutnya kita kembali dalam keadaan fitri. Semoga jajaran pengurus keluarga besar NU Kabupaten Lampung Tengah senantiasa istiqamah mengawal dan melestarikan ajaran ahlussunah wal jamaah an-nahdliyyah,” kata mantan aktivis PB PMII ini.

Fans Gus Dur

Hadir dalam halal bihalal PCNU Lampung Tengah Mustasyar NU Lampung Tengah KH Ikhwanul Faruq, para kiai pesantren, Ketua GP Ansor Lampung Tengah Saryono, Ketua Pagar Nusa Lampung Tengah Saprin, Ketua ISNU Lampung Tengah M Nasir, Ketua IPNU Lampung Tengah Andi Sobihin, pengurus Fatayat NU Lampung Tengah, pengurus Pergunu Lampung Tengah, anggota DPRD Lampung H Midi Iswanto, dan warga NU Way Pangubuan dan ratusan santri Nurul Qodiri. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Kiai, Amalan Fans Gus Dur

Senin, 08 Januari 2018

Ribuan Pecinta Shalawat Banjiri Kota Solo

Solo, Fans Gus Dur. Berbagai acara pawai atau parade kerap kali digelar di Kota Solo, baik yang bertema budaya maupun kebangsaan. Namun pada Kamis (6/6), diadakan acara yang berkonsep agak berbeda, yakni memadukan unsur antara budaya dan Religi. Acara tahunan ini diagendakan bertepatan dengan hari Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, 27 Rajab.

Ribuan Pecinta Shalawat Banjiri Kota Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Pecinta Shalawat Banjiri Kota Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Pecinta Shalawat Banjiri Kota Solo

Dalam acara yang bertajuk "Parade Hadrah; Solo Bershalawat 2013" tersebut ratusan ribuan peserta yang terbagi dalam berbagai grup hadrah tumpah ruah di sepanjang Jalan Slamet Riyadi Solo.

Menurut panitia penyelenggara, kegiatan ini merupakan untuk kelima kalinya diadakan. Sejak tahun 2009 sampai sekarang, jumlah pesertanya juga terus meningkat. KH Idris Shofawi, mewakili panitia mengatakan, sudah ada 145 grup hadrah yang mendaftar. Tapi jumlah tersebut akan terus bertambah.

Fans Gus Dur

“Banyak yang mendaftar pas hari-H. Para peserta datang dari berbagai daerah se Solo Raya,” tuturnya, Rabu (5/6).

Fans Gus Dur

Dia menambahkan tujuan acara ini yakni untuk mensyiarkan sholawat di Kota Solo. Juga untuk memperingati Isra’ Mi’raj.

“Kita ingin mengajak masyarakat agar giat bersholawat. Daripada untuk kegiatan yang tidak bermanfaat lebih baik banyak bershalawat,” tutur pemimpin Jamuro itu.

Saat pelaksanaan acara, terdengar lantunan sholawat pujian kepada Nabi Muhammad saw dengan diiringi irama rebana, begitu membahana di pusat Kota Solo. Rombongan parade itu berjalan dari Lapangan Kota Barat dan berakhir sampai pada Balai Kota Solo. Mereka ada yang berjalan kaki, namun ada pula yang naik mobil. Acara diakhiri dengan pembacaan mahalul qiyam dan doa bersama di lapangan depan Pendhapi Balai Kota.

Redaktur     : Abdullah Alawi

Kontributor : Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Kiai, Ulama, IMNU Fans Gus Dur

Sabtu, 06 Januari 2018

Chavez: Ledakan Sosial Tak Mungkin Terjadi di Venezuela

Caracas, Fans Gus Dur. Presiden Venezuela Hugo Chaves, Rabu 6/6), mengatakan bahwa ledakan sosial untuk menggulingkan pemerintahannya adalah hal yang tak mungkin terjadi di Veenezuela.

Pernyataan itu diungkapkannya saat menyinggung adanya strategi penggulingan yang dilancarkan oleh kelompok oposisi terhadap pemerintahannya.

Chavez: Ledakan Sosial Tak Mungkin Terjadi di Venezuela (Sumber Gambar : Nu Online)
Chavez: Ledakan Sosial Tak Mungkin Terjadi di Venezuela (Sumber Gambar : Nu Online)

Chavez: Ledakan Sosial Tak Mungkin Terjadi di Venezuela

Hanya akan ada satu ledakan revolusioner yang kokoh, terang Chaves dalam jumpa pers dan menambahkan bahwa Amerika Serikat kini sedang mencoba merancang "strategi kudeta halus" terhadap Venezuela.

Fans Gus Dur

"Mereka (AS) ingin mengganggu, menyalakan sumbu dengan menggelar demonstrasi yang marak belakangan ini hingga memicu ledakan massa, namun kita telah dengan sabar memadamkan api-api kecil itu," tegas Chaves seperti dilansir sumber Prenza Latina.

Fans Gus Dur

Chaves mengatakan, dengan perolehan lebih dari 60 persen suara dalam pemilu lalu dan dukungan rakyat yang kian meningkat, maka tidak akan ada ledakan massa yang dapat mengancam pemerintahannya. Sebaliknya, Chaves menuduh AS menjadi biang dari seluruh rencana menentang pemerintahan Venezuela.

Presiden yang pernah memproklamirkan "runtuhnya kerajaan AS" itu mengingatkan seluruh rakyatnya untuk waspada dan tidak terjebak pada manipulasi. (dar)Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Kyai, Kiai, Halaqoh Fans Gus Dur

Sabtu, 30 Desember 2017

Orang Mampu Mengaku Miskin

Sering kita jumpai orang mampu tapi mengaku orang miskin. Pengakuan tersebut sebenarnya lebih dikarenakan faktor mental, yakni orang tersebut bermental miskin, karena keserakahannya terhadap harta yang ingin dimilikinya. Orang seperti itu tidak akan merasa cukup sebelum semuanya menjadi milik dia.

Oleh karena itu, pengelola zakat harus berhati-hati dalam menyalurkan zakatnya jangan sampai salah sasaran ke tangan orang yang bukan mustahiq. Jika pemberian itu  berupa hibah memang orang yang mampu berhak menerimanya. Asalkan penerima adalah orang yang membutuhkan atau pemberi hibah bermaksud mencari pahala. 

Dalam I’anatut-Thalibin disebutkan bahwa jika ada seseorang yang membayar zakat sebelum waktunya (ta’jil), dan orang fakir penerima zakat itu sudah tidak berhak lagi menerima zakat ketika waktu zakat tadi tiba, maka harta yang telah dizakatkan diambil lagi oleh muzakki. Memang orang yang mengaku fakir dan miskin bisa dibenarkan tanpa melalui sumpah, hanya saja orang kaya tidak mendapat bagian zakat. Demikian juga dijelaskan dalam Ma’rifatus-Sunan wal Atsar yang disusun Al-Baihaqi, “Tidak sah shadaqah diberikan kepada orang kaya dan orang mampu.”

Orang Mampu Mengaku Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)
Orang Mampu Mengaku Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)

Orang Mampu Mengaku Miskin

Dalam kitab Tuhfatul Muhtaj fii Syarhil Minhaj, Ibnu Hajar Al-Haitami menjelaskan: “Jika pemberian diwakilkan kepada orang lain, dan barang diberikan kepada orang yang tidak diizinkan oleh muwakkil, maka penerima barang harus menggantinya (dhaman).” Demikian juga seorang karyawan atau pekerja yang mengaku belum dibayar (diberi upah) padahal sudah dibayar. Kemudian orang tersebut diberi upah, maka pemberian tersebut tidak halal baginya.

Hal ini dikarenakan dia telah berbohong sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar: “Jika seorang pekerja mengaku belum dibayar (diberi upah) secara bohong, kemudian ia pun diberi upah, maka ia tidak halal baginya untuk menerimanya dan ia tidak bisa memiliki upah tersebut.” 

Fans Gus Dur

Fans Gus Dur

Dengan kata lain orang yang mampu dan berada tetapi mengaku-ngaku miskin dengan tujuan medapatkan zakat dan kemudian ia mendapatkan zakat. Sesungguhnya zakat yang diterimanya menjadi barang yang haram bagi dirinya. Wallahu a’lam bish shawab. (Sumber: Konsultasi Zakat LAZIZNU dalam Nucare yang diasuh oleh KH. Syaifuddin Amsir / Red. Ulil H

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Warta, PonPes, Kiai Fans Gus Dur

Senin, 18 Desember 2017

IPNU Bakal Bahas Upaya Tekan Narkoba Pelajar

Jakarta, Fans Gus Dur. Tingginya angka pengguna narkoba di kalangan pelajar di Indonesia mencoreng dunia pendidikan Indonesia. Di Jakarta saja, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut 20 persen dari 500.000 pengguna Narkoba adalah pelajar. Sementara itu, dari 100.000 kasus yang ditangani polisi, 40 persen di antara tersangkanya adalah usia muda.

Melihat hal tersebut, Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) 2017 yang bakal digelar di Bandung, Sabtu-Senin 18-20 November 2017 akan membahas isu tersebut.

IPNU Bakal Bahas Upaya Tekan Narkoba Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Bakal Bahas Upaya Tekan Narkoba Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Bakal Bahas Upaya Tekan Narkoba Pelajar

Rencananya, Badan Narkotika Nasional (BNN) akan hadir pada hari pertama Rapimnas, Sabtu (18/11). Bersama Anggota Komisi X DPR RI Dony Ahmad Munir, BNN akan menyampaikan materi dengan tema Merawat Keindonesiaan dari Ancaman Bahaya Narkoba di Kalangan Pelajar dan Pemuda.

Ketua Umum PP IPNU Asep Irfan Mujahid menyampaikan, tingginya kasus narkoba perlu dilakukan upaya preventif guna menekan angka tersebut.

“Kasus Narkoba begitu tinggi sehingga diperlukan upaya preventif pemerintah dengan menggandeng organisasi pelajar dan pemuda guna memahami pentingnya bahaya Narkoba,” katanya di Kantor PBNU Lantai 5, Rabu (15/11).

Fans Gus Dur

Sementara itu, Ketua Pelaksana Rapimnas 2017 PP IPNU Wahyono Annajih mengatakan, bahwa Rapimnas merupakan momen yang tepat bagi BNN untuk melakukan tindakan preventif.

“Rapimnas merupakan momen yang tepat bagi BNN untuk melakukan ikhtiar bersama dalam menjelaskan berbagai hal yang dilakukan BNN selama ini. Selain itu, sebagai bukti keseriusan pemerintah dalam melaksanakan program pencegahan dengan menggandeng OKP IPNU,” katanya.

Kandidat doktor Universitas Negeri Jakarta itu juga berharap agar kerja sama yang baik itu dapat berkesinambungan dan menyeluruh ke semua tingkatan pimpinan IPNU.

“Ini momen yang tepat karena IPNU sebagai organisasi pelajar terbesar yang menduduki seluruh tingkatan pemerintahan dari ranting atau desa hingga pusat, termasuk di komisariat-komisariat sekolah dan perguruan tinggi. Tentunya melalui koordinasi PP IPNU,” ungkapnya. (Syakirnf/Kendi Setiawan)

Fans Gus Dur

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Pemurnian Aqidah, Kiai Fans Gus Dur

Rabu, 06 Desember 2017

Menaker Minta Polri Perkuat Pengawasan Pekerja Asing dan TKI Ilegal

Bandung, Fans Gus Dur. Kementerian Ketenagakerjaan mengajak Kepolisian RI untuk meningkatkan kerjasama penegakan hukum terkait perlindungan dan pengawasan keberangkatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal, perdagangan orang (human trafficking) serta pencegahan masuknya tenaga kerja asing ilegal.?

"Kemnaker masih memiliki banyak tugas terkait pengiriman TKI ilegal, human trafficking yang terkait pengiriman TKI ke luar negeri serta pencegahan masuknya tenaga kerja asing illegal. Kami mengajak Polri untuk bekerjasama menyelesaikan,” ? kata Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri saat memberikan kuliah umum di Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi Polri di Lembang, Bandung, Jawa Barat, Selasa (8/8)?

Menaker Minta Polri Perkuat Pengawasan Pekerja Asing dan TKI Ilegal (Sumber Gambar : Nu Online)
Menaker Minta Polri Perkuat Pengawasan Pekerja Asing dan TKI Ilegal (Sumber Gambar : Nu Online)

Menaker Minta Polri Perkuat Pengawasan Pekerja Asing dan TKI Ilegal

Menurut Menaker, kerjasama dengan Polri sudah dilakukan. Namun seiring meningkatnya tuntutan, kerjasama harus ditingkatkan.

"Salah satu hal yang Kemnaker lakukan bersama Polri adalah upaya dalam menekan TKI non prosedural dan juga upaya pencegahan perdagangan manusia," katanya.

Ditambahkannya, selain melakukan pengawasan yang ketat di pintu pemberangkatan TKI yang resmi, pemerintah ? juga perlu melakukan pengawasan jalur-jalur tikus yang biasanya digunakan untuk memberangkatkan TKI non prosedural. Sebagai negara kepulauan, Indnesia memiliki banyak jalur diperbatasan menuju negara tetangga. Kerjasama dengan Polri dan TNI mutlak diperlukan

Fans Gus Dur

Selain pengawasan di jalur tikus, Kemnaker juga memperbaiki tata kelola pemberangkatan TKI yang lebih mudah, melakukan pengawasan yang terintegrasi, pengawasan di bandara, pelabuhan, dan pernatasan.?

Hal lain yang dilakukan adalah koordinasi dengan pemerintah daerah, khususnya daerah kantong TKI, serta aparat penegak hukum untuk ? melakukan deteksi dini pengiriman TKI illegal, human trafficking serta memberantas praktik percaloan dan premanisme terkait pengiriman tenaga kerja ke luar negeri. (Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Kiai, Nahdlatul, Syariah Fans Gus Dur

Fans Gus Dur

Kamis, 30 November 2017

Khofifah Minta Kader Muslimat NU Melek Media Sosial

Bogor, Fans Gus Dur. Arus informasi saat ini lebih banyak diakses masyarakat melalui media sosial (medsos). Konten dalam bentuk apapun dengan mudah dapat diterima oleh masyarakat dunia maya (netizen). Bahkan pemanfaatan medsos kerap jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

Khofifah Minta Kader Muslimat NU Melek Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Minta Kader Muslimat NU Melek Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Minta Kader Muslimat NU Melek Media Sosial

Hal itu diperhatikan betul oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa ketika memberikan arahan pada malam ta’aruf, Jumat (24/3) di Hotel Lorin Sentul, Bogor sebelum pembukaan kegiatan Rapimnas Muslimat NU dimulai.

“Kita harus sadar media sosial. Publikasi positif diperlukan agar dakwah kebaikan Muslimat bisa menyeluruh,” ujar Khofifah di hadapan para pengurus wilayah dan cabang Muslimat NU.

Ia mengemukakan kasus-kasus kejahatan sosial yang selama ini memanfaatkan media sosial seperti kejahatan seksual anak, kekerasan terhadap perempuan, dan problem-problem sosial lainnya.

Fans Gus Dur

Menurutnya, program nyata Muslimat NU yang selama ini terus berupaya mengadvokasi masyarakat ? untuk mengatasi problem-problem tersebut jangan berhenti di dunia nyata, melainkan juga harus dilakukan di dunia maya dan media sosial.

Menteri Sosial RI ini juga menyampaikan agenda besar kader Muslimat NU untuk terus memperkuat pemahaman Pancasila, Agama, dan Negara. Ketiga elemen tersebut penting disorot dalam perspektif Muslimat NU.

Fans Gus Dur

“Diskusi rutin bulanan agar dilakukan para kader Muslimat di seluruh Indonesia dengan mengangkat tema-tema tersebut. Narasumber lokal bisa dihadirkan. Hasil dari diskusi dicatat betul sebagai perspektif konkret Muslimat,” urai Khofifah. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Quote, Kiai, Ulama Fans Gus Dur

Rabu, 22 November 2017

Fatayat NU Gelar Rakernas 2013

Bandung, Fans Gus Dur. Pimpinan Pusat Fatayat NU menggelar rapat kerja nasional, Rakernas 2013 Fatayat NU di Balai Besar Pengembangan dan Perluasan Kerja, BBPPK, jalan raya Lembang nomor 222, Lembang, Bandung Barat.

Rakernas 2013 Fatayat NU berlangsung selama empat hari yang terhitung sejak Kamis-Ahad (21-23/2). Rakernas kali ini mengambil tema ‘Penguatan Strategi Advokasi dan Kelembagaan Menuju Kemandirian Perempuan Indonesia.’

Fatayat NU Gelar Rakernas 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Gelar Rakernas 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Gelar Rakernas 2013

Sedikitnya 132 kader Fatayat NU mengikuti rakernas. Mereka merupakan kader Fatayat NU dari 33 PW Fatayat NU yang ada di Indonesia. Setiap kepengurusan wilayah, mengirim 4 utusan yang mewakili PW Fatayat NU di wilayahnya.

Mereka akan membahas sejumlah isu penting terkait dengan tema itu. Mereka membahas antara lain isu Pemberdayaan dan Peningkatan Kesejahteraan Anak, Perempuan dan Manajemen Kebencanaan, dan isu strategis lainnya terkait perempuan dan anak.

Selain itu, mereka juga akan mengungkapkan laporan kinerja PW Fatayat NU se-Indonesia. Laporan itu selanjutnya akan dievaluasi dan ditindaklanjuti dengan sejumlah perencanaan strategis.

Fans Gus Dur

Dalam rakernas yang akan dibuka Kamis malam ini, mereka akan merumuskan perencanaan terkait organisasi, program, dan rekomendasi. Sementara itu, pembukaan rakernas rencananya akan dihadiri oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Menakertrans Abdul Muhaimin Iskandar.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur

Fans Gus Dur Kiai Fans Gus Dur

Jumat, 10 November 2017

Menyingkap Kaligrafi Dinding Masjid Raya Klaten

Klaten, Fans Gus Dur. Apabila Anda pernah ke Objek Wisata Candi Prambanan, tentu akan melihat bangunan masjid megah di seberang timur jalan. Masjid Raya Al-Muttaqun, begitu nama yang terpampang di halaman depan.

Menyingkap Kaligrafi Dinding Masjid Raya Klaten (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyingkap Kaligrafi Dinding Masjid Raya Klaten (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyingkap Kaligrafi Dinding Masjid Raya Klaten

Ciri khas masjid itu dikelilingi tulisan kaligrafi nama para tokoh Islam di dinding, mulai dari nama para sahabat, 4 imam madzhab dan nama-nama Walisongo, serta Sunan Tembayat dan Ki Ageng Gribig. Nama-nama itu terukir indah pada media kayu.

“Ukirannya sudah ada sejak renovasi masjid, ini dulu pesanan sang pendiri masjid,” terang salah satu pengurus masjid, yang tidak mau disebut namanya.

Fans Gus Dur

Dari pengamatan kami, saat singgah di masjid ini, Jumat (22/11) sore, ornamen-ornamen kaligrafi yang mengelilingi ruang dalam masjid berukuran sekitar 14×18 meter.

Beberapa bentuk bangunan konon juga menyiratkan banyak makna. Semisal, pada tempat mihrab yang berbentuk seperti gunungan wayang. Gunungan memberi makna sebagai bahasa alam yang dipercaya sebagai bentuk isyarat akan kehendak Gusti Kang Murbeng Gesang, Pemberi Kehidupan.

Fans Gus Dur

Dari hasil penelusuran tentang kaligrafi di Masjid Raya Klaten ini, kami mendapatkan keterangan, ukiran kaligrafi ini merupakan sebuah gambaran semangat perjuangan dakwah Islam. Mulai dari zaman Nabi dan para sahabat, kemudian berkembang ke Indonesia melalui peran para wali.

Islam berkembang di tanah Jawa disebarkan para Walisongo. Islam masuk sampai ke Klaten dibawa oleh Kiai Ageng Gribig dan Sunan Pandanaran atau Sunan Bayat,” terang salah satu tokoh setempat, Hidayat.

Selain pesan tersirat melalui ukiran kaligrafi, secara letak geografis masjid ini juga menggambarkan akan kerukunan dalam keberagaman. Posisi masjid yang terletak berdampingan persis dengan Candi Prambanan, menjadi sembuah simbol Islam yang harmonis dan penuh dengan kedamaian. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Pemurnian Aqidah, Kiai Fans Gus Dur

Kamis, 09 November 2017

Konsolidasi Barisan, Ketum Pagar Nusa Silaturahim Kiai-kiai Sepuh

Kediri, Fans Gus Dur?

Selama ini, Pagar Nusa dianggap sebagai benteng Nahdlatul Ulama untuk menjaga keamanan dan jaringan kader pendekar. Para pendekar Pagar Nusa, konsisten mengabdi kepada Kiai dan mengawal keutuhan NKRI.?

Untuk menguatkan barisan Pagar Nusa, Ketua Umum Pagar Nusa M. Nabil Haroen bersilaturahim kepada kiai-kiai khos di kawasan Kediri, Senin-Selasa (22-23/05). "Kami ingin agar Pagar Nusa mendapatkan restu, doa sekaligus ijazah dari para kiai. Bimbingan dan berkah para kiai inilah yang menjadi rujukan kami untuk membangun tim pengurus sekaligus merancang program Pagar Nusa mendatang," ungkap Gus Nabil.

Konsolidasi Barisan, Ketum Pagar Nusa Silaturahim Kiai-kiai Sepuh (Sumber Gambar : Nu Online)
Konsolidasi Barisan, Ketum Pagar Nusa Silaturahim Kiai-kiai Sepuh (Sumber Gambar : Nu Online)

Konsolidasi Barisan, Ketum Pagar Nusa Silaturahim Kiai-kiai Sepuh

Dalam safari pesantren ini, Ketua Umum Pagar Nusa mengunjungi beberapa kiai sepuh di Pesantren Langitan Lirboyo, Pesantren Ploso dan Pesantren al-Amin Kediri: KH M. Anwar Mansur, KH Kafabihi Mahrus, KH Anwar Iskandar, ? KH Zainuddin Djazuli, KH Nurul Huda Djazuli, KH Badrul Huda Zainal Abidin, dan beberapa kiai lain.

KH Kafabihi Mahrus, Pengasuh pesantren Lirboyo, mengungkapkan betapa Pagar Nusa harus menguatkan barisan sekaligus mengembangkan jaringan. "Para pendekar dari ini memiliki sejarah panjang dalam pembentukan Nahdlatul Ulama, proses kemerdekaan sekaligus proses-proses penting dalam politik negara. Ini proses yang tidak boleh dilupakan dalam sejarah," terang Kiai Kafabih.?

Fans Gus Dur

Lebih lanjut, Kiai Kafabih berharap Pagar Nusa dapat menjadi pagarnya NU, bangsa dan nusantara. "Harus ada pembagian yang jelas antara peran Nahdlatul Ulama, Pagar Nusa dan banom serta lembaga di bawah naungan NU. Posisi Pagar Nusa sangat strategis di tengah kondisi saat ini," ungkap Kiai Kafabih.?

Pada agenda silaturahmi ini, Ketua Umum Pagar Nusa juga berziarah ke maqbarah pendiri Pagar Nusa, KH Mashum Djauhari (Gus Mashum). Agenda ziarah ini, dipimpin oleh KH Badrul Huda Zainal Abidin (Gus Bidin).?

Dalam waktu dekat, Ketua Umum Pagar Nusa dan tim pengurus juga akan silaturahmi dan ziarah ke beberapa pesantren di Jawa Timur, ? Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, ? Banten dan beberapa kawasan di luar Jawa. (Red: Abdullah Alawi)

Fans Gus Dur

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Kiai, Pahlawan, Ubudiyah Fans Gus Dur

Senin, 30 Oktober 2017

Ideologisasi dalam Buku

Oleh Suwendi

Belakangan, Komisi X DPR-RI (Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia) menginisiasi ? lahirnya Rancangan Undang-Undang (RUU) Sistem Perbukuan. Dalam draft itu disebutkan bahwa RUU itu menjadi salah satu ikhtiar dalam membangun peradaban bangsa, meningkatkan daya literasi masyarakat Indonesia, dan menjamin kemanfaatan, mutu, ketersediaan, keterjangkauan dan tata kelola perbukuan, di samping untuk melakukan pengaturan perbukuan yang berserakan di berbagai peraturan perundang-undangan.

Kita patut mengamini dan menghargai atas ikhtiar ini. Namun demikian, sejauh yang penulis ketahui, draft ini belum banyak dijelaskan kepada khalayak, termasuk mensinkronisasikannya dengan sejumlah Kementerian/Lembaga, termasuk dengan Kementerian Agama. Untuk itu, ada baiknya sebelum RUU ini disahkan menjadi Undang-Undang, beberapa catatan berikut perlu diberikan penceramatan.

Ideologisasi dalam Buku (Sumber Gambar : Nu Online)
Ideologisasi dalam Buku (Sumber Gambar : Nu Online)

Ideologisasi dalam Buku

Ada kaidah penting dalam dunia hermeneutika. Disiplin keilmuan yang terkait dengan teks itu menjelaskan bahwa ada relasi yang cukup kuat antara teks dengan konteks. Sebuah teks sangat mempengaruhi terhadap konteks dan struktur masyarakat. Demikian juga, kondisi masyarakat dipengaruhi oleh teks-teks yang berkembang dalam masyarakat itu. Hal itu berlaku juga dalam hal relasi teks keagamaan dengan pemahaman keagamaan masyarakat.

Masyarakat muslim Indonesia memiliki pemahaman dalam bidang fiqih, misalnya, dengan menganut mazhab Syafi’iyah itu sangat dipengaruhi oleh karena literatur fiqih yang berkembang dan disebarkan oleh jaringan ulama yang bermazhab Syafi’iyah begitu besar. Hal ini berbeda dengan masyarakat muslim Saudi Arabia yang secara ideologis menganut aliran Wahabi, oleh karena literatur yang banyak berkembang dan didukung oleh pemerintah yang beraliran Wahabi. Oleh karenanya, antara teks literatur atau buku-buku keagamaan yang banyak dibaca oleh masyarakat itu sangat memberikan pengaruh kuat terhadap karakter dan paham keagamaan masyarakat itu sendiri.

Fans Gus Dur

Kaidah hermeneutik lainnya menyebutkan bahwa sebuah teks itu sangat dipengaruhi oleh ideologi yang dianut oleh sang penulis. Pemahaman dan ideologi penulis buku sangat mewarnai atas buku yang ditulisnya. Oleh karenanya, sesungguhnya teks itu tidaklah netral, teks telah memiliki corak dan warnanya tersendiri, yang di antaranya dipengaruhi oleh ideologi yang dianut oleh sang penulis. Untuk memahami sebuah buku maka sebaiknya kita juga patut mengenal siapa yang menulis buku itu. Dengan demikian, kita dengan mudah dapat memahami isi atau karakter buku tersebut dengan lebih baik.

Dalam dunia literatur atau buku tafsir, misalnya, antara satu kitab tafsir dengan tafsir lainnya itu memiliki corak dan ideologi yang berbeda. Tafsir Al-Kasysyaf yang ditulis oleh Zamakhsyari dinilai memiliki ideologi Mu’tazilah. Demikian juga dengan Tafsir Al-Mizan karya Thabathaba’i yang oleh peneliti dinilai mengandung ideologi Syiah. Sebab, Zamakhsyari dan Thabathaba’i memiliki ideologi atau paham yang berbeda, yang satu Mu’tazilah dan yang satunya lagi Syiah. Demikian juga dengan Tafsir Fi Zhilalil Quran yang ditulis oleh Sayid Quthb juga memiliki ideologi radikal. Sebab, Sayid Quthb merupakan second line dari gerakan dan aktivis Ikhwanul Muslimin yang getol memperjuangkan gerakan khilafah Islamiyah.?

Dua kaidah hermeneutik itu patut diberikan perhatian bahwa eksistensi buku itu sangat penting dalam dunia keagamaan. Buku bukan hanya dipahami dalam konteks business oriented, tetapi sudah semestinya diletakkan dalam konteks membangun pemikiran dan faham keagamaan yang memperkuat jati diri bangsa dan negara. Dalam era demokrasi yang demikian terbuka, ideologi-ideologi dan paham keagamaan begitu subur di negeri ini. Tidak hanya ideologi yang mengajarkan kesantunan dan menghargai orang lain, tetapi juga ideologi radikal dan trans-nasional yang menyebarkan kebencian dan merusak tatanan kehidupan, termasuk tatanan berbangsa dan bernegara juga demikian berkembang secara pesat.?

Penanaman ideologi radikal ini tidak hanya dilakukan melalui mimbar-mimbar keagamaan an sich, termasuk juga melalui penulisan, penerjemahan, penerbitan, dan jual beli buku, majalah, dan bacaan yang telah digitalisasi. Bahkan, itu tidak hanya pada buku umum, meminjam terminologi pembagian jenis buku dalam draft tersebut, tetapi juga pada buku pendidikan. Tidak sedikit buku-buku pendidikan, utamanya buku teks pendamping, yang secara gamblang mengajarkan radikalisme. Dalam buku teks pendamping itu ditulis bahwa orang yang berbeda faham keagamaan karena membolehkan ziarah kubur, misalnya, dinyatakan murtad dan boleh untuk dibunuh. Buku-buku model itu demikian dahsyat berkembang di dunia pendidikan kita.

Belum lagi fenomena “penyelewengan intelektual” dengan melakukan tahrif al-kutub, baik dengan digitalisasi maupun penerjemahan dan penggandaan kitab atau buku. Kitab-kitab karya ulama dimodifikasi ulang dan pernyataan-pernyataannya diganti, yang semula membolehkan diubah dengan melarangnya. Bab tentang ziarah kubur, misalnya, diganti dengan ziarah masjid Nabawi, dengan judul kitab dan penulis yang sama. Kitab-kitab yang populer dikaji di pondok pesantren diterjemahkan dengan makna dan kandungan yang jauh berbeda dengan maksud teks aslinya. Lebih-lebih kitab-kitab yang digandakan melalui proses digitalisasi, proses tahrif al-kutub itu sangat masif dilakukan.

Fans Gus Dur

Atas dasar fakta itu, penulis memahami dan memberikan apresiasi kepada Kementerian Agama yang berupaya akan melakukan pentashihhan buku ajar dan buku bacaan yang dikembangkan di lembaga pendidikan agama dan keagamaan, terutama di sekolah, madrasah, dan pondok pesantren. Bahkan, Kementerian Agama akan melakukan terobosan dengan semacam Lajnah Pentashih Buku Pendidikan Agama dan Keagamaan, baik untuk Islam maupun non-Islam.

Memang patut diakui bahwa persoalan buku pendidikan agama dan keagamaan cenderung masih tumpang tindih. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memiliki Puskurbuk (Pusat Kurikulum dan Perbukuan) yang memfasilitasi buku-buku yang diajarkan di sekolah dengan alokasi anggaran yang cukup besar. Yang dikerjakannya tidak hanya mata-mata pelajaran umum, tetapi juga mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah.

Sementara Kementerian Agama, melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, memiliki kewenangan dan tanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan agama dan keagamaan Islam, termasuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada sekolah dan Perguruan Tinggi umum. Hal ini didasarkan atas Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan sebagai turunan dari Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang secara nyata menyatakan bahwa pengelolaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan menjadi kewenangan Kementerian Agama.?

Bahkan lebih dari itu, Kementerian Agama tampaknya memiliki komitmen yang begitu kuat terhadap persoalan perbukuan ini. Hal ini diantaranya dengan terbitnya Peraturan Menteri Agama Nomor 46 Tahun 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agama yang menetapkan struktur jabatan yang langsung bersinggungan dengan buku. Di unit Badan Litbang dan Diklat, terdapat 2 (dua) struktur organisasi setingkat eselon 2, yakni Badan Lektur dan Khazanah Islam, dan Badan Lajnah Pentashih Al-Quran. Belum lagi di Direktorat Jenderal Bimas Islam, terdapat Sub Direktorat Kepustakaan Islam pada Direktorat Urusan Agama Islam.

Melihat kondisi di atas, menurut hemat penulis, draft RUU Sistem Perbukuan tidak hanya melibatkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Riset-Teknologi dan Pendidikan Tinggi an sich, tetapi juga harus mendialogkannya dengan Kementerian Agama. Dalam draft tersebut terutama pada Pasal 1 tentang Ketentuan Umum mendefinisikan Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan. Definisi ini menyiratkan bahwa lembaga yang memiliki otoritas dalam sistem perbukuan ke depan hanyalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.?

Pasal 6 ayat (1) menjelaskan tentang jenis buku yang terbagi pada buku pendidikan dan buku umum. Buku pendidikan adalah buku yang digunakan untuk layanan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan pendidikan menengah yang kemudian dijelaskan dalam ayat (8) pengaturannya akan ditetapkan dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Ini artinya semua buku untuk mulai layanan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar hingga pendidikan menengah menjadi otoritasnya Kemendikbud. Menurut hemat penulis, ini harus diluruskan. Sebab, Kementerian Agama juga mengelola layanan jenis pendidikan umum yang berciri khas agama, serta pendidikan agama dan keagamaan, mulai pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar hingga pendidikan menengah juga. Oleh karenanya, Kementerian Agama perlu untuk dilibatkan.

Demikian juga pada Pasal 51 ayat (2) menyebutkan bahwa penerbitan buku untuk pendidikan tinggi difasilitasi oleh kementerian yang bertanggung jawab dalam bidang pendidikan tinggi; yang ini artinya orotitasnya berada pada Kementerian Riset-Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Draft ini secara jelas melepaskan peran dan keikutsertaan Kementerian Agama. Padahal, Kementerian Agama memiliki kewenangan dan tanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi. UIN, IAIN, Sekolah Tinggi Agama Islam, Sekolah Tinggi Keagamaan lainnya, termasuk Ma’had Aly merupakan institusi pendidikan tinggi yang dijamin oleh UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

Pada Bab X pasal 69 tentang pengawasan difahami belum memiliki ketegasan terkait tentang peran serta masing-masing lembaga. Pada ayat (1) dijelaskan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, pelaku perbukuan, dan masyarakat melakukan pengawasan atas sistem perbukuan. Pengawasan ini masih sangat bias, belum mencerminkan tugas pokok masing-masing instansi. Meskipun di ayat (5) ketentuan lebih lanjut akan diatur dengan Peraturan Pemerintah, tetapi tugas pokok masing-masing instansi perlu mendapatkan uraian terlebih dahulu.

Berdasarkan pengaduan masyarakat, jika di lapangan ditemui buku-buku pendidikan, termasuk buku teks pendamping, untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang mengajarkan radikalisme dan faham keagamaan menyimpang secara spontan masyarakat menyalahkannya kepada Kementerian Agama. Padahal, setelah diteliti, buku-buku demikian tidak sedikit justeru diterbitkan oleh instansi di luar Kementerian Agama. Hal ini sekali lagi membuktikan bahwa Kementerian Agama tidak dapat dilepaskan dari sistem perbukuan.

Atas dasar sejumlah alasan di atas, penulis mendorong agar pembahasan draft RUU Sistem Perbukuan ini perlu melibatkan Kementerian Agama. Pertama, karena Kementerian Agama melakukan dan memiliki layanan pendidikan sebagaimana Kemendikbud dan Kemenristek-Dikti. Kedua, bahwa persoalan buku bukan hanya lekat dengan business oriented, tetapi juga sarat akan desiminasi dan penyebarluasan ideologi keagamaan yang justeru belakangan sangat meangancam eksistensi kebangsaan dan keumatan. Di sisi lain, Kementerian Agama pun segera untuk melakukan langkah komunikasi dan turut aktif dalam mengawal kelahiran RUU ini menjadi UU. Sebab, jika telah disahkan, maka nanti akan tertinggal oleh “sang kereta perbukuan”.

Penulis adalah penikmat dan penulis sejumlah buku.

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Kiai, Santri, Fragmen Fans Gus Dur

Senin, 16 Oktober 2017

Diusulkan Calon Ketum PBNU, Ini Komentar Gus Sholah

Jombang, Fans Gus Dur. Sejumlah kiai dan pengasuh pondok pesantren di Jawa Timur menghadiri Forum Silaturrahim Kiai dan Pengasuh Pesantren NU se-Jawa Timur di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Ahad (11/1) kemarin. Forum antara lain membicarakan kriteria calon ketua umum PBNU.

Diusulkan Calon Ketum PBNU, Ini Komentar Gus Sholah (Sumber Gambar : Nu Online)
Diusulkan Calon Ketum PBNU, Ini Komentar Gus Sholah (Sumber Gambar : Nu Online)

Diusulkan Calon Ketum PBNU, Ini Komentar Gus Sholah

Hadir sebagai nara sumber pada halaqah bertema "Mengembalikan NU pada Ruhnya," mantan ketua umum PBNU KH Hasyim Muzadi, pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahudin Wahid atau Gus Sholah dan KH Muhyidin Abdusshomad dari Jember.

Halaqah menelorkan beberapa syarat atau kriteria calon ketua umum PBNU periode mendatang, antara lain calon juga harus mampu menjaga martabat NU, komitmen dalam menjalankan Qonun Asasi Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari, memiliki kemampuan kepemimpinan dan managemen, istiqomah menjaga netralitas NU dalam politik praktis dan tidak punya beban masa lalu serta profesional.

Salah seorang penggagas kegiatan KH Abdurrahman Ustman mengatakan, meski tidak menyebut nama, kriteria yang diajukan mengarah kepada sosok KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah.

Fans Gus Dur

Sementara itu Gus Sholah dalam forum itu menyampaikan bahwa NU selama ini belum banyak membicarakan persoalan ekonomi terutama yang sesuai dengan sistem Islam, padahal organisasi lain telah melakukan.

“Apakah sistem ekonomi kita sudah islami atau belum? Dimana masih banyak masyarakat muslim dalam kondisi miskin. Padahal negera kita sangat kaya. Apakah ini sistem ekonomi islami.? Kedepan NU perlu membahas persolan ini," ujarnya.

Adik kandung Gus Dur ini menambahkan, NU harus berada di depan dalam menjalankan ajaran Islam ahlussunnah wal jama’ah. Selain itu, NU juga harus memberikan perhatian lebih terhadap keberlangsungan pendidikan pesantren.

"Bagaimana NU bisa sesuai dengan Qonun Asasi KH Hasyim Asyari, melayani pesantren dan ulama karena NU didirikan dari ulama pesantren yang telah memberikan pendidikan sejak sebelum adanya lembaga pendidikan formal seperti sekarang," tandas cucu pendiri NU KH Hasyim Asyari itu.

Disinggung soal kesiapan menjadi calon ketua PBNU, Gus Sholah mengaku belum berpikir, untuk menjadi kandidat. Dikatakannya hingga saat ini dirinya belum berpikir, dan tidak melakukan upaya apapun untuk maju sebagai calon ketua umum PBNU.

Fans Gus Dur

"Saya tidak berpikir dan belum berencana untuk itu, kita lihat saja nanti. Muktamar kan masih lama," pungkasnya usai acara. (Muslim Abdurrahman/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Pertandingan, Kiai Fans Gus Dur

Selasa, 10 Oktober 2017

Substansi Kelahiran NU Diperingati

Probolinggo,? Fans Gus Dur. Rais PCNU Kota Kraksaan KH Munir Kholili menyampaikan bahwa kelahiran NU diperingati karena adanya perjuangan NU demi kemerdekaan bangsa Indonesia selain menjaga akidah Ahlussunnah wal Jamaah, menanamkan cinta tanah air, dan mengabdi kepada umat.

Substansi Kelahiran NU Diperingati (Sumber Gambar : Nu Online)
Substansi Kelahiran NU Diperingati (Sumber Gambar : Nu Online)

Substansi Kelahiran NU Diperingati

Hal tersebut disampaikan oleh KH Munir Kholili dalam pengajian umum dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-94 NU sekaligus pelantikan pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Maron, Sabtu (29/4) siang.

“Artinya, NU itu turut serta dalam perjuangan meraih kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan nikmat dan rahmat dari Allah SWT, NU sampai sekarang telah berkembang dengan baik dan membawa manfaat bagi seluruh umat Islam,” katanya.

Kegiatan yang digelar di halaman kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Maron ini dihadiri oleh Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin didampingi Ketua MWCNU Kecamatan Maron Yuliagus serta pengurus MWCNU Kecamatan Maron dan Ranting NU se-Kecamatan Maron mulai dari lembaga dan badan otonom (banom).

Fans Gus Dur

Dalam sambutannya H Hasan Aminuddin banyak membahas masalah yang berhubungan dengan peningkatan amal ibadah yang dilakukan dengan baik dan tepat waktu.

“Untuk meraih kemenangan haruslah meningkatkan ibadahnya dan tentunya 3 (tiga) panggilan yang harus diingat. Yakni, panggilan sholat (adzan), panggilan untuk mati (takdir) dan panggilan menunaikan ibadah haji,” ungkapnya.

Fans Gus Dur

Menurut Hasan, Harlah NU yang telah diperingati itu mempunyai arti sebuah aqidah yang didirikan oleh alim ulama dari seorang tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yang merupakan organisasi massa Islam terbesar di Indonesia KH. Hasyim Asy’ari.?

“Beliau dikalangan Nahdiyin dan ulama pesantren dikenal sebagai Hadratus Syeikh yang berarti maha guru,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Hasan Aminuddin didampingi Ketua MWCNU Kecamatan Maron Yuliagus menyerahkan santunan kepada para anak yatim dan janda tua yang ada di Kecamatan Maron.? (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Quote, Kiai, Ulama Fans Gus Dur

Minggu, 01 Oktober 2017

Pesatnya Perkembangan Pesantren di Indonesia

Jakarta, Fans Gus Dur. Fakta yang tak terbantahkan bahwa pesantren mengalami perkembangan pesat. Secara kuantitatif, jumlah pesantren terus meningkat dalam sepuluh tahun terakhir. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Balitbang Diklat Kemenag, ditemukan dari 14.656 pada tahun 2003-2004 jumlah pesantren menjadi 28.961 pada tahun 2014-2015. 

Perkembangan pesantren secara kualitatif dapat dilihat dari berbagai aspek, di antaranya status kelembagaan, tata pamong, penyelenggaraan program pendidikan, perluasan bidang garap, kekhasan bidang keilmuan, diversifikasi usaha ekonomi, jaringan kerjasama, dan lain-lain. Keragaman perkembangan itu menghasilkan berbagai ekspresi pesantren dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pesatnya Perkembangan Pesantren di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesatnya Perkembangan Pesantren di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesatnya Perkembangan Pesantren di Indonesia

Perkembangan pesantren juga terkait dengan status dan perannya yang semakin luas (wider mandate) dari sebagai lembaga keagamaan, pendidikan, sosial sampai ke kampung peradaban dan artefak peradaban Indonesia. Peran pesantren sebagai lembaga keagamaan tidak dapat dipungkiri, yaitu sebagai salah satu unsur penggerak Islam di Indonesia (Lombard, 2005). 

Melalui pesantren, Islam berkembang ke seluruh wilayah Indonesia. Keterlibatan pesantren dalam pengembangan sosial ekonomi, politik, dan budaya, merupakan bukti perluasan perannya sebagai lembaga sosial yang dinamis.

Fans Gus Dur

Pesantren juga telah memberikan akses pelayanan pendidikan bagi kemajuan umat. Sebagaimana diidentifikasi oleh Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam, pesantren dapat dijelaskan sebagai “satuan pendidikan” dan  “penyelenggara pendidikan”. Saat ini dapat disaksikan banyak pesantren yang menyelenggarakan pendidikan Madrasah, pendidikan sekolah, pendidikan tinggi, pendidikan keterampilan, pendidikan mu’adalah, dan lain-lain.  

Santri yang belajar di pesantren sampai tahun 2015 berjumlah 4.028.660 orang yang terdiri dari 2.069.029  atau (51,1%) santri laki-laki dan 1.968.631 atau (48,9 %) santri perempuan. Dari jumlah santri tersebut, sebanyak 2.516.591 atau 62,5 % santri mukim dan 1.512.069 atau 37,5 % santri tidak mukim. Jumlah pendidik sebanyak 333.795  orang yang terdiri dari 208.108 atau 62,3 % berpendidikan < S1, 114.029 atau 34,2 % berpendidikan S1, dan 11.657 atau 3,5 % berpendidikan ? S2.

Dinamika pesantren dalam jumlah, aspek kualitatif dan perannya memunculkan kebutuhan untuk mengetahui sejauhmana kapasitas yang dimiliki pesantren. Keragaman pesantren dan meluasnya peran pesantren dalam bidang pendidikan, keagamaan, dan sosial menjadi dasar kebutuhan pengukuran kapasitas pesantren yang memiliki akurasi, dan penetapan komponen-komponennya yang argumentatif secara teoretis, operasional, dan terukur. 

Fans Gus Dur

Kapasitas pesantren pada hakikatnya menggambarkan isian, muatan, kemampuan, kandungan, kesanggupan, kapabilitas, atau “kebolehan” dari suatu pesantren. Adapun indeks mengacu pada “pedoman, penunjuk, dan pengenal,” sesuatu. Dengan kata lain, IKP (Indeks Kapasitas Pesantren) adalah pedoman, penunjuk, dan pengenal atas muatan, kemampuan, kandungan, kesanggupan, kapabilitas, atau “kebolehan” dari suatu Pesantren. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Aswaja, Kiai Fans Gus Dur

Selasa, 19 September 2017

Kepala Muslim Colloge London Kagumi Toleransi di Indonesia

Jakarta, Fans Gus Dur



Kepala Muslim Colloge London Dr Mohamed M. Benotman menyatakan kekagumannya atas toleransi yang ada di Indonesia. Ia bercerita, saat berkunjung ke Surabaya dan mendatangi Masjid Al Akbar Surabaya, ia kagum di samping masjid terdapat gereja dan keduanya dapat hidup berdampingan dengan damai.?

Melihat fenomena ini, pria kelahiran Libya ini berpendapat, dunia Muslim seharusnya belajar tentang toleransi dari Indonesia. Hal ini disampaikannya ketika berkunjung ke Universitas NU Indonesia di Jakarta, Selasa (16/2).

Kepala Muslim Colloge London Kagumi Toleransi di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepala Muslim Colloge London Kagumi Toleransi di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepala Muslim Colloge London Kagumi Toleransi di Indonesia

Mengenai kehidupan umat Islam di Inggris, ia menuturkan, perkembangan Muslim di negeri kerajaan ini sangat pesat. Pada tahun 1971, hanya terdapat 400 ribu Muslim dengan jumlah masjid hanya 30. Pada 2011, jumlah masjidnya saja sudah sekitar 1500. Tentu saja jumlah pemeluknya juga sudah meningkat luar biasa. “Ini semua adalah kehendak Allah,” katanya.

Untuk memfasilitas belajar agama Islam inilah salah satunya didirikan Muslim College London yang merupakan perguruan tinggi Islam pertama yang didirikan pada tahun 1983. Mufti Rwanda merupakan salah satu lulusan dari perguruan tinggi ini.?

Dalam kunjungan ke UNU Indonesia ini, ia mengajak kerjasama dalam bidang seminar, konferensi atau beasiswa. Ia menawarkan biaya kurang dari separuh biaya kuliah di universitas lain di Inggris. Potensi kerjasama lain adalah joint degree, yaitu dua semester belajar di London dan satu semester di Indonesia. ?

Fans Gus Dur

Mengenai toleransi Rektor UNU Indonesia Prof Dr Maksum Machfoed menegaskan, tidak ada negara yang memiliki toleransi yang lebih baik dari Indonesia. Di luar Indonesia, toleransi dimaknai sebatas tidak menganggu aktivitas orang lain. Di Indonesia, toleransi bukan hanya sebatas itu, tetapi termasuk ikut mensuksesan ritual ibadah agama lain. Ia mencontohkan para Banser yang turut menjaga keamanan gereja saat Natal.?

Maksum menyebut NU dan Muhammadiyah sebagai dua organisasi besar Islam moderat yang menjadi pilar toleransi ini.?

“Tanpa ada NU dan Muhammadiyah, Indonesia sudah hilang,” tandasnya. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur

Fans Gus Dur Sholawat, Aswaja, Kiai Fans Gus Dur

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Fans Gus Dur sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Fans Gus Dur. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Fans Gus Dur dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock