Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Maret 2018

Mata “Tertutup” Tetapi Bisa Melihat

Jakarta,Fans Gus Dur. Diantara tempat yang sering dikunjungi oleh Alm KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)  adalah Pesantren Asy-Syafi’iiyah Kedungwungu, Kec. Krangkeng Indramayu Jawa Barat, minimal dalam setahun dua kali Gus Dur berkunjung di pesantren yang terletak di pinggiran sungai/irigasi desa itu.

Tepat beberapa hari Gus Dur lengser dari kursi kepresidenan Gus Dur berkenan mengunjungi pesantren asuhan KH Afandi Abdul Muin Syafi’i itu.

Mata “Tertutup” Tetapi Bisa Melihat (Sumber Gambar : Nu Online)
Mata “Tertutup” Tetapi Bisa Melihat (Sumber Gambar : Nu Online)

Mata “Tertutup” Tetapi Bisa Melihat

Dalam kondisi –baru lengser itu- tentunya  Gus Dur sedang menjadi perhatian publik, panitia berinisiatif membuat panggung pengajian yang diletakkan di tepi sungai di depan pesantren itu, -karena halaman pesantren kurang luas-, dengan posisi panggung menghadap sungai, sehingga hadirin diposisikan di sepanjang jalan yang berdampingan dengan sungai. Saat itu Nasrulloh Afandi, salah satu santri di pesantren tersebut ikut jadi panitia.

Fans Gus Dur

Di hari H, sebelum Gus Dur tiba di lokasi, puluhan ribu hadirin berdatangan,dari berbagai pelosok Kabupaten Indramayu,Cirebon dan sekitarnya, dengan aneka latar belakangnya. Termasuk saat itu Wakil Bupati Indramayu yang terlambat datang pun harus rela masuk lokasi melalui pematang sawah, lewat pintu belakang dapur pesantren karena jalan depan jadi lautan manusia.

Saat berbicara di atas panggung, tiba-tiba Gus Dur bilang ”Ini baru pertama kali saya ceramah di tepi sungai, jadi terasa sejuk, melebihi AC, ya maklum desa tempat membuang jin, jauh dari kota he he.. he…” sambil tertawa terkekeh-kekeh khas Gus Dur.

Fans Gus Dur

Tentu saja orang yang mendengar terheran-heran, darimana Gus Dur tahu kalau panggung itu di tepi kali. Padahal tidak ada yang ngasih tahu sebelumnya.

Ditengah-tengah orasinya, Gus Dur bilang ”Indramayu ini punya PT Pertamina dengan sumber daya besar, itu tidak jauh dari sini, tetapi masyaraktnya belum makmur, ini sebagai bahan evalusai pemerintah daerah,” tandas Gus Dur, dengan jari telunjuk tangan kiri ke arah lokasi dimana PT Pertamina Balongan berada, identiknya orang yang melihat dengan normal dan memahami lokasi daerah tersebut.

Setelah cukup lama berorasi tiba-tiba Gus Dur pun melihat jam tangan yang berada di pergelangan tangannnya (lihatlah foto-foto Gus Dur, ke mana-mana Ia selalu memakai jam tangan,red)

Sambil melihat jam tangan, tanpa ada yang mengasih tau, kemudian Ia bilang: “Ini sudah pukul empat sore, saya harus ke tempat Kiai Fuad Hasyim Buntet (Cirebon, red). Padahal jadwal semula saya mau ke Buntet dulu, terus ke Kedungwungu, tetapi berubah, ke Kedungwungu duluan, nah itu kiai Fuad-nya sudah jemput saya, sambil menunjuk ke arah alm KH Fuad Hasyim yang berada di bawah di samping panggung,” tandas Gus Dur, waktu yang dikatakannya pun betul, identiknya orang yang melihat jam secara normal saat itu.

Alhasil, Gus Dur matanya“tertutup” sebagaimana disaksikan oleh orang banyak, tetapi sejatinya Ia bisa melihat. wallahu a’lam. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Kyai, Fragmen, Sholawat Fans Gus Dur

Jumat, 23 Februari 2018

Membumikan Shalawat oleh PC Fatayat NU Karawang

Kerawang, Fans Gus Dur. Pimpinan Cabang Fatayat NU Kabupaten Karawang selalu mempunyai cara yang unik dalam methode dakwahnya. Ahad, 26 Februari 2012 bertempat di Masjid Raya Al-Amien Perumnas Bumi Telukjambe Karawang jajaran PC Fatayat NU Karawang menyelenggarakan Festival Barzanji.

Membumikan Shalawat oleh PC Fatayat NU Karawang (Sumber Gambar : Nu Online)
Membumikan Shalawat oleh PC Fatayat NU Karawang (Sumber Gambar : Nu Online)

Membumikan Shalawat oleh PC Fatayat NU Karawang

Acara yang bertemakan “Membumikan Shalawat sebagai wujud cinta kepada Rasulullah SAW dengan Mentradisikan Al-Barzanji” diikuti oleh 12 Tim yang berasal dari berbagai kecamatan di seantero wilayah Kabupaten Karawang.

Perhelatan Festival Al-Barzanji ini dimulai tepat pukul 09.00 dan berakhir pukul 14.00 WIB dengan diselingi jeda istirahat untuk Shalat Dhuhur dan makan siang.

Fans Gus Dur

“Kita adalah generasi penghubung antara para pendahulu dengan generasi anak-anak kita, untuk itu maka kami berusaha mentradisikan Al-Barzanji ini sebagai wujud rasa cinta kita kepada Kanjeng Nabi SAW, menjaga amanah dari generasi pendahulu dan siap mewariskannya kepada generasi penerus kita” ujar Ustadzah Hj Yani Suryani Mustari selaku Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Bekasi.

Fans Gus Dur

Masing-masing tim begitu antusias dalam mengikuti kegiatan ini. Masing-masing tim berusaha menunjukkan kemampuannya sebagai yang terbaik.Acara ditutup dengan pemberian penghargaan secara simbolik kepada Tim dari PC Muslimat NU Karawang.

”Semua tim perform dengan sangat baik, dalam festival ini tidak ada juaranya, semuanya kami berikan penghargaan sebagai apresiasi terhadap partisipasinya, semua tim adalah Sang Pemenang” sahut Ustadzah Hj. Yani Suryani Mustari. Methode dakwah yang indah. Shalawat begitu membumi dan merasuk dalam relung-relung hati kami.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Arief Widhiharto

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Fragmen, Bahtsul Masail, Nasional Fans Gus Dur

Kamis, 22 Februari 2018

Dikukuhkan, PCNU Sorong Selatan Komit Hidupkan NU di Papua

Sorong Selatan, Fans Gus Dur. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sorong Selatan masa khidmah 2015-2020 secara resmi dilantik, Sabtu (13/6), di gedung putih Teminabuan, Papua Barat. Pengukuhan ini menandai tekad pengurus baru untuk lebih aktif menggerakkan NU di Tanah Papua.

Dikukuhkan, PCNU Sorong Selatan Komit Hidupkan NU di Papua (Sumber Gambar : Nu Online)
Dikukuhkan, PCNU Sorong Selatan Komit Hidupkan NU di Papua (Sumber Gambar : Nu Online)

Dikukuhkan, PCNU Sorong Selatan Komit Hidupkan NU di Papua

Ketua PCNU Sorong Selatan H Muhammad Tawakkal menilai, NU di daerahnya yang berdiri sejak 2005 mengalami kevakuman. “Di tahun ini NU akan kembali berkiprah dalam membawa misi aqidah Aswaja,” ujarnya.

Menurut Tawakkal, NU dengan memegang prinsip tawasuth, itidal, tawazun, taawun dalam menjalankan amanah organisasi dan bentuk pelayanan kepada masyarakat. "Tugas NU mengajak, merangkul, ulama maupun dai NU di wilayah Sorsel dalam menghadapi paham radikalisme, seperti pergerakan ISIS, semoga tidak sampai ke negara Indonesia,” tuturnya.

Fans Gus Dur

Dalam kesempatan itu, pengurus terlantik di antaranya Muh Khaerul Aziz (Rais Syuriyah), H. Abdul Hakim (Katib), H. Hasan (A’wan), HM. A. Tawakkal (Ketua Tanfidhiyah), Muhammad Latif (Sekretaris), dan Sukandar (Bendahara).

Fans Gus Dur

Selain penduduk pribumi, sebagian pengurus merupakan warga transmigran. NU didirikan 10 tahun lalu oleh H Abdul Fattah, warga NU asal Maros, Sulawesi Selatan. Prosesi pelantikan disaksikan oleh Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU KH Nurul Yakin, Bupati Sorsel Drs Otto Ihalauw, dan Ketua Majelis Kehormatan DPRD Sorsel.

Nurul Yakin menjelaskan, sejak berdiri 1926 NU terus berkomitmen tegak dalam landasan ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesame muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesame bangsa), ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia).

"Keberadaan NU sendiri merupakan organisasi sosial keagamaan yang bertujuan memberikan manfaat dan berkhidmat kepada masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Pemerintah Daerah setempat menyatakan siap bekerja sama dengan NU dalam rangka mewujudkan pembangunan pemerintahan Sorsel. (Zaenal Arifin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Fragmen, Ahlussunnah, Jadwal Kajian Fans Gus Dur

Sabtu, 03 Februari 2018

Ketika Tiga Ulama Besar Melamar Rabi’ah al-‘Adawiyah

Nama Rabi’ah al-’Adawiyah harum di mata banyak orang. Kealimannya, kerendahhatiannya, dan hidup zuhudnya seolah memunculkan magnet yang menarik banyak kalangan untuk mengaguminya sebagai perempuan sufi yang tak biasa. Tak hanya masyarakat awam, kekaguman tersebut ternyata juga dimiliki para ulama besar yang sezaman.

Tak heran, ketika ulama perempuan ini berstatus janda lantaran sang suami wafat, banyak ulama yang berusaha melamarnya untuk menjadi pendamping hidup. Dalam kitab Durratun Nashihin diuangkapkan, para ulama ternama yang terpikat hatinya itu antara lain Hasan al-Bashri, Malik bin Dinar, dan Tsabit al-Banani.

Ketika Tiga Ulama Besar Melamar Rabi’ah al-‘Adawiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Tiga Ulama Besar Melamar Rabi’ah al-‘Adawiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Tiga Ulama Besar Melamar Rabi’ah al-‘Adawiyah

Ketika para ulama tersebut suatu hari datang ke kediaman Rabi’ah al-’Adawiyah dan mengutarakan maksud tulus mereka untuk meminang, dari balik hijab Rabi’ah berujar, “Baiklah, tapi aku ingin tahu, siapakah di antara kalian yang paling alim, maka aku akan bersedia menjadi istrinya.”

Fans Gus Dur

“Dialah Hasan al-Bashri,” sahut Malik bin Dinar dan Tsabit al-Banani. Suasana “persaingan” merebut hati Rabi’ah ternyata tak menghalangi mereka untuk tetap tawadhu’ satu sama lain.

Fans Gus Dur

Rabi’ah pun mulai mengajukan persyaratan kepada Hasan al-Bashri. “Jika Tuan mampu menjawab empat masalah yang aku ajukan maka aku bersedia menjadi istri Tuan.”

“Silakan, wahai Rabi’ah. Semoga Allah memberi taufiq kepada aku dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan itu,” balas Hasan al-Bashri.

“Menurut Tuan, kalau aku meninggal dunia, apakah kematianku dengan membawa ketetapan iman atau tidak?”

“Maaf, hal ini termasuk hal yang ghaib, dan tiada yang tahu pasti kecuali Allah,” jawab Hasan al-Bashri.

Rabi’ah melanjutkan, “Ketika aku bersemayam dalam kubur, lalu malaikat Munkar dan Nakir bertanya, menurut Tuan, mampukah aku menjawabnya?”

“Maaf, itu juga termasuk masalah ghaib. Yang tahu hanyalah Allah.”

“Menurut Tuan, ketika manusia dihimpun di hari Kiamat kelak, aku termasuk orang yang menerima kitab amal dengan tangan kanan ataukah kiri?”

Hasan al-Bashri masih mengutarakan jawaban yang sama. Ia tak dapat menjawab masalah yang ia nilai ghaib itu.

“Menurut Tuan, ketika manusia dipanggil, aku termasuk golongan orang yang masuk surge atau neraka?”

Lagi-lagi Hasan al-Bashri meminta maaf dan mengembalikan kepastian atas jawaban tersebut kepada Allah. Ia tahu, Rabi’ah adalah tokoh dengan ketaatan dan prestasi ruhani yang luar biasa. Tapi untuk urusan nasib kehidupannya kelak, Hasan tak mau memberi penilaian. Hasan menghindar dari apa yang menjadi hak prerogatif Allah.

“Bagi orang yang sedang kalut memikirkan empat masalah ini, mana ada kesempatan untuk berumah tangga?” kata Rabi’ah.

Para ulama itu pun meneteskan air mata dan keluar dari rumah Rabi’ah al-’Adawiyah dengan penuh penyesalan. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Fragmen, Nusantara, Kajian Islam Fans Gus Dur

Minggu, 28 Januari 2018

Besok Pagi, Baba Ismail Thailand Berkunjung ke Dayah Jamiah Al-Aziziyah Aceh

Aceh, Fans Gus Dur. Ulama besar asal Pattani, Thailand, Tuan Guru Haji Ismail bin Umar akan berkunjung ke Dayah Jamiah Al-Aziziyah, Batee Iliek, Aceh. Kunjungan ke Batee Iliek dijadwalkan pada Sabtu (28/5) pagi setelah sebelumnya berkunjung ke beberapa dayah (pesantren) seperti Dayah Darul Muarrif, Dayah Ulee Titi, Dayah Darul Munawwarah Kuta Krueng, Babussalam Blang Blahdeh, dan juga Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga.

Baba Ismail, demikian ia disapa, akan menyampaikan tausiah di depan santri dan dewan guru Dayah Jamiah Al-Aziziyah sekitar pukul 08.00 Wib di Mushalla Teungku Ahmad Syarif. Selain dalam rangka dakwah, kunjungan pengarang beberapa kitab seperti Mizan ad-Durari, Hikam Jawi, dan Mawaiz al-Iman ini merupakan salah satu bentuk keseriusan para ulama di Pattani dalam memperkokoh hubungan silaturahmi dengan ulama Aceh yang sebelumnya telah berkunjung ke Pattani, termasuk pimpinan Dayah Jamiah Al-Aziziyah, Dr Tgk Muntasir A. Kadir.

Selain Baba Ismail, beberapa ulama dari luar yang berkunjung ke dayah yang berlokasi di Komplek Makam Syuhada Tgk Chik Kuta Gle ini, seperti Syeikh Abdurrahman bin Umar Al-Ahdhal dari Yaman, Mufti Damaskus Syekh Adnan Al-Afyouni, Syekh Mahmud Syahadah dan Syekh Omar Dib yang ketiganya berasal dari Suriah, dan juga beberapa ulama lainnya dari dalam dan luar negeri.

Besok Pagi, Baba Ismail Thailand Berkunjung ke Dayah Jamiah Al-Aziziyah Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Besok Pagi, Baba Ismail Thailand Berkunjung ke Dayah Jamiah Al-Aziziyah Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Besok Pagi, Baba Ismail Thailand Berkunjung ke Dayah Jamiah Al-Aziziyah Aceh

Banyaknya ulama yang berkunjung ke dayah salah satunya disebabkan nama besar pendirinya, Abu Mudi yang memang telah mempersiapkan 18 hektar lahan di tempat ini sebagai cikal bakal lahirnya Universitas Al-Aziziyah. (Muhammad Iqbal Jalil/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur

Fans Gus Dur Fragmen, Pertandingan Fans Gus Dur

NU Kota Surabaya Gelar Doa dan Sholawat untuk Rohingya

Surabaya, Fans Gus Dur. Lantunan doa menggema di gedung Hoofdbestuur PCNU Kota Surabaya, Senin (11/9) malam. Para nahdliyin seantero Surabaya berkumpul serta menggelar aksi solidaritas untuk etnis Rohingya yang menderita penindasan oleh Junta Militer Mnyanmar. 

NU Kota Surabaya Gelar Doa dan Sholawat untuk Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kota Surabaya Gelar Doa dan Sholawat untuk Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kota Surabaya Gelar Doa dan Sholawat untuk Rohingya

"Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya," kata Ketua PCNU Kota Surabaya, Muhibbin Zuhri saat membuka acara dengan membacakan arti Surat Al Maidah Ayat 32. 

Kita semua marah, lanjut pria yang akrab disapa Cak Ibin, atas kekerasan, penindasan atas nama apapun. "Kekerasan yang dialami oleh saudara-saudara kita Rohingya melukai rasa kemanusian, lebih-lebih keimanan kita. Karena sebagian besar yang terusir adalah umat muslim," tegasnya. 

Oleh karena itu, PCNU Kota Surabaya menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat untuk berdoa kepada Allah SWT. "Karena doa adalah perisai bagi orang-orang yang beriman."

Sedangkan, lanjut cak Ibin, barang siapa yang diberikan kelapangan rezeki, mari berdonasi melalui jalur yang benar. "Kita sudah punya akses agar donasi kita langsung diterima oleh saudara kita di Myanmar melalui LAZISNU," tambahnya.

Fans Gus Dur

Doa dan Sholawat juga dihadiri oleh Rois Syuriyah PCNU Kota Surabaya KH Mas Sulaiman Nur, Ketua GP Ansor Surabaya HM. Faridz Afif, lembaga dan Banom di bawah naungan PCNU Surabaya, dan Forum Komunikasi Umat Beragama Surabaya. (RZ/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur

Fans Gus Dur Fragmen Fans Gus Dur

Pesantren Bukan Sarang Teroris dan Narkoba!

Subang, Fans Gus Dur

Menyebut pesantren sebagai sarang teroris dan narkoba merupakan pernyataan yang salah dan ngawur, karena Islam dan nasionalisme adalah ajaran yang sudah melekat di kalangan pesantren.

Pesantren Bukan Sarang Teroris dan Narkoba! (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Bukan Sarang Teroris dan Narkoba! (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Bukan Sarang Teroris dan Narkoba!

"Membuat identifikasi pesantren sebagai sarang terorisme dan sarang narkoba itu salah. Ketika berbicara Islam dan nasionalisme, tidak akan ada radikalisasi dan narkoba disana," tegas KH Maman Imanulhaq, Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka usai mengikuti Dzikir Akbar di Pesantren Attawazun, Kalijati, Subang, Ahad (14/2/2016).

Anggota Fraksi PKB DPR RI ini menambahkan, ketika ditemukan ada 19 lembaga pendidikan Islam yang mencetak teroris, diharapkan agar BNPT tidak melakukan generalisasi kepada seluruh pesantren.

"Kalau pun disebut ada 19 pesantren, tolong jangan menyebutnya sebagai pesantren, sebut saja majelis yayasan pendidikan saja, kita tersinggung oleh perkataan itu," tegas Wakil Ketua Lembaga Dakwah PBNU itu.

Fans Gus Dur

Untuk menyelesaikan masalah terorisme, kata dia, diharapkan kepada BNPT untuk melakukan koordinasi dengan Kementerian Agama serta menentukan parameter dan indikator pesantren yang terjangkit ajaran radikalisme.

"Deradikalisasi tidak akan berhasil tanpa ada koordinasi, komunikasi dan konfirmasi. Saya juga ingin menegaskan agar media dan publik tahu bahwa pesantren bukan sarang teroris ataupun narkoba," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Fans Gus Dur

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Syariah, Fragmen, Sholawat Fans Gus Dur

Selasa, 23 Januari 2018

MWCNU Gebog Tekankan Pentingnya Sikap Bijaksana Hadapi Perbedaan

Kudus, Fans Gus Dur. Pengurus Syuriyah MWCNU Gebog kabupaten Kudus KH Aminudin Mawardi mengimbau warga untuk menjaga sikap bijaksana terutama ketika menghadapi perbedaan pandangan satu sama lain. Sikap menghargai pandangan masing-masing menjadi perekat persaudaraan.

MWCNU Gebog Tekankan Pentingnya Sikap Bijaksana Hadapi Perbedaan (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Gebog Tekankan Pentingnya Sikap Bijaksana Hadapi Perbedaan (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Gebog Tekankan Pentingnya Sikap Bijaksana Hadapi Perbedaan

“Karenanya kita harus meyakini kehendak Allah untuk terus menjaga silaturahmi dan persaudaraan. Dengan berpegang pada tali Allah itu, perbedaan yang mengemuka dapat diatasi,” kata Kiai Aminudin dalam acara Halal Bihalal keluarga kesar Kiai Maslani di kediamannya di desa Padurenan, Gebog, Kudus, Senin (28/7).

Setiap manusia terkadang mengalami gesekan-gesekan akibat perbedaan. Tetapi  hal itu bisa disatukan manakala terjalin sebuah ikatan dan menyadari perbedaan itu fitrah dari Allah. “Selama perbedaan di antara golongan ini bisa diikat jadi satu, maka hal itu bisa ditoleransi,” kata Kiai Aminudin.

Fans Gus Dur

Kiai Maslani merupakan keturunan dari kiai terkemuka di Kudus antara lain Kiai Mawardi, mantan Rais Syuriyah PCNU Kudus KH Baqir. Halal Bihalal ini ditutup dengan santunan keluarga besar Kiai Maslani kepada 20 anak yatim. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Fans Gus Dur

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Sholawat, Fragmen Fans Gus Dur

Minggu, 21 Januari 2018

Tamir Masjid PBNU Gelar Rapimda di Sumenep

Sumenep, Fans Gus Dur. Lembaga Ta’mir Masjid PBNU menggelar Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) guna konsolidasi dan koordinasi para imam, khotib, dan ta’mir masjid di kantor PCNU Kabupeten Sumenep, Madura, Sabtu-Ahad (26-27/01).?

Rapimda bertema Wujudkan masjid sebagai pemberdayaan umat tersebut diikuti 180 orang para imam, khotib, dan ta’mir masjid se-Kabupaten Sumenep.?

Menurut Sekretaris LTM-PBNU KH Ibnu Chazen, Rapimda ini bertujuan dalam rangka membangun, dan memperkuat struktur asjid dari pusat sampai ke daerah, terutama di basis-basis NU.?

Tamir Masjid PBNU Gelar Rapimda di Sumenep (Sumber Gambar : Nu Online)
Tamir Masjid PBNU Gelar Rapimda di Sumenep (Sumber Gambar : Nu Online)

Tamir Masjid PBNU Gelar Rapimda di Sumenep

“Dan yang lebih penting lagi adalah pemberdayaan ekonomi umatnya,” tambahnya. ? ? ?

Ibnu menambahkan, struktur sudah biasa, tapi yang lebih penting ekonominya. Kalau ekonominya sudah berjalan dengan baik, jamaah akan makmur. Kalau jamaah makmur, masjidnya akan lebih makmur.?

Dengan Rapimda ini, Ibnu berharap supaya LTM PCNU Sumenep bisa menjaga dan mempertahankan aqidah Ahlu Sunah wal-Jamaah ala thariqah Nahdlatul Ulama berbasis masjid.

Fans Gus Dur

“Agar masjid warga Nahdliyin, tidak disatroni gerakan dakwah yang mengatasnamakan pemurnian Islam,” ? pungkasnya. ? ?

Fans Gus Dur

Rapimda tersebut dibuka Bupati Sumenep, Busyro Karim. Dalam sambutannya, ia sejalan dengan tujuan LTM-PBNU, yaitu ingin memperkuat posisi masjid di Sumenep.

“Saya upayakan hal itu dengan melakukan safari ke masjid-masjid tiap Jumat,” ungkap bupati yang juga ‘Awan PCNU Sumenep tersebut.

Rapmda tersebut merupakan kerjasam LTM-PBNU, PCNU Kabupaten Sumenep dan minuman Larutan Penyegar cap Badak PT Sinde Budi Sentosa.

Redaktur : Hamzah Sahal ?

Penulis ? ? : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Pondok Pesantren, Fragmen, Lomba Fans Gus Dur

Rabu, 17 Januari 2018

PMII Kentingan Bahas Pro-Kontra PTN Badan Hukum

Solo, Fans Gus Dur

Perubahan perguruan tinggi negeri (PTN) menjadi badan hukum (BH) sebenarnya bukan merupakan isu baru. Saat ini, sudah ada sebelas perguruan tinggi yang berbadan hukum, yaitu Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan lainnya.

PMII Kentingan Bahas Pro-Kontra PTN Badan Hukum (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Kentingan Bahas Pro-Kontra PTN Badan Hukum (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Kentingan Bahas Pro-Kontra PTN Badan Hukum

Dalam sejarah, isu PTN-BH berembus ketika ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi dan Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 1999 tentang Penetapan Perguruan Tinggi Negeri sebagai Badan Hukum.

Kedua peraturan ini dianggap sebagai cermin kebebasan dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi, tidak hanya berupa kebebasan dalam bentuk kebebasan akademik dan otonomi keilmuan, namun juga otonomi dalam bidang keuangan.

Fans Gus Dur

Hal inilah yang menjadi salah satu pembahasan dalam diskusi yang diselenggarakan Pengurus Komisariat PMII Kentingan, Rabu (3/3).

Salah satu pemateri, Bahar Elfudlatsani, menyampaikan mengenai bentuk struktural ketika sebuah PTN menerapkan Badan Hukum, yaitu adanya struktur yang bernama MWA atau Majelis Wali Amanat.

Fans Gus Dur

”MWA sendiri merupakan pemegang peran penting dalam struktural PTN-BH. Orang-orang yang bisa masuk di dalamnya merupakan bisa dari unsur pemerintah, unsur dosen, unsur masyarakat dan unsur lain,” terang Bahar.

Ditambahkan Bahar, dibandingkan dengan BLU (Badan Layanan Umum) yang dimana pengelolaan keuangan di BLU memiliki tata kelola dan kewenangan pengelolaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Perubahan tersebut tentu akan memunculkan pertanyaan bagi civitas akademika terutama kalangan mahasiswa. Bagaimana keuntungan dan kerugian yang akan diperoleh ketika PTN yang semula berstatus BLU diubah menjadi Badan Hukum,” papar dia.

Menurut dia, mahasiswa khususnya kader PMII perlu bersikap kritis dan ikut tanggap terhadap persoalan ini. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Fragmen, Amalan, Hadits Fans Gus Dur

Memahami Kearifan Tradisi-tradisi Lokal

Oleh Nine Adien Maulana



Momen jelang Ramadhan hingga awal Syawal dipenuhi dengan berbagai tradisi yang khas daerah masing-masing. Ada tradisi megengan dan saling memohon maaf di awal Ramadhan. Ada tradisi weweh maleman seperti pada akhir-akhir Ramadhan. Menjelang Syawal hingga setelah shalat Idul Fitri ada lagi tradisi nyadran atau nyekar (ziarah kubur). Kupatan pada tanggal tujuh Syawal menjadi penutup rangkaian tradisi-tradisi itu.

Memahami Kearifan Tradisi-tradisi Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
Memahami Kearifan Tradisi-tradisi Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

Memahami Kearifan Tradisi-tradisi Lokal

Meskipun tradisi-tradisi itu beriringan dengan momentum ibadah mahdhah, namun mereka bukanlah bagian ibadah mahdhah yang secara langsung bersumber dari Al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka adalah kreasi masyarakat lokal dalam mengapresiasi momentum ibadah mahdhah pada bulan Ramadhan dan Syawal. Oleh karena itu, tidak ada standar bakunya. Tiap daerah memiliki kekhasannya sendiri dalam mengapresiasinya yang termanifestasi dalam tradisi-tradisi itu.

Fans Gus Dur

Selama tradisi-tradisi ini dilakukan dengan cara-cara yang beradab dan tidak menyimpang dari syari’at, maka mereka layak disebut sebagai bagian dari khazanah kearifan lokal yang patut dilestarikan. Sebaliknya, jika tradisi-tradisi ini dilakukan dengan cara-cara yang tidak beradab dan nyata-nyata menyimpang norma syari’at, maka mereka tidak bisa dilestarikan karena bukan termasuk kearifan lokal. Atas dasar itulah umat Islam harus selektif dalam mempraktikkan tradisi.

Melaksanakan tradisi secara selektif dalam bingkai syariat merupakan sikap hidup kontekstual sebagaimana peribahasa, “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”. Ini adalah potret sikap arif dan bijaksana (wisdom) terhadap apa telah ada dan berlaku di dalam masyarakat. Bersikap seperti ini bukan berarti bersikap permisif terhadap semua tradisi, namun tetap selektif dengan menjadikan norma-norma syariat sebagai cara pandangnya (worldview).

Sikap hidup kontekstual semacam ini juga menjadi pertimbangan para ulama terdahulu dalam merumuskan hukum-hukum fiqih. Dalam kaidah fiqih yang dirumuskan para ulama terdahulu kita menjumpai kaidah, “al-‘âdah muhkamah”, adat kebiasaan yang telah dikenal baik (al-‘urf) bisa dijadikan pertimbangan perumusan hukum fiqih.

Fans Gus Dur

Kriteria kebaikan yang bisa diterapkan pada adat kebiasaan selain berpijak pada kebenaran akal sehat manusia juga tidak bisa lepas dari norma-norma syariat. Di antaranya adalah, tidak bertentangan dengan syariat, tidak menyebabkan kerusakan atau menghilangkan kebaikan, telah dilakukan secara massif dan berulang-ulang di kalangan umat Islam, dan tidak masuk dalam wilayah ibadah mahdlah. Dengan kriteria inilah kita bisa bersikap arif, bijaksana dan selektif dalam mengamalkan tradisi secara kreatif.

Tradisi semacam ini masuk dalam wilayah budaya yang tidak mengikat kuat bagi semua orang. Masing-masing individu dalam suatu masyarakat memiliki otonomi untuk memilih mengikutinya atau tidak mengikutinya. Selama individu itu memilih dengan penuh kesadaran, tanggung jawab dan bijaksana, maka baik yang mengikuti maupun tidak mengikuti sama-sama mendapatkan kebaikan. Akan tetapi jika di antara kedua pihak itu mengklaim paling benar dan paling baik dan menganggap yang lain salah dan jelek, maka hal itu adalah tidak bisa dibenarkan dan jauh dari kebijaksanaan.

Kedua pihak itu sebenarnya tetap akan hidup bersamaan dengan tradisinya masing-masing. Mereka yang melestarikan tradisi yang telah ada, mungkin akan mempraktikkannya dengan berbagai kreativitas budaya. Mereka yang tidak mengikutinya, maka sebenarnya juga sedang mengkreasi hal baru yang jika dilakukan terus-menerus dan diikuti oleh orang lain secara massif akan menjadi tradisi pembandingnya.

Hal ini adalah sesuatu yang wajar, karena manusia dengan akal budinya itu pada dasarnya adalah makhluk berbudaya. Oleh karena itu, jika ada orang yang mengatakan antibudaya, maka hal itu sangat tidak logis, karena manusia pasti berbudaya, sebagai konsekuensi kemampuan akal budinya. Yang tidak berbudaya pasti bukan manusia, karena tidak memiliki akal budi. Dengan demikian tradisi adalah bagian budaya manusia yang tidak bisa dihindari.

Dalam praktiknya, pelaksanaan tradisi memang bisa saja menyimpang. Hal itu bisa saja terjadi di mana saja dan kapan saja. Dengan mengacu pada kriteria kearifan dan kebijaksanaan di atas maka, kita bisa melakukan kontrol? agar tradisi itu tetap dilakukan dalam koridor kearifan lokal yang sesungguhnya. Dengan cara itu, kehidupan beragama dan bermasyarakat menjadi indah dengan beragam keunikan khas masing-masing daerah.

Dalam konteks dakwah Islam, tradisi semacam ini bisa dijadikan sebagai media pengenalan dan? penyebaran ajaran agama Islam. Dengan tujuan dakwah itulah, maka kita bisa memahami dimunculkannya berbagai macam tafsir otak-atik-gatuk dalam rona-rona tradisi itu. Ini bukanlah tafsir baku, namun hasil kreativitas untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah melalui pelaksanaan tradisi.

Meskipun terkadang tafsir itu terkesan sangat dipaksakan, namun sikap kita terhadap tafsir otak-atik-gatuk harus juga bijaksana. Jangan menyikapinya secara hitam-putih dengan sudut pandang kaku syariat, karena ini adalah wilayah budaya. Jika tafsir semacam itu sejalan dengan syariat, maka silakan saja diterima sebagai penambah khazanah pengetahuan, meskipun kualitas ilmiahnya masing dipertanyakan. Jika ia tidak sejalan dengan syariat, maka kita harus tegas menolaknya.

Kebaikan dan kebenaran memang tidak selalu harus berangkat dari teks-teks syariat, karena Allah SWT telah menganugerahkan akal budi kepada manusia. Dengannya manusia bisa berkreasi dalam kebaikan dan kebenaran, sebagai konsekwensi sebagai makhluk berbudaya. Akan tetapi, kita harus sadar dan mengakui, bahwa akal budi saja tidak cukup bagi manusia menjadi baik dan benar menurut Allah SWT Sang Pencipta.

Manusia butuh syariat untuk melengkapi dan menyempurnakan akal budinya agar sejalan KehendakNya. Ini adalah konsekwensi iman. Dengan landasan iman itu, apa yang datang dari syariat pasti mengandung kebaikan dan kebenaran, walaupun seringkali dirasakan tidak sejalan dengan keinginan manusia. Kita pasrah menerimanya sebagai konsekuensi berislam.? ? ? ?

Akhirnya, jika akal budi sejalan dengan syariat, maka kehidupan beragama menjadi luwes dan indah. Manusia tetap bisa berkreasai dalam budaya, tanpa mengabaikan norma syariat yang Allah SWT dan RasulNya wariskan kepadanya. Mungkin seperti inilah yang dimaksud dengan Islam rahmatan lil alamiin itu.

Penulis adalah Ketua Tanfidziyyah Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Pacarpeluk, Megaluh, Jombang



Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur IMNU, Fragmen Fans Gus Dur

Jumat, 12 Januari 2018

Khazanah Idul Fitri di Kota Tarim Yaman

Pada Idul Fitri kali ini adalah ketiga kalinya bagi saya selama kuliah di Yaman. Satu kali berada di kota Mukalla dan dua kali di desa Tarim keduanya berada di Provinsi Hadhramaut Yaman.

Kalau di Mukalla biasanya syiar takbir hari raya begitu syahdu terdengar sepanjang malam dari berbagai masjid. Masjid Asrama kami misalnya, Masjid Imam Syafii. Menurut informasi yang kami dapatkan merupakan masjid terbesar yang ada di Hadhramaut. Di masjid Imam Syafii sepanjang malam mengumandangkan takbir guna Ihya Lailatil Ied menghidupkan malam Idul Fitri serta qiyamul lail sebagaimana anjuran Nabi hingga waktu shalat tiba.

Khazanah Idul Fitri di Kota Tarim Yaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Khazanah Idul Fitri di Kota Tarim Yaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Khazanah Idul Fitri di Kota Tarim Yaman

Berbeda dengan Kota Mukalla Desa Tarim yang klasik memiliki tradisi yang berbeda. Masyarakat tarim lebih banyak mengisi malam harinya dengan qiyamul lail dan shalat Tasbih, Qosidah, serta dzikir-dzikir kepada Allah SWT. Adapun takbiran dilantunkan tanpa pengeras suara. Barulah sehabis shalat subuh dikumandangkan takbir dengan pengeras suara.

Pembayaran zakat juga semarak diberikan kepada fakir miskin sehari sebelum pelaksanaan shalat ied. Kemarin saat saya akan membayar zakat fitrah setiap orangnya diminta 500 real untuk beras yang kualitas rendah, 700 Real beras kualitas menengah, dan 1000 Real untuk beras unggulan.

Beberapa masjid yang terkenal di Tarim melaksanakan shalat Ied dengan ragam yang berbeda. Misalnya masjid fenomenal dengan Menara tanah liat tertinggi di Yaman yaitu Masjid Al-Muhdlor. Nampak para jemaah yang shalat di sini lebih mengintepretasikan makna khusyu dan ketenangan. Jamaah yang hadir ada yang sejak subuh duduk bersama bertakbir dan berdzikir kepada Allah SWT. Adapun yang menjadi khotib adalah dari keluarga bin Syihab yang terkenal di Tarim.

Fans Gus Dur

Begitu juga dengan masjid Al-Fath masjid yang didirikan oleh Imam Abdulloh al-Haddad nampak tidak jauh berbeda dengan masjid muhdlor. Hanya saja jika solat dimasjid ini kita bisa melihat ornamen hiasan kaligrafi dan lampion bergaya eropa. Kitapun juga bisa mengunjungi tempat peribadatan Imam Abdulloh Al-Haddad dan melihat artefak peninggalan dakwah beliau. Adapun yang menjadi imam dan khotib di masjid fath adalah dari keluarga al-Haddad

Pada hari raya kali ini kebetulan kami ingin merasakan suasana yang berbeda dan saya pun melaksanakan shalat Ied di Jabbanah yaitu masjid yang berada di sebelah kanan makam zambal dan furait. di pinggiran jalan menuju Jabbanah banyak orang menjajahkan mainan anak-anak, batotis, sambossa, makanan ringan dan manisan hari raya.?

Di Jabbanah juga unik berbeda dengan masjid lainnya sebab di sini banyak sekali anak anak kecil yang sengaja diajak orang tuanya untuk membeli maenan dan kuliner hari raya. Dengan mengenakan aneka pakaian ala cinderella arab dan dandanan Jambul rambut bermacam macam membuat anak anak itu makin nampak lucu dan menggemaskan. Karena saya orang indonesia, saya terperajat melihat kecantikan dan ketampanan gadis dan bocah Arab.

Sholat ied di masjid Jabbanah dipenuhi ribuan masyarakat dan santri dari Universitas Al-Ahqof, Rubath Tarim, dan Universitas Imam Syafii. Sementara yang menjadi imam dan khotib adalah dari keluarga Al-Khotib.? Selepas sholat ied para jamaah berziarah ke makam para ulama wal Auliya di zambal serta makam Syuhada Perang Badar. Sementara sebagian lainnya masih asyik berbelanja dan menikmati kuliner disekitar masjid jabbanah.

Fans Gus Dur

Darul Mustofa, pesantren asuhan habib umar memiliki cara sendiri dalam melaksanakan hari raya. Darul Mustofa terkenal sebagai pesantren yang mencetak dai kelas dunia, di sini ribuan santrinya menggunakan pakaian jubah dan imamah lengkap.

Kemudian segenap santri Darul Musthofa, Mahad idrus, Mahad Nur dan masyarakat sekitar kompleks Aidid bergerak melakukan arak arakan dari Markas musholla Ahlul Kisa menuju Masjid Ar-Raudloh yang berjarak sekitar 500 M. Arak arakan ini dipimpin langsung oleh beliau Habib Umar Bin Hafidz dan putranya Habib Salim Bin Hafidz.?

Arak arakan ini sangat meriah sebab di depan di bawakan 4 empat atribut bendera habaib serta tabuhan genderang berirama klasik penghangat suasana. Teriakan Allohu Akbar Walillahil Hamd dan qosidah Ala Ya Alloh Binadzroh Minal Aini Rohimah memecah tangisan kerinduan kepada bumi pertiwi Indonesia serta mengingatkan pada masa kejayaan islam dibawah bendera Rosulullah SAW.

Sesampainya di masjid raudloh para jamaah langsung melaksanakan shalat Idul fitri dan yang menjadi imam adalah dari keluarga Bin Syekh Abu Bakar Bin Salim. Biasanya selepas sholat ied segenap santri dan mahasiswa bersalam salaman dan selfie bersama sambil melepas kerinduan dengan keluarga dirumah. Yang berbeda khutbah iedul fitri di Tarim menggunakan rujukan dari kitab karya ulama Tarim yang telah dilakukan sejak ratusan tahun yang lalu.?

Seorang dosen saya Al-Qodli DR Abdullah Balfaqih menuturkan, khutbah di tarim memiliki ciri khas dari segi keistimewaan sastranya yang tinggi, keluhuran pesan morilnya, serta tidak pernah mengabaikan aspek dzikrulloh mengingat Alloh SWT maka jangan heran meskipun disaat suasana bahagia kalian akan menemukan khotibnya menangis tersedu sedu saat mengingatkan mengenai kematian, dunia yang hanya sementara dibanding kekalnya kehidupan akhirat.? Dan itu terbukti saya pun beserta jamaah lainnya turut menitikan air mata saat mendengarkan khutbah yang dibacakan oleh khatib.

Dihari pertama hari raya banyak dari kalangan santri dan mahasiswa yang melaksanakan halal bi halal dan Uzumah dengan menyewa Suggoh (losmen) atau di Masbah (kolam renang) dan bertemu teman kerabat yang berbeda institusi. Barulah di hari kedua biasanya kita melaksanakan puasa syawalan hingga tanggal 7 Syawal.

Demikianlah beberapa hal yang menjadi khas Idul Fitri di Kota Tarim. Semoga bermanfaat dan selamat menunaikan hari raya Idul Fitri, Minal Aidin wal Faizin Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Tarim, 1 Syawal 1437 H

Dilaporkan oleh Moh Nasirul Haq, Mahasiswa Universitas Imam Syafii Yaman.

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Fragmen, Khutbah Fans Gus Dur

Sabtu, 30 Desember 2017

Pesantren Kaliopak Gelar Pekan Peringatan 11 Tahun Wayang

Yogyakarta, Fans Gus Dur. Pesantren Kaliopak Bantul akan mengadakan “Pekan Peringatan 11 Tahun Wayang Pusaka Kemanusiaan Dunia (UNESCO 2003-2014)”. Pesantren yang terletak di jalan Wonosari Km 11 Klenggotan Srimulyo Bantul ini akan melangsungkan acara sejak 10 November 2014 hingga 6 Desember 2014.

Wayangpedia.com, Jum’at (7/11), menyebutkan, meskipun wayang merupakan khasanah seni tradisi yang sudah tidak asing lagi di Indonesia, namun fakta menunjukkan bahwa pemahaman dan pengahayatan terhadap wayang di tanah air justru semakin merosot.?

Pesantren Kaliopak Gelar Pekan Peringatan 11 Tahun Wayang (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Kaliopak Gelar Pekan Peringatan 11 Tahun Wayang (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Kaliopak Gelar Pekan Peringatan 11 Tahun Wayang

Berdasarkan pengalaman pesantren Kaliopak yang telah mengadakan dua kali pagelaran wayang 11 lakon, 11 dalang, dan 11 malam pada tahun 2011 dan 2013, banyak kalangan terutama kaum muda masih kesulitan memahami serta mengapresiasi wayang.

Fans Gus Dur

Berangkat dari kenyataan demikian, pesantren Kaliopak berupaya menumbuhkan, mewadahi, serta meningkatkan daya apresiasi anak muda terutama santri terhadap pagelaran wayang.

Kegiatan ini merupakan kerjasama Komunitas Rumah Budaya Nusantara Pesantren Kaliopak dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, serta dukungan Lesbumi, Kedaulatan Rakyat, Fans Gus Dur, JogjaReview.net, serta berbagai lembaga, individu, serta komunitas budaya peduli wayang.

Fans Gus Dur

Pekan Peringatan 11 Tahun Wayang Pusaka Kemanusiaan Dunia mempersembahkan Sarasehan Epos Mahabharata, Lakon-lakon wayang Jawa dan Filsafat Humaniora Barat: Dibaca Berdampingan, Seminar Nasional Wayang dan Krisis Manusia Nusantara, Belajar Bersama Wayang, Pesantren, dan Jati Diri Bangsa, Pameran Bentuk dan dan Komik Wayang, Lomba Mewarnai dan Dongeng Wayang, Wayang Edukatif, dan Pentas ? Seni ? Tradisi dan Modern Tunggal.

Pada 6 Desember 2014, pekan wayang ini ditutup dengan pagelaran wayang kulit. (Dwi Khoirotun Nisa’/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Fragmen, Pemurnian Aqidah, Kajian Islam Fans Gus Dur

Jumat, 29 Desember 2017

Lelang Lukisan KH Hasyim Muzadi untuk NU

Jakarta,Fans Gus Dur

Meski telah wafat, KH Hasyim Muzadi masih menyumbang bagi jam’iyyah yang pernah dipimpinnya. Sumbangan almarhum melalui wajahnya yang dilukis Ketua Lesbumi MWCNU Blimbing H Azam Bachtiar. Lukisan itu kemudian dilelang. Hasil penjualan kemudian diserahkan sebagai uang kas MWCNU Blimbing, Malang, Jawa Timur.

Demikian dituturkan Arifin Thaha kepada Fans Gus Dur, Ahad (19/3) malam. Thaha mengungkapkan proses pelelangan lukisan berlangsung di kantor MWCNU Blimbing, Jalan Raden Intan, Malang, Ahad (19/3) itu, bersamaan dengan kegiatan taaruf dan pelantikan pengurus MWCNU Blimbing.

Lelang Lukisan KH Hasyim Muzadi untuk NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Lelang Lukisan KH Hasyim Muzadi untuk NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Lelang Lukisan KH Hasyim Muzadi untuk NU

“Lukisan diri Doktor KH Achmad Hasyim Muzadi berukuran 100 x 60 centimeter, dikerjakan secara spontan di lokasi kegiatan, oleh Kang Haji Azam Bachtiar. Setelah selesai, lukisan itu lalu dilelang. Pemenang lelang adalah Wali Kota Malang Abah Anton yang menawar dengan harga sepuluh juta rupiah,” urai Thaha.

Fans Gus Dur

Uang hasil lelang tersebut akan dimanfaatkan untuk membantu pengembangan kantor MWCNU Blimbing. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur

Fans Gus Dur Fragmen, Cerita Fans Gus Dur

Rabu, 13 Desember 2017

Kang Said: NU Penyangga Keutuhan Bangsa

Surabaya, Fans Gus Dur. Konflik di Negara-negara Islam adalah pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia. Sebagai organisasi sosial keagamaan terbesar, NU memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi kondusifnya suasana di negeri ini.

Kang Said: NU Penyangga Keutuhan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: NU Penyangga Keutuhan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: NU Penyangga Keutuhan Bangsa

Penegasan ini disampaikan Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj saat menyampaikan sambutan pada pelantikan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur (22/8). Bagi Kiai Said, sumbangsih NU bagi bangsa ini sangat besar sehingga tidak terjadi kekerasan dan kerusuhan.

“Di Indonesia, kita memiliki NU yang merupakan organisasi sosial kegamaan terbesar sehingga mampu meredam sejumlah gejolak yang akan memicu disintegrasi dan kerusuhan massal,” katanya.

Fans Gus Dur

Kiai Said membandingkan kondisi negara Timur Tengah yang terus begolak. “Di negara-negara itu ada polisi dan pasukan militer,” katanya. “Namun karena tidak memiliki organisasi kemasyarakatan yang mengakar, akhirnya kerusuhan tidak bisa terhindarkan,” lanjutnya.

“Kebesaran Islam di Maroko, Syria maupun Mesir yang telah berlangsung beratus tahun lamanya akhirnya porak poranda oleh kerusuhan yang kini terjadi,” terangnya.

Fans Gus Dur

Karena itu Kiai Said mengharapkan agar keberadaan NU terus menjadi perekat umat dan tidak mudah tercerai berai. “Marilah kita jaga keutuhan Indonesia dengan Islam Ahlussunnah wal Jamaah,” katanya.

Dan Jawa Timur hendaknya tetap menjadi ruh bagi NU di Indonesia. “Ruh NU ada di Jawa Timur,” tandas Kiai Said. “Kalau ruh NU sudah tidak ada, maka tidak akan ada lagi NU di negeri ini,” lanjutnya.

Pada kesempatan itu kepengurusan PWNU Jawa Timur hasil Konferensi Wilayah yang diselenggarakan di SMP Progresif Bhumi Shalawat Lebo Sidoarjo beberapa waktu lalu dilantik. Menempati bangunan lantai tiga kantor PWNU Jawa Timur di Jalan Masjid al-Akbar Timur No 9 Surabaya, sejumlah ketua lembaga dan lajnah juga diambil sumpah untuk berkhidmat kepada jam’iyah dan jamaah NU. 

Redaktur     : Abdullah Alawi 

Kontributor : Syaifullah Ibnu Nawawu 

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Pertandingan, Fragmen, Hikmah Fans Gus Dur

Sabtu, 09 Desember 2017

Gerak Jalan Santai Warnai Hari Santri PCNU Makassar

Makassar, Fans Gus Dur

Santri dari Kota Makassar, Maros, dan Gowa memenuhi ruas Jalan Perintis Kemerdekaan Makassar guna mengikuti Gerak Jalan Santai (GJS) dalam rangka menyambut dan memperingati Hari Santri Nasional (HSN), Sabtu (21/10).

Dalam GJS kali ini, dilepas langsung oleh Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto tepat di titik start di depan Kampus UMI dan finish di Kampus Universitas Islam Makassar (UIM).

Gerak Jalan Santai Warnai Hari Santri PCNU Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerak Jalan Santai Warnai Hari Santri PCNU Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerak Jalan Santai Warnai Hari Santri PCNU Makassar

Wali Kota Makassar memaknai HSN adalah hadiah terbesar pemerintah terhadap para santri dan ulama pondok pesantren yang telah mengobarkan semangat perjuangan melalui resolusi Jihad yang dicetuskan oleh KH. Hasyim Asyari dengan sejumlah Ulama lainnya, dan kemudian memicu perlawanan para santri dan rakyat terhadap penjajah.

"Hal ini juga membuktikan bakti suci para santri dan ulama terhadap berdirinya negara Kesatuan Republik Indonesia, ungkap Keduanya," ujarnya.

Sementara itu, Kakanwil Kemenag Sulsel H Abd Wahid Thahir menyampaikan  HSN ini adalah salah satu bentuk pengakuan atau rekognisi pemerintah terhadap eksistensi para santri, pondok pesantren dan para kiai atau ulama dalam memperjuangkan dan mempertahankan NKRI.

Fans Gus Dur

"Sehingga ke depan kita bisa membentuk generasi pelanjut yang cerdas, juga menciptakan generasi yang tafaqquh fiddin, berakhlaqul karimah, moderat serta jauh dari paham radikalisme atas nama agama," ujarnya.

Kegiatan ini diselenggarakan atas kerjasama antara Kantor Kementerian Agama Kota Makassar, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Makassar, dan Universitas Islam Makassar dan Universitas Muslim Indonesia.

Selain Kakanwil Kemenag Sulsel dan Walikota Makassar, tampak pula hadir pada momen pelepasan dan penerimaan peserta GJS antara lain Ketua MUI Sulsel yang juga Ketua Dewan Syuro PWNU Sulsel AGH. Sanusi Baco; Ketua dan pengurus Yayasan UMI dan UIM; Ketua Tanfidz PWNU Sulsel H Iskandar Idy; Rektor UIM Hj Majdah Agus AN beserta jajarannya; Kepala Kantor Kemenag Kota Makassar, dan Ketua MUI Kota Makassar serta para Pimpinan Pondok Pesantren yang ikut berpartisipasi pada kegiatan ini.

Ratusan door prize disiapkan dalam kegiatan GJS ini dengan hadiah utama tiket umrah yang diberikan oleh Walikota Makassar, Dany Pomanto. (Syaifullah Rusmin/Kendi Setiawan)

Fans Gus Dur

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Nahdlatul, Sholawat, Fragmen Fans Gus Dur

Jumat, 08 Desember 2017

NU-Muhamadiyah Tolak Formalisme Islam

Sepakat Berantas Kekerasan atas Nama Agama

Jakarta, Fans Gus Dur. Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhamadiyah kompak menolak formalisme Islam, sebagaimana wacana tersebut mengemuka belakangan ini. Bagi dua organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di itu, perjuangan untuk meningkatkan kesejahtaeraan umat tidak perlu melalui formalisasi ajaran dalam hukum negara.

NU-Muhamadiyah Tolak Formalisme Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
NU-Muhamadiyah Tolak Formalisme Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

NU-Muhamadiyah Tolak Formalisme Islam

Sikap kompak tersebut diungkapkan Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi dan Ketua Umum PP Muhamadiyah, Din Syamsuddin dalam jumpa pers di sela-sela Konferensi Internasional Cendekiawan Muslim (International Conference of Islamic Scholars (ICIS) di Jakarta, Rabu (21/6).

Menurut Din, demikian ia akrab disapa, persolan formalisme Islam saat ini telah menjadi polemik dalam masyarakat, terutama di dunia politik. Ia mengaku lebih memilih subtansi ajaran Islam itu sendiri dari pada formalismenya. ”Tentu kalau kalau saya pribadi memilih subtantivisme, yakni penekanan pada substansi atau nilai-nilai Islam untuk memperjungkan kesejahteraan, kemajuan dan keunggulan umat Islam,” katanya.

Meski menolak, Din sangat menghargai kelompok yang memperjuangkan formalisme Islam. Baginya, setiap orang berhak untuk berpendapat dan mengemukaan pandangan, asalkan masih berada dalam koridor demokrasi. ”Kalau ada di antara umat Islam ada yang menekankan formalisme keislaman terutama dalam politik itu adalah hak mereka.  Selama itu masih dalam koridor demokrasi dan konstitusi,” ungkapnya.

Fans Gus Dur

Menangapi pertanyaan wartawan soal dikait-kaitkannya Islam dengan kekerasan, Din mengatakan, tindakan teror atas nama Islam adalah bentuk penyalahgunaan Islam. Karena Islam, menurutnya, sebenarnya sangat menekankan kasih sayang kepada umatnya. Karena itu, tidak ada alasan yang dapat dibenarkan mengaitkan aksi terorisme dan kekerasan dengan Islam.

“Saya menilai, para teroris yang membawa-bawa Islam itu, selain melakukan penyalahgunaan Islam, juga mereka adalah orang-orang yang tidak sabar dan berputus asa dalam berjihad dan berdakwah. Ini menjadi tugas lembaga-lembaga Islam terutama lewat pendidikan,” tuturnya.

Untuk memecahkan masalah tersebut, katanya, tidak hanya ulama, ormas Islam juga harus berperan, tapi harus ada ruang dan sistem yang mendukung membenarkan pemahaman kegamaan yang sempit itu. ”Juga harus disediakan ruang dan sistem yang mendukung itu. Maka, memberantas terorisme, selain membenarkan pemahaman keagaaman, juga harus memperbaiki sistem,” paparnya.

Fans Gus Dur

Kekerasan dan terorisme, kata Din, tidak akan bisa diberantas selama masih terjadi ketidakadilan dan kekerasan. Pada dasarnya kekerasan yang terjadi, katanya, muncul karena kedzaliman dan ketidakadilan. ”Selama ada ketidakadilan, apalagi keadilan global. Ada kedzaliman, ada kemiskinan, maka saya yakin terorisme dan kekerasan itu akan muncul. Memberantas terorisme dengan cara teror itu sendiri, seperti war on terror di Irak, , itu justru memperkuat radikalisasi, terorisme, dan ekstrimisme di kalangan Islam,” katanya.

Sementara itu, Hasyim mengatakan, penggunaan agama untuk kekerasan dan tuduhan agama telah melakukan kekerasan, baru terjadi belakangan ini. Sebab, sebelum tragedi WTC di Amerika, masalah itu tidak ada. ”Persisnya lima tahun lah. Sebab, Sebelumnya tidak ada apa-apa,” jelas mantan Ketua PWNU Jawa Timur ini.

Hasyim mengatakan, tidak semua kekerasan berdasarkan pada agama. Karena kekerasan kadang muncul karena situasi di luar agama. Untuk menghadapi masalah itu harus dilakukan dua pendekatan pada dua pihak, yaitu, pihak kelompok Islam sendiri dan pihak luar Islam. ”Yang dari Islam sendiri itu, tentu pertama kali harus ditertibkan, how cara memahami agama. Harus melalui keilmuan, harus melalui faith of thinking, tidak boleh ditafsirkan semaunya yang mengakibatkan diperlakukan semaunya,” jelasnya.

NU dan Muhammadiyah, kata Hasyim, diharapkan mampu menghadapi radikalisme dan juga liberalisme yang terjadi akhir-akhir ini. Dikatakannya, radikalisme tidak hanya berupa tindakan, tapi juga ungkapan.

”Cuma biasanya yang disebut kekerasan itu yang memecahkan kaca. Omongannya yang keras, dianggap demokrasi. Padahal hakikat yang ditimbulkan itu belum tentu mana yang lebih besar. Kalau melempari kaca satu meter persegi itu berapa?Tapi kl membongkar sebuah pardigma agama, berapa yang dikorbankan. Karena itu, saya nanti minta juga melalui ICIS itu, kita akan menangani masalah-masalah ,” tuturnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Fragmen Fans Gus Dur

Kamis, 30 November 2017

Hukum Melihat Kelamin Pasangan saat Hubungan Suami-istri

Hubungan (senggama) suami-istri merupakan kenikmatan dunia yang menduduki posisi puncak tertinggi, atau klimaks. Menurut KH Syaroni Ahmadi, Kudus, kenikmatan dunia yang paling mendekati kenikmatan surga hanya satu, yaitu ketika seseorang sedang berhubungan suami-istri. Meskipun kenikmatan itu masih belum ada apa-apanya jika dibanding dengan kenikmatan surge, setidaknya hal itulah yang paling mendekat ke sana.

Dalam bersenggama, masing-masing pasangan diperbolehkan menyentuh atau bahkan memegang kelamin pasangan masing-masing tanpa ada perbedaan pendapat dari kalangan ulama.

Hukum Melihat Kelamin Pasangan saat Hubungan Suami-istri (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Melihat Kelamin Pasangan saat Hubungan Suami-istri (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Melihat Kelamin Pasangan saat Hubungan Suami-istri

Suami diperbolehkan melihat semua sudut tubuh istrinya selain farji (vagina) baik pada bagian luar atau dalam. Melihat vagina bagian dalam hukumnya sangat dimakruhkan. Tetapi jika ada satu kebutuhan, melihatnya tidak makruh.

Fans Gus Dur

?) ? (? ?) ? ? (?) ? (? ?) ? ? (?) ? ? ? ? ? (?) ? (? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? (? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? {? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?} ? ?

Fans Gus Dur

Artinya, “Bagian kedua yaitu melihatnya seorang suami pada tubuh istrinya dan tubuh budak perempuannya yang halal baginya untuk ia buat senang-senang, hukumnya boleh melihat kepada tubuh kedua orang tersebut saat mereka masih hidup, karena itulah tempat untuk bersenang-senang, selain farji (vagina) yang diperbolehkan bagi mereka. Jika melihat vagina hukumnya tidak boleh dengan prosentase 50-50. Melihat vagina itu hukumnya makruh jika tanpa ada keperluan. Sedangkan melihat bagian dalam vagina sangat dimakruhkan.

Sayyidah Aisyah RA berkata, ‘Aku tak pernah melihat punyanya Rasul dan ia juga tak pernah melihat punyaku,’ (farji),” (Lihat Muhammad bin Ahmad As-Syarbini, matan dari Hasyiyah Al-Bujairimi Alal Khatib, Darul Fikr, juz IV, halaman 103).

Melihat kemaluan istri, menurut sebagian ulama bisa menyebabkan kebutaan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits,

? ? ? ? ? ) ? ?

Artinya “Melihat kelamin seorang wanita itu bisa menyebabkan kebutaan.”

Ulama berbeda pendapat tentang buta yang dimaksud di sini, ada yang menyebut buta mata bagi si pelaku itu sendiri, ada yang mengatakan buta pada mata anaknya kelak. Ada pula yang menjelaskan bahwa buta yang dimaksud di hadits tersebut adalah buta mata hatinya.

Ibnu Hibban dan imam-imam yang lain menganggap bahwa kualitas hadis tersebut adalah dhaif. Bahkan Ibnul Jauzi memasukkan hadits ini ke dalam kitabnya Al-Maudlu‘at yang berarti hadits ini adalah hadits maudlu‘. Begitu pula Ibnu Adiy, hadits yang sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnul Qatthan tersebut merupakan hadis munkar.

Ibnus Shalah mempunyai pandangan berbeda dengan ulama di atas. Ia menjelaskan bahwa hadits ini mempunyai level derajat hasan. Yang berarti bisa dipakai untuk tendensi.

Perlu diketahui, polemik perbedaan pendapat dalam memandang hadits di atas hanya berhenti pada masalah menyebabkan kebutaan atau tidaknya. Sedangkan masalah kemakruhan melihat vagina bagi suami tetap makruh jika tidak ada hajat (kebutuhan). (Ahmad Mundzir)

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Fragmen, Humor Islam, Anti Hoax Fans Gus Dur

Senin, 27 November 2017

Doa Sejahtera dan Mandiri usai Jumatan

Rasulullah SAW kerap membaca doa ini setelah shalat Jumat. Doa berikut ini berisi permohonan penting yang diawali dengan pujian. Dalam doanya berikut ini, Rasulullah SAW meminta harta halal, memohon bimbingan agar selalu berada di jalan Allah, dan memohon karunia-Nya semata. Berikut ini doanya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Doa Sejahtera dan Mandiri usai Jumatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Sejahtera dan Mandiri usai Jumatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Sejahtera dan Mandiri usai Jumatan

Allâhumma yâ ghaniyyu yâ hamîd, yâ mubdi’u wa yu‘îd, yâ rahîmu yâ wadûd. Aghninî bi halâlika ‘an harâmik, wa thâ‘atika ‘an ma‘shiyatik, wa bi fadhlika ‘an man siwâk.

Fans Gus Dur

Artinya, “Ya Allah, Yang Maha Kaya, Maha Terpuji, Maha Pencipta, Maha Kuasa Mengembalikan, Maha Penyayang, dan Maha Kasih. Cukupi aku dengan harta halal-Mu, bukan dengan yang haram. Isilah hari-hariku dengan taat kepada-Mu, bukan mendurhakai-Mu. Cukupi diriku dengan karunia-Mu, bukan selain-Mu.

Doa ini dianjurkan dibaca sebanyak empat kali setelah Jumat setelah membaca musabbi‘at. Tentunya sebelum shalat dua rakaat ba‘diyah Jumat. Siapa saja yang melazimkan doa ini niscaya Allah cukupi kebutuhannya dari rezeki yang tidak terduga. Makna doa ini secara mendalam dapat ditemukan pada Maraqil Ubudiyah ala Bidayatil Hidayah karya Syekh M Nawawi Banten. (Alhafiz K)

Fans Gus Dur

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Fragmen Fans Gus Dur

Minggu, 26 November 2017

Guru Besar UIN Ar-Raniry Sebut Radikalisme Rentan Berkembang di Aceh

Banda Aceh, Fans Gus Dur. Guru Besar Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Muhammad Hasbi Amiruddin mengungkapkan kerentanan paham radikalisme dan terorisme berkembang di wilayahnya.

Guru Besar UIN Ar-Raniry Sebut Radikalisme Rentan Berkembang di Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Besar UIN Ar-Raniry Sebut Radikalisme Rentan Berkembang di Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Besar UIN Ar-Raniry Sebut Radikalisme Rentan Berkembang di Aceh

"Catatan sejarah masa lalu salah satu penyebab radikalisme dan terorisme mudah berkembang di Aceh," kata Hasbi dalam pembukaan Diseminasi Pedoman Peliputan Terorisme dan Peningkatan Profesionalisme Media Massa Pers dalam Meliput Isu-isu Terorisme yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Aceh, Kamis (8/9).

Perkembangan teknologi, lanjut Hasbi, menjadi bumbu tambahan yang menjadikan radikalisme dan terorisme berpotensi tumbuh subur di Aceh. "Lewat medial sosial misalnya, paham dan dogma yang mengajarkan kebencian semakin mudah menyebarluas," tambahnya.

Hal senada diungkapkan oleh Asisten III Bidang Administrasi dan Pemerintahan Umum Sekretariat Daerah Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, Syahrul, yang menyebut potensi radikalisme dan terorisme sudah sempat muncul di wilayahnya.

Fans Gus Dur

"Kita sama-sama mengetahui sudah pernah ada kamp pelatihan di Jalin, pernah ada tembak menembak di Aceh Besar, dan ada pengikut ISIS yang mengklaim punya empat ribu pengikut di Aceh," ungkap Syahrul.

Untuk meredam agar potensi tersebut tidak berubah menjadi aksi-aksi terorisme, Syahrul menyebut keterlibatan masyarakat sangat dibutuhkan. Pemerintah Provinsi Nangroe Aceh Darussalam memberikan apresiasi yang besar kepada BNPT atas kegiatan pelibatan masyarakat yang sudah dilaksanakan.

"Keterlibatan masyarakat, termasuk media massa akan sangat membantu mencegah terorisme. Media massa harus bisa menyajikan informasi yang benar yang tidak semakin memperkeruh suasana," tegas Syahrul.

Diseminasi Pedoman Peliputan Terorisme dan Peningkatan Profesionalisme Media Massa Pers dalam Meliput Isu-isu Terorisme adalah rangkaian kegiatan dari program Pelibatan Masyarakat dalam Pencegahan Terorisme yang dilaksanakan BNPT bersama FKPT di 32 provinsi se-Indonesia. Satu kegiatan lainnya adalah visit media, kunjungan dan diskusi dengan redaksi media massa pers. (Hadi/Fathoni)

Fans Gus Dur

Dari Nu Online: nu.or.id

Fans Gus Dur Fragmen, Halaqoh Fans Gus Dur

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Fans Gus Dur sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Fans Gus Dur. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Fans Gus Dur dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock